
“Jadi bagaimana? Apa semuanya sudah siap?”
“Tentu saja Jon, semuanya sudah siap. Kau tinggal meminta si cecunguk itu datang kemari. Setelah itu kita bisa memberinya pelajaran. Preman kenalanku sudah bersiap menyergap dia. Jika dia datang kemari aku yakin cecunguk itu akan babak belur ketika pulang.”
“Tetapi, bagaimana caranya agar dia mau datang kemari?” Jony menanyakan hal tersebut kepada Rendi yang kini ada di sampingnya.
Rendi melambaikan sebelah tangannya. “Ah itu sangat mudah Jon. Kamu tinggal kirimkan sebuah pesan kepadanya bahwa kau ingin menyelesaikan semuanya secara jantan. Jika dia seorang laki-laki, aku yakin dia pasti mau datang kemari.” Jawab Rendi santai.
Jony pun menuruti saran dari Rendi. Pemuda itu kemudian membuka ponselnya dan mencari kontak Andi melalui grup pesan kelasnya. Ia tidak memiliki nomor Andi di ponselnya. Untuk apa menyimpan nomor orang yang tidak kau sukai di daftar kontak di ponselmu. Yang ada hal tersebut akan memantik emosi jika sewaktu-waktu melihat namanya di daftar kontak.
[Hey pecundang, kalau kau berani kita selesaikan masalah kita dengan jantan. Aku tunggu kau di gudang lama di jalan XXXX. Jika sampai satu jam kau tidak datang, berarti kau memang benar-benar seorang pecundang. Seorang pecundang lebih cocok memakai pakaian perempuan daripada pakaian laki-laki. Aku tunggu kedatanganmu, pecundang]
Jony mengirimkan pesan tersebut kepada Andi. “Sudah beres. Kita tinggal nunggu cecunguk itu datang.”
“Baiklah kita tunggu dia dari dalam mobilmu saja. Aku yakin kita bisa menikmati sebuah tontonan setelah ini.”
*****
Andi baru saja membersihkan diri. Ia kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk mengecek ponselnya, apakah ada pesan atau tidak. Ada sebuah pesan dari nomor asing di sana. Andi membuka pesan tersebut dan membaca dengan seksama isi pesan tersebut.
Setelah membaca isi dari pesan tersebut, Andi mengetahui pengirim pesan tersebut. Jony. Anak yang sering melakukan perundungan kepadanya. Melihat pesan tersebut, sepertinya anak ini tidak mengenal kata berhenti. Sudah jelas sekali Jony ingin menjebaknya.
Andi yakin anak itu sudah memanggil beberapa temannya. Mungkin jika minggu lalu antek-antek Jony itu berusaha mengahajar Andi tanpa senjata, sekarang pasti mereka membawa senjata. Entah itu senjata tumpul ataupun senjata tajam. Andi sudah memperkirakan hal itu.
Meskipun Andi tahu kemungkinan besar undangan Jony itu adalah sebuah jebakan untuknya, pemuda itu tetap akan ketempat yang telah ditentukan oleh Jony. Andi ingin tahu seberapa jauh Jony mengambil tindakan. Pemuda itu yakin dirinya masih bisa mengatasi Jony dan antek-anteknya itu.
Setelah mengambil jaket dan meminjam motor dari Anisa, Andi segera memcu motornya menuju tempat yang sudah ditentukan oleh Jony. Andi sama sekali tidak takut akan dikeroyok. Pemuda itu sangat percaya diri dengan kemampuannya sendiri. Jika ia sampai kalah dengan hanya melawan anak SMA, Andi pasti akan mempermalukan ayahnya yang sudah mengajarinya bela diri sejak kecil.
__ADS_1
*****
Gedung pergudangan tempat mereka akan bertemu terlihat sangat sepi. Andi tidak melihat seorangpun di sana. Area tempat Andi berada terlihat remang-remang. Hanya ada satu penerangan dari bohlam lampu lima wat berwarna oranye di ujung jalan. Langit sudah mulai menggelap. Andi yakin dua puluh menit lagi daerah ini akan gelap gulita.
Andi merasa sedikit heran. Jony memintanya bergegas kemari tetapi pemuda itu belum juga datang. Apa ia hanya mempermainkannya? Meminta Andi datang kemari padahal dirinya sama sekali tidak ada niatan untuk bertemu. Atau bahkan pemuda itu juga tidaks mengirim orang untuk bertemu dengan Andi?
Andi mengernyitkan dahinya memikirkan kemungkinan itu. “Apa aku memang hanya dikerjai oleh Jony?” Tanya Andi pada dirinya sendiri.
Andi berniat menunggu lima belas menit di sini. Jika tidak ada satu orang pun yang muncul, Andi akan pergi dari sini. Masa bodoh dengan ucapan Jony yang menyebutnya pecundang. Toh ejekan itu tidak akan memberikan pengaruh besar kepadanya.
Belum juga dua menit setelah Andi menghentikan motornya, dari arah kanannya sebuah sorot lampu mobil mengenai pemuda tersebut. Andi menolehkan pandangannya ke arah kanannya. Di sana ia melihat Jony bersama dengan Jony bersandar di kap depan mobil Jony.
Disekitar kedua pemuda itu terlihat beberapa laki-laki dengan muka sangar yang membawa balok dengan berbagai macam ukuran. Melihat mereka, Andi tahu dugaannya salah. Pemuda itu tahu bahwa Jony tidak datang dengan antek-anteknya, melainkan dengan beberapa orang preman. Andi tidak menyangka Jony sampai sejauh itu hingga memutuskan untuk menyewa preman.
Ayolah ini hanyalah masalah anak muda di sekolah. Paling parah permasalah mereka adalah permusuhan karena saling ejek atau rebutan perempuan. Akan wajar jika terjadi tawuran antar pelajar. Tetapi sampai melibatkan preman untuk menyelesaikan masalah mereka? Menurut Andi itu sudah kelewatan.
“Akhirnya kau datang juga.”
“Jony, apa kau tidak terlalu melawati batas? Ayolah masalah kita hanyalah masalah anak SMA biasa. Menurutku kita bisa menyelesaikannya di antara kita. Tidak perlu melibatkan preman.”
Sebuah seringai terlihat menghiasi bibir Jony setelah mendengar ucapan dari Andi. Ia yakin anak itu pasti takut sekarang karena dirinya melibatkan preman. “Heh. Apa kamu takut sekarang? Jika kamu berlutut padaku dan meminta maaf, mungkin aku akan berubah pikiran. Orang rendahan sepertimu tidak pantas berbicara balik kepadaku.”
“Meminta maaf padamu? Aku tidak memiliki salah apapun padamu. Jadi untuk apa aku meminta maaf. Ayolah Jony ini sudah jaman modern. Kau masih saja dengan pemikiran kolotmu bahwa orang kaya adalah seorang penguasa dan bisa melakukan semua hal sesuka hatimu.”
“Sedangkan orang yang lebih miskin darimu, mereka kamu anggap sebagai orang rendahan yang tidak sederajat denganmu. Orang miskin berbicara denganmu malah kamu anggap sebagai hinaan. Kamu harus merubah pemikiran kolotmu itu. Tanpa adanya orang miskin maka kamu tidak akan pernah disebut sebagai orang kaya.”
Jony terlihat semakin geram setelah mendengar ucapan Andi. Hal itu bisa Andi lihat dari bagaimana Jony mengepalkan tangannya dengan erat. Jika sekarang Andi berada tepat di depan Jony, ia yakin pemuda itu akan langsung melayangkan tinjunya ke arah Andi.
__ADS_1
“Rupanya kamu tidak menghargai niat baikku. Seharusnya kamu menurut saja ketika aku menyuruhmu berlutut. Sekarang jangan salahkan aku jika aku berbuat keji seperti ini. Serang dia.”
Tidak lama setelah Jony memberi aba-aba, para preman di sekitarnya mulai berjalan mendekati Andi. Mereka tidak terburu-buru. Para preman itu yakin Andi tidak akan bisa lolos dari mereka. Jadi untuk apa terburu-buru untuk menghajar Andi.
Bersamaan dengan para preman itu yang mulai mendekati Andi, pemuda itu mendengar bunyi notifikasi yang sangat khas, yang ia akui sangat ia tunggu-tunggu muncul pada akhir-akhir ini. Sebuah notifikasi dari sistem.
[Ding]
[Modul sistem mendeteksi bahwa ada beberapa orang yang memiliki niat jahat kepada Host]
[Ding]
[Misi telah dibuat]
[Misi : Host kalahkan para preman itu dan buat mereka menyesal telah salah memilih target]
[Hadiah : Kekuatan +5, Stamina +5]
[Ding]
[Selesaikan misi dengan sepenuh hati Host. Kedepannya akan ada misi lainnya dengan hadiah yang sangat menarik]
Kenapa sistem memberinya misi dengan hal yang seperti ini? Andi kira sistem hanya memberinya misi dengan hal yang berkaitan dengan uang. Eh, tetapi misi pertamanya juga bukan misi menghasilkan uang. Itu hanya sebuah misi kemanusiaan dimana Andi perlu menolong seorang anak yang kelaparan.
Sekarang sistem memberinya misi baru untuk mengalahkan para preman ini. Tetapi kenapa minggu lalu sistem tidak memberinya misi ketika antek-antek Jony akan mengeroyoknya. Mungkinkah karena mereka terlalu lemah untuk Andi sehingga sistem tidak memunculkan sebuah misi untuknya.
Andi tidak mau memikirkan hal itu untuk saat ini. Sekarang dirinya perlu memfokuskan konsentrasinya menghadapi preman-preman ini. Meski dirinya yakin bisa mengalahkan mereka, tetapi Andi perlu memusatkan konsentrasinya. Jika tidak, sebuah kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Dan Andi tidak mau hal itu terjadi.
__ADS_1