Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 96 Kakek Buyut Adipramana


__ADS_3

Jangan lupa like, vote, komen, dan tambahkan ke favorit, selamat membaca


----


Rumah Kakek Buyut Adipramana dipenuhi dengan hiasan barang-barang antik. Barang-barang di sini adalah koleksi dari Kakek Buyut Adipramana yang ia kumpulkan semasa mudanya. Tidak hanya itu, foto hitam putih juga menghiasai dinding-dinding rumah tersebut.


Andi pernah dengar dari ayahnya bahwa setiap foto itu memiliki sejarahnya sendiri. Seperti foto Kakek Buyut Adipramana yang terlihat berumur dua puluh tahunan, di foto itu, ia membawa sebuah senjata api. Tidak lupa helm khas tentara pada jaman itu menutupi kepala Kakek Buyut Adipramana.


Di foto itu, terlihat wajah Kakek Buyut Adipramana belopotan dengan lumpur. Tidak hanya itu, lengan kirinya dihiasi sebuah perban yang membalut luka. Kata Aripto, foto itu diambil ketika Kakek Buyut Adipramana selesai memenangkan sebuah peperangan melawan penjajah.


Banyak foto dengan tema seperti itu di dinding rumah Kakek Buyut Adipramana. Itu menandakan bahwa beliau dulu adalah salah satu pejuang kemerdekaan negeri ini. Melihat foto-foto tersebut, ia teringat ucapan Mr. S yang dikirimkan oleh sistem beberapa waktu lalu.


‘Mr. S dulu bilang bahwa aku memiliki sistem ini ada hubungannya dengan jasa leluhurku untuk negeri ini. Apakah itu karena Kakek Buyut Adipramana adalah pahlawan yang membantu kemerdekaan negeri ini?’ Gumam Andi dalam hati.


Ketika hendak memasuki kamar Kakek Buyut Adipramana, Andi melihat sebuah simbol Kerajaan Narangakarta di dinding. Andi kemudian berhenti untuk melihat simbol itu.


‘Ah jadi ini alasannya aku merasa simbol di pagar rumah Widya sangat tidak asing. Karena setiap kali aku ke rumah Kakek Buyut Adipramana aku sering melihat simbol ini. Surya Naranga, begitukah mereka menyebutnya?’


“Kak kenapa berhenti?” Tanya Amira melihat kakaknya berhenti dan memandangi salah satu pajangan dinding.


“Tunggu bentar.” Andi kemudian mengeluarkan ponselnya dan mengambil beberapa gambar dari hiasan dinding tersebut.


“Memangnya buat apa Kak ngambil foto itu? Kalo nggak salah, di internet gambar Surya Naranga kan banyak? Kenapa nggak nyari di sana aja?” Tanya Amira heran.


“Ini kelihatannya lebih otentik daripada yang ada di internet.”


Dari pengamatan Andi, simbol di depannya ini telah di lukis di atas kulit binatang. Tidak hanya itu, warna catnya yang memudar sangat jelas mengatakan umur dari hiasan dinding ini. Andi tidak tahu dari mana Kakek Buyut Adipramana mendapatkan simbol Surya Naranga ini. Hiasan dinding ini terlihat telah berumur ratusan tahun.


“Ayo kita ke kamar Kakek Buyut Adipramana.” Ucap Andi setelah dirinya mengambil beberapa gambar.


Di halaman belakang terlihat cukup ramai. Seperti yang di katakan Dimas, ketiga sepupunya yang merupakan anak dari Paman Bagas masih berada di sana. Mereka sekarang tengah mengobrol di bawah pohon rambutan yang ada di sana.

__ADS_1


Tidak hanya mereka, beberapa sepupu yang lain, kedua orang tuanya, juga paman dan bibinya juga ada di sana. Mereka terlihat tengah mengobrol dengan Kakek Buyut Adipramana yang tengah duduk di kursi goyangnya.


Kedatangan Andi dan kedua adiknya sedikit menarik perhatian dari mereka yang ada di sana. Langsung saja Andi memimpin adik-adiknya menuju ke arah Kakek Buyut Adipramana. Mereka berjongkok di depan laki-laki berusia sembilan puluh enam tahun itu.


“Kakek Buyut ini Andi, anak dari Aripto, cucu dari Hariyanto.” Sapa Andi.


Meski Kakek Buyut Adipramana berusia hampir satu abad, tetapi ingatannya masih kuat. Dia juga masih bisa berjalan sendiri dengan tegak tanpa bantuan tongkat. Jika orang tidak mengenalnya, maka mereka akan berpikir bahwa Kakek Adipramana baru berusia enam puluh tahunan.


Meski Kakek Buyut Adipramana tidak pikun, tetapi di keluarga mereka ini adalah cara menyapa generasi tua setelah mencium tangan mereka. Mungkin supaya lebih tahu yang ini anak siapa dari garis keturunan yang mana.


Ketika Andi mendongakan kepalanya, ia melihat Kakek Buyut Adipramana mematapnya dengan penuh arti. “Bagaimana udara di sini? Lebih segar bukan? Pasti bernafas di sini lebih mudah bukan?” Tanya Kakek Buyut Adipramana dengan sebuah senyuman lebarnya.


Andi cukup kaget mendengar pertanyaan itu. Tidak biasanya Kakek Buyut Adipramana memberikan pertanyaan seperti itu. Biasanya dia hanya akan memberi pertanyaan basa basi seperti, bagaimana kabarnya, bagaiamana sekolah/kerjaan, ke depannya mau lanjut kemana.


Pertanyaan yang Kakek Buyut Adipratama tanyakan kepada Andi barusan bisa juga dikatakan pertanyaan basa basi. Tetapi, ini adalah pertama kalinya Andi mendengar kalimat basa basi itu keluar dari mulut Kakek Buyut Adipramana.


‘Ah, apakah Kakek Buyut mengetahui aku yang memiliki sistem? Mr. S bilang, aku memiliki sistem karena jasa leluhurku bukan? Apakah Kakek Buyut mengetahui hal ini?’


Tahu atau tidak, Andi tidak bisa menanyakan hal itu sekarang bukan? Di sini keluarga besarnya masih berkumpul. Jika Andi menanyakan hal itu, sudah pasti mereka akan mendengarnya. Bisa-bisa ia akan mereka anggap gila karena percaya dengan yang namanya sistem itu.


Yang bisa Andi lakukan sekarang hanyalah menjawab pertanyaan dari Kakek Buyut Adipramana. Jika diam saja maka ia akan dianggap anak tidak tahu sopan santun, ditanya malah diam saja.


“Kamu sekarang sudah lulus SMA kan? Umurmu sudah delapan belas tahun lebih benar bukan?”


“Iya Kakek. Aku sudah selesai ujian. Tinggal nunggu pengumuman, tapi udah daftar ke perguruan tinggi.”


Kakek Buyut Adipramana kemudian menyerahkan sebuah kotak kayu kecil kepada Andi. “Ini hadiah buat kamu.”


Melihat hal itu Andi tidak langsung menerimanya. Ia tidak tahu apakah dirinya boleh menerima hadiah ini apa tidak. Di sini masih ada para sepupunya. Jika dia menerima hadiah ini sementara mereka tidak diberi hadiah, tentu saja itu tidak akan mengenakkan bukan.


“Ambil saja Andi, itu adalah hadiah karena kamu sudah mencapai usia dewasa. Semua keturunan Prayudi yang sudah berumur delapan belas tahun lebih berhak mendapatkannya.” Suara Bagas, paman Andi, membuat pemuda itu menerima hadiah dari Kakek Buyut Adipramana.

__ADS_1


Memang Andi mendengar dari para sepupunya bahwa ketika mereka berusia delapan belas tahun lebih, Kakek Buyut Adipramana akan memberikan mereka hadiah. Kenapa dirinya melupakan hal itu. Andi kemudian menerima kotak kayu kecil tersebut. Tidak lupa ia berterima kasih kepada Kakek Buyut Pramana.


Setelah itu, Andi menyapa seluruh generasi tua yang ada di sana. Pertemuan tahunan keluarga Prayudi bukanlah pertemuan yang formal. Tidak ada urutan acara khusus yang perlu diikuti. Dalam pertemuan ini, seluruh keluarga besar akan berkumpul dan bertukar kabar.


Ini dilakukan karena anggota keluarga Prayudi sudah berpencar dan tidak berada di satu kota. Jadi, pertemuan seperti ini perlu dilakukan untuk tetap menjalin tali persaudaraan di antara semua anggota keluarga Prayudi.


Setelah menyapa seluruh generasi yang lebih tua, Andi bebas melakukan apapun. Ia bisa juga pergi dari halaman belakang atau tetap mengobrol dengan para sepupunya yang ada di sana. Karena sebelumnya Dimas dan Wira sudah mengatakan tengah menunggunya di rumah pohon yang ada di halaman depan.


Bersama dengan kedua adiknya, Andi kembali menuju ke halaman depan untuk menemui sepupu mereka. Ketika agak jauh dari halaman belakang, Andi membuka kotak kayu pemberian Kakek Buyut Adipramana.


Isinya adalah sebuah kalung berliontin simbol unik. Simbol itu bergambar seekor elang yang memakai sebuah mahkota. Kata para sepupunya, itu adalah simbol milik keluarga Prayudi. Andi sedikit merasa aneh karena liontin kalungnya ini berwarna emas.


Andi pernah melihat kalung milik sepupunya. Liontin kalung mereka berwarna perak. ‘Kenapa kalung milikku memiliki warna yang berbeda? Apakah Kakek Buyut salah dalam memberikanhadiahnya?’ Gumam Andi dalam hati.


Di bawah kalung itu, Andi menemukan sebuah kertas kecil di sana. Andi lalu mengambil kertas tersebut untuk membaca tulisannya.


[Untuk Andi Rahman Prayudi]


‘Ah, berarti ini memang untukku. Lihat saja Kakek Buyut menuliskan catatan ini.’


Andi kemudian melanjutkan membaca catatan yang ditulis oleh kakeknya dalam tulisan tegak bersambung itu. Andi ingat bahwa Kakek Buyut Adipramana suka sekali menulis dengan tulisan tegak bersambung menggunakan fountain pen. Sepertinya beliau masih tidak berubah.


[Minggu depan temui aku di rumah ini. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Jangan beritahu mengenai hal ini kepada siapapun]


[Kakek Buyut]


Andi cukup kaget menerima tulisan ini. Ia tidak menyangka Kakek Buyut Adipramana ingin bertemu dengannya minggu depan. Tetapi untuk apa? Kenapa tidak melakukannya sekarang? Apakah karena sekarang banyak orang di rumah ini, sehingga kemungkinan yang lain tahu cukup besar?


Tetapi, pembicaraan apa yang akan mereka lakukan yang tidak boleh diketahui oleh orang lain? Apakah ini ada hubungannya dengan Sistem? Mungkin saja begitu. Tadi saja beliau menanyakan pertanyaan seperti itu bukan? Jadi, kemungkinan untuk ini membicarakan mengenai sistem cukuplah besar.


“Wah, kalungnya bagus Kak.”

__ADS_1


Suara Arfan membuyarkan lamunan Andi. Dengan cukup tenang, ia mengantongi kertas pemberian Kakek Buyut Adipramana itu. Jika ia melakukannya dengan terburu-buru, maka adik-adiknya akan curiga dan menanyakan kertas apa yang ia sembunyikan dari mereka. Andi tidak ingin adik-adiknya mengetahui keberadaan kertas tersebut. Apalagi mengetahui isinya. Mungkin nanti kertas tersebut akan ia bakar.


“Nanti ketika kamu sudah berusia delapan belas tahun, kamu juga akan mendapatkannya. Jadi jangan iri. Semua sepupu kita juga sudah memilikinya.” Ucap Andi yang segera memakai kalung tersebut.


__ADS_2