Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 221 Kemampuan Baru


__ADS_3

“Panel status.”


[Ding]


[Modul Menjadi Kaya]


[Level 19 (975.627.980.377.149/1.400.000.000.000.000)]


[Saldo Host : Rp 18.089.255.110.108]


[Tingkat Konversi : 1 kali nafas \= 127 USD (1 USD \= Rp 14.000,-)]


[Misi : - ]


[Misi Harian : - Habiskan uang Rp 10.000.000,-.


Hadiah : 2 pecahan tiket lucky draw


Hukuman : Pengurangan saldo Rp 100.000.000,-]


[Target Mingguan : - Capai pengeluaran Rp 250.000.000,-


Hadiah : 15 pecahan tiket lucky draw


Hukuman : Pengurangan saldo Rp 2.500.000.000,-]


[Target Bulanan : - Capai pengeluaran Rp 100.000.000.000.000,-.(0/100.000.000.000.000)]


[Tiket Lucy Draw : 0 Tiket 11 Pecahan]


[Penyimpanan : - Kartu kemampuan Karyawan (24)]


[Selamat berjuang menghabiskan uang Host]


“Wow, sekarang target bulananku seratus triliyun. Bulan ini aku harus menjadi orang yang super boros berarti. Mengeluarkan uang sebanyak itu.” Gumam Andi setelah mengecek panel sistem miliknya.


Ini sudah tanggal satu, jadi misi bulanannya sudah ada pembaruan. Selain itu, yang Andi nanti-nantikan selain misi bulanan adalah barang yang dijual di toko sistem. Ia ingin tahu apakah ada kemampuan lain yang bisa membantunya dalam mempersiapkan diri mengikuti pertarungan akhir keluarganya itu.


“Sistem, buka toko sistem untukku.” Pinta Andi.


[Ding]


[Toko Sistem]


[Pengalaman seorang ahli bela diri tingkat 1: 150.000.000.000]

__ADS_1


[Pengalaman seorang desainer senjata tingkat 1 : 300.000.000.000]


[Host, manfaatkan toko sistem untuk memperkuat dirimu]


“Eh ahli bela diri? Tetapi aku kan sudah cukup ahli dalam bela diri? Kenapa sistem masih memasang kemampuan ini pada toko sistem?” Gumam Andi.


Meski begitu, Andi tetap membeli kedua kemampuan itu dari toko sistem. Pasti ada alasan kenapa sistem melakukan hal itu.


Andi cukup tertarik dengan kemampuan kedua yang dijual oleh sistem dalam periode kali ini. Pengalaman seorang desainer senjata. Ini pasti cukup hebat menurut Andi.


Meski itu tidak bisa langsung membantu Andi dalam pertarungan keluarganya, tetapi ia yakin dengan kemampuan ini dirinya bisa memperkuat senjata yang ada sekarang.


Langsung saja Andi membelinya dan memakai satu persatu pengalaman itu. Ketika menerima pengalaman ahli bela diri, banyak sekali kemampuan bela diri yang Andi terima. Pengalaman ini seperti pengalaman seseorang yang menguasai puluhan ilmu bela diri.


Dengan kemampuan bela diri yang sudah Andi miliki dari keluarga Prayudi, dan juga kemampuan yang baru ia dapatkan, membuat kemampuan bela diri Andi meningkat cukup pesat. Meski ini hanya level satu, tetapi itu membantu Andi menemukan cela kekurangan dari kemampuan bela diri miliknya.


Sekarang Andi bisa lebih menyempurnakan kemampuan bela diri miliknya. Dengan begini, presentase keselamatan Andi akan semakin naik.


Pasalnya Andi akan berada di tempat terbuka dalam misi mereka kali ini, bukan menggunakan penyamaran yang bisa menyergap musuh semaunya. Jadi, sedikit peningkatan kemampuan bela diri sudah sangat berpengaruh besar.


Lalu, Andi menggunakan pengalaman desainer senjata. Setelah menerima pengalaman itu, kini Andi tiba-tiba terinspirasi untuk membuat berbagai senjata. Bukan hanya senjata api, tetapi juga senjata tajam.


Hal ini membuat Andi menarik kata-katanya sebelumnya. Kemampuan ini bisa membantu banyak dalam misi keluarganya. Meski waktunya cukup mepet, tetapi Andi masih bisa membuat beberapa senjata yang cukup tersembunyi yang sangat cocok untuk digunakan dalam misi kali ini.


Andi hanya perlu menyiapkan semua alat dan bahan maka ia bisa menciptakan lima senjata berbeda dalam waktu lima hari.


Langsung saja Andi menghubungi beberapa anak buahnya untuk memersiapkan beberapa hal untuknya. Tidak hanya itu saja, Andi juga menghubungi Burhan untuk meminta bantuan kepada pamannya itu. Burhan jelas bisa membantunya menyiapkan beberapa hal untuknya.


Meski saat ini Gang Macan Putih sudah dikuasai musuh, tetapi Burhan masih bisa mengakses informasi mengenai penyuplai beberapa bahan yang dibutuhkan Andi.


“Hallo Om Burhan. Apakah aku ganggu waktu Om?” Sapa Andi.


“Nggak. Memangnya ada apa Kamu menghubungiku? Apakah anak buahmu mendapatkan informasi tambahan lainya?” Tanya Burhan.


“Nggak sih Om. Belom ada kabar baru dari anak buahku mengenai musuh. Ada hal lainnya yang ingin aku bicarakan dengan Om.” Ucap Andi.


“Apa itu?”


“Apakah Om Burhan bisa memberikan beberapa senjata api untukku? Atau jika sekarang Om tidak memilikinya, Om bisa ngasih tahu aku di mana belinya.” Pinta Andi.


Senjata yang Andi ingin buat kebanyakan adalah senjata tajam. Tidak hanya itu, Andi juga berencana melakukan sedikit modifikasi kepada beberapa senjata api.


Jadi, Andi membutuhkan beberapa senjata api untuk melakukan hal itu. Selain itu, Andi perlu bertanya kepada Burhan siapa tahu laki-laki itu mengetahui di mana ia bisa menemukan bengkel pandai besi yang bisa ia gunakan.


Andi bisa saja meminta anakbuahnya membelikan senjata api dari luar negeri. Sayangnya, itu akan membutuhkan waktu cukup lama. Lalu, anak buah Andi belum begitu memahami lingkungan di negara ini.

__ADS_1


Jadi, akan butuh waktu lebih lama lagi bagi mereka untuk menyelundupkan senjata api dari luar negeri. Sedangkan, Burhan pasti sudah tahu di mana pemasok senjata api yang barangnya bisa dibeli kapan saja.


Dengan begitu, Andi tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan senjata api. Waktu yang ia miliki cukup terbatas, jadi ia tidak bisa menunggu selama itu.


“Senjata api? Memangnya Kamu akan mempersenjatai anak buahmu dengan senjata api?” Tanya Burhan.


“Tidak Om. Jika aku ingin mempersenjatai mereka dengan senjata api, maka aku perlu menyiapkan banyak senjata api. Jika aku melakukanya, itu beresiko diketahui oleh polisi. Aku hanya butuh lima hingga sepuluh senjata api saja. Tidak terlalu banyak.”


“Oh seperti itu. Jika begitu, Kamu datang saja ke rumah pribadi Om. Di sana aku menyimpan beberapa koleksi senjata api. Jika hanya lima hingga sepuluh senjata saja, Kamu bisa mengambilnya dari sana.” Jelas Burhan.


“Baiklah aku akan ke sana besok pagi. Untuk hari ini aku tidak bisa melakukannya.” Jawab Andi.


Sebelum menutup panggilannya, Andi menyempatkan bertanya mengenai bengkel pandai besi di dekat sini. Meski nantinya Andi tidak melakukan sendiri pembuatan senjata itu, namun ia perlu mengawasi jalannya pembuatan senjata agar dirinya bisa memberi masukan dalam pembuatan senjata.


Setelah itu, Andi menyalan pen tablet miliknya yang ada di apartemennya. Untung saja pen tablet ini sudah kembali padanya setelah dulu di pinjam oleh desainer gambar game kartu milik Andi. Sekarang Andi bisa memanfaatkan pen tablet itu.


Pada pen tablet itu, Andi menggambar beberapa desain senjata yang cukup mudah menurutnya. Ia cukup serius dalam melakukan hal itu hingga tidak melihat jam yang sudah berlalu.


Konsentrasi Andi buyar ketika sebuah telepon masuk ke ponselnya. Ia lalu mengecek siapa yang sudah menelponnya sekarang. Betapa kagetnya Andi ketika ia melihat siapa yang sekarang menelfonnya. Itu adalah Dinda.


Terlalu fokus mendesain senjata membuat Andi hampir lupa bahwa ia sudah membuat janji dengan Dinda. Ketika ia melirik ke arah jam di tangannya, Andi semakin kaget lagi. Sekarang sudah jam setengah sembilan.


Sebelumnya ia sudah janji akan menjemput Dinda pada jam delapan. Ini berarti, Andi sudah terlambat setengah jam dari waktu yang sudah ia janjikan. Andi jadi merasa tidak enak sekarang. Pasalnya, ia yang membuat janji ini, tetapi ia sendiri malah terlambat datang.


Langsung saja Andi menjawab panggilan Dinda itu. Pemuda itu sudah bersiap mendapatkan omelan dari pacarnya karena sudah telat selama ini.


Namun, Andi sama sekali tidak mendapatkan omelan apa pun ketika mengangkat telepon dari Dinda. Hal itu malah membuat Andi merasa bersalah telah melakukan hal ini kepada Dinda.


“Hallo Din.” Sapa Andi lirih.


“Kamu pasti kecapean dan semalem kesiangan ya?”


Ucapan Dinda barusan semakin merasa bersalah. “Ehm… itu….” Jawab Andi sedikit terbata-bata.


“Hah.” Andi mendengar Dinda mengelah nafas panjang. “Kita jadi keluar nggak?” Tanya Dinda dengan nada datar.


Meski Dinda tidak mengomelinya atau mengungkapkan kekesalannya, tetapi dari nada suaranya Andi tahu bahwa pacarnya ini sedang marah.


“Tentu. Jadi dong. Sekarang aku akan berangkat menjemputmu.” Ucap Andi sembari mematikan pen tablet yang ada di depannya.


“Nggak usah.” Jawab Dinda. “Aku udah di lobby apartemenmu. Jadi Kamu nggak perlu menjemputku.”


“Ehm… oke. Aku akan turun sekarang. Tunggu aku.”


Jika sudah begini, tidak banyak yang bisa Andi lakukan. Ketika menemui Dinda nanti, Andi hanya perlu meminta maaf saja. Setelah itu, nantinya Andi perlu membelikan pacarnya itu sesuatu agar dia tidak lagi marah kepada Andi.

__ADS_1


Atau mungkin Andi bisa melakukan sesuatu yang romantis dengan Dinda sebagai permintaan maafnya ini. Yang jelas, Andi harus mendapatkan maaf dari Dinda karena sudah membiarkannya menunggu setengah jam lebih tanpa kejelasan.


__ADS_2