
“Buka saja Dinda. Aku tidak masalah jika kado dariku kamu buka.” Ucap Andi santai.
Kini giliran Jony yang mengerutkan keningnya. Ia memandang tajam ke arah Andi. Setelah kejadian pemukulan itu, Jony tahu bahwa dirinya tidak bisa lagi menganggap remeh Andi. Meski terlihat biasa saja, tetapi anak itu memiliki latar belakang yang cukup dalam.
Pamannya saja seorang pimpinan salah satu kelompok preman besar di provinsinya. Sudah pasti Andi tidak bisa dipandang sebelah mata seperti sebelumnya. Sekarang saja Andi bersikap cukup santai. Andi bahkan memberikan Jony sebuah senyuman ketika ia memandangnya.
Menurut Jony, ini adalah sebuah pertanda buruk. Bisa jadi rencananya untuk mempermalukan Andi akan gagal.
“Apa tidak masalah?” Tanya Dinda ingin memastikan.
“Tentu saja. Aku sama sekali tidak keberatan jika kado dariku kamu buka sekarang. Jika kamu tidak memberitahu mereka, aku yakin mereka akan penasaran sampai susah tidur. Setidaknya, jika kamu membuka kado dariku sekarang, kamu bisa membantu teman-teman sekelas kita ini tidur nyenyak malam ini.” Ucap Andi sembari mengedarkan pandangannya kepada beberapa orang yang ingin mempermalukannya itu.
“Baiklah jika itu maumu.”
Dinda kemudian mengeluarkan sebuah kotak berbungkus kertas kado dari dalam paper bag pemberian Andi. Dengan penuh kehati-hatian, Dinda membuka bungkus kertas kado tersebut. Setelah terbuka, Dinda cukup kaget melihat benda apa yang ada di sana.
“Ya ampun, kamu kasih aku action figure. Ini Hinata dari Haikyuu pula. Aku suka yang ini, dikoleksiku belum ada action figure Hinata dengan pose seperti ini.” Ucap Dinda penuh kegaguman melihat hadiah yang diberikan Andi.
Seolah teringat akan sesuatu, Dinda mendongakkan kepalanya melihat ke arah Andi. “Kenapa kamu membelikanku action figure sih? Action figure kayak gini kan jutaan. Ini pasti sangat membebanimu.”
Jony yang mendengarkan hal itu seolah memiliki ide baru. “Jangan-jangan itu action figure KW, alias palsu. Dia ga beliin yang ori kali. Ck. Ck. Ck. Andi, Andi, masak kamu ngasih barang palsu kayak gitu ke Dinda sih. Mending kamu nggak ngasih apa-apa daripada ngasih barang palsu kayak gitu. Apa yang kamu lakuin itu bisa mempermalukan Dinda dan keluarganya tau nggak sih.” Ejek Jony.
“Iya benar itu. Orang kayak Dinda nggak pantes dapetin barang palsu kayak gitu. Kalo kamu dateng ke pesta Dinda cuma mau malu-maluin dia, mendingan kayak sebelum-sebelumnya, nggak usah hadir ke acara ulang tahun Dinda aja sekalian.” Imbuh antek Jony.
“Betul itu. Mendingan nggak perlu dateng sekalian.” Timpal yang lain.
“Siapa bilang ini palsu? Ini barang asli tau. Ini ada logo khusus buat action figure ori. Aku yang sering beli barang kayak gini jelas lebih paham hal ini daripada kalian.” Sanggah Dinda.
“Heh.” Jony mendengus. “Jangan langsung percaya dulu Din. Sekarang ini barang palsu itu banyak yang mirip banget sama aslinya. Kadang aja ada yang punya kemiripan lebih dari sembilan puluh persen. Jadi cek sekali lagi.” Ucap Jony masih tidak mau kalah.
Dinda memberikan Jony sebuah tatapan tajam. “Aku sangat tahu mana yang asli dan mana yang palsu mengenai action figure ini. Juga sudah mengecek dengan teliti tentang hal itu. Apakah kamu kemari hanya untuk membuat masalah? Ingat ini adalah pesta milikku, kalo kamu membuat masalah di sini, aku berhak loh ngusir kamu dari sini.”
Jony mengangkat kedua tangannya sembari mundur, menandakan bahwa ia tidak akan mempermasalahkan hal itu lagi. “Baiklah aku tidak akan mepermasalahkan hal ini lagi.” ucap Jony yang kemudian meninggalkan Dinda dan Andi di sana.
__ADS_1
‘Cih, aku nggak nyangka cecunguk itu membelikan hadiah action figure mahal seperti itu. Ini pasti hasil pemberian pamannya itu. Sepertinya cecunguk ini cukup diperhatikan oleh pamannya itu.’ Gumam Jony dalam hati.
Setelah Jony dan antek-anteknya pergi, Dinda kembali memusatkan perhatiannya kepada Andi. “An ini nggak kemahalan? Kado kamu ini?”
“Nggak papa terima aja. Bisnis dessert box aku lancar, jadi terima aja.” Bagaimana pun juga, pada awal-awal merintis bisnis dessert box, Dinda dan keluarganyalah yang membeli dessert box buatan Andi dalam jumlah banyak.
“Ya udah deh aku terima. Hasil kerja keras pebisnis muda kita.” Goda Dinda. “Jadi bagaimana bisnismu?”
“Baik. Besok aku akan membuka sebuah kafe dan dessert shop. Sekarang yang aku jual nggak hanya dessert box aja, ada cake-cake lainnya yang udah aku jual di sana. Jadi, kalo kamu lagi pengen dessert, coba aja ke sana.”
Andi berencana membuka kafenya hari ini, tetapi hal tersebut ditolak Anisa. Menurut ibunya, lebih baik Andi membuka tokonya di hari sini. Ibunya bilang, beberpa pegawai masih perlu dilatih beberapa SOP dari kafe sebelum kafe benar-benar dibuka.
“Wow, kamu buka kafe sekarang? Aku nggak nyangka udah sejauh itu.” Puji Dinda. “Alamat kafemu dimana?” Andi kemudian memberitahu Dinda alamat kafenya berada.
“Kalo kamu ada waktu, dateng aja ke sana. Selama dua minggu bakal ada diskon gede-gedean. Banyak promos beli satu gratis satu pula.”
“Entar deh aku coba ke sana. Alamatnya gak jauh-jauh banget dari rumahku.”
Dinda ingats bahwa temannya yang satu ini sama sekali tidak aktif dalam group kelas. Gadis itu tidak yakin bahwa Andi membaca berita yang ia sampaikan di group kelas. “Mulai hari senin kabarnya pendaftaran Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sudah dibuka. Jadi kalo kamu memang niat daftar di PTN minggu depan udah bisa kamu lakuin. Kamu udah ada rencana mau kuliah di mana?”
“Tentu saja sudah. Aku memilih di Universitas A di Surabaya. Mau ambil jurusan manajemen di sana.” Universitas A adalah universitas yang sama di mana Rosalinda menempuh pendidikannya. Andi memilih universitas itu bukan karena ada Rosalinda di sana, tetapi karena kualitasnya memang bagus.
“Kamu nggak lagi ikut-ikutan sama aku kan?” tanya Dinda.
“Maksudnya?”
“Aku juga mau ke universitas itu. Kalo semisal kita berdua diterima, kita bakalan satu fakultas. Kamu manajemen dan aku akuntansi.”
“Ah, aku sendiri juga nggak tahu kalo kamu juga akan berkuliah di sana. Kalau begitu, aku akan menantikan saat kita menjadi teman sefakultas.” Ucap Andi dengan senyum lebar di bibirnya.
“Tentu. Nikmatin saja minuman dan makanan yang ada. Aku ingin menyapa tamu yang lainnya.”
“Silahkan-silahkan. Maaf aku sudah menyita waktumu untuk mengobrol denganku. Kamu bisa temui yang lainnya.”
__ADS_1
Berbicara dengan Dinda membuat Andi melupakan bahwa saat ini mereka sedang berada di pesta Dinda. Sebagai tuan rumah acara, seharusnya gadis itu menyapa tamu-tamu yang lain. Tapi di sini Andi malah menahan gadis itu.
Andi baru sadar bahwa dirinya tidak merasa segugup sebelum-sebelumnya ketika berbicara dengan Dinda barusan. Mungkin itu dikarenakan Andi sudah pernah mengobrol dengan perempuan-perempuan lainnya. Atau bisa juga karena Andi tidak lagi merasa minder karena sekarang status ekonominya sudah naik.
Tapi apapun alasannya, keminderan yang Andi rasakan ketika berbicara dengan lawan jenis sudah tidak lagi Andi rasakan.
Sekarang Andi ingin mencicipi makanan yang ada di sini. Siapa tahu hal itu bisa menginspirasinya untuk membuat resep masakan baru. Kanal Ourtube miliknya sudah memiliki penonton dan pengikut yang cukup banyak. Saat ini ia mendapatkan remunasi dari apa yang ia unggah di sana.
Ketika Andi tengah menikmati makanannya, Jony dan antek-anteknya kembali mendekati Andi.
“Kamu sekarang sudah sangat berani untuk mengobrol lama dengan Dinda ya. Meskipun pamanmu itu seorang preman, dia memiliki beberapa bisnis juga, tetapi itu tidak mengubah derajatmu. Kamu masih tidak pantas untuk Dinda. Jadi, jangan pernah mengaharap bisa berpacaran dengan Dinda.”
Andi mengerutkan keningnya. “Sependek ingatanku kamu ini bukan siapa-siapanya Dinda. Pacar saja bukan jadi, kamu sendiri tidak berhak untuk melarang seseorang mendekati Dinda, bahkan hanya untuk sekedar mengobrol saja kamu larang.”
“Atau aku ini amnesia sehingga lupa kalo kalian ini sudah berpacaran? Tapi kemarin saat aku ke rumah sakit, dokter sama sekali tidak mengatakan bahwa aku ini terkena amnesia. Itu berarti, kamu yang berhalusinasi dengan menganggap Dinda sudah menjadi pacarmu.”
Andi menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. “Aku menyangkan sekali, anak calon walikota memiliki masalah di kepalanya. Lebih baik kamu periksakan dirimu ke psikiater. Tapi ingat, hubungin psikiaternya diam-diam aja biar ga ketahuan media kalo kamu sakit.”
“Kamu ….”
Mendengar semua perkataan Andi membuat Jony naik pitam. Pemuda itu tidak menyangka cecunguk yang beberapa minggu lalu masih diam saja ketika diinjak sekarang memberontak seperti ini. Jony tidak terima hal ini terjadi. Tidak seharusnya orang hina seperti cecunguk ini membalas perkataannya.
“Kenapa? Kamu nggak terima aku berkata seperti itu?” Tantang Andi.
Jony menarik nafas panjang guna menenangkan diri. Jika dia terbawa emosi, yang ada dirinya akan berbuat sesuatu yang akan merugikannya. Seperti kejadian tempo hari, karena terbawa emosi dia meminta Rendi menghubungi preman untuk menghajar Andi. Tetapi, bukannya Andi yang babak belur malah dirinya yang masuk IGD.
Selanjutnya Jony perlu membuat rencana matang untuk membalaskan semua yang dirasakannya kepada Andi. Latar belakang anak itu tidak main-main. Jadi, jika dirinya lengah bisa jadi rencananya akan menjadi sebuah boomerang untuk dirinya.
“Lihat saja pembalasanku. Namaku bukan lagi Jony Bagaskara jika aku tidak membalas dendam atas semua yang sudah aku terima. Semua itu akan aku kembalikan padamu berkali-kali lipat lebih serius.” Setelah berucap demikian, Jony pergi meninggalkan Andi.
Setelah kepergian Jony, wajah jenaka yang sebelumnya Andi pasangs kini digantikan dengan wajah yang cukup serius. Pandangannya masih mengikuti punggung Jony yang semakin menjauh.
“Jika kamu sampai menyentuh keluargaku, bersiap saja menerima konsekuensi karena membangunkan singa yang sudah tidur. Berhati-hatilah Jony.” Gumam Andi pelan.
__ADS_1