
Jangan lupa Vote, Like, Komen dan tambahkan Favorit
---
Setelah mengobrol cukup panjang dengan sistem, Andi melihat jam pada pergelangan tangannya. Sudah saatnya dia ke sekolahnya. Ini adalah jadwal kelasnya untuk melakukan cap tiga jari. Segera saja Andi membereskan barang-barang miliknya dan kembali ke sekolah.
Di depan ruang TU, sudah terlihat teman sekelasnya berkumpul di sana. Andi mengedarkan pandangannya mencoba mencari keberadaan wali kelasnya. Namun, ia tidak bisa menemukannya. Mungkin wali kelasnya belum datang kemari.
“Baiklah teman-teman. Aku akan mengabsen kalian. Yang namanya dipanggil, kalian bisa masuk ke ruang TU untuk cap tiga jari.”
Dinda yang barusan keluar dari ruang TU langsung saja memberikan pengumuman kepada teman sekelasnya. Sepertinya cap tiga jari kali ini tanpa melibatkan wali kelas mereka. Buktinya sekarang ini Dinda yang mengatur teman-teman sekelasnya dan bukan wali kelas mereka.
“Ahmad Baihaqi.”
“Ananda Saputri.”
“Andre Santoso.”
“Andi Rahman Prayudi.”
Mendengar namanya dipanggil langsung saja Andi masuk. Beruntung nama Andi memiliki huruf A di depannya, sehingga Andi memiliki absen yang lebih awal. Dengan begini, Andi bisa menyelesaikan hal ini lebih awal.
Sekarang sistemnya sudah selesai diperbarui. Setelah ini ia bisa melakukan hal lainnya. Jadi, masih banyak pekerjaan tertunda yang perlu ia selesaikan.
Ketika Andi hendak menuju perpustakaan, seseorang menghadangnya. Siapa lagi kalau bukan Jony yang pelakunya. Di sebelah Jony, ada Rendi yang menampilkan ekspresi seperti biasanya. Namun, ketika matanya bertemu dengan mata Andi, Rendi mengedipkan matanya beberapa kali, seolah memberikan kode kepada Andi.
Dari yang terakhir Andi dengar, Rendi sudah membelot dari Jony. Sepertinya pemuda itu belum sepenuhnya pergi meninggalkan sisi Jony. Buktinya, sekarang mereka masih terlihat bersama.
“Lihat-lihat siapa ini? Bukankah ini kecebong yang dengan sombongnya bilang akan menghancurkan keluargaku?” Setelah berkata demikian, Jony tertawa dengan diikuti beberapa bawahannya.
“Kamu sok-sokan bicara seperti itu. Nyatanya keluargaku masih baik-baik saja. Jadi jangan mimpi bisa menghancurkan keluargaku.”
__ADS_1
Andi menggelengkan kepalanya pelan. “Aku sama sekali tidak mimpi. Aku beneran akan melakukannya. Lihat saja minggu ini kamu akan tahu bahwa perkataanku benar adanya.”
Andi berniat mengumpulkan dulu saham perusahaan keluarga Jony. Ia berniat menurunkan harga saham tersebut pada hari Jumat besok. Ia akan menurunkan harga saham perusahaan Jony tepat sebelum bursa ditutup. Andi yakin dengan begini, keluarga Jony akan kebingungan menyelesaikan hal ini.
Selain itu, dengan ia menurunkan nilai saham dengan cukup derastis, pada hari Jumat menjelang tutupnya bursa, itu akan memberikan rasa kekhawatiran yang cukup besar, bagi mereka yang memiliki saham perusahaan milik keluarga Jony.
Andi yakin, Senin pagi ketika bursa dibuka, akan banyak orang yang berniat menjual saham mereka secepatnya sebelum merugi. Andi akan memanfaatkan nilai saham yang dijual rendah itu. Ia akan membelinya lalu kembali menjualnya dengan harga yang lebih rendah lagi.
Andi yakin dengan begini para pemegang saham yang sebelumnya tidak terlalu khawatir dengan turunnya saham yang mereka miliki akan semakin was-was. Jika begini, Andi yakin dirinya bisa membeli saham dengan harga rendah dan jumlah besar.
Jika Andi memiliki saham jauh lebih besar dari yang dipegang oleh keluarga Jony, ia hanya tinggal memikirkan cara agar keluarga Jony mau menjual saham yang mereka pegang dengan harga yang lebih murah.
“Hahaha. Menghancurkan keluargaku dalam akhir pekan ini? Jangan ngaco? Itu sangat tidak mungkin. Teruslah bermimpi karena itu tidak akan pernah terjadi.” Setelah berucap demikian, Jony membawa anteknya pergi meninggalkan Andi.
Jony tidak berniat untuk berkonflik dengan Andi saat ini. Percuma saja ia akan kalah. Apalagi ini masih di lingkungan sekolah. Jony tidak bisa melakukannya. Jony hanya perlu melanjutkan rencananya menghancurkan Andi dengan menghancurkan kelemahannya, adik-adiknya.
Jony akan pergi ke Surabaya akhir pekan ini. Ia dengar preman di sana banyak yang memiliki kemampuan lebih daripada preman di kotanya. Maka dari itu, Jony berniat ke sana untuk mencari preman yang bisa melakukan tugas yang ia minta.
Jony yakin rencananya akan berjalan dengan lancar jika dirinya mempekerjakan preman dari Kota Surabaya. Untung mengatasi dua adik Andi itu hal yang sangat mudah bagi preman-preman itu. Apalagi sekarang Jony sudah mengantongi cukup banyak informasi mengenai adik-adik Andi. Jadi, Jony yakin dirinya akan berhasil.
Entah Andi yang beruntung, atau memang para pemegang saham itu tahu, bahwa sekarang adalah saat yang tepat menjual saham sebelum merugi, Andi bisa menemukan banyak sekali saham perusahaan keluarga Jony.
Langsung saja Andi membeli semuanya. Mungkin ini semua terpengaruh Andi yang kemarin membeli semua saham yang tersedia. Tetapi, hari harga saham perusahaan keluarga Jony, sedikit lebih mahal dari sebelumnya. Andi tidak mempermasalahkan hal ini.
Toh Andi sedang mencari keuntungan jangka panjang. Bukan keuntungan jaka pendek. Jadi, meskipun harganya naik, Andi tidak mempermasalahkan hal itu. Ia membeli semuanya.
Pada saat bursa tutup untuk istirahat makan siang, Andi sudah menghabiskan dua puluh milyar lebih uangnya untuk membeli semua saham yang tersedia. Dengan saham yang kemarin ia beli, sekarang ini Andi hanya memiliki empat persen dari saham perusahaan keluarga Jony.
Andi berharap setelah makan siang nanti, ia bisa membeli lebih banyak lagi saham perusahaan keluarga Jony. Empat persen masih jauh dari cukup untuk bisa menggoyangkan hati para pemegang saham. Mungkin itu akan memberikan efek jika ia memiliki lebih dari lima belas persen saham.
Ketika Andi berencana untuk makan di kantin sekolahnya, ponsel yang ada di sakunya berbunyi. Ia mengecek ponselnya tersebut.
__ADS_1
“Sinta menelfon. Ada perlu apa ini?” Langsung saja Andi menerima sabungan telfon tersebut.
“Hallo Miss Sinta, ada apa menelfonku?”
“Mr. A, tugas yang Anda berikan sudah saya laksanakan. Saya sudah mencari beberapa gedung perkantoran di sekitaran sini. Dan sekarang, saya menemukan sebuah kantor yang cukup luas di dekat kantor kita yang sekarang.”
“Lalu, ada juga ruang kantor yang cukup luas di gedung kantor kita yang sekarang. Jadi, mana yang Mr. A pilih? Aku sudah mengirim informasi mengenai kantor tersebut ke email Anda.” Jelas Sinta.
“Berapa luas kantornya?”
“Ruang kantor yang sama di gedung kantor kita memiliki luas empat ratus meter persegi. Sedangkan kantor yang berbeda gedung, itu memiliki luas lima ratus meter persegi.”
“Baiklah kalau begitu. Aku akan mengambil keduanya. Bantu aku menyelesaikan sewa kedua kantor tersebut. Ah tunggu dulu, apakah sewa keduanya kantor tersebut memiliki furniture di dalamnya?”
“Untuk yang di gedung kita sudah temasuk furniturenya. Penataannya tidak terlalu berbeda dengan kantor kita yang sekarang. Untuk kantor yang satunya, itu hanya disewakan kosongan tanpa furniture.” Jelas Sinta.
“Baiklah. Selesaikan dulu proses sewanya. Setelah itu, kirim padaku alamat kantor yang yang berbeda gedung dengan kantor lama. Aku akan mengirimkan uang ke rekening perusahaan kita. Jadi, nanti kamu minta saja uangnya kepada Bu Mila.” Jelas Andi.
Setelah berucap demikian, Andi mengirimkan delapan milyar ke rekening perusahaannya. Ini mungkin saja uang terakhir yang Andi kirimkan melalui rekening pribadinya. Andi berharap kedepannya perusahaannya itu bisa memenuhi kebutuhan mereka sendiri melalui keuntungan yang mereka dapatkan.
Membicarakan mengenai gedung perkatoran, membuat Andi berpikir untuk mendirikan gedung perkantorannya sendiri. Memang sekarang bisnisnya baru ada dua, tiga termasuk dengan bisnis kuenya. Tetapi, kedepannya bisnis Andi akan semakin banyak.
Andi ingin semua bisninsnya itu terdapat di satu gedung perkantoran yang sama. Dengan begitu, itu akan memudahkannya dalam melakukan rapat pimpinan. Mereka hanya tinggal menuju ke ruang rapat lantai tertentu untuk melakukan pertemuan itu.
Tetapi, semua itu masih cukup jauh. Sekarang ini yang perlu ia pikirkan adalah mencari arsitek untuk menata interior kantor barunya. Andi berencana menjadikan kantor baru tersebut sebagai kantor perusahaan gamenya.
Lalu, ruang kantor yang berada di gedung yang sama dengan perusahaan investasinya, akan Andi gunakan sebagai perluasan dari kantor yang sekarang. Mungkin beberapa departemen perlu pindah ke lantai yang berbeda.
Tetapi semua itu tidak masalah. Asalkan semuanya berada dalam satu gedung, tidak masalah jika mereka berada di lantai yang berbeda.
Lalu, Andi kemudian mencari mengirimkan alamat kantor untuk perusahaan game miliknya kepada Ghani. Setelahnya, Andi menelfon salah satu arsitek yang dulu mengerjakan renovasi kafenya. Siapa tahu dia dan timnya bisa mengambil proyek renovasi bagian dalam gedung kantornya itu.
__ADS_1
Setelah mendapatkan nomor arsitek tersebut dalam daftar kontak miliknya, Andi langsung saja menelfon Dani, sang arsitek. Cukup lama Andi berbicara dengan Dani. Ia mengatakan bahwa dirinya bisa bertemu pada hari Sabtu siang. Andi menyetujui hal itu.
Ini berarti, Sabtu ini dirinya akan mengajak kedua adiknya menghabiskan akhir pekan di Surabaya. Kebetulan besok adalah hari terakhir Arfan ujian. Jadi, Andi bisa mengajak kedua adiknya tanpa mengganggu jadwal mereka.