Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 174 Perkembangan Perusahaan Game


__ADS_3

Setelah mengetahui hasil pertemuan antara sepupunya dan Burhan, Andi mengajak mereka ke perusahaan game miliknya. Kantor perusahaan game miliknya sudah selesai dalam melakukan renovasi. Sejak dua hari yang lalu, kantor itu sudah ditempati oleh Putra dan kelima temannya untuk bekerja.


Andi berniat menunjukkan perusahaan game miliknya kepada Dimas. Bagaimanapun juga, ia akan menyerahkan kepengurusan perusahaan itu kepada sepupunya itu. Jadi, Andi perlu memperkenalkan Dimas kepada pekerja yang ada di sana.


Tidak hanya itu, Andi ingin melihat perkembangan pekerjaan yang mereka lakukan. Sejak Andi menyerahkan pekerjaan ini, dirinya sama sekali belum melihat hasil pekerjaan mereka. Jadi, sekalian saja Andi melakukannya.


Ketika Andi memasuki kantor tersebut, ia sambut dengan pekerjanya yang terlihat serius dengan apa yang ada layar monitor masing-masing. Tidak ada yang terlihat bersantai sekarang.


Andi tidak memberitahu bahwa dirinya akan datang kemari. Jika demikian, berarti mereka benar-benar serius dalam pekerjaan mereka dan bukannya berpura-pura serius karena Andi akan datang.


Mata Dimas berbinar melihat kantor perusahaan game milik Andi. Penataannya cukup lapang dan tidak terkesan terlalu padat seperti kantor perusahaan game pada umumnya. Antar meja kerja satu dengan lainnya memiliki jarak yang cukup luas.


Dimas pernah mengunjungi salah satu perusahaan game. Perusahaan itu hanya menyewa kantor kecil dan membiarkan desainer game mereka bekerja di tempat sempit dan terlihat saling berdesakan satu sama lainnya. Pekerja di sana memiliki ruang gerak yang cukup terbatas.


Itu sangat berbeda dengan yang ada di depan mata Dimas sekarang. Di sini ruang geraknya cukup luas. Tidak akan yang namanya tidak sengaja menyenggol teman sekerja ketika berjalan. Dengan ruangan seperti ini, fokus bekerja tidak akan terganggu.


Lihat saja itu, para pekerja di sini bekerja dengan sungguh-sungguh dan tidak terlihat pura-pura sama sekali.


“Andi gue nggak nyangka Lu nyewa kantor seluas ini hanya buat bikin perusahaan game. Biasanyakan cukup nyewa ruko tiga lantai, semuanya beres.”


“Sebenarnya aku ingin menyewa satu lantai penuh. Tetapi, karena hanya ini yang terluas dari semua kantor yang disewakan, aku hanya bisa memilih ini. Aku ingin pekerjaku bekerja dengan nyaman. Jadi sebisa mungkin aku memberikan fasiltas pendukung bagi mereka.”


“Mereka ketika mereka bisa nyaman dan fokus dalam bekerja, pekerjaan yang mereka lakukan pun bisa terselesaikan dengan cepat. Bukankah dengan begitu aku juga mendapatkan keuntungan besar jika pegawaiku rajin? Jadi tidak ada ruginya aku melakukan hal ini.” Jelas Andi.


Ketika melihat Andi datang, Putra yang sebelumnya sibuk melakukan pekerjaannya, kemudian bangkit dari tempatnya dan menghampiri Andi. Meskipun mereka berdua berteman, bagaimanapun juga Andi masihlah atasannya ketika di kantor. Jadi dia perlu bersikap sopan kepada Andi.


“Bos.” Sapa Putra.


“Put kita ke ruang rapat sekarang. Ada seseorang yang ingin aku kenalkan padamu.”


Mereka kemudian menuju ke ruang rapat yang ada di kantor itu. Ketika mereka sudah duduk di ruang rapat tersebut, Andi memperkenalkan satu persatu sepupunya kepada Putra. Setelah itu, barulah Andi menanyakan mengenai perkembangan dari game yang sedang mereka buat.

__ADS_1


“Bagaimana dengan game yang sedang kita buat? Seberapa jauh kamu sudah menyelesaikannya?” Tanya Andi.


“Untuk saat ini, kita sudah membuat UI untuk gamenya. Hanya beberapa desain kecil. Untuk melangkah ke tahap selanjutnya, kita masih menunggu gambar karakter dari game ini. Setelah gambar-gambar itu terselesaikan, pekerjaan kita sesungguhnya baru akan dimulai.”


“Sebelumnya, selama Kamu belum ke sini, aku sudah menghubungi Adimas. Dia bilang dia bisa menyelesaikan lebih cepat gambar karakter tersebut. Kemungkinan awal bulan depan semua sudah terselesaikan.”


“Jadi, kita bisa lebih cepat menyelesaikan game ini dari pada tenggat waktu yang sudah Kamu berikan.” Jelas Putra.


Sepertinya Adimas mengajak teman kuliahnya untuk mengambil pekerjaan ini. Memang gajinya tidak terlalu jauh dari perkerjaan lepas yang biasa mereka lakukan di situs luar negeri. Tetapi, pekerjaan yang Andi berikan ini untuk jangka waktu lama.


Jadi teman-teman Adimas pasti memilih mengambil pekerjaan tetap ini daripada pekerjaan lepas yang sering mereka ambil. Itu berarti, pen tablet yang Andi pinjamkan kepada Adimas digunakan dengan baik oleh pemuda itu.


“Apakah ada kendala lainnya dalam pekerjaan kalian?”


“Tidak ada. Sejauh ini semuanya baik-baik saja. Ketika pindah kemari, semuanya bisa menyesuaikan dri dengan cepat. Jadi, kamu tidak perlu khawatir tentang hal itu. Oh ya, Tomi sedang mencarimu. Ia harap Kamu menemuinya.”


Andi menganggukkan kepalanya. “Iya aku tahu. Aku sudah mendapatkan pesan dari dia. Besok aku akan datang ke gudang untuk bertemu dengan Tomi.” Jelas Andi.


“Apa Kamu sudah menjual perusahaan ini?” Tanya Putra.


Sebelumnya Andi bilang ini adalah perusahaannya. Ia sama sekali tidak mengenalkan pemilik perusahan yang lainnya kepadanya. Namun, sekarang Andi tiba-tiba mengenalkan sepupunya ini dan mengatakan bahwa ke depannya dia juga yang menjadi atasannya.


Jika tidak menjualnya, kenapa baru sekarang Andi bilang bahwa ada Bos lain di perusahaan ini? Kenapa tidak dari kemarin saja?


“Tidak. Aku tidak menjualnya. Sepupuku ini memiliki tiga puluh lima persen saham di sini. Hanya saja baru sekarang dia kemari. Jadi kedepannya dia yang akan mengelola perusahaan ini. Kamu tidak perlu melapor langsung kepadaku.” Jelas Andi.


Andi memang memberikan tiga puluh lima persen saham perusahaan gamenya kepada Dimas. Lalu, Andi memiliki lima puluh persen saham di sini. Sisanya, Andi berencana memberikan lima belas persen sahamnya kepada bawahannya.


Ini adalah cara bagi Andi untuk mengikat pekerjanya untuk tidak pindah ke perusahaan lain. Mereka termasuk aset berharga bagi Andi. Terutama mereka yang sudah Andi beri kartu kemampuan karyawan. Andi tidak akan membiarkan mereka pergi dari perusahaannya.


Dengan Adni memberikan saham kepada mereka, tentu saja itu membuat mereka bagian dari pemilik perusahaan. Pekerjanya tidak hanya bekerja untuk memberikan Andi keuntungan. Tetapi mereka juga mencari keuntungan untuk diri mereka sendiri.

__ADS_1


Tentu saja tidak semua pekerjanya mendapatkan saham perusahaannya. Hanya mereka yang menjadi karyawan inti dan juga mereka yang menerima kartu kemampuan karyawan sajalah yang mendapatkan saham dari Andi.


“Baiklah aku paham. Kedepannya aku akan menghubungi Bos Dimas untuk masalah perusahaan.” Jelas Putra.


Andi kemudian berdiskusi mengenai game yang sedang perusahaannya buat dengan Putra. Ia juga memberikan beberapa saran untuk memperbagus apa yang sudah ada. Tidak hanya Andi, Dimas juga mmeberikan beberapa saran lainnya.


Sepertinya Dimas memang memiliki pengetahuan dalam pembuatan game. Pemuda itu tidak asal-asalan ketika mengatakan bahwa dirinya ingin mendirikan perusahaan game. Kemungkinan besar ada andil dari kartu kemampuan karyawan yang sudah ia berikan kepada Dimas belum lama ini.


Dengan begini, Andi tidak perlu terlalu khawatir ketika menyerahkan kepengurusan perusahaan gamenya kepada Dimas. Ia yakin sepupunya itu bisa mengurus perusahaan ini dengan baik.


Ssetelah diskusi mereka selesai, Putra berpamitan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Bagaimanapun juga, sekarang ini masih jam kerja. Jadi dia tida bisa bersantai.


“Bagaimana Mas, apakah Mas Dimas puas dengan perusahaan ini?” Tanya Andi kepada Dimas.


“Tentu saja puaslah. Gue nggak perlu lagi mulai semuanya dari nol. Sekarang ini, gue tinggal jalanin perusahaan yang sudah lu bangun ini. Kurang apa lagi coba. Kalo emang beneran ada yang kurang, gue bisa perbaikinnya pelan-pelan sambil jalan.” Jelas Dimas.


“Nggak usah tanya gitu ke Dimas An. Seharusnya kamu tanya gimana kami mau buka bisnisnya. Kayak yang Dimas bilang, dia tinggal jalan aja, semuanya sudah siap soalnya. Nggak kayak kami yang mulai dari nol.” Protes Ardi.


“Mas Ardi nggak usah protes gitulah. Kan Mas Ardi sendiri yang udah milih bikin binis yang nggak dipunya sama Andi. Ya udah, Mas perlu mulai semuanya dari nol. Gue cukup beruntung aja bisnis gue sama kayak bisnis yang Andi punya.” Ucap Dimas bangga.


“Ck.” Bima mendecakkan lidahnya mendengar ucapan Dimas. “Jangan bangga dulu Dim. Meski kamu jalanin apa yang udah jadi, belum tentu kita akan kalah sukses darimu. Aku dan Mas Ardi pasti akan ngalahin kamu. Bisnis hotel kami akan jauh lebih besar dari bisnis game milikmu.” Ucap Bima tidak mau kalah.


Mendengar keributan kecil yang dilakukan oleh sepupunya, Adni hanya bisa menggelengkan kepala. Ia tidak menyangka bahwa sepupunya itu akan rebut seperti ini. Tetapi, keributan mereka ini ada baiknya juga.


Sekarang ini, yang sedang mereka ributkan adalah bisnis siapa yang akan lebih unggul nantinya. Bukankah dengan begini, mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengembangkan bisnis milik mereka?


Persaingan ini otomatis akan mempercepat perkembangan bisnis keluarga Prayudi. Jika demikian, maka tujuan Andi untuk membuat kerajaan bisnis bisa tercapai.


“Sudah-sudah jangan rebut seperti itu. Kalian boleh saja bersaing untuk melihat bisnis siapa yang paling unggul. Tetapi, jangan lupa kalo kita ini masih sodara. Jangan sampai hanya karena saingan bisnis seperti ini, kalian menjadi musuh.” Ucap Andi mengingatkan.


“Andi benar, bersaing boleh jadi musuh jangan. Kalian harus ingat batasan-batasan kalo lagi bersaing.” Jelas Ganang.

__ADS_1


“Tentu saja kami ingat hal itu. Meski bersaing kami tidak akan melupakan identitas kami.” Ucap Dimas yang ikuti oleh persetujuan Ardi dan Bima.


__ADS_2