Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 46 Kesalah Pahaman Pengunjung Kafe


__ADS_3

Ketika Andi beristirahat setelah seharian berkutat dengan ponsel dan laptopnya, sebuah panggilan masuk ke ponsel Andi. Langsung saja Andi melihat dari siapa panggilan tersebut. Ternyata itu adalah dari Brian. Andi baru ingat setelah menelfon ibunya tadi, Andi lupa untuk menghubungi sahabatnya itu.


“Hallo, Brian.” Sapa Andi.


“Hallo, Andi. Sekarang kamu ada di mana?”


“Aku sedang ada di Surabaya.”


“Bisakah kita bertemu? Atau kamu tinggal di mana sekarang, katakan alamatnya padaku dan aku akan datang kepadamu.”


“Kita bertemu di luar saja.”


Andi kemudian menyebut nama sebuah kafe yang tempo hari menjadi tempatnya bertemu dengan Ghani. Sudah jelas dirinya tidak akan memberitahu Brian mengenai alamat apartemennya. Bisa-bisa urusannya semakin rumit.


Urusan dengan keluarganya tentang asal usul uangnya saja berakhir pada pengusiran dirinya. Itu saja hanya mengenai uang yang ia pakai untuk membeli pakaian. Bayangkan bila mereka mengetahui Andi memiliki apartemen milyaran. Bisa jadi mereka akan mengira Andi memanfaatkan wajah tampannya untuk menjadi gigolo untuk bisa mendapatakan apartemen ini.


Jika uang sebesar itu berakhir dengan pengusiran, maka kepemilikan sebuah apartemen atas nama dirinya sudah pasti berakhir pada dirinya yang tidak lagi diakui anak oleh ayahnya. Andi tidak ingin itu terjadi, itu sangat mengerikkan.


“Baiklah. Kita akan bertemu di sana.” Jawab Brian.


*****


Andi memilih tempats duduk yang sama, yang ia tempati ketika bertemu dengan Ghani. Andi memesan minuman untuknya dan Brian. Ia sudah hafal selera temannya itu. Andi juga memesan beberapa makanan yang dijual di sana, dirinya sudah merasa lapar sekarang.


Brian datang bersamaan dengan kedatangan minuman pesanan Andi. Langsung saja pemuda itu mendatangi meja di mana Andi berada.


Rasa khawatir bisa Andi lihat dengan jelas di mata Brian. Melihat hal itu, Andi merasa tersentuh. Ia merasa bersyukur memiliki teman seperti Brian. Dirinya ada masalah saja dia ikut khawatir. Andi akan melakukan apa pun untuk mempertahankan teman seperti Brian ini.


“Kenapa kamu tidak menelfonku? Apa kau tahu bagaimana khawatirnya aku.” Suara Brian cukup keras, beberapa orang terlihat menoleh ke arah mereka ketika mendengar ucapan Brian.


“Aku lupa untuk menghubungimu.”


“Lupa?” Tanya Brian sembari melebarkan matanya. “Tega sekali kamu, aku sangat khawatir dengan keadaanmu, tapi kamu malah melupakanku seperti itu.”


Sekarang Andi bisa merasakan bahwa semua orang yang ada di kafe ini diam-diam mencuri lihat ke arah mereka. Andi baru menyadari bahwa apa yang Brian katakan merupakan kata-kata yang cukup ambigu. Perkataan Brian seolah menggambarkan bahwa mereka memiliki hubungan khusus, seperti hubungan antar pasangan kekasih.


Andi sedikit mencondongkan badannya ke depan, ia kemudian berbisik pelan kepada Brian. “Tidak bisakah kamu mengecilkan suaramu. Semua orang tengah memperhatikan kita.”

__ADS_1


Mendengar ucapan Andi, Brian mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe. Meja mereka yang berada di tengah membuat mereka lebih mudah menjadi pusat perhatian. Brian bisa melihat beberapa pasang mata mengalihkan pandangannya dari meja tempatnya dan Andi duduk.


Brian juga bisa mendengar beberapa bisikan dari meja terdekatnya. Bisikan-bisikan itu membuat wajahnya memanas. Ia tidak menyangka bisa di salah artikan seperti itu.


“Kamu dengar itu tadi? Mereka kayaknya lagi berantem deh.” Ucap salah satu pelanggan perempuan.


“Iya. Aku dengar dengan jelas hal itu. Sepertinya mereka itu pacaran. Aku nggak menyangka ada pasangan pelangi yang go public di Indonesia. Mereka berani sekali. Apa mereka nggak takut akan gunjingan dari orang-orang di sekitar?” Temannya menimpali.


“Pantesan kita jomblo ya beb, orang sekarang yang tampan-tampan sukanya sama yang berbatang. Saingan sesama cewek aja susah sekarang nambah lagi saingan sama cowok. Dunia semakin sadis dengan para jomblo.”


Wajah Brian semakin memanas mendengar ucapan mereka. Ia tidak menyangka dia dan Andi di salah artikan seperti itu oleh mereka. Dirinya masih suka bukit, kenapa mereka menganggap bahwa dirinya adalah penyuka batang. Meski Andi itu tampan, bukit jauh lebih menyenangkan daripada batang.


“Kita pergi dari sini.” Ucap Brian. Tanpa menunggu respon Andi, Brian mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan menaruhnya di atas meja.


“Tapi makanan dan minumannya belum kita sentuh sama sekali.” Andi merasa sayang dengan makanan dan minuman yang sudah dia pesan. Jika tahu akan seperti ini jadinya, lebih baik Andi memesan semuanya ketika Brian datang. Lihat saja semua makanan dan minuman itu tidak ada yang memakannya.


“Udah nggak papa. Biar itu di nikmati yang mau. Toh kayak yang kamu bilang kita belum menyentuh makanan dan minumannya. Ayo kita pergi.” Setelah berkata demikian, Brian kemudian menarik tangan Andi pergi dari sana. Tindakan Brian tersebut malah membuat semakin kerasnya suara-suara bisikan di sekitar mereka.


“OMG, dia digandeng. Udah fix, mereka beneran couple.” Ucap salah satu pengunjung.


“Arrghh, sial aku kalah taruhan. Mereka beneran pasangan pelangi.” Ucap pengunjung yang lain.


*****


Andi bisa melihat wajah Brian yang memerah mirip kepiting rebus. Tidak hanya wajah, telinga dan leher Brian memerah karena malu. Andi tidak jauh berbeda dengan Brian. Meski bukan dia yang mengatakan semua perkataan yang membuat ambigu seperti itu, tetapi dirinya termasuk ke dalam objek yang dibicarakan. Rasa malunya tidak jauh berbeda dari apa yang Brian rasakan.


“Sial. Itu memalukan sekali. Aku bersumpah tidak akan lagi datang ke kafe ini.” ucap Brian ketika mereka sudah berada di dalam mobil pemuda itu. Setelah keduanya memasang sabuk pengaman, Brian menjalankan mobil sport yang dikendarainya itu.


“Ini semua salahmu Bro. Perkataanmu terdengar sangat ambigu di telinga. Dan lagi, kamu mengatakannya dengan suara yang cukup keras. Sudah jelas mereka akan memeperhatikan kita ketika mendengar perkataanmu.”


“Heh.” Brian mendengus pelan. “Sekarang kamu menyalahkanku? Ini semua adalah salahmu. Jika pagi ini kamu menelfonku maka aku tidak akan sekhawatir ini denganmu.”


“Heh.” Brian kembali mendengus. “Aku masih suka bukit sekarang gara-gara dirimu mereka menganggapku menyukai batang.”


“Kamu kira aku menyukai batang? Tentu saja aku juga lebih menyukai bukit.” Ketika berkata demikian, Andi membayangkan mimpinya bersama dengan Rosalinda. Tentu saja dirinya menyukai bukit, juga benda kenyal yang selalu Rosalinda sapu dengan lidahnya.


“Ini membuatku kacau.” Perkataan Brian membuyarkan ingatan Andi mengenai mimpinya.

__ADS_1


“Ini tidak sekacau apa yang aku rasakan kemarin.” Timpal Andi.


“Perkataanmu mengingatkanku kembali alasan aku mengkhawatirkanmu. Jadi, sebenarnya apa yang terjadi?”


“Awal mulanya ini adalah sebuah kesalah pahaman. Kamu sudah mendengar berita tentang Jony dan Rendi yang masuk rumah sakit bukan?”


“Ya aku mendengar mereka masuk rumah sakit. Tetapi, dari yang aku dengar mereka di hajar oleh gang macan putih. Aku tidak menyangka para cecunguk itu mendapatkan pembalasan seperti itu. Mereka selama ini bertindak sok preman di sekolah. Tetapi sekarang mereka diberi pelajaran oleh preman sesungguhnya. Aku yakin kedua cecunguk itu telah menyinggung seseorang yang seharusnya tidak mereka singgung.”


“Tetapi, aku rasa mereka yang dihajar oleh preman sampai masuk rumah sakit tidak ada hubungannya dengan dirimu yang diusir oleh ayahmu bukan? Jadi kenapa kamu diusir dari rumah.”


Andi mengelah nafas panjang. Ia kemudian memberikan penjelasan secara rinci mengenai duduk permasalahan dari semua ini. Mulai dari pakaian yang ia beli untuk keluarganya, sampai dengan Jony yang memintanya pergi ke daerah pergudangan lama di kota mereka. Andi menceritakannya semuanya secara runtut tanpa adanya penambahan atau pengurangan cerita.


“Sial. Berani sekali para cecunguk itu. Mereka memanggil preman untuk menghajarmu.” Dengan emosi, Brian memukul kemudi mobilnya.


“Kenapa kamu berani sekali mendatangi daerah pergudangan lama itu sendirian? Kamu bisa saja saja menceritakan hal itu padaku. Kita bisa kesana berdua. Aku yakin kamu sudah tahu bahwa undangan itu adalah jebakan. Tetapi kamu masih saja datang kesana.”


“Sudahlah bukankah aku bisa mengalahkan mereka. Aku yakin dengan kemampuanku, jadi aku tidak perlu mengajak siapapun. Lagi pula, saat itu kamu juga tengah keluar kota bukan? Jadi, meskipun aku mengatakannya padamu, belum tentu kamu bisa datang.”


“Ah, kau benar soal hal itu. Meski kamu mengatakannya sekalipun aku tidak akan bisa menemanimu. Ayahku mengajakku menemui para kolega bisnisnya. Dia sekarang mempersiapkan diriku untuk lebih mengenal bisnisnya. Itu sangat melelahkan.”


“Tapi aku nggak menyangka kamu memiliki Om yang seperti itu. Seorang pimpinan preman. Bahkan identitas keluargamu lebih hebat lagi. Memiliki teknik bela diri yang turun temurun diberikan oleh keluarga, itu terdegar sangat keren.”


“Hah.” Andi mengela nafas panjang. “Itu keren meneurutmu, tetapi tidak menurut ayahku. Ayahku sangat membenci OM Burhan yang seorang preman itu. Kesalah pahaman tentang aku yang menghajar Jony dan Rendi membuat ayahku mengusirku. Judi hanya alasan lain yang ia tambahkan.”


“Memangnya darimana kamu dapatkan uang untuk membeli pakaian itu? Aku yakin kamu tidak berjudi. Aku kenal sekali dirimu. Orang sepertimu sudah jelas tidak akan berjudi.”


“Aku tidak bisa mengatakannya padamu darimana aku mendapatkannya. Aku tidak yakin apakah itu uang haram atau tidak, tetapi yang jelas ini bukan uang judi sebenarnya. Aku tidak bisa memberitahumu asal usulnya.”


“Kenapa kamu tidak menjadikanku sebagai alasan? Kamu bisa mengabariku dan aku akan menutupi semuanya untukmu. Tetapi kenapa kamu bilang itu dari judi. Apa gunanya memiliki teman kaya seperti aku. Lihatlah kamu sekarang, diusir dari rumah tanpa tahu harus tinggal dimana.”


“Meskipun aku menggunakan namamu untuk asal usul uang itu, tetap saja aku akan diusir. Bukankah aku sudah mengatakan bahwa ayahku tidak menyukai Om Burhan, dia menganggap semua ini ada hubungannya dengan Om Burhan. Apalagi dengan aku yang sebelumnya ke Surabaya.”


“Pikiran ayahku sudah terlanjur ditutupi amarah. Jadi, ia mengaitkan semua yang aku lakukan dengan Om Burhan. Aku memberikan namamu sebagai alasan atau berjudi sebagai alasan, tidak akan membuat ayahku mempercayainya.”


“Baiklah jika memang seperti itu.”


“Bro, kamu mau membawaku kemana?” Tanya Andi ketika mobil yang dikendarai Brian melwati jalan yang sangat dikenalnya. Ini adalah jalan yang selalu dilewatinya ketika berada di Surabaya beberapa hari terakhir. Jalan menuju apartemennya.

__ADS_1


“Ke apartemenku. Jika kamu memang ingin menenangkan diri dulu di Surabaya, lebih baik kamu tinggal di apartemenku. Apartemen ini merupakan kado dari Tanteku karena sudah menyelesaikan ujian. Daripada kamu menyewa tempat, lebih baik kamu tinggal di sini.”


Tiba-tiba saja keringat dingin mengalir di punggung Andi. Andi berharap apartemen yang dimaksud oleh Brian bukan terletak gedung apartemen yang sama dengan apartemen miliknya. Jika demikian, bagaimana bisa Andi menjelaskannya.


__ADS_2