Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 212 Pertengkaran Pertama


__ADS_3

“Kamu nggak perlu meminta maaf gitu ke dia. Apa yang aku ucapkan tadi sama sekali nggak salah kok. Jadi nggak ada kewajiban bagi Kamu meminta maaf menggantikan aku.” Ucap Dinda setelah melihat Widya pergi meninggalkan mereka.


Dinda cukup puas karena Widya tahu diri dan mau pergi meninggalkan mereka. Dengan begini, tidak akan ada lagi yang mengganggu waktunya bersama dengan Andi. Dinda sangat tidak suka jika ada yang mengganggu waktu bersama dengan Andi.


“Hah.” Andi mengela nafas panjang. Ia lalu memandang lekat ke arah Dinda.


“Kita akan bahas ini lagi nanti.” Ucap Andi yang lalu melanjutkan kegiatan belanja mereka.


Andi sadar diri bahwa saat ini mereka sedang ada di tempat publik. Jika dirinya bertengkar dengan di sini, itu tidak cukup baik. Andi tidak mau pertengkaran mereka menjadi tontonan siapa saja yang tengah berbelanja sekarang.


Andi berniat meminta Dinda menjelaskan semua ini nanti ketika tidak ada orang lain yang mendengar percakapan mereka berdua. Dengan begitu, hanya mereka saja yang akan tahu apa yang tengah mereka bicarakan.


Saat ini Andi tidak seperti sebelumnya. Jika sebelumnya ia tersenyum senang berbelanja dengan Dinda, mengobrol sejenak bahkan beberapa kali bercanda dengan pacarnya itu, kini hanya memasang muka masam.


Andi sama sekali tidak berbicara banyak dengan Dinda sekarang. Ia hanya melanjutkan mengambil beberapa bahan yang kurang untuk membuat pasta. Ia mengambil dua bungkus keju parmesan, satu bungkus kacang. Andi juga membeli beberapa ikat daun basil segar yang bisa temukan di supermarket tersebut.


Di samping Andi, Dinda merasakan perubahan yang dialami Andi. Dengan begini Dinda tidak dapat menikmati waktu berbelanjanya seperti sebelumnya. Dinda menganggap semua ini adalah kesalahan Widya.


Jika saja perempuan itu tidak muncul dan mengganggu waktu mereka, pasti mereka masih akan bisa menikmati waktu mereka seperti sebelumnya. Bahkan dalam perjalanan pulang pun Andi masih saja bersikap dingin dnegan mendiamkannya.


Ketika mereka sampai di apartemen Andi, Dinda langsung mengkonfrontasi Andi mengenai hal itu.


“Jadi, apa Kamu menganggap apa yang kemarin aku lakukan itu salah?” Tanya Dinda kepada Andi setelah pemuda itu menaruh belanjaannya.


“Iya. Menurutku apa yang Kamu katakan tadi itu salah dan kurang sopan. Aku dan Widya hanya teman. Jadi, Kamu nggak perlu juga memberikan respon seperti itu. Dengan Kamu berkata seperti itu, itu akan membuat hubunganku dengan Widya akan canggung kedepannya.” Jelas Andi.


Kemungkinan besar keluarga Widya bukanlah penghianat yang sekarang ia hadapi. Jadi, Andi masih membutuhkan bantuan keluarga Jayantaka dalam beberapa rencananya. Jika hubungannya dengan Widya menjadi canggung dan memburuk, maka akan sulit bagi Andi meminta bantuan mereka.


“Oh Kamu nggak mau uat dia canggung dan merusak hubungan kalian?” Tanya Dinda.


“Ya.” Jawab Andi datar.


“Jadi, Kamu ke depannya memiliki rencana menjadikan dia sebagai pacarmu juga rupanya.” Ucap Dinda sembari memandang tajam ke arah Andi.

__ADS_1


Dalam pikiran Dinda, Andi ingin tetap menjaga hubungan baik dengan Widya karena memiliki harapan untuk bisa berpacaran dengan Widya nantinya.


Andi tidak percaya Dinda memiliki pemikiran seperti itu. Antara dirinya dan Widya tidak ada hubungan seperti itu. Mereka murni berteman. Selama bersama dengan Widya pun, Andi tidak melihat bahwa perempuan itu tertarika padanya.


Jadi, ucapan Dinda yang mengatakan bahwa dirinya ingin menjadikan Widya sebagai pacar sangat tidak mungkin terjadi. Sekarang saja dirinya masih berstatus sebagai pacar dari Dinda. Tentu saja ia tidak akan memikirkan hal itu.


Laki-laki keluarga Prayudi adalah tipe laki-laki setia. Tidak semudah itu mereka bergonta ganti pasangan. Apalagi hingga memiliki dua pasangan sekaligus. Itu tidak ada dalam kamus keluarga Prayudi.


“Kenapa kamu tiba-tiba bilang gitu? Aku sama sekali nggak berpikir ke sana. Aku ingin tetap menjaga hubungan baik antara diriku dan teman-temanku yang lainnya. Aku nggak mau hanya karena aku sudah pacaran, hubunganku dengan yang lain jadi rusak seperti itu.” Jelas Andi.


Sekarang Andi semakin yakin bahwa dirinya terlalu gegabah sebelum ini. Tidak seharusnya dirinya menerima Dinda begitu saja. Sekarang, dirinya sedikit memiliki penyesalan mengenai hal itu.


Meski sekarang merasa menyesal, Andi tidak bisa begitu saja memutuskan hubungannya dengan Dinda. Jika ia melakukannya, maka setelahnya hubungannya dengan Dinda akan memburuk. Andi tidak mau itu terjadi.


Jika dirinya memang perlu putus dengan Dinda, maka ia akan mencari waktu yang tepat untuk melakukan hal itu. Hal ini karena Andi tidak mau setelah hubungan pacaran mereka berakhir, itu juga akan mengakhiri hubungan pertemanan mereka.


“Kalau pun aku ingin menjadi pacar Widya, sudah pasti aku tidak akan pacaran denganmu sekarang. Jadi, aku minta rubah sedikit sifatmu yang itu. Aku tidak mau Kamu terlalu berpikiran buruk seperti itu.” Jelas Andi.


Mendengar jawaban dari Andi, Dinda sedikit merasa lega. Itu berarti saat ini Andi memang tidak memiliki perasaan apa pun dengan Widya.


Tetapi tetap saja Dinda tidak suka dengan keberadaan perempuan-perempuan lainnya di sekitar Andi. Dinda ingin menjadi satu-satunya perempuan di samping Andi, tidak ada yang lain.


“Baguslah jika Kamu tidak memiliki perasaan kepada dia.” Ucap Dinda.


‘Tunggu saja Widya, ketika aku menghancurkan keluarga Jayantaka, akan aku buat Kamu menderita. Semua ini akan aku balaskan tutas kepadamu. Tidak akan ada ampun untuk perempuan sepertimu.’ Gumam Dinda dalam hati.


Setelahnya Andi memulai memasak. Ia membuat pasta bersama dengan Dinda. Awalnya Dinda pikir memasak bersama dengan Andi akan menjadi sebuah kegiatan romatis, tetapi ternyata tidak.


Selama memasak Andi hanya tetap diam tidak terlalu banyak bersuara. Ia hanya bersuara jika meminta tolong kepada Dinda ingin diambilkan sesuatu. Interaksi di antara mereka hanya sebatas itu saja.


Dinda tidak tahan dengan sikap yang Andi tunjukkan kali ini. Langsung saja ia mempertanyakan sikap yang ditunjukkan pacarnya itu.


“Kenapa Kamu diam saja? Apa Kamu masih marah mengenai hal tadi? Oke kalo Kamu emang marah, aku minta maaf soal tadi.” Ucap Dinda pada akhirnya.

__ADS_1


Andi yang saat ini tengah menyangrai kacang untuk membuat saus pesto pasta mereka. Mendengar ucapan Dinda barusan, Andi langsung mematikan kompornya. Lagipula, kacang yang ia sangria sudah matang sekarang.


Andi lalu menghadap ke arah Dinda dan menarik nafas panjang. “Hah. Maaf nggak seharusnya aku mendiamkanmu seperti itu. Kita sudah menyelesaikan masalah kita sebelum ini, dan aku pun sudah memafkanmu mengenai tadi.”


“Jadi, nggak seharusnya aku bersikap seperti itu. Aku minta maaf mengenai hal itu.” Jawab Andi.


Setelah mendengar ucapan Andi, Dinda lalu berjalan mendekati pacarnya. Ia lalu memeluk tubuh Andi.


“Baiklah, aku memaafkanmu. Tetapi jangan mendiamkanku seperti itu. Aku tidak suka.” Jelas Dinda.


“Baiklah.”


Andi kemudian merubah sikapnya. Sembari melanjutkan memasaknya, Andi menyempatkan diri untuk mengobrol dengan Dinda.


“Aku besok akan cukup sibuk dari pagi hingga sore hari. Jadi, aku tidak bisa menemanimu besok.” Jelas Andi.


Andi masih perlu mengurusi persiapan lainnya. Siang hari dirinya masih perlu mengantarkan keluarganya ke bandara. Sorenya ia masih perlu melakukan rapat persiapan dengan para sepupunya.


“Memangnya Kamu sibuk apa besok?”


“Ada kepentingan keluarga.” Jelas Andi singkat.


Meskipun saat ini Dinda adalah pacarnya, tidak mungkin bukan Andi menceritakan apa saja kegiatannya kepada Dinda. Andi tidak ingin Dinda tahu mengenai rencananya itu.


“Oh begitu. Tidak masalah untukku.” Jelas Dinda.


Dinda juga perlu mengadakan rapat dengan keenam anak buahnya. Ia ingin segera melaksanakan rencana mereka. Jika semua ini sudah selesai, nantinya Dinda bisa membawa Andi ke tempat lain dan hidup bersama berdua.


Meski sekarang dirinya sudah menjadi pacar Andi, tetapi masih ada orang yang menggangguan hubungan keduanya. Dinda ingin memiliki Andi sepenuhnya, hanya untuk dirinya tanpa ada orang lain di antara mereka.


Keduanya pun makan malam dengan tenang pada malam itu. Meski awalnya terjadi ketegangan di antara mereka, sekarang itu sudah berakhir.


Tetapi, itu tidak terjadi di tempat lain. Jika ketegangan antara Andi dan Dinda perlahan hilang, maka ketegangan yang terjadi di sini semakin lama semakin memuncak. Orang-orang yang berada di sana terlihat memasang muka masam.

__ADS_1


__ADS_2