Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 26 Apartemen 4,5 Milyar


__ADS_3

“Sial. Tiket Lucky Draw. Apalagi ini?”


Andi kemudian melihat penjelasan lucky draw. Meskipun dari namanya ia bisa menebak apa itu, pemuda itu hanya ingin memastikan kembali hadiah dari sistem ini.


[Tiket Lucky Draw : Host bisa menggunakan tiket lucky draw untuk membuka undian berhadiah di mana host berkesempatan untuk mendapatkan aset-aset berharga dari sistem]


[Jika Host ingin melakukan undian klik lanjutkan]


[Kembali] [Lanjutkan]


“Wow. Ini berhadiah aset.” Ucap Andi sembari memilih tombol ‘lanjutkan’ yang ada di panel statusnya.


Di depan Andi terdapat sebuah panel yang menampilkan kembilan kotak hadiah berwarna emas. Andi tidak mengetahui isi dari kotak-kotak tersebut. Sepertinya ia hanya akan mengetahui isi kotak tersebut setelah dirinya memenangkannya.


[Apakah Host akan memakai Tiket Lucky Draw sekarang?]


[Ya] [Tidak]


Tanpa pikir panjang Andi memakai tiket lucky draw yang ia dapatkan. “Semoga aku mendapatkan aset yang memiliki nilai tinggi.” Do’a Andi sebelum dirinya memakai tiket lucky draw tersebut.


Kotak-kotak hadiah yang ada berada di panel menyala secara acak. Tidak lama kemudian hanya tinggal kotak yang berada paling bawah sebelah kanan menyala. Setelahnya Andi dapat mendengar pemberitahuan dari sistem.


[Selamat Host mendapatkan satu unit apartermen fully furnished dengan nilai sebesar Rp 4.500.000.000,-]


“Wow. Sebuah apartemen dengan nilai 4,5 milyar? Bukannya itu sangat banyak?”


Untuk Andi yang tidak pernah memiliki aset sebesar itu, tiba-tiba memiliki aset sebesar itu membuatnya kembali merasa tidak mempercayai bahwa sistem yang dimilikinya itu nyata. Selama sistem memberinya uang secara bertahab. Dan ini pertama kalinya Andi memiliki langsung memiliki aset dengan nilai milyaran.


Andi menarik nafas panjang mencoba menenangkan dirinya. Meski sudah memiliki sistem lebih dari seminggu, dirinya masih memiliki pemikiran orang miskin. Tiba-tiba memiliki uang sebanyak itu masih membuatnya terkejut.

__ADS_1


“Hah. Tenanglah Andi, sekarang sudah saatnya kamu benar-benar mengubah pemikiranmu. Jika hadiah lucky draw dari pencapaian seratus juta saja sudah membuatmu sekaget ini bagaimana dengan nanti? Mungkin nanti kamu akan memiliki aset lebih banyak dari ini. Bukan hanya milyaran tapi triliyunan. Mungkin saja nanti nominal asetmu tidak lagi rupiah tetapi dolar. Kau harus belajar menerimanya Andi.” Gumam Andi dalam hati.


Setelah merasa lebih tenang, Andi memindahkan box berisi laptop yang berada di tangan kanannya ke tangan kirinya. Dengan tangan kanannya Andi merogoh saku jaketnya. Ketika sistem memberikan pemberitahuan mengenai hadiah apartemen yang ia dapatkan, Andi merasa sebuah barang dimasukkan ke dalam saku jaketnya. Andi rasa sistem lah yang melakukan hal itu.


Benar saja Andi menemukan tiga buah kunci dan tiga buah kartu di saku jaketnya. Andi rasa ini adalah kunci apartemen miliknya. Dari saku jaketnya Andi juga menemukan sebuah kertas kecil dengan sebuah tulisan.


Kertas tersebut bertuliskan alamat lengkap beserta nomor aparteman milik Andi. Di kertas tersebut juga di tulis bahwa surat-surat bukti kepemilikan apartemen telah disimpan di almari yang ada di kamar utama.


“Aku bisa menyimpan semua barang belanjaanku di apartemen. Dengan begini aku tidak perlu bingung memikirkan barang belanjaanku yang aku titipkan di toko. Setelah aku pikir, aku juga pasti tidak bisa membawa belanjaan sebanyak itu ke rumah. Untung saja aku mendapatkan apartemen. Dengan begini aku hanya perlu membawa beberapa pakaian saja pulang.”


Andi kemudian melangkahkan kakinya menuju toko baju di mana ia berbelanja sebelumnya. Ia langsung menuju ke arah kasir.


“Masnya mau ambil barangnya ya?” tanya salah satu kasir ketika melihat Andi datang. Sepertinya mereka ingat siapa Andi. Tentu saja Andi akan mudah diingat. Selain tampan, pemuda itu adalah pelanggan dengan pembelian terbanyak hari ini. Jadi sudah pasti dia mudah dikenali.


“Iya Mbak. Boleh minta tolong bantu bawain semuanya ke loby bawah nggak Mbak?” tanya Andi.


Kasir tersebut kemudian berbicara kepada beberapa temannya. Setidaknya ada empat orang yang membantu Andi membawa belanjaannya. Setiap orangnya membawa beberapa tas belanjaan berisi pakaian yang cukup besar.


Ketika Andi berjalan dengan diikuti keempat pelayan toko tersebut, ia bisa merasakan beberapa pasang mata melihat ke arahnya. Andi tidak mempedulikan hal itu. Toh dirinya membeli semua barang ini, ia tidak mencurinya. Jadi Andi tidak mempedulikan pandangan orang lain kepadanya.


Setelah di loby, para pelayan toko tersebut mengumpulkan belanjaan Andi menjadi satu. Andi kemudian mengeluarkan satu lembar uang seratus ribuan. Kemudian ia menyerahkannya kepada salah satu pelayan toko.


Akhir-akhir ini Andi menyiapkan beberapa uang tunai di dompetnya. Ia menyiapkan uang tersebut untuk hal-hal seperti ini atau hal-hal lain yang tidak bisa ia bayar menggunakan dompet digitalnya.


“Dibagi sama yang lain ya Mbak. Makasih udah membantu.”


“Makasih juga ya Mas.”


Setelah mengecek semua belanjaannya lengkap, Andi kemudian memesan taksi online untuk membawanya menuju apartemen barunya. Mungkin nanti Andi akan kembali kemari setelah meletakkan semua belanjaanya ini di apartemennya. Ia masih punya sembilan puluh juta lebih untuk ia gunakan berbelanja.

__ADS_1


Ketika Andi tengah menunggu taksi pesanannya tiba, ia merasakan seseorang menepuk pundaknya. Andi menoleh ke belakang dan mendapati perempuan yang baru berkenalan dengannya sudah berdiri di belakangnya bersama dengan tiga orang temannya.


“Hey kita bertemu lagi.”


“Ah ya Mbak Ros.” Sapa Andi.


Rosalinda melihat beberapa tas belanjaan di sekitar Andi berdiri. Terlihat jelas bahwa barang-barang tersebut adalah milik Andi. Dirinya tadi sempat mengira salah lihat. Tetapi matanya tidak mengelabuinya. Orang yang ia dan teman-temannya lihat membawa banyak belanjaan memang benar-benar Andi, pemuda yang baru dikenalnya.


“Jadi, kamu habis merampok toko?” Tanya Rosalinda sembari menunjuk ke arah tas belanjaan yang ada di sekitar Andi.


Andi menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Ini aku beli baju buat keluargaku Mbak. Titipan.”


“Ros, kamu nggak mau ngenalin kita?” tanya salah satu teman Rosalinda.


“Ah ya, Andi kenalkan ini teman-temanku. Yang kayak bule itu namanya Caroline, bapaknya orang Canada ibunya orang lokal. Terus yang rambutnya pendek itu Karina dan sebelahnya itu Mentari.” Ucap Rosalinda mengenalkan satu persatu temannya.


Andi hanya melambaikan sebelah tangannya sembari sedikit menundukkan kepalanya. “Andi Mbak.”


Ketiga perempuan teman Rosalinda itu terlihat antusias berkenalan dengan Andi. Apalagi yang bernama Karina. Perempuan itu tersenyum lebar dan melangkah mendekat ke arah Andi. Ada rasa takut pada diri Andi ketika melihat respon Karina yang seperti itu.


Andi seolah terselamatkan dengan dering ponselnya. Ia buru-buru menjadikan ponselnya yang berdering sebagai alasan bercengkerama dengan perempuan-perempuan itu. “Bentar Mbak ada telfon. Mungkin ini taksi online pesananku.”


“Hallo, iya Pak saya sudah ada di loby. Oh ya, saya sudah melihat mobil Bapak. Baik Pak terimakasih.”


Andi merasa terselamatkan dengan telfon dari taksi online pesanannya. Dengan begini ia akan terhindar dari perempuan-perempuan itu. Mungkin nanti ia akan memberikan bintang lima dan uang tip untuk sopir taksi online ini karena sudah menyelamatkannya.


“Mbak taksiku udah datang. Aku pergi duluan ya?” Pamit Andi kepada Rosalinda dan teman-temannya. Andi yakin, sangat yakin bahwa dirinya melihat kekecewaan terpancar di mata Karina ketika Andi berpamitan.


“Kalau gitu aku bantuin masukin semua ini ke taksimu. Biar cepet selesai.” Ucap Rosalinda.

__ADS_1


__ADS_2