
Pintu ruangan tempat Andi di sekap tiba-tiba terbuka. Tidak menunggu lama, tiga tembakan senjata api langsung terdengar nyaring di telinga Andi. Andi yang mendengar hal itu merasa pasrah. Ia kira dirinya adalah target dari tembakan itu. Namun nyatanya itu bukan dia.
Sedari tadi Andi memang menutup matanya karena tidak mau melihat tubuhnya yang terkoyak. Jadi dia menutup matanya. Namun karena sekarang dirinya tidak merasakan sakit di anggota tubuhnya yang lain setelah tembakan itu terdengar, Andi langsung membuka matanya.
Ia melihat keberadaan Dinda di balik pintu itu. Tiga tembakan tadi bukan diarahkan kepada Andi tetapi tiga orang yang seruangan dengan Andi. Andi melihat ketiga orang itu memegangi kaki mereka. Saat ini ketiganya sudah terduduk di lantai.
“Dinda apa yang Kamu lakukan kenapa Kamu menembak Kami seperti ini?” Ucap Sahab sembari memegangi betisnya yang terkena tembakan Dinda.
Dengan ekspresi datar dan nada suara yang dingin, Dinda menjawab pertanyaan Sahab tersebut.
“Aku kira tembakan yang kalian terima waktu itu bisa membuat kalian mengetahui di mana tempat kalian berada. Ternyata tidak rupanya.”
Dinda menggelengkan kepalanya pelan. Ia lalu memandang ke arah Andi yang kini tubuhnya berlumuruan darah. Saat itu juga, emosi Dinda naik. Ia lalu memandang tajam ke arah ketiga orang laki-laki yang sekarang terduduk lemah.
“Kalian berani sekali membuat Andiku seperti ini.”
Dinda langsung bergerak menuju Andi. Perempuan itu ingin sekali menjalankan tangan di tubuh Andi. Tetapi ia takut akan lebih melukai Andi. Ia pun menghentikan uluran tangannya.
Dinda lalu mengerakkan tangannya menuju tali yang mengikat tangan Andi dan melepaskannya. Ia melihat garis merah di pergelangan tangan Andi. Sepertinya ikatan yang tadi ia buat terlalu rapat.
“Dia adalah seorang Prayudi. Sudah jelas dia harus mati. Tidak ada pengecualian sama sekali.” Ucap Sahab.
Mendengar ucapan Kakeknya itu, Dinda membalikkan badannya. Ia menatap lekat ke arah Sahab.
“Tentu saja ada pengecualian. Aku bisa membuat pengecualian itu. Semua keputusan mengenai balas dendam keluarga kita, aku yang akan membuat bukan?”
“Tidak. Selama aku dan Ayahmu masih hidup, tidak semua keputusan ada di tanganmu.” Jawab Sahab.
“Begitukah?” Tanya Dinda sembari memiringkan kepalanya. Sesekali ia mengetuk-ketukkan ujung telunjuknya ke dagunya.
“Aku rasa kalian tidak akan bisa melakukannya. Umur kalian tidak lama lagi. Apa kalian tidak pernah merasakannya?” Ucap Dinda penuh dengan kemisteriusan.
__ADS_1
“Apa maksudmu itu Dinda?” Tanya Gilang kepada putrinya.
Mendengar pertanyaan Ayahnya itu, Dinda menunjukkan sebuah seringai lebar. Ia memandang lekat ke arah Gilang yang kini masih terduduk di lantai.
Dipandang Dinda dengan tatapan seperti itu, bulu kuduk Gilang tiba-tiba berdiri. Ia merasa pandangan yang diberikan oleh Dinda kepadanya itu cukup menyeramkan. Gilang tahu bagaimana sadisnya Dinda. Putrinya ini adalah orang yang tidak kenal ampun. Bisa dikatakan seorang moster.
Siapa pun yang menghadapi dia tidak akan memiliki nasib baik. Ia akan dihancurkan sehancur-hancurnya oleh Dinda.
Dulu Gilang cukup bangga bisa mencetak seorang monster seperti ini. Dengan begitu, mereka bisa menghadapi musuh-musuh mereka setelah ini. Musuh mereka akan mengalami nasib buruk jika Dinda sudah menghadapi mereka.
Sayangnya, saat ini yang dipandang sebagai musuh oleh Dinda adalah dirinya dan Sahab. Galang tahu bahwa sekarang ini Dinda tengah memikirkan sebuah rencana untuk menyiksa dan menghancurkan mereka.
“Apa Kamu tidak pernah bertanya-tanya Ayah kenapa Kamu tidak bisa memiliki anak? Apa Kakek dan Ayah juga tidak penasaran kenapa semakin hari tubuh kalian semakin lemah?”
Ucapan Dinda ini membuat Gilang memikirkan hal itu. Dirinya masih cukup mudah ketika ibu dari Dinda meninggal. Tidak masalah baginya waktu itu untuk memiliki anak. Waktu itu juga, perempuan-perempuan yang menemaninya tidur juga tidak memiliki masalah apa pun.
Dinda adalah anaknya, berarti Gilang tidak mandul. Jadi, kenapa dirinya yang tidak mandul ini tiba-tiba tidak bisa memiliki anak?
Mendengar ucapan Ayahnya itu Dinda hanya tertawa keras. “Hahaha.”
“Iya aku lah yang melakukannya. Aku yang sudah mencapurkan sesuatu dalam minumanmu agar Kamu tidak memiliki anak. Tidak hanya itu saja Ayah, aku juga sudah meracuni minuman kalian selama beberapa tahun ini.”
“Sedikit demi sedikit kesehatan kalian akan menurun dan sebentar lagi, kalian akan mati. Hahaha.”
“Kau…”
“Kakek tidak menyangka bukan? Itu semua karena Ayah yang sudah tidak peduli lagi denganku dan memilih menghabiskan waktu dengan ******-****** itu. Lalu, kalian juga sudah memiliki niatan untuk menghabisi Andiku. Jadi, aku tidak bisa membiarkan kalian hidup lebih lama lagi.”
“Awalnya aku kan membiarkan kalian mati pelan-pelan. Tetapi, karena kalian sudah melukai Andiku, maka aku akan menghabisi kalian semua sekarang.”
Dengan cepat Dinda kembali mengangkat Desert Eagle yang ia pegang. Tiga tembakan perempuan itu tembakkan ke arah tiga laki-laki di depannya.
__ADS_1
Andi yang sekarang berusaha melepaskan ikatan lainnya dengan tangannya yang bebas, mengakui bahwa kemampuan menembak Dinda itu di atas rata-rata.
Meski Andi tidak terlalu fokus memperhatikan apa yang terjadi, tetapi dirinya yakin Dinda tadi tidak terlalu memperhatikan targetnya. Haslinya, tembakan Dinda itu tepat berada di kening ketiga laki-laki tersebut.
Melihat ketiga laki-laki itu mati di depan matanya, seketika itu juga Andi merasakan perutnya cukup mual. Ini adalah kali pertama Andi melihat seseorang mati di depan matanya sendiri. Apalagi ini bukan kematian natural, melainkan pembunuhan. Jelas dirinya tidak nyaman melihatnya.
Setelah membunuh ketiga orang itu, Dinda sama sekali tidak menunjukkan ekspresi bersalah atau menyesal. Ah tidak Dinda memang menunjukkan ekspresi bersalah dan penyesalan. Tetapi itu sala ssekali tidak berhubungan dengan pembuhunan keluarganya sendiri yang baru saja ia lakukan.
“Andi, maafkan aku. Seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendirian seperti tadi. Jika saja aku tidak pergi, maka Kamu tidak akan mengalami kejadian seperti ini.” Ucap Dinda dengan sedikit menundukkan kepalanya.
“Jangan mendekat Din.” Ucap Andi sembari mengangkat sebelah tangannya.
Sebelum ini Andi sama sekali tidak merasa Dinda itu adalah seseorang yang mengerikkan. Tetapi setelah apa yang ia lihat, Andi menjadi takut dengan perempuan itu.
Dengan tubuhnya yang masih lemag dan badan yang penuh dengan luka, jelas Andi tidak bisa melindungi dirinya jika Dinda berbuat macam-macam kepadanya.
“Apakah Kamu takut padaku sekarang?” Tanya Dinda yang sekarang menampakkan pandangan terluka.
Tetapi ekspresi Dinda itu kembali berubah menjadi ceria. Seolah tadi ia tidak merasa kecewa dengan respon Andi yang seperti itu.
“Aku tidak peduli Kamu sekarang takut padaku atau tidak. Yang jelas sekarang kita perlu ke rumah sakit.” Setelah berucap demikian, Dinda lalu membuka sisa ikatan yang ada di tubuh Andi.
Selama ini Dinda sama sekali tidak mengetahui cara menyembuhkan seseorang. Yang ia tahu adalah bagaimana caranya melukai atau bahkan membunuh orang lain. Jadi, Dinda tidak mengetahui cara mengobati luka di tubuh Andi dengan benar.
Dinda tidak mau salah mengobati luka yang Andi terima dan malah membuatnya mengalami infeksi. Jadi, mau tidak mau Dinda membutuhkan profesional dalam menangani Andi. Setelah melepas tali yang mengikat Andi, Dinda lalu menutupi tubuh kekasihnya itu dengan selembar kain.
“Diamlah sebentar dan biarkan aku mengangkat tubuhmu itu.”
Mendengar itu, Andi menurut saja dan tidak banyak bergerak. Lagi pula, ia tidak memiliki banyak tenaga untuk melawan. Dengan cukup mudahnya Dinda mengangkat tubuh Andi dan membawanya pergi dari sana.
Perempuan itu sama sekali tidak peduli dengan tubuh tiga orang yang sekarang bersimbah darah. Mereka seolah tidak memiliki hubungan apa pun dengan dirinya. Padahal, dua dari tiga orang itu adalah keluarganya sendiri.
__ADS_1