
“Memangnya, bisnis apa yang ingin kamu buat?” Tanya Andi. Jika ide bisnis dari Widya itu bagus Andi berniat menginvestasikan beberapa uangnya. Ini bisa juga Andi lakukan untuk mengetes Widya dan keluarganya.
Widya cukup kaget mendengar Andi mengatakan hal itu. Ia tidak menyangka Andi berinisiatif untuk berinvestasi padanya. Apakah ini kesempatan bagi keluarganya untuk bekerja sama dengan Andi?
Jika demikian, Widya harus berusaha keras membuat Andi menginvestasikan uangnya di bisnis miliknya. Dengan begitu, jalan kerja sama antara Andi dan keluarga Jayantaka akan terbuka. Keluarganya pasti akan senang jika dirinya memberi mereka kabar mengenai hal ini.
“Aku mau bisnis kosmetik. Dulu ketika aku berlibur ke Milan dengan Mbak Gayatri, aku menemukan sebuah toko kosmetik yang mengijinkan pelanggan mereka meracik kosmetik mereka sendiri. Aku mencoba bikin dua lipstick di toko itu. Hasilnya menurutku menakjubkan.”
“Jadi, sepulang dari Milan, aku mencoba mencari tahu cara membuat kosmetik. Aku nyisihin sebagian uangku buat membeli bahan dan membuat kosmetik. Sekarang, karena keluargaku sudah memberikan lampu hijau untukku membuka bisnisku sendiri, aku berencana bergerak di bidang kosmetik.” Jelas Widya.
Mendengar hal itu Andi cukup tertarik. Di antara semua bisnis miliknya dan bisnis milik sepupunya, belum ada satupun perusahaan yang bergerak di bidang kecantikan. Andi tertarik untuk menginvestasikan uangnya di bisnis milik Widya itu. Hitung-hitung menambah koleksi perusahaannya.
Andi tidak peduli apakah itu nanti akan laku keras atau tidak. Jika kurang laku, semuanya bisa dibantu dengan promosi besar-besaran. Yang terpenting adalah kualitas dari barangnya. Keuntungan bisa didapat belakangan.
“Jadi Kamu mau bikin perusahaan kosmetik Wid. Apakah lipstick yang kamu buat itu lipstick yang sama dengan yang kamu berikan kepada Ibuku?” Tanya Arya.
“Ya. Yang aku berikan kepada Tante Mila itu lipstick buatanku sendiri.”
“Ibuku pernah bilang lipstick pemberianmu itu memiliki warna yang bagus. Aku percaya pada ulasan dari Ibuku yang merupakan banyak pengkoleksi lipstick itu. Jadi, aku juga akan menginvestasikan uangku di bisnis milikmu.”
“Saat ini yang bisa aku investasikan padamu hanya sepuluh milyar saja. Itu adalah nilai maksimal dari dana liquid milikku. Nantinya, kalau bisnismu ini bertambah bagus, ketika pembagian deviden perusahaan keluargaku cair, aku akan menambah investasiku.” Jelas Arya.
“Wah terima kasih Mas Arya sudah mau percaya padaku dan menginvestasikan uang sebanyak itu. Mas Arya tenang saja, uang Mas Arya akan aku pergunakan sebaik mungkin. Aku akan memberikan banyak keuntungan kepada Mas Arya.”
Dengan investasi dari Arya, Widya yakin dirinya sudah bisa memulai bisnisnya. Jika nanti kurang, Widya akan merayu Kakeknya untuk bisa mendapatkan pinjaman sebegai tambahan modal.
“Apakah modal segitu cukup?” Tanya Andi tiba-tiba.
“Maksudku, jika kamu memang berniat memulai mendirikan perusahaan kosmetik, sekalian saja buat yang besar. Aku rasa uang segitu akan kurang untuk membuat perusahaan yang bisa memasarkan lipstick ke seluruh nusantara.”
“Menurut perhitungan kasarku, sepuluh milyar hanya cukup untuk menyewa pabrik dan membeli beberapa mesin untuk pembuatan lipstick. Tetapi, kamu akan kekurangan uang untuk membeli bahan mentah pembuatan lipstick. Belum lagi kamu perlu memikirkan biaya pemasarannya nanti.”
__ADS_1
Mendengar analisa dari Andi, kesenangan yang baru saja Widya peroleh, menguap begitu saja. Andi seperti menuangkan air dingin kepadanya. Itu membuat Widya sadar bahwa uang investasi dari Arya masih kurang untuknya membulai bisnis skala besar.
Jika Widya membuat bisnisnya dalam skala kecil, itu juga tidak bisa. Hal itu akan memperlama dirinya untuk memperoleh keuntungan. Modal yang sudah diinvestasikan pun akan lebih lama kembalinya.
Target pasar yang ingin Widya capai adalah mereka yang berada di kalangan menengah ke bawah. Karena jumlah penduduk di Indonesia pada kalangan tersebut sangat banyak. Dengan begitu, target pasarnya lebih besar.
Itu berarti nantinya Widya akan memasarkan lipstick miliknya mulai antara enam puluh ribu hingga dua ratus ribu. Dengan harga segitu, Widya perlu membuat bisnis miliknya ini dalam skala besar untuk memenuhi permintaan pasar.
“Jadi, apa solusimu mengenai hal ini?” Tanya Arya.
Arya yakin Andi berkata seperti itu tidak dengan tujuan mematikan rasa percaya diri Widya. Pemuda itu pasti memiliki alasan berkata demikian. Walaupun belum terlalu lama saling kenal, Arya yakin Andi bukan orang dengan lidah tajam.
“Tentu saja aku juga akan menambah modalmu Wid. Bukankah aku sudah bilang bahwa aku akan berinvestasi padamu. Tetapi, aku hanya mampu berinvestasi satu milyar rupiah pada bisnismu. Itu adalah seluruh hasil yang aku dapatkan dari berinvestasi selama ini.”
“Jadi kamu harus benar-benar mengelola uang itu dengan baik.” Ucap Andi dengan sedikit nada jenaka, mencoba bercanda dengan Widya.
“Jika begitu sama saja bukan? Itu masih kurang.” Ucap Arya.
Widya kira, Andi akan menginvestasikan beberapa puluh milyar padanya, atau jika tidak sebesar itu, belasan milyar juga sudah lumayan. Tetapi Andi ternyata hanya menginvestasikan satu milyar padanya, dan itu adalah seluruh uang yang Andi miliki.
Apakah yang diceritakan oleh Kakeknya mengenai identitas Andi hanya sebuah kebohongan? Jika tidak, kenapa Andi yang dikatakan Kakeknya bisa memajukan keluarga mereka, hanya menginvestasikan satu milyar?
Bukankah Kakeknya juga bilang bahwa bagi Andi yang merupakan Sang Penerus, uang dianggap seperti air yang mengalir dengan mudahnya?
“Tunggu dulu aku belum selesai berbicara. Tentu saja dengan investasiku tidak akan merubah keadaan. Tetapi, aku bisa merekomendasikan Widya kepada PT. Dana Mimpi Anak Bangsa. Itu adalah sebuah perusahaan investasi yang baru-baru ini berdiri.”
“Perusahaan itu sekarang sedang gencar-gencarnya melakukan investasi kepada anak-anak muda yang memiliki ide bisnis cermelang. Aku yakin jika Kamu mengirim proposal kesana, mereka akan mendanai bisnismu itu Wid.”
“Puluhan milyar, ratusan milyar, tidak masalah bagi mereka. Asalkan bisnismu bisa memberikan keuntungan mereka pasti akan mau berinvestasi. Kalian kira dari mana aku bisa sesukses ini jika tidak ada orang lain yang mendanai?”
“Tentu saja karena aku mengirim proposal kepada perusahaan itu ketika mereka baru berdiri.” Jelas Andi.
__ADS_1
Ada alasan untuk Andi melakukan hal ini. Ia ingin mengetes Widya dan keluarganya. Tetapi, Andi tidak mau menginvestasikan uang dalam jumlah besar dengan mengatas namakan dirinya. Lebih baik uang itu berasal dari perusahan investasinya.
Toh apa yang sekarang Andi lakukan sama saja. Perusahaan investasi itu adalah miliknya. Saham yang dibeli perusahaan investasinya juga nanti akan ia miliki.
Dengan begini, itu akan menghilangkan kecurigaan Widya atau keluarganya mengenai asal uang Andi. Bagaimanapun juga, cukup mudah bagi keluarga Jayantaka menyelidiki latar belakang Andi dan keluarganya.
Keluarga Jayantaka pasti akan tahu bahwa belum lama ini dirinya hanyalah pemuda biasa yang tidak punya apa-apa. Jika Andi berinvestasi dalam jumlah besar, mereka akan mencurigai asal usul uang tersebut.
Jadi, Andi melemparkan semua penyebab keadaannya sekarang kepada perusahaan investasinya. Toh keluarga Jayantaka tidak akan tahu siapa pemilik perusahaan itu. Kerahasian mengenai hal itu cukup dijaga di negeri ini. Yang bisa mereka ketahui hanya siapa saja yang menjadi pengurus perusahaan tersebut.
…
Mendengar perkataan Andi, Widya memicingkan matanya. Ia lalu mencoba mengingat nama perusahan investasi tersebut. Widya perlu melaporkan hal ini kepada Kakeknya. Ada kemungkinan perusahan itu adalah milik Andi.
Jika benar demikian, itu berarti Andi lebih memilih bekerja dibalik layar dan tidak memperbanyak kerja sama secara langsung. Ini kabar yang bagus untuk mereka. Secara langsung atau tidak, itu tetap saja sebuah kerja sama dengan Andi. Jadi ini adalah informasi yang sangat berguna bagi keluarga Jayantaka.
“Baiklah. Aku akan membuat proposal kepada mereka.” Ucap Widya.
“Untuk sekarang, lebih baik kamu melakukan pendaftaran perusahaanmu terlebih dahulu. Baru nanti setelah mendapatkan dana dari perusahaan investasi tersebut, kamu bisa memulai semuanya.”
Ketiganya kemudian kembali berdiskusi mengenai secara lirih. Bagaimanapun juga, mereka masih berada di pesta syukuran kesembuhan Satrio. Masih banyak orang lain yang bisa saja mendengar perkataan mereka.
Meskipun apa yang mereka bahas sekarang bukanlah sesuatu yang harus dirahasiakan, tetapi lebih baik untuk sekarang tidak ada orang lain yang tahu kerja sama ini. Cukup mereka bertiga dan keluarga mereka saja yang tahu mengenai hal ini.
“Baiklah, sudah aku pustuskan nama produk kita menjadi AWA. Itu adalah singkatan dari nama depan kita bertiga sebagai pendiri perusahaan ini.” Ucap Widya.
“Sekarang, kita tinggal memproses semuanya. Pendaftaran perusahaan, pembelian semua alatnya, dan tentu saja merekrut para pekerjanya.”
“Packaging juga jangan ketinggalan, kita perlu memikirkan warna untuk packaging. Dengan begitu, ketika orang melihat produk kosmetik dengan packaging warna itu, mereka akan langsung terpikirkan produk kita.” Ucap Andi.
“Tentu, aku akan memikirkan semua itu.” Jawab Widya.
__ADS_1
“Baiklah, semuanya sudah selesai. Sekarang kita nikmatin saja pestanya. Aku lihat sebentar lagi makanannya akan dihidangkan. Jadi, lebih baik kita bergabung dengan yang lainnnya.” Ucap Arya.