
Andi tengah makan di food court yang ada di mall. Ketika ia asik menikmati makanannya, ada seorang yang tiba-tiba duduk di depannya. Andi mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang sekarang duduk di depannya.
Di depannya kini ada seorang perempuan yang terlihat sedikit cemberut. Andi mengenal siapa perempuan di depannya ini. Ia adalah Rosalinda. Perempuan yang berkenalan dengan Andi hari Minggu lalu. Ia tidak tahu kenapa setiap dirinya berada di food court mall ini, Andi akan bertemu dengan perempuan ini.
“Kita bertemu lagi Andi.” Sapa Rosalinda.
“Oh, hai Mbak Ros.”
Rosalinda memandang Andi dengan pandangan menyelidik. “Jadi, setelah hari Minggu kemarin kamu ke Surabaya untuk membeli titipan keluargamu. Sekarang apa yang kamu lakukan di Surabaya?” tanya Rosalinda.
“Aku ada urusan Mbak. Jadi aku balik ke Surabaya.”
Mata Rosalinda berbinar ketika dirinya mendengar bahwa Andi datang ke kota pahlawan itu karena ada urusan. “Apakah urusanmu itu mengenai pembukaan toko dessert box milikmu di kota ini? Jadi di daerah mana kamu membuka toko dessert box Lidah Manis?” Tanya Rosalinda dengan penuh semangat.
Perempuan itu adalah seorang foodie. Ia sering berburu makanan enak untuk dicicipi. Perempuan itu bahkan memiliki kanal tersendiri di aplikasi berwarna merah. Ia sudah memiliki lima juta lebih pengikut di kanal yang ia buat dua tahun lalu.
Di kanal tersebut Rosalinda biasa berbagi videonya yang menikmati berbagai macam makanan. Dalam mebuat video, Roslinda hanya memperlihatkan bagian ujung hidungnya hingga pundak saja. Oleh karena itu tidak banyak yang mengetahui bahwa dirinya adalah pemilik kanal “Eating With Roli”, bahkan teman-teman kuliahnya pun tidak ada yang tahu.
Rosalinda ingin sekali membagikan video dirinya menikmati dessert box buatan Andi kepada penggemarnya. Dessert box yang Rosalinda beli dari Andi dulu sudah ia bagi-bagikan kepada keluarganya dan teman-temannya. Ketika ide untuk menjadikan dessert box Andi sebagai salah satu kontennya tercetus, Rosalinda baru menyadari ia tidak memiliki lagi dessert box.
__ADS_1
Ia sangat menikmati makanan penutup itu hingga menghabiskan dua porsi sekaligus tanpa ia sadari. Maka dari itu Rosalinda menginginkan Andi segera membuka cabang di kota pahlawan. Selain untuk konten, dengan adanya cabang lidah manis di Surabaya, kapan pun Rosalinda menginginkan makanan itu, akan sangat mudah mendapatkannya.
Tidak setiap minggu dirinya bisa pulang ke kota kelahirannya. Minggu lalu saja dia tidak pulang. Jadi, jika ada cabang di sini, itu akan mempermudah Rosalinda.
“Aku belum membuka cabang.” Ucap Andi setelah menelan makanannya.
Andi heran sudah jelas dirinya tengah menikmati makannya, perempuan di depannya ini malah mengajaknya bicara. Jika seperti ini ia tidak akan bisa menikmati makanannya dengan tenang. Jika saja dirinya tidak sedang sangat lapar dan juga keluarganya yang selalu mengajarkannya untuk menghargai makanan, maka Andi akan menghentikan makannya.
Pemuda itu sangat kelaparan setelah berkeliling kesana kemari. Apalagi tadi dia belum makan siang. Jadi, ia akan tetap menyelesaikan makanan ini. Memang ada kalanya kita bisa makan sembari mengobrol dengan teman. Tetapi ada kalanya kita ingin makan dengan tenang, seperti yang Andi inginkan kali ini. Namun sepertinya perempuan di depannya ini tidak sependapat dengan Andi.
“Lalu kapan kamu membuka cabang di Surabaya? Kamu punya banyak sekali urusan. Kenapa tidak kamu urus dulu membuka cabang di Surabaya? Aku sudah sangat ingin memakan dessert box buatanmu. Apakah aku sudah pernah mengatakan kepadamu bahwa dessert box buatanmu itu sangat enak?”
Andi menghentikan sejenak aktifitas makannya. Ia mendengar dengan seksama penjelasan dari Rosalinda. Entah kenapa ketika mendengar penggambaran yang diberikan oleh Rosalinda mengenai dessert box buatannya, ada suatu rasa yang aneh muncul di hati Andi.
Mungkin itu adalah rasa bangga, senang, rasa yang sulit Andi sendiri gambarkan. Ia merasa diapresiasi karyanya. Ini adalah hal yang Andi lakukan sendiri. Mempelajarinya dari awal, mencari rasa yang pas, membuat resep yang cocok. Semua Andi lakukan sendiri. Meskipun ada campur tangan sistem di dalamnya.
Andi tidak pernah sebahagia dan sebangga ini. Pemuda itu seperti sudah melewati pencapaian yang luar biasa dalam hidupnya. Selama ini meskipun dirinya memenangkan berbagai perlombaan bela diri, dirinya tidak merasa sebangga ini. Ia memang senang bisa menang tetapi Andi tidak menemukan rasa bangga di sana.
Mungkin itu karena dalam hal bela diri, ada unsur paksaan dari ayahnya. Andi mempelajari bela diri dan mengikuti semua perlombaan itu atas perintah ayahnya. Bukannya Andi tidak senang ayahnya memaksanya seperti itu, pemuda itu tidak memiliki masalah dengan semua itu. Bukankah karena ayahnyalah dirinya bisa lolos dari keroyokan para preman. Jika saja Andi tidak memiliki kemapuan bela diri yang cukup, maka dirinya akan babak belur di tangan para preman.
__ADS_1
Rasa pencapaian yang tidak pernah Andi alami dalam bela diri, kini pemuda itu dapat dari apa yang dia buat dengan sepenuh hati. Apalagi adanya orang lain yang bukan dari anggota keluarganya mengapresiasi apa yang ia buat.
“Kalau Mbak Ros memang ingin dessert box, bisa aku buatin khusus untuk Mbak Ros. Mbak bisa ambil besok di tempatku atau kita bertemu di sini lagi tidak masalah. Itu kalau Mbak Ros mau.” Entah kenapa Andi mengatakan hal itu tanpa berpikir panjang setelah pemuda itu mendengar penjelasan Rosalinda.
Setelah mengatakan hal tersebut Andi sedikit menyesal. Ia bukan menyesal karena berjanji akan membuatkan perempuan itu dessert box. Andi menyesal karena mengatakan hal tersebut langsung di depan perempuan itu. Pemuda itu bisa saja membuatkan Rosalinda sebuah dessert box, lalu besok pagi menghubungi perempuan itu. Bukankah Andi sudah memiliki nomor perempuan itu?
Karena Andi mengatakan hal itu langsung di depan Rosalinda, di sinilah mereka sekarang. Di sebuah supermarket di dekat apartemen Andi. Ketika Rosalinda mendengar perkataan Andi, perempuan itu memaksanya untuk memberikannya dessert box itu hari ini juga. Rosalinda juga menawarkan diri untuk membayarkan semua bahan yang diperlukan. Jadi Andi tinggal membuatkannya dessert box itu.
“Jadi, rasa apa yang Mbak Ros inginkan?” Tanya Andi kepada Rosalinda ketika mereka berada di sektor bahan-bahan kue.
“Hemm…. Enaknya apa ya? Semua dessert box buatanmu enak. Aku bingung harus memilih apa.” Rosalinda terlihat memejamkan matanya sembari mengetuk ketukkan jari telunjuknya ke arah dagunya. Sepertinya perempuan itu terlihat sedang memikirkan varian rasa apa yang ingin ia makan.
Andi yang ada di sana memperhatikan pose perempuan, yang dua tahun lebih tua darinya, ketika berpikir. Entah kenapa ia suka dengan melihat pose tersebut. “Kawaii.” Gumam Andi dalam hati. Pose berpikir milik Rosalinda menurut Andi cukup imut. Ia tidak akan bosan jika memandangi perempuan itu dengan pose seperti ini. Bahkan jika itu berjam-jam sekalipun.
“Aku ingin rasa cokelat dan keju. Bisakah kamu membuatkanku varian rasa itu?” Tanya Rosalinda kepada Andi. Perempuan itu tidak mendengarkan respon dari pemuda di sebelahnya. Ia kemudian menolehkan pandangannya ke arah Andi. Pemuda itu telihat melamun memandangi dirinya.
“Hei Andi.” Rosalinda menepuk pelan lengan Andi. Hal tersebut membuat Andi tersadar dari lamunannya. Sepertinya ia keasyikan memperhatikan Rosalinda hingga tidak sadar bahwa perempuan yang diamatinya itu sudah merubah posenya.
Andi terlihat malu karena sudah ketahuan memperhatikan Rosalinda. Wajahnya terlihat memerah, telinganya pun tidak kalah merahnya. Di sebelahnya Rosalinda menahan tawanya dengan menempelkan telapak tangannya pada mulutnya.
__ADS_1