Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 211 Widya dan Dinda


__ADS_3

Ketika jam menunjukkan pukul lima lebih, Andi keluar dari kantornya. Ia lalu mengemudikan mobilnya untuk menjemput Dinda di apartemennya. Mereka akan berbelanja di supermarket yang ada di dekat apartemen mereka.


Setelah setengah jam perjalanan, Andi sampai di depan apartemen Dinda. Belum juga Andi mengambil ponselnya untuk menghubungi pacarnya itu, tetapi Andi sudah melihat dia sekarang. Dinda sekarang berjalan mendekat ke arah mobil Andi.


“Eh Kamu dari tadi nungguin aku di sini?” Tanya Andi.


“Nggak aku turun lima menit yang lalu. Aku sudah memperhitungkan waktu kedatanganmu. Jadi aku nunggu Kamu di lobby biar Kamu nggak nunggu aku lebih lama lagi.” Jelas Dinda sembari memasuki mobil.


Sebenarnya Dinda sudah menunggu Andi di lobby apartemennya sejak pacarnya itu memberitahu bahwa dia dalam perjalanan menuju apartemennya. Tetapi Dinda jelas tidak bisa memberitahu hal itu bukan?


“Baiklah kalau begitu kencangkan sabuk pengamanmu.” Setelah itu, Andi mulai mengemudikan mobil menuju supermarket tujuan mereka.


“Ngomong-ngomong, kita mau masak apa hari ini?” Tanya Andi.


Dinda terlihat terdiam sebentar. Ia tengah memikirkan masakan apa yang proses memasaknya cukup memakan waktu. Dinda ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan Andi.


“Bagaimana jika kita membuat pasta saja? Tetapi aku mau kita membuat semuanya dari awal, termasuk pastanya. Jadi, kita nggak akan beli kemasan pasta yang sudah jadi.” Saran Dinda.


“Tidak masalah untukku. Kebetulan di apartemenku aku memiliki beberapa gilingan pasta. Jadi, kita bisa membuat semuanya sendiri. Untuk saos pastanya, Kamu ingin apa? Biar aku yang memasakkan saosnya untukmu.”


“Kamu bisa memasak?” Tanya Dinda sedikit heran.


“Tentu saja bisa. Aku tidak hanya bisa dalam membuat roti, tetapi dalam memasak makanan pun aku bisa.” Ucap Andi dengan bangga.


Ini adalah kesempatannya menunjukkan kemampuan memasaknya. Jelas dengan kemampuan memasak level lima miliknya, masakan milik Andi memiliki kualitas sekelas chef restoran ternama. Jadi, Andi ingin membuat Dinda terkesan dengan masakannya.


“Beri aku kejutan untuk pilihan sausnya.” Ucap Dinda pada akhirnya.


“Baiklah jika begitu.”


Sesampainya di supermarket, Andi langsung mengambil sebuah troli belanja. Ia lalu mengajak Dinda menuju lorong tempat tepung di pajang. Sudah cukup lama Andi tidak memasak sendiri, stok bahan di apartemennya pun tidak ada. Jadi ia perlu membeli semuanya sekarang.


Setelah mengambil tepung, Andi beralih menuju lorong yang menyediakan aneka sayuran. Ketika sampai di sana, Andi tidak menyangka bertemu dengan seseorang yang di kenalnya. Andi pun berjalan mendekati orang itu untuk menyapanya.

__ADS_1


Di belakang Andi, Dinda menatap tajam punggung pacarnya itu. Jika tatapan mata bisa membunuh, maka Andi sudah pasti mati sekarang. Dinda sangat tidak suka dengan apa yang Andi lakukan sekarang. Pasalnya yang Andi dekati sekarang adalah seorang perempuan.


‘Pasti perempuan j*lang ini menguntit Andi. Ia pasti mencari tahu ke mana Andi akan pergi pada hari ini. Lalu, dia akan pergi ke tempat Andi pergi agar bisa bertemu dengannya. Aku tidak percaya pertemuan ini hanyalah sebuah kebetulan belaka.’


‘Tidak mungkin perempuan ini berbelanja di sini jika tidak dengan tujuan ingin bertemu Andi. Rumahnya di ujung sana, kenapa pula berbelanja di sini. Pasti dia sudah tahu bahwa Andi tinggal di daerah sini.’ Gumam Dinda dalam hati.


“Hai Widya. Lagi belanja juga?” Sapa Andi kepada kenalannya yang ternyata adalah Widya.


Saat ini Widya terlihat berbelanja sendirian. Di sampingnya terdapat sebuah troli belanja. Andi meilirik sekilas di dalam troli tersebut terdapat beberapa buah, roti, dan susu. Sekarang perempuan itu terlihat tengah memilih beberapa keju.


“Eh, Andi. Aku nggak menyangka bertemu denganmu di sini.” Jawab Widya.


‘Itu hanya bualanmu saja. Aslinya kamu sengaja datang kemari.’ Di belakang Andi, Dinda masih saja


“Ya, aku punya apartemen di dekat sini. Jadi, aku kadang berbelanja di supermarket ini. Kalau kamu?” Tanya Andi.


“Jadi Kamu punya apartemen sekitar sini rupanya. Kalau aku, aku sekarang akan mengunjungi temanku yang dirawat di rumah sakit. Kebetulan rumah sakit itu dekat sini. Jadi, aku mampir ke supermarket ini untuk membeli beberapa buah dan roti untuk di bawa ke sana.” Jelas Widya.


Setelah berucap demikian, Widya baru sadar bahwa Andi sedang tidak sendirian sekarang. Di sampingnya ada perempuan lain. Jika Widya tidak salah ingat, perempuan ini adalah teman Andi yang bertemu dengannya di rumah sakit ketika menjenguk Andi.


‘Hem… Fokusmu terus saja ke Andi sampai tidak tahu bahwa Andi sedang bersama dengan orang lain. Dasar cewek ini emang ular.’ Gumam Dinda dalam hati.


Meskipun Dinda bergumam menjelek-jelekkan Widya, tetapi saat ini ia tengah menampilkan senyum terbaiknya. Ia lalu memandang ke arah Andi dan Widya bergantian. Dinda lalu memandang lekat ke arah Widya.


“Sepertinya hubunganmu dengan Andi cukup dekat ya? Andi datang denganku tetapi fokusmu hanya ke Andi seorang.” Ucap Dinda.


“Ya kami cukup dekat. Andi sudah beberapa kali menolong keluargaku. Jadi, hubungan di antara kami cukup baik. Kami teman berteman baik sekarang.” Jelas Widya.


Ucapan Widya barusan menyulut api cemburu dalam diri Dinda. Bagi Dinda, perkataan Widya barusan adalah pernyataan bahwa dia memiliki hubungan spesial dengan Andi. Meskipun sekarang mereka berteman, tidak menutup kemungkinan Widya berharap lebih dari itu.


“Ya Kamu adalah teman Andi, dan selamanya akan begitu. Andi sekarang sudah menjadi pacarku. Jadi, Kamu jangan memiliki pemikiran lain kepadanya.” Ucap Dinda sembari menggandeng tangan Andi.


Andi yang ada di sana, tidak suka mendengar perkataan Dinda barusan. Menurutnya, apa yang Dinda lakukan itu sangat tidak sopan. Tidak sepantasnya dia mengatakan hal yang seperti itu. Andi lalu menatap tajam ke arah Dinda.

__ADS_1


“Dinda, kenapa Kamu bilang kayak gitu? Nggak sopan tahu. Sekarang minta maaflah kepada Widya.” Pinta Andi dengan suara tegas.


“Aku nggak ngelakuin kesalahan apa pun. Aku hanya memberikan fakta kepada di bahwa kita sekarang sudah menjadi pacar. Aku tidak mau ada cewek lain yang berpikiran menjadikan Kamu sebagai pacarnya. Dengan aku memberi tahu hal ini, pasti mereka akan menghentikan keinginan mereka itu.”


Ketika Dinda berucap demikian, ia melihat ke arah Widya dengan menunjukkan sebuah senyum kemenangan kepada perempuan itu. Sebuah senyuman pun tidak luput dari bibir Dinda.


Andi sendiri cukup kaget dengan apa yang didengarnya itu. Ia kira Dinda adalah perempuan yang baik. Selama ini ia memandang Dinda seperti itu.


Perempuan itu sering sekali membantunya jika ada masalah ketika mereka masih sekolah dulu. Tetapi ia tidak menyangka Dinda adalah perempuan yang seperti ini aslinya.


Sebelumnya ia menerima Dinda menjadi pacarnya karena dia juga menyukai perempuan itu. Andi yang mengenal Dinda cukup lama sejak mereka SMP, merasa cukup tahu siapa Dinda sebenarnya dan tidak keberatan menjalin kasih dengan perempuan itu.


Tetapi sekarang Dinda yang seperti membuat Andi mulai mempertanyakan keputusannya. Apakah sudah benar dirinya menerima permintaan Dinda untuk menjadi pacarnya waktu itu.


‘Hem… apakah aku terlalu gegabah menerima Dinda menjadi pacarku tanpa mengenal dia lebih jauh lagi?’ Gumam Andi yang mempertanyakan keputusannya sendiri.


“Wah, selamat ya Andi, atas hubungan kalian. Traktirannya aku tungguin ya.” Ucap Widya sembari memberikan senyuman yang sedikit dipaksakan.


Meski sedikit canggung berada di posisi seperti ini, Widya tetap harus memberi selamat kepada Andi. Dalam hati Widya ingin sekali pergi dari sini dan menghindari dua sejoli ini. Ia tidak mau terlibat dalam pertengkaran mereka.


Saat ini Widya bisa melihat sendiri bagaimana Andi yang memasang wajah seriusnya setelah mendengar ucapan Dinda barusan. Jelas tidak lama lagi akan ada pertengkaran di antara mereka.


“Tentu saja. Aku akan mentraktirmu mengenai hal ini. Coba cari waktu saja supaya kita bisa berkumpul dengan yang lainnya dan makan-makan bersama.” Jawab Andi.


“Tentu saja. Aku akan mengabari yang lainnya.”


“Ehm… maaf ya Wid atas apa yang Dinda katakan barusan.” Ucap Andi setelah melihat Dinda sama sekali tidak memiliki niatan meminta maaf kepada Widya atas apa yang baru saja ia katakan.


“Iya nggak papa kok An. Aku duluan ya soalnya aku masih perlu menjenguk temanku. Takutnya dia sudah beristirahat setelah ini.”


“Iya. Hati-hati di jalan Wid. Sekali lagi maaf soal tadi.”


Andi tahu bagaimana Widya yang mulai merasa canggung berada bersama dengan mereka. Ini semua karena ucapan Dinda barusan. Jika saja Dinda tidak berucap demikian, maka Widya tidak akan secanggung sekarang.

__ADS_1


“Duluan ya.” Setelah berucap demikian, Widya pun pergi dari sana. Sepertinya jika nanti dirinya bertemu Andi, ia harus menjaga jarak dengan pemuda itu. Pacarnya cukup pencemburu menurut Widya.


__ADS_2