
“Aku masih perlu bantuanmu untuk keperluan lainnya.” Ucap Andi.
“Kamu butuh bantuan apa lagi?”
“Tolong beli semua tempat yang kita sewa untuk kafe kita itu. Jadikan semua bangunan itu atas namaku. Dengan begini, para Tuan Muda itu tidak akan mendesak dan mengancam pemilik tempat tersebut untuk mengusir kita dari tempat yang kita sewa.”
“Aku akan mengirimkan uangnya untukmu. Jadi sebelum kafe kita buka, aku mau kita sudah menjadi pemilik dari tempat itu.”
Andi meminta Brian melakukan ini karena ia tahu bahwa orang tua Brian memiliki anak buah yang cukup handal. Bisnis Andi bisa dibilang baru saja berjalan awal bulan ini. Jadi, dirinya belum memiliki cukup banyak anak buah yang bisa ia andalkan untuk mengurusi semua ini.
Sepertinya ia perlu memperbanyak karyawannya agar nantinya urusan remeh temeh seperti ini bisa ia serahkan kepada bawahannya. Waktu milik Andi lebih baik ia gunakan untuk keperluan lainnya. Semakin ke sini waktu milik Andi semakin berharga jadi ia perlu memakainya untuk sesuatu yang lebih penting lagi.
“Baiklah aku bisa melakukan hal itu. Aku akan meminta seseorang untuk menanyakan mengenai hal itu kepada pemilik tempat yang kita sewa.”
“Masih ada lagi Bro. Aku masih butuh bantuanmu lagi.”
“Apa lagi sekarang? Kenapa tidak sekalian saja sih ngomongnya.” Ucap Brian sedikit jengkel.
Mendengar hal itu, Andi tertawa pelan. “Hahaha. Tenang saja ini yang terakhir untuk saat ini. Aku hanya ingin menanyakan padamu mengenai rumah dijual yang berada di kota kita. Siapa tahu kamu memiliki kenalan orang yang sedang menjual rumah.”
“Rumah itu memiliki luas seperti rumahmu paling minim. Lebih luas dari itu tidak masalah untukku.”
“Kamu kira aku ini makelar rumah? Kenapa kamu menanyakan hal seperti itu padaku?” Tanya Brian yang terdengar kesal.
“Ya kan cuma tanya. Kali aja kamu punya kenalan yang tahu rumah di jual.” Jawab Andi.
“Hahaha…. Aku hanya bercanda. Kalau nggak salah ingat, ada seseorang yang menjual rumahnya. Rumahnya berdiri di atas tanah seluas satu hektar lebih. Coba kamu cek aja masih dijual apa nggak.”
Satu hektar? Itu adalah yang Andi cari. Jelas dengan tanah seluas itu bangunan rumahnya cukup besar. Andi jelas bisa memarkirkan banyak mobil di sana. Selain itu, rumah tersebut jelas memiliki kamar yang cukup banyak. Jelas itu cukup untuk memberikan tempat tinggal bagi para pekerjanya.
“Kalau begitu berikan aku kontak penjualnya. Aku akan melihatnya besok siang.”
*****
Pagi harinya, setelah mengantarkan Amira ke sekolah, Andi pergi ke rumah Putra. Ia sudah membawa kontrak kerja untuk Putra dan teman-temannya. Andi cukup yakin bahwa kelima teman Putra setuju untuk bekerja dengannya. Jadi, dirinya sudah membawa kontrak kerja mereka sekarang.
Selama kantornya masih direnovasi, Andi merencana menyewa sebuah ruko di kota ini. Setidaknya para karyawannya memerlukan tempat untuk bekerja bukan? Jadi untuk sementara ruko tersebut akan menjadi kantor bagi perusahaan game miliknya.
__ADS_1
Sesampainya Andi di rumah Putra, hanya ada Rosyid dan Nando saja di rumah Putra. Ini masih setengah jam lagi dari waktu yang mereka janjikan. Jadi, Andi tidak mempermasalahkan bahwa mereka belum juga datang kemari.
Tetapi, jika mereka sampai telat datang, maka Andi akan memberikan penilaian buruk kepada mereka. Belum bekerja saja sudah terlambat datang. Apalagi nanti jika sudah bekerja?
“Yang lain belum datang?” Tanya Andi.
“Belum Bos. Mereka masih dalam perjalanan.” Jawab Nando.
Mendengar ucapan Nando itu, Andi sudah tahu bahwa kemungkinan besar kelima teman Putra setuju dengan ajakan Andi untuk bekerja dengannya.
Sembari menunggu yang lain datang, Andi berencana menanyakan sesuatu kepada Putra. Mengenai idenya yang ingin membuka perusahaan baru yang bergerak di bidang elektronik.
“Put, aku mau tanya sesuatu lagi denganmu.”
“Tanya apa emangnya?”
“Apakah kamu punya temen yang pinter rakit komputer. Dia juga harus tahu di mana aja beli hardware dari komputer yang murah dan berkualitas. Kamu ada kenalan seperti itu?” Tanya Andi.
Andi memilih menanyakan hal ini kepada Putra karena temannya ini adalah lulusan SMK. Jadi, dia memiliki kenalan orang yang memiliki kriteria seperti itu. Kenapa Andi tidak mencari saja mereka yang sudah berpengalaman di bidang ini?
“Kalau seperti itu, siapa ya?” Putra mengerutkan keningnya mencoba berpikir siapa temannya yang memiliki kriteria yang Andi inginkan.
“Tomi kan bisa melakukan itu. Biasanya dia mendapatkan job membuat beberapa komputer spek sultan bukan?” Ucap Rosyid ketika melihat Putra tidak juga memberikan jawaban kepada Andi.
“Ah ya Tomi. Aku hampir melupakan hal itu. Kayak yang Ocid bilang, dia itu sering bikin komputer spek sultan, terus dia jual lagi. Seringnya dia ngumpulin dulu mereka yang pesen komputer spek sultan. Kalo udah kekumpul lebih dari lima, dia bakal pesenin perangkatnya lewat beberapa orang yang mau impor barang dari luar.”
“Tomi itu ikut semacam komunitas gitu lah. Jadi anak komunitasnya sering impor perangkat komputer dari luar. Kalo beli dalam jumlah banyak gitu kan lebih murah. Karena setelah mereka hitung, dengan cara gini, mereka bisa dapet untung yang lebih gede.”
Mata Andi berbinar mendengar penjelasan Putra. Bukankah ini adalah orang yang ia cari? Mengetahui jalur impor perangkat komputer dari luar. Dan Putra tadi bilang bahwa temannya ini tergabung dalam sebuah komunitas.
Jika Andi bisa merekrut si Tomi ini bergabung dengannya, nantinya akan lebih mudah merekrut yang lain. Andi bisa meminta Tomi untuk merekrut teman komunitasnya agar mau bergabung dengannya. Bukankah dengan begitu dirinya bisa mendapatkan satu tim yang sudah profesional?
“Kalau begitu, bisakah kamu panggil dia kemari? Aku ingin merekrut dia untuk menjadi karyawanku. Itu jika dia mau.”
“Baiklah. Akan aku telfon dia. Semoga aja dia jam segini sudah bangun.” Ucap Putra.
Kemudian, Putra mengambil ponselnya untuk menghubungi Tomi. Sementara Putra mencoba menghubungi Tomi, ketiga orang lainnya datang.
__ADS_1
“Ya dia bisa kemari. Palingan setengah jam lagi dia nyampe.”
“Oke sekarang kita mulai aja. Jadi, gimana keputusan kalian? Kalian mau kerja bareng aku?” Tanya Andi.
“Tentu Bos.” Jawab Putra dan kelima temannya hampir bersamaan.
Andi kemudian mengeluarkan kontrak kerja untuk mereka berenam. Lalu Andi menyerahkannya kepada mereka.
“Baca dulu dengan teliti sebelum ditanda tangani. Jangan sampe nanti bilang aku jebak kalian.” Pinta Andi kepada keenam orang di depannya.
Keenam orang itu menuruti ucapan Andi. Mereka membaca dengan teliti kontrak kerja yang Andi berikan kepada mereka.
“Eh, ada subsidi tepat tinggal tiga ratus ribu?” Ucap Kevin tiba-tiba ketika membaca kontrak di tangannya.
“Ya. Aku sudah membicarakan ini dengan HRD kantorku. Katanya untuk mereka yang kontrak kerjanya kurang dari enam bulan, mereka dapet subsidi tempat tinggal sebesar tiga ratus ribu. Kami nggak nyediain tempat tinggal untuk karyawan tetapi ngasih subsidi tempat tinggal seperti ini.”
“Wah lumayan nih tambahan di luar gaji.” Ucap Nando.
Setelah membaca beberapa kali kontrak kerja tersebut, keenam orang tersebut akhirnya menanda tangani kontrak kerja tersebut. Dengan begini, mereka sekarang resmi menjadi bawahan Andi untuk saat ini.
“Lalu, kapan kami mulai kerja?” Tanya Putra.
“Kantornya yang ada di Surabaya masih direnovasi. Jadi, kita tidak bisa menempatinya sekarang. Aku berencana menyewa sebuah ruko di kota ini untuk menjadi kantor sementara. Jadi, nantinya kalian akan bekerja di sana.”
“Ehm, apakah kalian semua memiliki laptop?”
“Punya, itu adalah penunjang pembelajaran kami. Jadi, kami semua punya laptop. Memangnya kenapa?” Tanya Nando.
“Untuk saat ini aku belum menyiapkan perangkat komputer untuk kalian. Jadi, untuk sementara kalian memakai laptop kalian masing-masing. Apakah tidak masalah dengan hal ini.”
“Aku kira apa ternyata hanya masalah itu toh. Tenang saja kami tidak masalah dengan hal itu.” Jawab Kevin, diikuti dengan persetujuan dari yang lain.
Andi cukup lega mendengar hal itu. “Baiklah setelah ini aku akan menyewa ruko untuk kantor sementaranya. Nanti akan aku hubungi di mana rukonya melalui group. Besok pagi kalian mulai bekerja.”
Sekarang, Andi tinggal menunggu kedatangan Tomi. Setelah itu, ia akan mengurusi yang lainnya. Andi berencana menyelesaikan urusannya di sini hari ini juga. Lalu besok, ia akan kembali ke Surabaya untuk bersiap pergi ke Spanyol.
Andi sudah membuat beberapa catatan tentang apa saja yang perlu ia bawa ke Spanyol. Jadi, besok dirinya tinggal membeli beberapa hal yang belum ia miliki.
__ADS_1