Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 75 Balap Mobil di Jalur Gunung (3)


__ADS_3

“Jadi, apa taruhan dari balapan malam ini?” Tanya Marcel ketika sampai di depan mereka.


“Seperti biasa saja, taruhan lima puluh juta untuk sekali balap. Yang menang ambil semua.” Jawab Arya.


Mendengar jawaban Arya, Marcel memandang pemuda itu. Tiba-tiba saja pandangan Marcel tertuju pada sosok yang berdiri di sebelah Arya. “Kenapa anak tengik ini ada di sini?” Tanya Marcel sembari menunjuk ke arah Andi.


“Arya, apa kamu sengaja ya membawa anak tengik ini kemari untuk mempermalukan aku?” Tanya Marcel cukup geram.


“Heh.” Arya mendengus. “Siapa pula yang berniat mempermalukanmu. Itu adalah dirimu sendiri. Apa kamu tidak tahu? Dengan kamu yang berbicara seperti itu, orang-orang akan penasaran dengan apa yang sudah terjadi antara kalian.”


“Jika aku ingin mempermalukanmu aku sudah melakukannya sejak kemarin-kemarin. Aku bisa mengatakan apa yang terjadi di group balapan. Tetapi aku tidak mengatakannya bukan? Jangan karena kamu suka mempermalukan orang lain, lalu kamu menganggap orang lain memiliki hobi yang sama sepertimu.” Ucap Arya sarkas.


“Ck. Ck. Ck.” Sartio mendecakkan lidahnya. “Marcel, Marcel, tetap saja tidak berubah. Apa kamu tidak bisa mengubah sifatmu yang semena-mena itu. Aku ingatkan padamu, jika kamu tidak menjaga sikapmu, suatu hari nanti akan ada orang yang menjatuhkanmu karena sikapmu itu.”


“Heh.” Marcel mendengus. “Jangan mentang-mentang kamu berasal dari keluarga Jayantaka, kamu bisa menasehatiku seperti itu. Ini hidupku dan aku bebas menentukan apa yang aku lakukan. Ah ya, aku sepertinya memiliki nasihat juga untukmu.”


“Jangan terlalu dekat dengan orang miskin, karena kamu tidak tahu kapan dia akan menyebarkan kesialannya padamu.” Ucap Marcel angkuh.


Sementara itu, Hermawan yang kini berada beberapa langkah di belakang Marcel, terlihat berbisik-bisik dengan Karina, yang di sampingnya. “Apakah benar yang kamu katakan itu?” Tanya Hermawan kepada Karina.


“Tentu saja Beb, dia itu cowok yang diajak kenalan sama Rosa tempo hari. Malahan Rosa ajak kenalan dia duluan. Terus nih ya Beb, kayaknya cowok itu juga yang jalan sama Rosa minggu lalu. Selain dia, kayaknya nggak ada cowok lain yang ngedeketin Rosa. Yang lain kan udah pada mundur.” Jelas Karina.


Mendengar hal itu, Hermawan terdiam sejenak. Ia lalu memperhatikan Marcel yang saat ini masih berdebat dengan Arya dan juga Satrio. Anak itu sudah benar-benar tidak tertolong. Sepertinya otaknya itu ada di lutut, sehingga dia tidak bisa berpikir jangka panjang. Lihat saja emosinya gampang sekali dipancing oleh dua orang Tuan Muda itu.


Tetapi, itu membuat Hermawan bersyukur. Setidaknya generasi muda keluarga Sasongko tidak ada yang bisa diandalkan. Kebanyakan dari mereka lebih mengedapankan emosi mereka dari pada akalnya. Yang perlu Hermawan pikirkan adalah generasi muda dari dua keluarga lainnya.


Hermawan memiliki ambisi untuk membawa keluarga Sanjoyo mempimpin empat keluarga besar di eranya. Ia tahu itu cukup berat. Masih ada Arya, yang keliatannya tidak serius, tetapi memiliki tingkat kehati-hatian yang tinggi.

__ADS_1


Di tangan Arya mungkin saja keluarga Wijoyokusumo tidak bisa mengungguli keluarga Jayantaka. Tetapi, dengan di pimpin Arya, Hermawan yakin keluarga Wijoyokusumo bisa bertahan di posisi dua. Sangat susah untuk mengelabuhi anak itu dengan sifat penuh kehati-hatiannya.


Sementara itu, lawan terberatnya, keluarga Jayantaka. Meski Satrio bukanlah orang yang bisa diandalkan, tetapi keluarga Jayantaka masih memiliki Gayatri. Perempuan itu sangat licik, layaknya seekor rubah. Jika berhadapan dengan dia, dan tidak berhati-hati, sudah pasti orang tersebut akan tumbang tanpa tahu apa yang terjadi.


Perempuan itu memiliki banyak trik di lengannya. Keluarga Jayantaka tidak membeda-bedakan antara perempuan dan laki-laki. Jadi, kemungkinan Gayatri menjadi penerus cukuplah besar. Apalagi dari rumor yang Hermawan dengar, Kepala Keluarga Jayantaka tengah melatih Gayatri cukup intens.


Akan sulit bagi Hermawan untuk mengungguli kedua keluarga itu. Meski begitu, Hermawan tidak putus asa. Pemuda itu yakin dengan beberapa rencana liciknya, ia bisa menjatuhkan kedua keluarga itu. Semuanya haruslah pelan-pelan. Jika terburu-buru, dirinyalah yang jatuh karena perangkapnya sendiri. Pemburu haruslah bersabar jika ingin mendapatkan mangsa bagus.


“Apakah kamu akan memberi pelajaran kepada cowok itu, Beb?” Suara Karina membuyarkan lamunan Hermawan. Ia pun kembali melihat ke arah Andi yang masih diam saja di samping Arya.


“Tidak untuk saat ini. Jika aku memang ingin memberinya pelajaran, lebih baik aku tidak menggunakan tanganku. Ada orang lain yang juga tidak sabar untuk memberi pelajaran kepada anaks itu.” Bisik Hermawan pelan sembari menatap ke arah Marcel.


Hermawan menepuk tangan Karina pelan. Ia meminta perempuan itu melepaskan tangannya, yang saat ini perempuan itu peluk.


Mengetahui hal itu, Karina langsung melepas pelukannya. Sebagai perempuan simpanan seorang tuan muda, dirinya harus tahu tempat. Jika ia ingin tetap bertahan di posisi ini, ia harus pandai-pandai membaca situasi. Kapan dirinya perlu bicara, kapan harus diam, kapan harus menghibur dan bersikap manja, semua itu harus dilakukan pada waktu yang tepat agar tetap bisa bertahan di tempat ini.


Mendengar ucapan Hermawan, langsung saja Marcel memberikan tatapan tajam penuh dengan amarah, ke arah Andi. Jika tatapan bisa membunuh, pasti saat ini tubuh Andi sudah terpotong-potong, karena mendapatkan tatapan dari Marcel.


“Ck. Ck. Ck.” Marcel mendecakkan lidahnya. “Aku tidak menyangka bahwa, orang miskin sekarang sudah semakin berani. Apa kamu sudah merasa hebat dan kuat sehingga berani untuk merebut cewek yang Tuan Muda ini incar?”


Mendengar perkataan Marcel, Andi tahu waktu tenangnya sudah habis. Sedari tadi dirinya diam karena tidak mau menambah masalah. Memang Marcel beberapa kali memancingnya untuk ikut dalam pembicaraan mereka, tetapi Andi tidak menanggapi. Ia hanya mendengarkan pembicaraan ketiga Tuan Muda itu.


Namun, semua berubah setelah pemuda bernama Hermawan itu, membisikkan sesuatu kepada Marcel. Andi yakin ini ada hubungannya dengan Hermawan yang sedari tadi berbisik-bisik dengan Karina sembari memperhatikannya.


“Maksudmu apa?”


“Jangan berpura-pura tidak tahu seperti itu. Aku tahu kamu sedang mendekati Rosalinda, cewek yang sedang aku incar. Kamu mau bersaing dengan kami untuk menjadikannya pacar bukan? Mau berkilah apa lagi kamu.”

__ADS_1


Arya yang ada di sebelah Andi menatap pemuda itu dengan tatapan takjub. “Wow, Man. Aku tidak tahu bahwa kamu juga mengenal Rosalinda, bahkan kamu mengikuti mereka berdua untuk memperebutkan cewek itu. Keren sekali.” Ucap Arya sembari mengangkat kedua jempolnya untuk Andi.


“Aku tidak mengerti apa maksudmu itu. Aku sama sekali tidak mendekatinya. Kita hanya berteman, dia hanyalah orang yang aku kenal di Car Free Day, jadi apa yang kamu tuduhkan itu salah. Aku sama sekali tidak memiliki niatan menjadikannya pacar.”


Andi memang ingin berfokus kepada bisnisnya terlebih dahulu. Ia tidak mau fokusnya terbelah karena urusan percintaan. Memang dirinya memiliki ketertarikan se*ual kepada Rosalinda. Tetapi, itu bukan berarti Andi tertarik untuk menjadikan Rosalinda pacar bukan?


Andi belum memiliki alasan yang kuat untuk dirinya menjadikan Rosalinda pacarnya. Alasan ketertarikan se*ual tidak bisa dijadikan alasan utama untuk memulai hubungan dengan seseorang bukan. Masih banyak alasan lain yang perlu Andi pertimbangkan.


“Ck. Tidak berniat mendekati tetapi kamu berbelanja bareng dengan Rosalinda. Sekarang mau mengelak apa lagi kamu? Jika kamu memang jantan, ayo balapan denganku.” Tantang Marcel.


Andi menggelengkan kepalanya pelan. “Aku sama sekali tidak tertarik dengan balapan yang kalian lakukan.” Tolak Andi.


“Dasar cemen. Balapan gitu aja nggak berani, nggak jantan.”


“Ah sudahlah. Mari kita mulai sana balapan kali ini. Hari sudah semakin larut. Semakin malam semakin bahaya balapan di sini. Lebih baik kita mulai saja baapannya.” Ucap Arya. Pemuda itu lelah juga menanggapi ocehan Marcel.


Selain itu, Arya juga melihat bahwa sebelum ini, Hermawan membisikkan sesuatu kepada Marcel. Ia tidak bisa terus menerus membiarkan Macel memaksa Andi ikut balapan. Arya yakin Andi bisa melewati lintasan pegunungan ini dengan selamat.


Namun, yang Arya khawatirkan adalah Marcel dan Hermawan melakukan sesuatu untuk mencelakakan Andi. Dirinya juga terlibat dalam hal ini, karena bagaimana pun juga, Arya lah yang telah mengundang Andi kemari. Jadi setidaknya Arya memiliki tanggung jawab memastikan bahwa Andi baik-baik saja.


Marcel ingin kembali membuka mulutnya, tetapi, tepukan dari Hermawan menghentikannya.


“Baiklah. Mari kita mulai balapan ini.”


Hermawan tahu bahwa Arya mulai curiga. Jadi, meski pun nanti Andi ikut balapan pun mereka belum tentu bisa mencelakainya. Bisa saja mobil yang Andi kendarai nantinya diapit oleh mobil Arya dan Satrio guna menghindari perbuatan curang dari Marcel dan Hermawan.


Untuk sekarang memang dirinya belum bisa memberi pelajaran kepada anak itu. Tetapi, tidak untuk lain kali. Setidaknya Hermawan sudah menghafal nama dan wajah dari anak itu. Nantinya, dia bisa merencanakan hal lain untuk memberi pelajaran kepada anak ini.

__ADS_1


__ADS_2