
“Maafkan ayahmu ini nak. Sudah menaruh kecurigaan begitu besar padamu. Kamu menjunjung tinggi ajaran yang ayah berikan. Tetapi, ayah malah meragukan hal itu. Maafkan ayah.” Ucap Aripto sembari memandang lekat ke arah Andi.
“Aku sudah memaafkan ayah kok. Jadi ayah nggak perlu meminta maaf lagi.”
Damar yang mendengar semua drama itu merasa sedikit canggung. Baru sekarang dirinya paham bahwa apa yang dilakukannya bukannya membantu Andi membereskan masalahnya, itu malah memberikan masalah keluarga untuknya.
Semua niat baik tidak selamanya berakhir baik. Damar ingat pernah mendengar sebuah pepatah seperti itu. Ini akan Damar jadikan sebuah pelajaran. Jika ingin menolong seseorang, coba tanyakan dulu apakah yang akan kita lakukan itu benar-benar menolongnya atau malah memberikan masalah baru, seperti sekarang ini.
“Tetapi, aku juga mau meminta maaf kepada Ayah. Sepertinya aku membawa masalah besar untuk keluarga kita.” Ucap Andi pada akhirnya.
“Maksud kamu apa? Apakah keluarga kita akan mengadapi sebuah ancaman besar?”
Andi menarik nafas panjang. Ia kemudian memberitahukan kepada Aripto mengenai ancaman Jony. Bagaimana anak itu tahu mengenai keluarganya, juga hubungannya dengan kelompok preman yang cukup besar di provinsi ini.
Andi juga memberitahukan ayahnya bagaimana Jony mengancam akan membalas dendam dengan menghubungi musuh dari pamannya. Itu saja saja dengan Jony yang menjual informasi tentang hubungan mereka dengan Burhan.
“Jika Jony nantinya akan menargetkanku, tentu aku bisa mengatasi hal itu ayah. Tetapi, bagaimana dengan ibu? Bagaimana dengan kedua adikku? Aku yakin mereka tidak memiliki kemampuan untuk melindungi diri dari para preman itu ayah.”
“Mas Damar saja yang seorang pipinan cabang kecil memiliki kemampuan bela diri setara denganku. Jika demikian, itu berarti para preman itu memiliki kemampuan yang lebih besar lagi. Ini akan membahayakan keluarga kita.”
Jika sekarang Andi melakukan tanding ulang dengan Damar, pemuda itu yakin bisa mengalahkan Damar dengan mudah. Itu karena kekuatan dan staminanya sudah bertambah karena bantuan dari sistem. Meski kekuatannya bertambah, tetap saja ia tidak bisa tenang. Andi tidak bisa selamanya berada di samping keluarganya.
“Mungkin kamu hanya terlalu paranoid saja menganai hal ini nak. Tidak mungkin temanmu itu bertindak sejauh itu bukan?” Tanya Aripto.
Andi menggelengkan kepalanya pelan. Seorang Jony tidak tahu apa itu menyerah. Lihat saja Dinda sudah ratusan kali menolak, pemuda itu tetap saja gigih memperjuangkan untuk mendapatkan gadis itu. Andi yakin mengenai hal ini pun Jony tidak akan menyerah.
“Aku tidak yakin itu terjadi ayah. Jony bukan orang yang mudah menyerah. Dia juga seorang yang pendendam. Jika tidak, kenapa dia membayar preman untuk menghajarku setelah antek-anteknya gagal melakukan hal itu? Itu saja sudah kelihatan. Jadi, menurutku anak itu serius dengan ucapannya yang mengatakan akan membalasakan semua ini.”
‘Sial. Ternyata masalah yang aku timbulkan sebesar ini. Aku pikir itu hanya permasalahan kesalah pahaman antar anggota keluarga, nyatanya ini malah semakin besar. Damar, Damar, masalah apa lagi yang kamu bawa? Ah aku harap Bos Besar tidak menghajarku karena hal ini.’ Gumam Damar dalam hati setelah mendengar semua ucapan Andi.
Ketika kaum adam yang ada di sana terdiam sekarang. Mereka bertiga sepertinya tengah memikirkan solusi untuk permasalahan baru ini.
“Bagaimana kalau kita menyerang duluan? Setidaknya, jika akarnya hilang, sebuah masalah tidak akan tumbuh bukan?” Saran Damar tiba-tiba.
“Menyingkirkan akarnya? Apa maksudmu menghabisi teman anakku?”
“Ya seperti itu Tuan. Bukannya dengan lenyapnya Jony semua masalah itu tidak akan terjadi. Anda tidak akan lagi khawatir dengan keselamatan anggota keluarga kalian.”
Aripto menggelengkan kepalanya. “Aku bukan seorang preman atau mafia, begitu juga dengan keluargaku. Jadi, kami tidak melakukan hal yang melanggar hukum seperti itu. Kamu pikir kenapa aku mengusir Andi dari rumah? Itu karena aku mengira dia sudah menjadi seorang preman.”
“Jadi, apa yang perlu kita lakukan ayah?”
__ADS_1
“Untuk ini tidak ada yang bisa kita lakukan. Temanmu itu belum mengambil tindakan apapun bukan? Tetapi, setidaknya kita sudah tahu ada bahaya yang tengah mengincar keluarga kita. Dengan begini kita bisa lebih waspada.”
Andi mengangguk menyetujui perkataan Aripto. “Mungkin ayah bisa berfokus untuk mengajari Amira dan Arfan bela diri. Ayah bisa berhenti sementara sebagai pengemudi ojek. Untuk sementara ayah bisa bantu-bantu ibu mengurusi kafe ini.” Jelas Andi.
“Lalu kamu?”
“Minggu ini pendaftaran universitas telah dibuka. Jadi nantinya aku juga tidak akan banyak di rumah. Lagi pula, Brian dan aku sudah sedang membuka tiga kafe di Surabaya. Jadi, aku akan lebih banyak menghabiskan waktuku di Surabaya untuk mengurusi bisnisku itu ayah.”
Aripto memandang lekat putranya. Ia tidak menyangka bahwa putranya sudah akan berkuliah. Rasanya seperti baru kemarin dirinya mengantarkan anaknya ini sekolah TK, tetapi sekarang dia sudah mau berkuliah.
“Baiklah kita ikuti saranmu.”
‘Sepertinya aku perlu melaporkan hal ini kepada Bos Besar. Setidaknya Bos Besar perlu tahu bahwa salah satu anggota keluarganya sedang mengalami ancaman. Ah aku juga perlu memberitahu Bos bahwa keponakannya sedang membuka bisnis. Lidah Manis ya, baiklah aku akan melaporkan semunya kepada Bos Besar.’
“Kalau begitu, sekarang pulanglah ke rumah bersama dengan ayah. Ibumu pasti senang jika kamu pulang.”
*****
Andi terbangun di dalam kamarnya yang beberapa hari terakhir ini tidak ia tempati. Mungkin karena sudah terbiasa tidur di kamar apartemenya yang luas dalam beberapa hari terakhir, Andi merasa kamar miliknya ini cukup sempit.
‘Sepertinya aku harus merenovasi rumah ini. Aku perlu mencari alasan dan membujuk ayah dan ibu agar mau merenovasi rumah ini. Hemm… atau aku belikan saja rumah baru untuk mereka. sepertinya itu lebih baik.’ Gumam Andi dalam hati.
Andi langsung bangun dari tidurnya. Sepertinya ibunya belum bangun saat ini. Andi memilih mandi telebih dahulu dan mengobati luka di tangannya sebelum anggota keluarganya yang lain terbangun. Ia tidak mau membuat kedua orang tuanya khawatir dengan hal ini. Untung saja semalam Aripto tidak menanyakan soal hal ini.
“Hey, bisa bantu Kakak nggak?”
Mendengar suara Andi, langsung saja Amira membuka matanya lebar-lebar. Gadis itu bahkan harus mengucek matanya beberapa kali untuk melihat siapa yang ada di depannya itu. Amira kira tadi yang mengetuk pintu kamarnya adalah ibunya. Tetapi ternyata itu adalah kakaknya yang seminggu lebih tidak pulang.
“Kakak sudah pulang?”
“Ya. Aku semalam pulang bareng ayah.”
“Kalian sudah….”
“Ya, kami sudah meluruskan semua kesalah pahaman kami. Sekarang aku bisa pulang ke rumah.”
Amira ternyum senang mendengar hal tersebut. Keluarganya sudah tidak saling menghindar satu sama lain seperti sebelumnya. Jika begini, Amira bisa dengan mudah mengunjungi Andi di Surabaya. Tetapi, apakah kakaknya itu akan tinggal di Surabaya?
“Bantu kakak ganti perban ya?” Pinta Andi sekali lagi.
“Ah ya. Sini masuk Kak. Biar aku bantu ganti perbannya.”
__ADS_1
Amira sedikit ngeri melihat luka bakar di tangan Andi. Kemarin tangan kakaknya itu terbalut dengan perban sehingga ia tidak tahu separah apa lukanya. Tetapi, sekarang Amira melihat sendiri bagaimana tangan kakaknya itu memerah. Beberapa kulitnya terlihat mengelupas.
“Ah ini kenapa parah seperti ini sih kak. Aku kira luka kakak nggak separah ini. Kakak juga udah tahu tangannya luka kayak gini masih aja ajak aku dan Arfan jalan-jalan.” Omel Amira. Meski Amira mengomel seperti itu, tetapi Amira tetap mengobati luka di tangan Andi. Ia mengoleskan salep luka bakar sebelum kembali membalut luka Andi dengan menggunakan perban.
“Kalo Kakak aja yang nolong dapet luka kayak gini, gimana dengan korbannya coba.”
Belum sempat Amira membereskan semua obat-obatan milik Andi, pintu kamar gadis itu terbuka. Di sana berdiri Anisa yang memandang ke arah tangan Andi yang masih di perban oleh Amira.
“Ah Ibu, ini aku…” ucap Andi terbata-bata. Ia tidak mengira bahwa ibunya akan masuk ke kamar Amira tanpa mengetuk pintu. Sekarang, sudah jelas Andi tidak bisa menyembunyikan hal ini.
“Kamu, itu tangan kamu kenapa Nak?” Tanya Anisa khawatir.
Mau tidak mau Andi memberitahukan kepada Anisa mengenai hal ini. Ia menceritakan sekali lagi kepada Anisa tentang dari mana dirinya mendapatkan luka seperti ini. Seperti Amira, Anisa juga menasehati Andi betapa cerobohnya dia hingga mengalami luka seperti ini.
“Iya Bu aku tahu. Aku ceroboh.”
“Kamu seperti ini kemaren malah renang dengan adik-adik kamu?”
Amira mengeleng. “Kita nggak jadi renang tapi pergi ke tempat outbound.” Jawab Amira.
“Malah ke sana. Harusnya dari kemarin kamu bilang kalo tangan kamu luka.”
“Tapi, kalo aku bilang kayak gitu, ibu pasti nggak ngijinin aku buat pergi dengan adik-adik.”
“Pokoknya ibu nggak mau tahu, hari ini kamu harus istirahat nggak ke mana-mana.” Titah Anisa.
“Tapi Bu, hari ini kan peresmian kafe dan dessert shop milikku, masak di hari peresmian aku nggak hadir? Seenggaknya, aku sebagai pemilik harus ada di sana, buat bisa ngasih laporan ke Brian juga. Toh yang luka tanganku bukan kakiku. Jadi aku bisa ke sana bukan? Aku janji hanya mantau aja.”
Anisa menarih nafas panjang. “Oke kamu boleh dateng. Tetapi, kamu nggak boleh ngapa-ngapain di sana. Biar semuanya ibu yang urus. Kamu di sana hanya untuk memantau, nggak pake bantu-bantu.”
Andi menuruti permintaan Anisa. Setidaknya ibunya itu mengijinkannya untuk keluar.
“Sekarang, kalian bersih-bersih diri dulu, dua puluh menit lagi sarapannya siap.” Ucap Anisa sebelum keluar dari kamar Amira.
Setelah kepergian Anisa, Amira memandang ke arah kakaknya. “Kak, sekarang karena Kakak sudah baikan dengan Ayah, bisakah aku memakai ponsel baruku sekarang?” Tanya Amira penuh harap.
Semenjak memiliki ponsel baru itu, Amira hanya menggunakan ponsel tersebut di dalam kamarnya. Ia tidak berani memakai ponselnya itu di luar kamarnya. Takut ketahuan orang tuanya. Apalagi dipakai di sekolah. Itu bukan pilihan yang bagus.
Beberapa orang teman SMA-nya mengetahui keadaan keluarganya. Jadi, akan sangat aneh jika dirinya tiba-tiba saja memiliki ponsel mahal. Amira tidak mau temannya membicarakannya dengan sebutan yang aneh-aneh di belakangnya.
“Jangan dulu. Mungkin jika kafe kakak sudah rame kamu boleh pake itu. Kamu juga bisa bawa temen kamu ke kafe. Seenggaknya biar mereka tahu kalo keluarga kita ini sudah meningkat taraf hidupnya.” Ucap Andi.
__ADS_1
Andi tidak mau Amira dituduh yang aneh-aneh oleh teman-temannya, seperti Widya. Jadi, Andi ingin adiknya itu menunjukkan kepada teman sekolahnya bahwa kehidupan Amira kini sudah berubah. Setidaknya jika teman-teman adiknya tahu bahwa Andi memiliki bisnis kafe, maka mereka tidak akan menuduh adiknya ynga macam-macam.