
Setelah mendapatkan semua CCTV, Andi membawa rangka sepedanya menuju bengkel sepeda. Ia lalu memilih roda, ban dan sadel yang semirip mungkin dengan yang ia miliki sebelumnya. Sembari menungu sepedanya di perbaiki, Andi menelfon Brian yang berada di luar kota.
Ia membutuhkan bantuan Brian untuk menemukan nomor telfon seseorang. Andi berencana melakukan sesuatu untuk membalaskan semua hal ini kepada Jony. Jika tidak maka anak itu akan tetap tenang saja ketika sudah berbuat seperti itu kepada Andi.
“Hallo Bro ada apa?” tanya Brian.
“Hallo Bro. Aku butuh bantuanmu. Kamu punya kontak seorang pengacara yang cukup handal tidak. Aku sedang membutuhkan jasa seorang pengacara saat ini.”
“Pengacara? Buat apa? Kamu kena kasus apa kok sampe nyari pengacara?” Brian sedikit heran dengan permintaan Andi. Tiba-tiba saja dia meminta kontak seorang pengacara kepada Brian. Jika bukan karena terkena kasus hukum, Andi tidak akan menelfonnya bukan?
Andi kemudian menceritakan semuanya kepada Brian. Tentang Jony yang menyuruh seseorang menghancurkan sepedanya. Tentang mereka yang akan mengeroyoknya di gang belakang sekolah. Semuanya Andi ceritakan kepada Brian tanpa adanya pengurangan atau penambahan cerita.
“Sialan. Berani benar anak itu.” Umpat Brian setelah mendengar seluruh cerita Andi. “Jadi, kau membutuhkan pengacara untuk hal ini? Apakah Jony menuntutmu karena menghajar anak buahnya?”
“Tentu saja tidak. Mereka belum melakukan apapun. Tetapi itu bukan berarti kita tidak bisa melakukan apapun bukan? Jadi, aku berencana memberi Jony pelajaran. Kau tau, aku sudah mempunyai banyak bukti untuk membawa urusan ini ke polisi. Aku yakin dengan begini dia akan menerima pelajaran.”
“Itu terlalu ringan Bro. Jika kau membawa urusan ini ke polisi, palingan Jony cuma perlu membayar ganti rugi. Itu nggak akan buat dia jera. Yang ada dia akan membuat rencana lainnya untuk membalasmu.” Jelas Brian di ujung telfon.
“Tentu saja aku hanya akan mendapatkan ganti rugi. Tetapi perlu kamu ingat bahwa ayah Jony berencana mencalonkan diri sebagai walikota tahun ini. Sudah pasti berita tentang anaknya yang suka melakukan perundungan akan memberikan citra buruk baginya bukan?”
“Bukankah Jony senang sekali meminjam tangan orang lain untuk memberi pelajaran kepada orang yang tidak disukainya? Jadi, aku ingin Jony juga merasakan hal tersebut. Dengan begini anak itu pasti akan dihajar oleh ayahnya. Aku tebak, barang-barangnya juga akan disita oleh ayahnya.”
“Ck. Ck. Ck.” Brian berdecak lidah. “Kau pintar sekali Andi. Kau berpikir sampai sejauh itu. Dengan begini, dia akan mendapatkan hukuman yang cukup berat. Jika kita hanya menghajarnya, pasti anak itu bisa membayar seseorang yang lebih kuat untuk menghajarmu. Tetapi jika kita melakukan ini dia tidak akan berdaya.”
__ADS_1
“Jangankan untuk membayar preman, untuk kebutuhanya sehari-hari saja ia pasti akan kebingungan jika ayahnya sudah menyita barang-barangnya. Bagus sekali Andi. Bagus. Baiklah aku akan memberimu kontak pengacara yang biasanya dipakai oleh perusahaan ayahku. Tenang saja semua biaya biar aku yang membayarnya. Aku tidak sabar untuk melihat wajah memelas Jony.” Setelah berkata demikian, Brian tertawa dengan keras.
“Baiklah, segera kirim kontak pengacara itu. Aku juga sudah tidak sabar melihat wajah sengasara Jony.”
Sebenarnya Andi berniat membayar jasa pengacara tersebut dengan menggunakan uang pribadinya. Tetapi ia tidak mengatakan hal itu kepada Brian. Jika Andi mengatakannya, sudah pasti Brian akan menolaknya dan mereka pasti akan berdebat panjang.
Tidak lama kemudian Brian mengirimkan kontak seorang pengacara kepada Andi. Tanpa menunggu lagi, Andi segera menghubungi pengacara tersebut. Ia kemudian mengatakan maksud dan tujuannya meminta jasa pengacara. Tetapi Andi tidak perlu menjelaskan lebih panjang. Sepertinya Brian sudah membicarakan pokok pemasalahan pada pengacara ini.
Yang perlu Andi lakukan saat ini adalah mengirimkan salinan bukti-bukti yang Andi miliki melalui e-mail. Setelah itu tim pengacara dari firma hukum tersebut akan menyusun bukti-bukti tersebut. Lalu mereka akan membuat laporan kepolisian untuk Andi. Setidaknya proses itu mebutuhkan dua hingga tingga hari. Jadi Andi hanya perlu menunggu hal itu.
Andi tidak masalah dengan hal itu. Ia hanya ingin hasilnya. Asalkan hasilnya sesuai dengan keinginannya, Andi tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan. Toh dia melakukan ini hanya karena ingin memberi pelajaran kepada Jony.
Anak itu perlu bertanggungjawab atas apa yang ia lakukan. Andi tidak mau melewatkan kesempatan untuk memebri pelajaran Jony ketika dirinya memiliki banyak bukti seperti sekarang ini. Tidak semua perkara harus diselesaikan dengan kepalan tangan.
*****
Sementara itu di lain tempat, Jony tengah asik menonton sebuah video di ponselnya. Ia tengah menunggu kabar baik yang akan diberikan oleh anak buahnya. Pemuda itu yakin sebentar lagi mereka akan datang kemari.
Benar saja tidak lama kemudian, beberapa pemuda terlihat berjalan mendekati meja Jony. Wajah mereka terlihat masam. Itu tandanya mereka tidak memberikan kabar baik kepadanya. Jony mengernyitkan dahinya melihat hal itu. Mana mungkin mereka bersembilan gagal menghajar Andi?
“Kalian gagal melaksanakan tugas kecil yang aku berikan?” Tanya Jony tanpa menunggu antek-anteknya memberikan laporan.
“Maaf Bos kami gagal melaksanakan tugas yang Bos Jony berikan.”
__ADS_1
Jony memandang tajam kesembilan orang yang kini hanya bisa menundukkan kepalan mereka. “Kenapa? Apa kalian bersembilan tidak mampu menghajar cecunguk itu yang hanya seorang diri? Dasar tidak becus. Jika kalian tidak sanggup kalian tinggal mengatakannya. Aku bisa mencari orang yang lebih kuat daripada kalian.”
Salah seorang dari mereka mencoba memberanikan diri mengangkat kepalanya dan memandang ke arah Jony. “Maaf Bos. Bukannya kami tidak sanggup melawannya tetapi dia jauh lebih kuat daripada kami. Apa bos lupa bahwa dia itu juara silat kelas berat pada tingkat SMA se provinsi. Jadi dia memiliki kemampuan bertarung jauh di atas kami. Kami tidak memiliki kesempatan untuk memukulnya. Dia selalu menghindar dan membuat kami menyerang satu sama lainnya.” Lapor anak tersebut.
“Sialan.”
Jony melupakan hal ini. Selama ini dia hanya mengempesi ban sepeda Andi juga karena hal ini. Andi sangat jago bertarung. Jangankan antek-anteknya ini, Jony pernah mendengar bahwa Andi pernah bertarung dengan sepuluh orang dewasa yang memiliki kemampuan bertarung hebat.
Yang mengherankan adalah Andi menjadi pemenang dalam pertarungan itu. Bahkan dia tidak mendapatkan luka sedikitpun dari pertarungan itu. Jika saja lomba silat tingkat nasional itu tidak berbarengan dengan ujian sekolah, Jony yakin Andi akan mengikuti lomba itu dan keluar sebagai pemenang.
Kenapa Jony bisa melupakan hal sebesar itu. Ini pasti karena dirinya terbakar oleh emosi karena sebelumnya Andi yang tidak pernah melawan membatah ucapanya tempo hari. Hal itu mmebuatnya terbakar emosi dan mengambil keputusan yang merugikannya seperti ini.
“Apa dia memukuli kalian?”
“Tidak Bos. Dia tidak memukul kami. Dia hanya melemparkan beberapa dari kami.”
“Ck.” Jony mendecakkan lidahnya. “Seharusnya kalian membiarkan dia memukul kalian sekali atau dua kali. Lebih bagus jika pukulannya menimbulkan bekas. Dengan begitu kita bisa melaporkan dia dengan penganiayaan.”
Jony terdiam. Ia terlihat tengah memikirkan sesuatu. Memikirkan cara agar bisa memberi pelajaran pada Andi. Bukan Jony namanya jika ia tidak memberi pelajaran kepada orang yang membuatnya tidak senang.
“Baiklah. Sekarang kalian enyahlah dari sini. Aku tidak mau melihat wajah para pecundang seperti kalian.” Usir Jony kepada antek-anteknya.
“Andi, ini belum selesai. Aku kan membalaskan semuanya, lihat saja aku akan memberimu pelajaran lebih berat dari pada ini.”
__ADS_1