
Andi memacu mobilnya di jalan tol dengan kecepatan sedang. Dengan kecepatan seperti sekarang pun, Andi yakin bisa sampai di apartemennya sebelum jam sepuluh malam. Jadi untuk apa dirinya mengebut. Namun, ketika Andi sudah melewati seperempat perjalanan, pemuda itu merubah kecepatannya.
Itu karena sebuah mobil sport berwarna merah memepet mobilnya. Mobil tersebut juga memencet klakson beberapa kali. Tidak hanya itu, pemilik mobil itu menekan pedal gas keras, sehingga membuat mobilnya mengeluarkan deru mesin yang keras pula.
Andi tidak tahu kenapa pemilik mobil itu melakukan itu kepadanya. Tetapi, setelah Andi amati, pengemudi mobil itu melakukannya hampir kepada semua pengemudi mobil di jalan tol. Padahal menurut Andi, jalanan tol pada saat ini cukuplah lenggang. Ini bukan akhir pekan atau hari libur, sudah pasti jalan tol tidak seramai itu.
“Cih, mentang-mentang pakai mobil sport aja sombong.” Melihat pengemudi mobil sport yang seperti itu, Andi ingin memberinya sedikit pelajaran. Kebetulan sekali dia belum pernah benar-benar memanfaatkan pengalaman pembalap yang dia miliki. Mungkin ini adalah saatnya untuk unjuk kebolehan.
Langsung saja Andi memacu mobilnya, menyalip mobil sport tersebut dari sisi kanan. Ketika melewati mobil sport berwarna merah itu, Andi menekan klason mobilnya tiga kali. Setelahnya Andi membawa mobilnya melesat melewati mobil-mobil yang lain. Meski mobilnya ini bukanlah mobil dengan power besar, tetapi Andi yakin bisa mengalahkan pemilik mobil tersebut.
Seakan tertantang dengan apa yang Andi lakukan, pemilik mobil sport itu memacu mobilnya, mencoba mendahului mobil Andi. Andi membiarkan pengemudi itu mendahuluinya, tidak sampai satu menit, Andi kembali mendahului mobil sport itu. Kali ini jarak mereka cukup jauh daripada sebelumnya.
Mobil sport itu kembali mencoba mendahului, seperti sebelumnya, Andi membiarkannya melewati mobilnya dan tidak lama kemudian kembali mendahului. Hal itu Andi lakukan beberapa kali. Dirinya seolah-olah mempermaikan pengemudi mobil sport tersebut. Pada akhirnya, Andi melesatkan mobilnya jauh mendahului mobil sport tersebut.
Andi kemudian menyadari bahwa bensinnya menipis. Sejak memiliki mobil ini, pemuda itu memang belum mengisi bensinnya. Untung saja Andi menyadari hal ini lebih awal. Beberapa ratus meter dari sini ada sebuah pom bensin. Jika Andi melewatkannya, sudah pasti mobilnya akan kehabisan bensin di jalan. Hal itu akan membuatnya pusing karena bingung bagaimana mengurus mobilnya yang kehabisan bensin nantinya.
Ketika Andi mengisi bensin, mobil sport yang sebelumnya beradu kecepatan dengannya, terlihat memasuki area pom bensin. Mobil itu seperti tidak ada niatan untuk mengisi bahan bakar kendaraannya. Pemiliknya memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Andi.
Seorang pemuda berkaos merah terlihat keluar dari mobil tersebut. Pemuda itu terlihat mendekat ke arah Andi berdiri. Andi mengira pemiliknya akan memasang wajah marah, setelah dirinya mengalahkannya dalam adu cepat. Seperti kebanyak tuan muda pada umumnya.
Tetapi, yang Andi pikirkan tidak terjadi. Pemuda itu memberikan senyum lebarnya kepada Andi, ia kemudian merangkul pundak Andi dan menepuk tepuknya pelan.
“Man, apa yang kamu lakukan tadi sangat luar biasa. Kamu bisa pake mobil dengan torsi yang tidak tinggi untuk mengalahkan mobil sport dengan torsi yang jauh lebih tinggi. Apalagi ketika kamu menarik ulur seperti tadi. Memberiku kesempatan seolah aku akan menang, namun pada akhirnya kamu kembali menyusul. It’s so awesome.”
__ADS_1
"Mobil dengan harga delapan ratus jutaan bisa mengalahkan mobil seharga lima milyar. Jika aku tidak mengalaminya sendiri, maka aku tidak akan percaya hal seperti itu terjadi. Benar-benar keren."
Andi bingung respon apa yang perlu dia berikan kepada pemuda yang merangkulnya ini. Yang Andi lakukan sekarang hanyalah menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.
“Apakah kamu pembalap profesional? Apakah kamu pernah ikut balapan?” Tanya pemuda itu dengan penuh keantusiasan.
“Bukan. Aku bukan pembalap profesional, aku juga tidak pernah ikut balapan.” Ya Andi memang bukan pembalap profesional dan tidak pernah ikut balapan. Tetapi dirinya adalah memiliki pengalaman seorang pembalap profesional. Dia pernah merasakan sensasi mengikuti sebuah balapan.
“Ah aku kira kamu ini adalah pembalap profesional. Man, sungguh apa yang kamu lakukan tadi sangat luar biasa. Kamu tidak pernah ikut balapan tetapi kamu bisa melakukan manuver seperti tadi. Jika kamu sering ikut balapan, pasti kamu bisa melakukan manuver-manuver yang lebih hebat daripada tadi.”
Senyum lebar masih setia menghiasi wajah pemuda itu. Ia terlihat bangga ketikan mengatakan semua itu, seolah-olah dia sendiri yang melakukan manuver-manuver yang sudah dilakukan oleh Andi. “Ah ya, aku lupa memperkenalkan diri, namaku Arya.” Ucap pemuda itu sembari mengelurkan tangannya.
Andi menerima uluran tangan pemuda bernama Arya tersebut. “Andi.”
“Sepertinya kita tidak bisa berbicara di sini.” Ucap Arya setelah mendengar bunyi klakson dari mobil yang berada di belakang mobil Andi. “Ayo kita ke rest area. Aku masih ingin mengobrol denganmu.” Ajak Arya.
Andi pun mengemudikan mobilnya mengikuti mobil Arya menuju ke rest area tol tersebut. Ketika sampai di sana, Arya mengajak Andi menuju ke sebuah restoran franchise yang menu olahan ayam itu. Andi memesan seporsi makanan sementara Arya hanya memesan minuman di sana.
“Jadi Andi, apa kamu berminat menjadi pembalap? Tenang saja kamu hanya perlu mengemudikan mobilku. Akan ada lomba balap di sirkuit tiap akhir pekan, jika kamu berminat, kamu bisa menjadi joki dari mobilku. Bagaimana?” Tawar Arya.
Andi terdiam sejenak, tidak langsung mengiyakan atau pun menolak tawaran Arya. Ia terlihat mengerutkan dahinya mencoba memikirkan tawaran Arya. Meskipun akhir pekan menurut Andi dirinya tidak akan sesibuk itu, tetapi dirinya perlu melihat jadwalnya.
Akhir pekan ini dia akan kembali ke kota asalnyanya untuk meberikan pelatihan kepada pekerja kafenya. Lalu akhir pekannya lagi dirinya juga perlu ke kota asalnya untuk mengikuti pertemuan tahunan dari keluarga Prayudi. Jadi, meski jadwal Andi dalam bulan-bulan ini bisa dibilang cukup sibuk.
__ADS_1
Seolah bisa membaca pikiran Andi, Arya kembalis berbicara. “Tenang saja, balapannya akan dilakukan di malam hari. Jadi, kamu tidak perlu ambil pusing jika kamu ada acara di akhir pekan. Biasanya balapannya dimulai dari pukul delapan malam hingga dua belas malam. Jadi bagaimana?”
“Meski begitu, aku tidak yakin bisa melakukannya.” Jawab Andi pada akhirnya. “Dalam bulan-bulan ini jadwalku cukup sibuk. Aku akan berada di kota asalku selama akhir pekan ini.” Ucap Andi sembari menyebutkan nama kota asalnya.
Mendengar ucapan Andi, mata Arya malah berbinar. “Ah aku tidak menyangka kamu berasal dari kota itu. Kebetulan sekali akan ada balapan dengan jalur gunung di kotamu tiap akhir pekan. Balapan yang sebelumnya aku bicarakan adalah balapan di sikuit, sedangkan yangdi kotamu adalah balapan liar dengan jalur pegunungan.”
“Jika akhir pekan kamu memang sering berada di kotamu, lebih baik kamu menjadi jokiku untuk balap liar jalur pegunungan. Bagaimana? Setiap kali kamu ikut balapan, aku akan memberikanmu uang lima juta sebagai bayarannya. Lalu, jika kamu menang, aku akan memberimu bonus dua puluh juta. Jadi jika kamu memenangkan balapan, kamu akan membawa pulang uang dua puluh lima juta.” Jelas Arya.
Andi terlihat mengerutkan dahinya mendengar perkataan Arya. “Pasti balapan itu taruhannya besar bukan?” tanya Andi ingin memastikan.
Sudah sangat jelas bahwa balapan seperti itu akan menjadi ajang judi bagi mereka yang memiliki uang. Judi balap motor saja nilai uang yang diperjudikan bisa mencapai puluhan juta dalam sekali balap. Jika seperti itu, sudah jelas balap mobil nilainya bisa mencapai ratusan juta hingga milyaran.
Seolah ketahuan telah melakukan kesalahan, Arya tertawa pelan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kamu benar. Akan ada taruhan di sana. Biasanya sekali balap paling renda nilai taruhannya adalah seratus juta. Jika menang setidaknya bisa mendapatkan dua ratus juta lebih. Apalagi jika rasionya sangat tinggi. Sudah pasti uang yang dimenangkan akan berkali-kali lipat.” Jelas Arya.
“Tenang saja. Jika kamu menang, aku akan menambahkan bonusmu sebesar lima persen. Jangan kira itu sedikit, lima persen dari dua ratus itu masih sepuluh juta. Jadi bagaimana?” Tawar Arya sekali lagi.
“Nanti akan aku pikirkan kembali hal itu.”
“Ayolah Man, kemampuan mengemudimu cukup bagus. Akan sangat disayangkan jika kamu tidak menggunakannya untuk ikut balapan. Ah begini saja, kita bisa bertukar nomor telfon bukan? Nanti, jika ada lomba aku akan mengabarimu. Siapa tahu nantinya kamu akan berubah pikiran ketika sudah ada lomba.”
“Baiklah.”
Pada akhirnya keduanya bertukar nomor telfon. Setelah menyelesaikan makanannya, Andi melanjutkan perjalanannya. Kali ini dia membiarkan Arya mendahului mobilnya. Andi menjalankan mobilnya dengan kecepatan paling minim yang bisa dilakukan di jalan tol. Ia tidak ingin beriringan dengan Arya ketika sampai di Surabaya nantinya. Bisa-bisa pemuda itu tahu di mana Andi tinggal. Dan Andi tidak mau itu terjadi.
__ADS_1
Lihat saja pemuda bagaimana pemuda itu berusaha membujuk Andi untuk menjadi joki mobilnya dalam balapan. Jika Arya sampai tahu di mana Andi tinggal, sudah pasti pemuda itu akan sering datang ke apartemennya dan membujuk Andi. Itu akan mengganggu hari-harinya.
Lagi pula saat ini Andi tidak terlalu kekurangan uangs bukan? Tiga puluh juta, lima puluh juta, itu juga mudah Andi dapatkan. Andi hanya perlu berdiam diri memandang bursa dan dalam sehari uang sebanyak itu bisa ia dapatkan. Jadi, untuk apa mengikuti balapan yang bisa membahayakan nyawanya.