
“Memangnya Mbak Ros mau makan apa?” Tanya Andi ketika sembari mendorong troli miliknya.
Di depannya, Rosalinda juga membawa sebuah troli. Perempuan itu mengatakan bahwa tidak akan cukup jika hanya membawa satu buah troli. Andi bisa menebak bahwa perempuan itu akan mengambil sereal yang cukup banyak.
Tidak masalah untuknya, setelah mendapatkan uang tunai kotak misteri Andi yakin dirinya bisa mencapai target bulanan. Jadi sebanyak apapun sereal yang Rosalinda ambil, Andi tidak akan mempermasalahkan hal itu.
“Hemm…. Aku ingin makan soto ayam. Kamu bisakah membuatkannya untukku?”
“Soto ayam? Aku belum pernah sih memasak soto. Tetapi, aku akan mencobanya. Kita beli bumbu jadi aja ya mbak biar cepet. Abis ini kita beli beras sama ayamnya juga. Bumbu-bumbu dasarnya juga perlu beli, kayak gula, garam dan penyedap.”
“Kita ke bagian elektronik dulu deh Mbak. Aku perlu beli beberapa hal buat isi apartemen. Aku masih belum punya rice cooker soalnya.”
“Nggak masalah. Setelah beli rice cooker kita beli kebutuhan bulananmu. Baru setelahnya kita beli sereal.” Saran Rosalinda.
“Oke Mbak.”
Langsung saja keduanya memulai berbelanja. Andi yang awalnya hanya berniat membeli rice cooker, pada akhirnya juga membeli blender, toaster, dan mixer. Peralatan-peralatan itu saja sudah memenuhi troli yang dibawa Andi. Memang benar apa yang Rosalinda katakan, satu buah troli tidak akan cukup kali ini.
Pada akhirnya, Andi membawa troli tersebut dan meninggalkannya di dekat kasir. Pemuda itu kembali mengambil troli baru untuk barang belanjaan lainnya. Ketika berada di area makanan ringan, Andi memasukkan banyak sekali makanan ringan ke dalam troli. Ia memilih segala macam makanan ringan yang disukainya. Dan itu pun kembali memenuhi satu buah troli.
Kali ini troli yang dibawa Rosalinda juga terisi dengan makanan ringan. Menurut Andi, lebih baik ia membelinya sekali sekarang daripada dirinya perlu membelinya berkali-kali ketika ingin makan camilan. Pemuda itu juga mengambil beberapa makanan ringan yang ia rasa disukai juga oleh Brian.
Temannya itu sering membelikannya makanan. Jadi ketika sekarang dirinya sudah memiliki uang, sudah seharusnya dia membelikan makanan kesukaan temannya itu. Kita tidak seharusnya terus-terusan menerima, sesekali seharusnya kita memberi.
Pada akhirnya, Andi mengambil tiga troli makanan ringan, satu troli minuman rasa-rasa, satu troli susu kotak baik itu yang 900 ml maupun volume kecil. Andi juga membeli beberapa bumbu dapur seperti gula, garam dan kawan-kawannya. Tidak lupa Andi juga membeli minyak dan juga beras.
Selain ayam fresh, Andi juga mengambil beberapa jenis frozen food. Menurut pemuda itu, jika kulkasnya tidak dapat menampung semua frozen food itu, masih ada kulkas milik Brian. Untung saja temannya itu kini menjadi tetangganya. Jadi dia bisa menitipkan makanan di sana.
Mata Rosalinda berbinar memandang troli-troli penuh makanan itu. Ia tidak menyangka Andi akan membeli makanan sebanyak ini? “Kamu yakin kamu bisa menghabiskan makanan sebanyak ini?” Tanya Rosalinda sembari mengedarkan pandangannya pada makanan-makanan di troli.
Perempuan itu berusaha menahan rahangnya agar tidak menganga. Jika dirinya menganga, sudah pasti air liur akan mengalir dari sudut bibirnya. Dari sekian banyak makanan yang dipilih Andi, kenapa yang dipilih adalah makan kesukaannya. Hal itu membuat Rosalinda sulit menahan diri.
Andi mengibaskan sebelah tangannya. “Tenang aja Mbak, ini juga bakal aku makan sama Brian. Kebanyakan adalah makanan kesukaan Brian. Dia tadi sudah bilang titip semua ini.” Jelas Andi santai. Jika saja nanti Andi tidak memikirkan betapa repotnya membawa belanjaan sebanyak itu naik ke apartemennya, maka Andi akan menambah semua itu.
__ADS_1
“Sekarang, kita tinggal membeli serealnya. Kayanya kita juga perlu nambah susu kotak yang 900 ml. Tadi kayaknya masih kurang.” Jelas Andi.
“Oke. Kalau kamu bilang begitu, aku akan megambil susu dan sereal. Kamu nggak keberatan dengan hal itu bukan?”
“Tidak masalah untukku.” Jawab Andi santai.
Keduanya kemudian berjalan menuju area sereal dan susu kotak. Sebelumnya mereka sudah melewati area itu tetapi karena troli mereka sudah penuh, mereka tidak menambahnya dengan sereal. Kini mereka tidak perlu lagi mencari di mana keberadaan rak yang menyimpan sereal.
Andi memasukkan sereal dengan berbagai rasa, beberapa diantara sereal tersebut merupakan merek yang tidak pernah dicobanya. Andi memutuskan mengambil beberapa dari setiap merek agar dirinya tidak bosan. Mungkin nanti setelah mencoba semua sereal itu, Andi akan memiliki sereal favorit yang sesuai dengan lidahnya. Untuk sekarang, Andi akan mencoba semua sereal yang dijual di supermarket ini.
Ketika Andi dan Rosalinda tengah sibuk memasukkan sereal ke dalam troli mereka, seorang ibu dan anak perempuannya lewat di lorong tempat mereka berada. Anak kecil itu terlihat masih berusia kurang dari sepuluh tahun. Dia memandang lekat ke arah sereal-sereal yang masih ada di rak.
Anak perempuan itu kini terlihat menarik pelan lengan baju ibunya. “Kenapa sayang?” Tanya sang ibu kepada anaknya.
“Ibu aku juga pengen makanan kayak yang dibeli kakak-kakak itu.” Ucapnya pelan kepada ibunya. Meski anak perempuan itu berkata pelan, tetapi Andi bisa mendengar apa yang anak itu katakan kepada ibunya.
Sang ibu terlihat terdiam sebentar. Ia terlihat tengah memikirkan sesuatu sekarang ini. “Nanti aja ya kalo ibu udah ada uang lebih. Sekarang kita beli susunya adek Rezky dulu ya.” Ucap sang ibu kepada sang anak.
Mendengar hal itu, anak perempuan tersebut menundukkan kepalanya. Ia tidak merengek kepada ibunya setelah mendengar perkataan dari ibunya tadi.
Ibu dan anak itu menghentikan langkahnya mendengar ucapan Andi. Sang anak tidak langsung menjawab pertanyaan ibunya. Ia kini memperhatikan ibunya dengan pandangan penuh harap. “Eh nggak usah Mas. Nggak papa.” Tolak ibu itu halus.
“Nggak apa-apa kok Bu. Kalo Adeknya emang mau, biar Adeknya ambil yang dia suka. Biar nanti saya yang bayarin.” Andi kembali menawarkan hal yang sama kepada sang ibu.
“Eh, itu tapi….” Sang ibu terlihat bingung harus merespon bagaimana.
“Nggak papa Bu. Saya ikhlas kok pengen jajanin Adek ini. Kalo Ibu ngijinin, saya pengen beliin Adeknya ini makanan. Saya tadi juga mendengar kalo Ibu mau beli susu untuk anak ibu yang lain ya? Sekalian aja Bu, Ibu ambil sebanyak-banyaknya nanti biar saya yang bayar.”
Sebelum sang ibu kembali menolak, Rosalinda datang mendekat dan berbicara kepada ibu tersebut agar ibu tersebut mau menerima tawaran bantuan Andi. “Rezeki nggak baik loh Bu kalo ditolak. Ibu terima saja ya tawaran teman saya ini.”
Kini mata sang ibu terlihat memerah. Air mata sang ibu itu sekarang ini terlihat mengalir. “Terimakasih Mas udah nawarin bantuan. Saya sangat terharu sekali mendengar Mas menawarkan bantuan. Ayahnya Mahayu baru saja meninggal dua minggu yang lalu.”
“Sekarang saya juga bingung menuhin kebutuhan sehari-hari gimana. Biasanya kami makan sehari-hari juga ngandelin pendapatan Ayahnya Mahayu. Makasih ya Mas, bantuan Mas sangat berarti untuk kami.”
__ADS_1
Andi tidak menyangka akan mendengarkan kisah pilu seperti ini. Seorang istri yang baru ditinggal suami bersama dengan dua anaknya yang masih kecil. Kisah ibu ini seolah memberikan tamparan untuk membangunkan Andi.
Akhir-akhir ini dirinya terlalu menikmati apa yang ia terima dari sistem. Ia hanya memikirkan bagaimana memanfaatkan sistem untuk kepentingannya sendiri. Andi melupakan satu hal yang amat penting, bahwa dari semua yang kita terima, di sana masih ada hak orang lain yang perlu kita berikan kepada mereka yang membutuhkan.
Seingatnya, sejak mendapatkan sistem, Andi tidak pernah melakukan sedekah. Ia pernah melakukannya hanya sekali kepada seorang anak kecil yang kelaparan, di depan mini market, di depan sekolah Arfan. Hanya sekali itu, setelahnya Andi dibutakan oleh harta.
“Kalo Ibu nggak ada kerjaan, mungkin ibu bisa kerja sama saya. Ibu mau nggak kerja bersih-bersih apartemen? Cuma bersih-bersih aja nge-vacuum lantai, nyuciin baju dan setrika. Ibu nggak perlu nginep. Dateng seminggu sekali juga bisa.” Ucap Andi menawarkan kepada sang ibu.
Ini adalah pekerjaan yang bisa ia berikan kepada ibu di depannya ini. Dari yang ia dengar ibu ini masih memiliki anak kecil, sudah jelas ia tidak bisa memberikan pekerjaan lainnya. Andi tidak mungkin memberikan pekerjaan yang membuat ibu ini meninggalkan anaknya.
Mendengar hal itu, air mata mengalir semakin deras di wajah ibu tersebut. “Apa Mas yakin? Kita kan nggak saling kenal, kok Mas berani ngasih saja pekerjaan. Mas nggak takut saya ambil barangnya?”
Andi hanya tersenyum mendengar ucapan ibu tersebut. “Semua orang punya rezekinya masing-masing. Kalau semisal nanti Ibu ambil barangs-barang saya, berarti semua barang-barang itu bukan rezeki saya.” Jawab Andi santai.
“Jadi, apa Ibu mau kerja sama saya?” tanya Andi sekali lagi.
“Iya saya mau Mas.”
Mendengar hal itu Andi tersenyum lebar. Ia kemudian membeli beberapa kotak sereal dan susu untuk Mahayu. Andi juga membeli beberapa kota susu bubuk untuk Rezky, adik Mahayu. Kemudian Andi membelikan beberapa kebutuhan sehari-hari seperti beras, gula, minyak dan lainnya untuk Ibu Sekar.
“Mas kok banyak sekali.” Ucap Sekar setelah melihat banyaknya susu bayi, sereal dan susu kotak yang ada dalam satu troli. Sekar tahu bahwa barang yang ada di troli ini merupakan barang yang diberikan oleh Andi kepadanya. Menurut Sekar itu terlalu banyak.
“Nggak papa Bu Sekar. Ini untuk Adek Rezky dan Adek Mahayu. Nggak papa kok. Tadi Bu Sekar ke sini naik apa?” tanya Andi melihat banyaknya barang yang ia belikan untuk Sekar.
“Tadi ke sini bawa motor.”
“Kalau begitu, nanti saya pesankan ojek online untuk membantu membawa belanjaan ibu.”
Setelah memastikan semuanya selesai, Andi mebawa semua belanjaan ke kasir. Temasuk belanjaannya yang tadi ia tinggalkan di kasir. Andi mendahulukan belanjaan dari Sekar agar perempuan itu bisa segera pulang.
Setelah Andi selesai membayar semua belanjaan Sekar, ia tiba-tiba mendengar suara pemberitahuan yang selama ini sudah ia hafal.
[Ding]
__ADS_1
[Selamat Host telah menjalankan salah satu misi tersebunyi dari sistem]
[Hadiah telah dikirim ke penyimpanan milik Host]