Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 172 Burhan dan Keponakannya


__ADS_3

Jangan lupa like, komen, vote dan tambahkan favorit


terima kasih selamat membaca


Ganang dan para sepupunya memasuki sebuah kamar hotel. Mereka berencana bertemu dengan Burhan di sini. Ganang memilih hotel sebegai tempat pertemuan mereka karena ini adalah tempat paling netral.


Sebelumnya, ketika dihubungi dan diajak bertemu, Burhan meminta mereka menemuinya di salah satu club yang dikelola gangnya. Namun, Ganang menolak hal itu..


Bagaimanapun juga, club itu adalah daerah kekuasaan Burhan. Sekarang ini, Burhan dalam kondisi ingin merebut sistem dari Andi. Jadi, dengan mereka datang ke club yang dikelola Burhan, itu sama saja dengan mereka masuk ke kandang harimau. Bisa saja mereka diterkam dan tidak bisa lagi keluar dari club tersebut.


Maka dari itu, Ganang menolak usulan Burhan tersebut. Ia meminta pamannya itu datang ke salah satu hotel yang sudah mereka pilih. Jika melakukan diskusi seperti sekarang ini, lebih baik mereka melakukannya di tempat yang netral.


Demi alasan keamanan juga, Andi tidak ikut dalam pertemuan ini. Mereka tidak tahu apa yang akan Burhan lakukan jika melihat Andi. Bagus saja kalah dari Burhan, apalagi mereka yang kemampuan bertarungnya jauh dari Bagus.


Jadi, jika nanti Burhan melakukan sebuah tindakan, mereka tidak akan bisa melindungi Andi. Oleh karena itu mereka tidak mau mengambil resiko dan melarang Andi untuk ikut dalam pertemuan kali ini. Ganang dan sepupunya yang lain sudah cukup untuk melakukan pembicaraan dengan Burhan.


“Aku sudah mengirim pesan ke Om Burhan mengenai kamar hotel yang sekarang kita tempati. Sekarang kita tinggal menunggu dia datang.” Ucap Ganang kepada para sepupunya.


Dua puluh menit kemudian, pintu kamar mereka di ketuk. Ganang meminta Ardi untuk membuka pintu tersebut. Di balik pintu itu, terlihat Burhan yang datang sendirian. Tidak ada anak buahnya yang datang menemaninya.


Sepertinya laki-laki itu sangat percaya diri datang sendirian. Ia sama sekali tidak takut bahwa ini adalah sebuah jebakan untuknya.


Ketika memasuki kamar hotel tersebut, Burhan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Sepertinya dia tengah mencari keberadaan Andi di antara mereka. Semua yang ada di ruangan ini adalah cucu dari pamannya, Haryanto. Jadi, ada kemungkinan Andi ada di sana.


Melihat Burhan yang seperti itu, Ganang tahu apa yang ada dalam pikiran Burhan. “Andi tidak ada di sini Om. Kami tidak sebodoh itu mengajak Andi menemui Om Burhan tanpa adanya tetua.” Ucap Ganang yang sudah membaca pikiran Burhan.


“Ah sayang sekali dia tidak datang. Apakah dia takut menemuiku? Sampai kapan dia akan bersembunyi di balik punggung para tetua? Cepat atau lambat aku akan mendapatkan kembali apa yang sebelumnya menjadi milikku.”


Burhan terdiam sesaat. Ia lalu memandang lekat ke arah Ganang. Dia adalah yang tertua di antara keponakannya yang ada di sini. Jadi, semua keputusan yang akan dibuat, pasti akan melalui Ganang.


“Jadi, ada apa Kamu menemuiku di sini?” Tanya Burhan.


Tadi Burhan cukup kaget keponakannya ini menghubunginya dan mengajak bertemu. Semenjak dirinya mendirikan Gang Macan Putih, tidak ada dari keluarganya yang berinisiatif menghubunginya dan mengajaknya bertemu.

__ADS_1


Apalagi ini adalah cucu dari pamannya. Mereka bukan keponakan yang berasal dari garis keturunanyang sama dengannya. Jadi, Burhan cukup penasaran dengan alasan mereka mengajaknya bertemu.


“Dimas berikan foto orang itu kepada Om Burhan.” Pinta Ganang.


Dimas lalu mengambil sebuah foto yang sudah dicetak di kertas berukuran A4. Foto sebesar itu membuat mereka mudah melihat dengan jelas wajah yang terpampang di sana.


Itu adalah foto dari laki-laki pelaku pembakaran, yang diambil oleh anak buah Andi sebelum laki-laki itu dihajar hingga babak belur. Jadi, wajah itu pasti akan cukup mudah dikenali daripada wajah babak belurnya.


Burhan kemudian menerima foto tersebut dari tangan Dimas. Ia cukup heran kenapa keponakannya mmeberikan foto itu kepadanya. Burhan sama sekali tidak mengenali wajah yang ada di dalam foto tersebut.


“Siapa dia? Aku sama sekali tidak mengenalinya.”


“Itu adalah orang yang mengaku sebagai anggota Gang Macan Putih.” Jawab Dimas.


“Benarkah?” Tanya Burhan ingin memastikan kembali. Laki-laki itu benar-benar tidak mengenali wajah di foto ini.


Bagaimanapun juga, Gang Macan Putih memiliki banyak anggota. Gang tersebut memiliki cabang di seluruh kota yang ada di provinsi ini. Bahkan di beberapa provinsi mereka juga memiliki cabang lainnya. Itu berarti, anggota Gang Macan Putih jika dijumlah tidak lagi ratusan tapi ribuan, bahkan belasan ribu.


“Dia sendiri yang bilang bahwa dia adalah anggota Gang Macan Putih, dan itu adalah gang pimpinan Om. Dia adalah pelaku pembakaran ketiga kafe milik Andi.” Jelas Wira.


Burhan cukup kaget mendengar bahwa tiga kafe milik Andi terbakar. Memang dirinya tahu bahwa Andi memiliki beberapa kafe. Ia juga meminta beberapa anak buahnya mengawasi bisnis Andi itu, dan melapor padanya jika ada masalah dengan kafe itu.


Itu adalah perintah yang Burhan berikan sebelum dirinya mengetahui bahwa Andi adalah pemilik baru dari sistem. Setelah dia tahu bahwa Andi adalah pemilik sistem, Burhan belum memberikan perintah baru kepada anak buahnya. Kenapa mereka tidak melaporkan kejadian ini padanya?


“Om Burhan, apakah Om yang nyuruh di buat bakar kafe Andi?” Tanya Wira langsung pada alasan utama pertemuan mereka kali ini.


“Apa maksdumu? Aku tidak memerintahkan anak buahku untuk membakar kafe milik Andi. Kenapa kamu menuduhku seperti itu?” Ucap Burhan tidak terima dengan tuduhan yang Wira layangkan padanya.


“Bisa saja Om yang menyuruhnya bukan? Dia adalah anak buah Om. Sekarang ini, Om berusaha merebut warisan leluhur kita dari tangan Andi. Om Burhan memiliki motif besar untuk melakukan hal itu. Om saja berani membantah Kakek Buyut Adipramana hingga beliau meninggal. Jadi, sangat mungkin Om melakukan ini.” Ucap Wira berapi-api.


“Aku tidak melakukannya. Memang benar aku ingin merebut warisan leluhur itu. Tetapi, aku tidak akan melakukan cara seperti itu. Lebih baik aku menantang Andi bertarung satu lawan satu daripada aku harus melakukan cara seperti itu.”


Burhan memiliki egonya sendiri. Menurutnya, sangat rendah sekali jika dirinya membakar kafe milik Andi hanya untuk mendapatkan kembali sistem. Masih banyak cara yang bisa dilakukan selain cara itu. Dengan membakar kafe milik Andi, Burhan tidak akan mendapatkan apapun juga.

__ADS_1


“Jika Om Burhan tidak melakukannya, lalu siapa yang menyuruhnya? Laki-laki itu tidak memberitahu kami siapa yang memberinya perintah untuk membakar kafe milik Andi.” Jelas Ganang.


Burhan mengerutkan keningnya mendengar hal itu. Apakah dia memang benar-benar anggota gang miliknya? Jika benar, siapa sebenarnya yang menyuruhnya melakukan hal itu? Siapa yang sudah membantah perintahnya untuk tidak menerima pekerjaan yang bersangkutan dengan keluarganya?


Meskipun Burhan bergerak di dunia bawah dan menentang keluarganya, ia masih memilik batasan. Batasan Burhan adalah tidak akan pernah secara sengaja mencelakai keluarganya. Ia juga melarang anak buahnya mengambil pekerjaan yang mencelakai keluarganya.


Burhan tidak sedurhaka itu. Bagaimanapun juga, di dalam dirinya mengalir darah yang sama seperti yang ada dalam tubuh keluarganya.


Sepertinya ada yang tidak beres dengan gang miliknya. Burhan perlu menyelidiki lebih lanjut mengenai hal ini.


“Sekarang di mana laki-laki itu?” Burhan ingin mengintrogasi laki-laki tersebut dan mencari tahu siapa yang menyuruhnya membakar kafe milik Andi.


“Kami sudah menyerahkannya ke polisi.”


Jika laki-laki itu sudah diserahkan ke polisi, maka akan sulit untuk Burhan mengintrogasinya. Meski begitu, Burhan masih bisa melakukan penyelidikan. Ia akan menyuruh orang kepercayaannya menyelidiki hal ini.


“Aku akan menyelidiki hal ini. Setelah aku mengetahui hasilnya, aku akan memberitahu kalian.”


Setelah berucap demikian, Burhan pergi dari kamar hotel itu tanpa mempedulikan mereka yang ada di sana. Tidak lupa Burhan juga membawa foto dari pelaku pemabakaran kafe milik. Foto ini akan menjadi titik awal penyelidikannya.


“Mas Ganang, kenapa diam saja? Kenapa biarin Om Burhan pergi begitu aja?” Tanya Wira setelah Burhan pergi dari sana.


“Memangnya bisa apa kita? Kita berlima bekerja sama pun tidak akan bisa menahan Om Burhan untuk tetaps di sini.” Jelas Ganang.


“Lalu, kita akan biarkan dia pergi begitu saja? Dia adalah dalang pembakaran kafe milik Andi.”


“Dia bukan dalangnya.”


“Apa maksud Lu Mas? Apa kalian percaya begitu aja dengan ucapan Om Burhan bahwa dia bukan dalangnya?” Tanya Wira kepada Dimas.


“Kamu ingat waktu pertemuan keluarga kita?” Tanya Dimas.


“Waktu itu Om Burhan nggak ngelak sama sekali ketika ditanya keterlibatannya dalam bisnis obat-obatan terlarang. Jika Om Burhan memang dalangnya, dia pasti akan mengaku kepada kita.”

__ADS_1


__ADS_2