
Suasana di dalam sebuah ruangan cukup sepi. Meski pun di dalam sana ada seorang laki-laki, tetapi dia sama seklai tidak menghasilkan suara. Yang terdengar hanyalah suara pendingin ruangan yang menyebarkan udara sejuk di ruangan itu.
Suasana di dalam ruangan tersebut sangat kontras dengan suasana yang terlihat dari jendela kaca. Dari jendela kaca tersebut, bisa dilihat banyak orang yang menikmati musik yang diputarkan oleh DJ. Mereka bergoyang mengikuti irama. Beberapa terlihat cukup sibuk menenggak minuman mereka.
Ruangan tersebut adalah salah satu ruangan yang ada di sebuah club malam. Meski begitu, keramaian di club malam tersebut sama sekali tidak terdengar di ruangan tersebut karena ruangan tersebut adalah ruangan kedap suara.
Laki-laki yang ada di sana tengah menyandarkan tubuhnya di kursi putarnya. Di tangannya, terdapat sebuah kalung dengan simbol seekor elang dengan sebuah mahkota. Beberapa bagian dari kalung tersebut memiliki warna silver, beberapa bagian memiliki warna emas.
Laki-laki tersebut memandang lekat kalung miliknya yang semakin hari mengalami perubahan warna itu. Dulu, ketika menerima kalung tersebut, liontin dari kalung tersebut berwarna emas. Tetapi makin lama warnanya memudar hingga sekarang warna dari liontin tersebut lebih didominasi dengan warna silver. Hanya sebagian kecil dari liontin itu saja yang memiliki warna emas.
“Jadi, apa alasan kalung ini berubah warna karena sistem yang dulu aku miliki meninggalkanku?” Tanya laki-laki tersebut, yang ternyata adalah Burhan, pada dirinya sendiri.
“Mungkinkah semua ini ada hubungannya dengan keluargaku? Aku perlu menanyakan hal ini kepada Kakek. Dia pasti tahu mengenai sistem itu. Tetapi ini sedikit sulit bagiku. Kakek sudah mengusirku dari rumahnya. Dan lagi, aku juga sudah tidak dimasukkan lagi dalam daftar keluarga Prayudi.”
“Ah masa bodoh. Meski Kakek sudah mengusirku dan tidak lagi menanggapku sebagai seorang Prayudi, tetapi aku ini masih keturunannya. Di dalam darahku masih mengalir darah seorang Prayudi. Aku perlu menemui Kakek lagi setelah ini.”
Burhan sudah bertekad menanyakan kepada Kakeknya mengenai perubahan kalung miliknya. Ia juga ingin menanyakan kepada Kakeknya mengenai hubungan antara sistem dan keluarga mereka.
Burhan pernah memiliki sistem selama lebih kurang tiga bulan. Selama tiga bulan tersebut, dirinya mendapatkan banyak manfaat dari sistem. Tidak hanya uang yang melimpah, tetapi kekuatan dari Burhan juga bertambah berkali-kali lipat.
Jika bukan karena sistem yang dimilikinya itu, maka Burhan tidak akan pernah bisa mendirikan Gang Macan Putih, hingga gangnya ini menjadi salah satu gang terkuat di provinsi ini.Burhan memiliki ambisi besar untuk membawa gang miliknya menjadi yang terkuat di negeri ini, atau mungkin di dunia ini.
Burhan memang sudah menjalankan rencananya itu selama delapan tahun terakhir ini. Ia sudah mulai membuka beberapa cabang di provinsi lain.
Tetapi, cukup sulit bagi Burhan menancapkan kekuasaannya di provinsi lain. Di sana ada gang-gang lokal yang jauh lebih kuat dari gang cabang miliknya. Selama delapan tahun ini, perkembangan gang miliknya di provinsi lain tidak mengalami kemajuan yang pasti.
Burhan ingin mendapatkan kembali sistem tersebut. Jika dirinya kembali memiliki sistem, maka dirinya bisa memperluas kekuasaannya dengan cepat. Buktinya, dalam waktu tiga bulan selama dirinya memiliki sistem, ia berhasil membawa gang macan putih sebagai gang terkuat di provinsi ini.
__ADS_1
Jika Burhan memiliki sistem, pasti dirinya bisa menguasai negeri ini dengan gang miliknya kurang dari satu tahun. Tetapi Burhan tidak tahu bagaimana caranya agar dirinya kembali memiliki sistem tersebut. Sistem miliknya tiba-tiba saja menghilang ketika dirinya mencapai tingkat ke sembilan pada delapan belas tahun lalu.
Selama ini ia mencari berbagai informasi mengenai hal itu tetapi hasilnya nihil. Sekarang saja dirinya baru teringat akan kalung pemberian Kakeknya. Kalung miliknya yang sedikit sedikit mengalami perubahan warna sejak sistem menghilang.
Tiba-tiba saja pintu ruangan milik Burhan di ketuk dari luar. Sepertinya, itu adalah salah satu anak buahnya yang akan melaporkan sesuatu. Burhan lalu menyimpan kalung miliknya ke dalam sebuah kotak kayu. Ia lalu mempersilahkan masuk anak buahnya itu.
“Masuk.” Ucap Burhan. Dari balik pintu, Burhan bisa melihat keberadaan Mardi, salah satu kaki tangannya di Gang Macan Putih. “Ada apa Mar?” Tanya Burhan.
“Bos salah satu anak buahku yang Bos suruh untuk mengawasi keponakan Bos melaporkan sesuatu padaku.” Ucap Mardi.
Meski pun waktu itu Aripto menolak bantuannya dan memintanya mengambil semua anak buahnya, tetapi Burhan tetap melakukannya. Ia meminta beberapa anak buahnya mengawasi keponakannya itu dari jauh. Burhan juga meminta mereka melapor padanya jika terjadi sesuatu.
“Apa yang terjadi?” Tanya Burhan.
“Seeorang mencoba menculik keponakan perempuanmu Bos. Tetapi, sebelum anak buahku bertindak, beberapa orang berpakaian serba hitam sudah membereskan mereka. Dari yang aku dengar, keempat orang yang mencoba menculik keponakanmu itu sudah dibawah ke polisi.”
Burhan terdiam. Ia sedang memikirkan sesuatu sekarang. Bukan tentang Gang Rajawali Hitam yang terlibat dalam hal ini. Tetapi, orang-orang yang berpakaian serba hitam yang menyelamatkan Amira, keponakannya. Siapa mereka? Apa hubungannya mereka dengan keluarga Aripto?
Burhan yakin, orang-orang yang berpakaian serba hitam itu adalah pengawal. Siapa yang mengirim pengawal-pengawal tersebut kepada keluarga Aripto? Apakah ini sepupunya yang lainnya yang membantu keluarga Aripto?
“Bos, Bos, apa perintahmu selanjutnya?” Tanya Mardi sekali lagi.
Pertanyaan Mardi tersebut membuat Burhan tersadar dari lamunannya. “Ah ya, apa yang kamu bilang barusan?”
“Apakah kita akan mendatangi Gang Rajawali Hitam dan meminta pertanggung jawaban mereka?”
“Ya kita akan mendatangi mereka setelah ini. Tetapi, apakah anak buahmu tahu siapa mereka orang yang berpakaian serba hitam yang menyelamatkan keponakanku?” Tanya Burhan kepada Mardi.
__ADS_1
“Mereka juga tidak mengenalnya Bos. Orang-orang itu bukan orang lokal. Mereka semua orang asing, bule. Jadi, anak buahku tidak mengenal mereka.”
Orang asing, bule? Jika pengawal asing seperti itu, pasti bayarannya mahal. Kecil kemungkinannya para sepupunya yang sekarang menjadi pengusaha sukses mengirimkan pengawal yang merupakan orang asing kepada keluarga Aripto.
Jika memang mereka mengirimkan, pasti itu orang lokal. Jadi, siapa yang mengirimkan mereka? Siapa yang mampu mmebayar para pengawal asing itu untuk melindungi keponakannya?
Lalu, Burhan teringat akan sesuatu. Salah seorang anak Aripto, Andi. Bukannya salah pimpinan cabang gangnya mengatakan bahwa Andi sudah memiliki bisnis kafe di kota asalnya sekarang. Tidak hanya itu, Andi juga membuka beberapa cabang di Surabaya.
Bisnis milik Andi terbilang berkembang cukup pesat. Menurut Burhan, memang ada kemungkinan salah satu sepupunya memberikan modal kepada Andi untuk membuka bisnis kafe itu. Tetapi, tidak mungkin mereka akan mengijinkan Andi membuka cabang sebelum kafe yang pertama kali ia buka berhasil dan memberikan keuntungan besar.
Apakah Andi menyewa para pengawal itu dari uang usahanya? Tetapi itu kecil pula kemungkinannya. Burhan estimasikan, pendapatan bulanan Andi tidak akan cukup membayar gaji para pengawal tersebut. Jika demikian, siapa yang membayar para pengawal itu?
Lalu, sudut mata Burhan menangkap kotak kayu yang ia pakai untuk menyimpan kalung yang yang menjadi simbol bahwa dirinya merupakan anggota keluarga Prayudi. Burhan lalu teringat akan kecurigaan dirinya mengenai kalung tersebut.
‘Sepertinya sistem tersebut memang ada hubungannya dengan keluarga Prayudi. Dan sekarang, sistem yang delapan belas tahun lalu aku miliki itu, menurun kepada Andi. Sepertinya, aku perlu segera menemui Kakek untuk memastikan semua ini.’ Gumam Burhan dalam hati.
Seingat Burhan, dirinya kehilangan sistem tidak lama setelah Aripto memiliki anak pertamanya. Burhan ingat waktu itu dirinya melihat anak Aripto di rumah Kakek mereka. Burhan juga berkesempatan menggendong bayi laki-laki tersebut.
Sehari setelahnya, Burhan terbangun dengan hilangnya sistem pada dirinya. Burhan sama sekali tidak mendapatkan peringatan bahwa dirinya akan kehilangan sistem. Bahkan setelahnya pun tidak ada pesan yang sistem tinggalkan untuknya. Benar-benar menghilang tanpa jejak.
Mendapatkan titik terang yang seperti ini, Burhan kemudian kembali bersemangat. Dirinya masih memiliki impian untuk membawa Gang Macan Putih menjadi gang terkuat dan terbesar di negeri ini. Jadi, ketika menemukan titik temu mengenai keberadan sistem, Burhan tidak akan melepaskan kesempatan itu.
“Sepertinya, kamu saja yang datang ke tempat Gang Rajawali Hitam. Ajak beberapa orang bersamamu. Aku memiliki urusan penting sekarang. Minta mereka memberikan kita dua buah club yang ada di bawah mereka.”
Setelah ini Burhan berniat bergegas menemui Kakeknya. Ia tidak bisa menundanya lagi sekarang.
“Itu adalah kompensasi yang perlu mereka berikan karena mereka melibatkan keluargaku. Jika mereka tidak mau, tekan saja Gang Rajawali Hitam. Meskipun mereka adalah gang terkuat nomer dua di provinsi ini, tetapi kekuatan mereka sangat jauh di bawah kita.”
__ADS_1
“Aku yakin mereka tahu apa yang terbaik untuk mereka.”