Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 88 Buatlah Sebuah Game


__ADS_3

Andi memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada Amira. Ia meminta adik perempuannya itu mengajak Arfan jalan-jalan sendiri. Andi perlu mencari keberadaan pemuda tadi, jadi dirinya tidak bisa menemani adik-adiknya.


Pemuda itu juga berpesan kepada adik-adiknya bahwa jika mereka menginginkan sesuatu dan uang di tangan mereka kurang, mereka bisa menghubungi Andi, lalu ia akan mendatangi mereka dan membayar barang yang mereka inginkan.


Lima belas menit Andi mencari tetapi ia belum menemukan pemuda tadi. Padahal, jeda antara dirinya dan pemuda tadi yang keluar dari toko tidaklah cukup lama.


“Sepertinya aku dan cowok tadi nggak berjodoh. Udah nyari lama gini, muter-muter ke sana, ke sini, tapi nggak ketemu juga.” Andi sudah menyerah menemukan pemuda tadi. Ia memilih pergi ke food court untuk membeli minuman. Berjalan setengah berlari mencari pemuda tadi membuat dirinya haus.


Sepertinya takdir seolah mempermainkannya. Ketika dirinya sudah menyerah, sekarang Andi menemukan keberadaan pemuda tadi di food court. Pemuda itu tengah duduk menikmati segelas thai tea. Andi yakin ketika dirinya mengecek food court tadi, pemuda itu tidak ada di sana.


Tidak mau lagi kehilangan pemuda itu, Andi bergegas menghampirinya. Tanpa meminta persetujuan dari pemuda itu, Andi duduk di kursi yang ada di depan pemuda itu. “Aku sudah mencarimu kemana-mana ternyata kamu ada di sini.” Ucap Andi tiba-tiba.


Pemuda itu cukup kaget dengan kedatangan Andi. Apalagi dengan apa yang Andi katakan barusan. Seingatnya, ia tidak mengenal Andi, tetapi, Andi berkata seolah-olah mereka sudah saling kenal.


“Apakah aku mengenalmu?” Tanyanya.


“Tidak kita tidak saling kenal. Namaku Andi.” Ucap Andi sembari mengulurkan tangannya.


“Adimas.”


“Aku tadi melihatmu di toko komputer. Aku dengar dari pelayan di sana kamu membutuhkan sebuah pen tablet.”


Pemuda bernama Adimas itu terdiam sejenak. Orang yang tadi berada di toko komputer dengannya hanyalah tiga orang kakak beradik. Mereka membeli komputer dengan spek tinggi. Itu adalah perangkat komputer impiannya. Apalagi pen tablet yang mereka beli, itu adalah seri yang ia inginkan. Jika bukan karena seri sebelumnya tidak diproduksi lagi, maka kali ini dirinya pasti sudah memiliki produk itu.


Sekarang, untuk apa pemuda ini mencarinya? Apakah dia mau mengolok-oloknya karena tidak bisa membeli pen tablet itu? Adimas tidak menemukan alasan lain untuk pemuda kaya ini menemuinya.


“Iya itu aku. Untuk apa kamu mencariku?”


Andi bisa mendengar nada tidak senang di suara Adimas. Mungkin karena dirinya yang terburu-buru seperti ini malah membuat Adimas mencurigainya. Andi hanya bisa tertawa pelan dalam hati.


“Jangan curiga dulu. Aku menemuimu tidak dengan niat buruk. Aku dengar dari pelayan toko kamu ini adalah anak desain. Jadi, aku ini ingin mmebuat sebuah game, dan aku membutuhkan seseorang untuk membuatkan beberapa gambar ilustrasi untukku. Jika kamu mampu memberikan gambar yang bagus untukku, aku akan bekerja sama denganmu.”


“Bekerja sama denganku?”


“Ya. Jika gambarmu bagus aku akan bekerjasama denganmu. Aku juga bisa meminjamkan sebuah pen tablet milikku jika kamu memang tidak memiliki peralatannya. Dengan begitu, kamu nantinya bisa membeli sendiri pen tablet yang kamu inginkan. Tetapi semua itu tergantung dengan gambar yang kamu hasilkan.”

__ADS_1


“Benarkah itu?” Tanya Adimas.


Pemuda itu masih memiliki rasa tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Seseorang tiba-tiba saja memberinya kesempatan bagus seperti ini. Ini sulit Adimas terima. Pemuda itu tiba-tiba curiga kepada Andi. Jangan-jangan dia memiliki maksud lain dengan memintanya bekerjasama dengannya.


“Kenapa aku? Kita bahkan tidak saling kenal sebelum ini. Kenapa tiba-tiba kamu memilihku?”


“Itu karena kamu mengingatkanku dengan diriku yang dulu.”


Sebelum mendapatkan sistem, Andi tidak jauh bedanya dengan Adimas. Ia selalu menabung jauh-jauh hari jika menginginkan sesuatu. Andi tahu bagaimana perjuangan seseorang untuk mendapatkan sesuatu ketika uang mereka tidak mencukupi.


Andi ingat ketika SMP dulu, dirinya bahkan bekerja sebagai buruh cuci di sebuah warung makan hanya untuk bisa membeli sepatu baru. Sebenarnya Andi bisa saja meminta kepada orang tuanya membelikannya sepatu baru. Tetapi ia tidak melakukannya.


Waktu itu kedua orang tuanya tengah mengalami kesulitan keuangan, dan Andi tidak mau menambah beban mereka dengan meminta dibelikan sepatu baru. Jadi, sedikit banyak dirinya bisa memahami apa yang Adimas rasakan.


“Jadi, apakah kamu punya contoh gambar buatanmu?” tanya Andi.


“Kamu sedang tidak membohongiku bukan?”


“Tentu tidak. Aku akan melihat gambar milikmu, lalu jika cocok, kita masih perlu tanda tangan kontrak biar aku percaya kamu juga percaya. Jadi, bagaimana?”


Adimas tidak menjawab pertanyaan Andi. Pemuda itu memilih melakukan perbuatan untuk menjawabnya. Ia mengeluarkan ponselnya lalu memberikannya kepada Andi.


Andi pun melihat-lihat gambar yang ada di sana. Meski ini merupakan gambar digital, tetapi gambar-gambar milik Adimas seperti diwarna menggunakan cat minyak. Style gambar Adimas memiliki kemiripan dengan style yang digunakan Arfan.


Ini malah lebih bagus. Sebelumnya Andi menginginkan gambar seperti yang dibuat oleh Arfan. Dengan Adimas memiliki style yang mirip dengan adiknya, bukankah itu tidak berbeda jauh dari rencananya?


“Aku suka dengan gambar buatanmu. Jadi, apakah kamu mau bekerjasama denganku? Jika iya, tiga hari lagi kita bisa bertemu dan membicarakan kontrak kita. Bagaimana?”


“Ini beneran?”


“Ya. Bagaimana? Kamu setuju tidak?”


“Baiklah. Aku akan bekerjasama dengamu. Tetapi, aku juga akan melihat kontrak itu terlebih dahulu. Meski sekarang aku setuju, jika kontrakmu merugikanku aku tidak akan bekerjasama dengamu.” Ucap Adimas pada akhirnya.


“Itu cukup adil. Aku tidak masalah dengan hal itu. Sekarang kita deal.”

__ADS_1


“Deal.” Ucap Adimas sembari menerima uluran tangan Andi.


Ketika mereka berjabat tangan, Andi mendengar pemberitahuan baru dari sistem.


[Ding]


[Modul sistem mendeksi bahwa host akan bekerjasama dengan seseorang untuk membuat game]


[Ding]


[Misi telah dibuat]


[Misi : Buatlah sebuah game berbayar dalam waktu 3 bulan]


[Hadiah : - Coding Game Moba]


[Hukuman : - Pengurangan Saldo Sebesar Rp 1.000.000.000,-]


[Ding]


[Selesaikan misi dengan sepenuh hati Host. Kedepannya akan ada misi lainnya dengan hadiah yang sangat menarik]


‘Misi baru? Ah sekarang sistem memberikanku hukuman jika tidak menyelesaikan misi tepat waktu. Jika seperti ini, sudah pasti aku harus mengebut untuk membuat game. Dua bulan memang terdengar lama, tetapi itu sangat singkat untuk membuat game.’ Gumam Andi dalam hati.


Sekarang, karena sistem memberikannya misi seperti ini, Andi tidak bisa lagi bersantai. Ia perlu menyelesaikan misi ini. Hukumannya jika ia gagal adalah denda satu milyar. Itu adalah angka yang cukup besar. Andi perlu mengatur waktunya agar bisa mengurusi semuanya.


Setelah berpisah dengan Adimas, Andi segera menghubungi Ghani. Ia meminta laki-laki itu untuk mendaftarkan perusahan game miliknya. Mungkin untuk urusan menyewa gedung untuk perusahaan barunya, Andi akan meminta Sinta sekertarisnya untuk mengurusi semuanya.


Setelah rapat senin besok, ia juga akan menyerahkan seluruh tanggung jawab mempimpin perusahan kepada Purnomo. Andi perlu fokus membuat game barunya. Mungkin dirinya hanya akan mengecek perusahaannya sebulan sekali. Bagaimanapun juga, ia tidak bisa meninggalkan perusahaannya begitu saja.


Ketika Andi tengah memikirkan mengenai jadwalnya di minggu depan, ponsel yang ada di sakunya berbunyi. Itu adalah panggilan dari Amira. Andi mendengar nada kekhawatiran dari suara adiknya itu. Amira meminta Andi untuk segera menemuinya. Tidak lupa gadis itu memberitahukan Andi dimana mereka sekarang.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Andi bergegas menuju ke lokasi di mana adik-adiknya berada saat ini. Amira bilang mereka saat ini berada di toko ponsel di lantai tiga. Toko ponsel ini berbeda dengan toko ponsel milik Gayatri.


Saat ini Amira menemani Arfan memilih sebuah ponsel android. Dan mereka sedang dalam masalah. Andi tidak tahu masalah apa yang kini menimpa kedua adiknya. Yang jelas, ia perlu segera ke sana untuk mengetahui semuanya.

__ADS_1


Ketika Andi sampai di toko ponsel, ia bisa melihat beberapa orang berkerumun di sana. Andi melihat seorang ibu dan anak tengah berteriak-teriak memarahi dua orang di depan mereka. Andi marah melihat hal itu. Karena yang mereka marahi saat ini adalah kedua adiknya.


Andi pun mempercepat langkahnya untuk bisa sampai di dekat adik-adiknya.


__ADS_2