Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 84 Target Tercapai, Lucky Draw


__ADS_3

[Ding]


[Target Pendapatan bulanan terlah tercapai]


[Hadiah : Kotak Misteri]


[Host tunggu pergantian bulan untuk mendapatkan target baru]


[Ding]


[Host selesaikan semua target yang diberikan agar tidak mendapatkan hukuman]


Andi menerima pemberitahuan tersebut setelah dirinya berhasil mengumpulkan target bulannanya. Selama seminggu ini, Andi memfokuskan dirinya untuk berinvestasi di pasar modal. Dengan keuntungan yang di dapatkan dari sana, juga pendapatan dari kafenya dari hari senin hingga jumat pagi, Andi akhirnya menyelesaikan target bulanannya.


“Ah akhirnya aku menyelesaikan target bulananku. Dengan begini, aku tidak perlu takut untuk mendapatkan hukuman karena tidak bisa menyesaikan target. Semoga saja bulan depan target bulanan dari sistem bukan lagi target saldo.”


Menurut Andi target bulanan yang mengharuskannya untuk mendapatkan saldo tertentu cukuplah berat. Hal ini karena dirinya perlu membatasi pengeluarannya agar targetnya bisa segera tercapai. Andi merasakan bagaimana dirinya beberapa kali berpikir akan segera mencapai target tetapi kemudian gagal karena uangnya ia pakai.


Andi lebih suka target bulanan menghabiskan uang tertentu. Karena dengan demikian, Andi tidak perlu mempertahankan saldonya dinilai tertentu, ia bisa leluasa berbelanja ini itu. Tetapi, semua itu yang menentukan adalah sistem. Jadi, meski Andi mengingikan target bulanannya adalah target pengeluaran, belum tentu juga ia mendapatkannya.


Ketika Andi tengah memikirkan tentang target apa yang perlu ia capai di bulan depan, sebuah pemberitahuan dari sistem kembali Andi dengar.


[Ding]


[Sistem telah mendeteksi bahwa ini adalah pertama kalinya host memiliki saldo mencapai Rp 1.000.000.000,-]


[Hadiah pencapaian telah sistem kirim ke kotak penyimpanan]


[Host berjuanglah menumpuk kekayaan dan kumpulkan semua hadiah pencapaian]


“Wow, aku mendapatkan hadiah pencapaian. Seingatku, dari pencapaian seratus juta, aku mendapatkan sebuah lucky draw. Sepertinya kali ini aku juga mendapatkan hal yang sama. Hadiah apa kali ini yang akan aku dapatkan?”


Dari lucky draw sebelumnya, Andi mendapatkan sebuah apartemen berikut isinya. Lalu sekarang apa yang akan ia dapatkan? Jelas ini lebih besar bukan? Inikan lucky draw yang ia dapatkan dari hasil pencapaian satu milyar.


Langsung saja Andi mengunakan lucky draw miliknya. Di depan Andi terdapat sebuah panel yang menampilkan kembilan kotak hadiah berwarna emas. Sama seperti lucky draw sebelumnya.


[Apakah Host akan memakai Tiket Lucky Draw sekarang?]


[Ya] [Tidak]


Kotak-kotak hadiah yang ada berada di panel menyala secara acak. Tidak lama kemudian hanya tinggal kotak yang berada di tengah sebelah kanan yang menyala. Setelahnya Andi dapat mendengar pemberitahuan dari sistem.


[Selamat Host mendapatkan satu unit rumah mewah fully furnished dengan nilai sebesar Rp 43.500.000.000,-]


Seperti sebalumnya juga, Andi menemukan kunci rumah berserta kertas berisikan alamat di mana rumah yang menjadi hadiahnya berada, di kantong celanannya. Andi kemudian membaca alamat rumah tersebut.


“Ini adalah sebuah rumah di Surabaya. Kenapa ini di sana? Padahal orang tuaku ada di sini. Bukankah aku sudah memiliki sebuah apartemen di Surabaya?”


Andi menyayangkan bahwa rumah tersebut bukan berada di kota asalnya. Untuk apa dia memiliki banyak rumah di Surabaya? Toh dirinya belum berkeluarga. Baginya sebuah apartemen saja sudah cukup.


“Ah sudahlah. Nanti aku kan melihat rumah tersebut. Mungkin setelah aku melihat fasilitas yang ada di rumah itu, aku akan berubah pikiran.” Gumam Andi.

__ADS_1


Sekarang, karena dia tidak lagi memikirkan target bulanan, Andi bisa menggunakan uang ini lebih leluasa. Pertama Andi mengirimkan uang lima ratus juta ke rekening perusaannya. Tidak lupa Andi memberitahukan hal tersebut kepada Mila, manager keuangannya.


“Panel status.”


[Ding]


[Modul Menjadi Kaya]


[Level 7 (843.675.200/1.000.000.000)]


[Saldo Host : Rp 508.800.868,-]


[Tingkat Konversi : 1 kali nafas \= 22 rupiah]


[Misi : -]


[Target Bulanan : -]


[Penyimpanan : - Kartu kemampuan karyawan (3/10)


- Kotak misteri tingkat perak (1/1)]


[Kemampuan : - Lidah Manis : Selamanya


- Pengalaman Pembalap : Tingkat 1


- Pengalaman Juru Masak : Tingkat 1


- Pengalaman Pialang Saham : Tingkat 1]


[Aset : - Apartemen


- Mobil sport


- Rumah mewah]


[Selamat berjuang menghabiskan uang Host]


“Ah, ternyata sebentar lagi aku bisa naik level. Aku hanya perlu menghabiskan beberapa ratus juta lagi untuk mencapai hal itu. Sudah saatnya aku meningkatkan lagi level milikku ini.”


Andi berencana kembali berdonasi. Jika sebelumnya Andi berdonasi di sebuah panti asuhan, maka kali ini Andi berniat membantu orang-orang sekitarnya, terutama yang masih ada hubungan keluarga dengannya.


Pemuda itu ingat sebuah perkataan, jika ingin menolong orang, mulailah dari orang yang terdekatmu, atau keluargamu, barulah orang lain. Menurut Andi itu adalah hal yang benar. Kita kaya sering membantu orang, tetapi kita lupa membantu keluarga sendiri, bukankah itu tidak etis. Orang pasti akan menganggap kita ini membantu orang lain karena mencari muka saja. Itu semua karena kita yang lupa untuk menolong anggota keluarga kita.


Jika begini, Andi perlu menanyakannya kepada ibunya. Andi tidak mengetahui siapa saja keluarganya yang membetuhkan bantuannya. Ibunya jelas lebih tahu siapa saja yang membutuhkan bantuan untuk saat ini.


Langsung saja Andi meninggalkan ruang VIP nomer tiga, ruangan di kafenya yang selama seminggu ini menjadi ruang kerja Andi. Andi melihat ibunya tengah duduk di balik meja kasir. Ia pun segera menghampiri Anisa.


“Bu, aku ingin bicara sesuatu.”


Mendengar hal itu, Anisa langsung menyuruh salah satu pekerja kafe untuk menjaga kasir. Perempuan itu mengikuti Andi naik menuju ke ruang VIP nomer 3.

__ADS_1


“Ada apa Nak?” Tanya Anisa ketika mereka sampai di sana.


“Ibu, aku mau tanya, adakah keluarga kita yang kekurangan dan membutuhkan bantuan? Maksudku aku kan sekarang sudah memiliki bisnis yang cukup stabil. Aku berencana untuk membantu keluarga kita yang kekurangan.”


Anisa tersenyum mendengar ucapan anaknya itu. Sebenarnya Anisa juga ingin mengingatkan anaknya mengenai sedekah. Tetapi, sebelum dirinya membicarakan tentang sedekah, anaknya sudah berinisiatif membicarakan hal tersebut.


“Kalo kamu ingin bersedakah kepada keluarga kita yang kekurangan, ibu sangat senang. Tetapi, menurut ibu, daripada kamu memberikan uang kepada mereka, kamu bisa memberi mereka modal. Biarkan mereka membuka usaha kecil-kecilan dengan modal tersebut.”


“Jika kamu hanya memberikan mereka uang, sudah pasti mereka akan uang itu akan habis. Mereka tidak akan berpikir untuk membuka usaha dengan uang tersebut. Mungkin kedepannya mereka bahkan akan terus mengharapkan bantuan darimu.”


“Lebih baik kamu mengatakan akan memberikan pinjaman modal untuk mereka membuka usaha. Dengan begitu, mereka akan berpikir untuk mencari cara mengembalikan uang tersebut. Mungkin nanti jika mereka akan mengembalikan uang modal yang kamu beri, kamu bisa bilang mereka tidak perlu mengembalikannya. Setidaknya jika hal itus terjadi, maka mereka sudah memiliki bisnis yang berjalan cukup sukses.” Jelas Anisa.


Andi memikirkan perkataan Anisa tersebut. Memang benar apa yang Anisa katakan, jika Andi hanya memberi mereka uang, mereka akan mengharapkan lagi kedepannya. Mereka malah akan bergantung pada Andi dan mengharapkan bantuan-bantuan lainnya. Bisa jadi, jika nanti Andi menghentikan bantuannya kepada mereka, mereka akan menghujat-hujat Andi dan keluarganya.


Itu berbeda jika Andi mengatakan bahwa ia meminjamkan uang untuk modal. Jelas mereka akan memikirkan membuat sebuah usaha. Nantinya, mereka akan berpikir memiliki tanggungan untuk membayar hutang.


“Ah baiklah. Aku akan mengikuti saran ibu. Aku akan mengatakan akan memberikan mereka modal usaha. Tetapi ibu perlu memberitahuku siapa saja yang benar-benar membutuhkan hal tersebut.”


“Tentu saja ibu akan membantumu dengan hal itu. Tapi, memangnya kamu mau bersedekah berapa? Ibu baru ingat jika kamu saat ini belum bisa memberikan modal untuk orang lain.”


Meski setiap harinya kafe anaknya ini mendapatkan pendapatan tiga hingga empat juta tiap harinya, tetapi itu adalah pendapatan, bukan keuntungan. Mungkin setiap harinya keuntungan dari kafe hanyalah tiga ratus hingga empat ratus ribu. Dengan uang segitu, tentu saja Andi belum bisa memberikan modal untuk orang lain bukan?


Bisnis kafe ini baru berjalan sebulan. Jadi, tabungan dari Andi jelas belum cukup banyak bukan? Bersedekah memang mungkin tetapi tidak jika memberikan sedekah yang bisa memberikan modal usaha.


“Sebenarnya, aku punya usaha lain Bu selain ini. Ibu ingat tidak bahwa Amira meminjam rekening ibu, juga meminta foto KTP berserta foto selfie Ibu membawa KTP?”


Anisa mengangguk. Ia ingat anak perempuannya melakukan hal itu. Ketika ia bertanya dipergunakan untuk apa KTP-nya tersebut, anak perempuannya itu hanya mengatakan bahwa ia membuka dompet digital. Ia membutuhkan kartu identitas milik Anisa untuk melakukan hal tersebut.


“Ya ibu ingat.”


“Sebenarnya itu aku yang menyuruhnya. Aku meminta Amira untuk membuka akun reksadana. Jadi, selama ini aku menabung di reksadana. Lalu, setelah aku mengumpulkan uang yang cukup, aku membelikan saham di bursa dengan uang tersebut. Sekarang, keuntungaku dari sana cukup banyak.”


“Mangkanya aku menyetujui perkataan ibu untuk meberikan modal untuk keluarga kita yang kekurangan.” Jelas Andi.


“Memangnya berapa keuntungan kamu dapatkan dari beli saham?” Anisa tidak memiliki pemahaman besar mengenai hal itu. Dirinya hanya lulusan SMA, ia tidak memiliki pengetahuan yang banyak mengenai hal itu.


“Sekarang, aku punya tabungan lima ratus juta dari semua keuntungan itu.” ujar Andi.


“Apa? Lima ratus juta? Kamu nggak bercandakan?” Tanya Anisa tidak percaya.


Andi langsung membuka akun yang ia pakai bertransaksi di bursa. Untung saja dirinya sudah mengirimkan lima ratus juta ke rekening perusahaan. Jika ibunya tahu bahwa dirinya memiliki uang satu milyar sebelumnya, bisa jadi ibunya akan pingsan karena kaget.


“Ini lihatlah Bu, lima ratus juta lebih.”


Anisa cukup kaget meilhat angka itu di layar ponsel anaknya. Jika saja dirinya tidak duduk kali ini, maka Anisa akan terjatuh karena kaget. “Itu banyak sekali nak.”


“Inilah kenapa dulu aku mengatakan bahwa aku berjudi untuk mendapatkan uang untuk membeli semua pakaian itu. Karena itu benar. Beberapa orang bilang melakukan spekulasi atas harga saham merupakan sebuah perjudian.” Jelas Andi.


“Sekarang, ibu buat saja daftarnya, siapa saja yang pantas mendapatkannya. Nanti aku akan mencari waktu menemui mereka dan mengatakan hal ini. Tetapi, ketika hal itu terjadi aku ingin ibu menemaniku menemui mereka.” jelas Andi.


Setelah mengatakan semua itu kepada ibunya, Andi pergi untuk mengambil mobilnya. Sejak tangannya sakit, Andi masih meninggalkan mobilnya di pelataran parkir hotel. Sekarang tangannya sudah lebih baik. Jadi, dirinya sudah bisa menyetir mobilnya tanpa merasa sakit.

__ADS_1


Setelah ini Andi berniat menuju ke salah satu panti asuhan yang berada di dekat rumahnya. Meski ia mengatakan akan membantu keluarganya, tetapi hal itu masih perlu menungu kabar dari ibunya. Jika daftar keluarganya yang membutuhkan bantuan sudah ada, maka Andi akan menyisihkan uangnya untuk mereka.


__ADS_2