Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 133 Informasi Mengenai Pengawal


__ADS_3

Andi mendudukkan p*ntatnya di ranjangnya, punggungnya ia sandarkan di tembok. Andi baru saja selesai mandi setelah pulang dari Surabaya. Pemuda itu kemudian mengeluarkan ponsel miliknya. Kemarin ia belum sempat menelfon Brian. Jadi, sekarang ini Andi berniat menelfon Brian.


“Hallo Andi ada apa menelfonku.”


“Hallo Brian. Aku ingin meminta bantuanmu kali ini.”


“Memangnya kamu butuh bantuan apa?”


“Apakah kamu punya kontak seseorang yang menyediakan pengawal? Sebuah perusahaan keamanan. Apakah kamu mempunyai kontak perusahaan seperti itu? Tapi aku tidak mau mereka berasal dari dalam negeri. Aku mau mereka berasal dari luar.”


“Memangnya untuk apa kamu menanyakan hal itu padaku?” Tanya Brian sedikit heran.


“Karena aku ingin menyewa beberapa pengawal untuk keluargaku. Terutama untuk ibuku dan kedua adikku. Aku ingin ada yang menjaga mereka ketika mereka bepergian.”


“Memangnya kenapa kamu membutuhkannya? Apakah keluargamu dalam keadaan bahaya?”


Brian cukup bingung kenapa orang seperti Andi membutuhkan pengawal. Tetapi, kenapa pula meminta pengawal tersebut berasal dari negara asing? Memangnya di negara ini tidak ada?


Sependek pengetahuan Brian, di negara ini sudah ada beberapa perusahaan keamanan yang menyalurkan jasa seorang pengawal. Jadi, kenapa tidak mencari saja yang berasal dari negara ini?


“Aku sedikit ada masalah dan keluargaku perlu pengawalan. Aku kurang mempercayai pengawal dari negara kita. Jadi aku ingin mencari pengawal dari luar negeri.”


Brian ingin sekali menanyakan masalah apa yang tengah dihadapi temannya itu. Tetapi, karena Andi tidak memiliki niatan untuk memberitahunya, maka Brian tidak menanyakan hal itu kepada Andi. Jika Andi mau membicarakannya, maka tanpa Brian bertanya lebih lanjut pun Andi akan meberitahunya.


“Kebetulan sekali adik dari ayahku memiliki perusahaan keamanan. Kantor pusat perusahannya berada di Spayol. Aku bisa menanyakan hal itu kepada Uncle Roy mengenai hal itu. Memangnya, berapa banyak yang kamu butuhkan?”


Andi mencoba menghitung berapa jumlah pengawal yang dibutuhkannya. Untuk kedua adiknya dan ibunya saja Andi membutuhkan delapan belas orang. Itu belum termasuk beberapa orang yang bertindak sebagai penjaga rumah mereka.


Andi juga perlu memikirkan hari libur bagi para pengawalnya. Jika ada pengawal yang libur, maka ia perlu mencari orang lain untuk menggantikan mereka bukan?


“Tiga puluh orang untuk saat ini. Apakah pamanmu bisa mencarikanku orang sebanyak itu?” Tanya Andi memastikan.


Andi rasa tiga puluh orang sudah cukup untuk saat ini. Jika nanti kurang, Andi bisa mencari orang baru lagi bukan?


“Tiga puluh? Buat apa orang sebanyak itu? Apakah kamu mau membuat sebuah kelompok mafia?”

__ADS_1


“Tentu saja tidak. Jika aku membuat kelompok mafia, aku sudah pasti akan dicoret dari susunan keluarga. Aku tidak akan melakukan hal itu.”


Andi masih ingat bahwa Burhan dicoret dari susunan keluarga karena dia menjadi seorang preman bukan? Jadi, Andi tidak mau seperti Burhan. Lagi pula, bagi Andi uang halal masih mudah dicari. Jadi, kenapa memilih uang haram.


“Apa kamu tahu, bayaran mereka itu tidak murah. Maksudku, mereka tidak dibayar dengan rupiah tetapi sudah dolar. Setidaknya dalam satu bulan bayaran termurah seorang pengawal adalah delapan ribu dollar. Jika itu dikurskan ke dalam rupiah bayaran mereka sebulannya adalah seratus dua belas juta rupiah sebulannya.”


“Apakah kamu sanggup membayar mereka sebanyak itu? Tiga puluh orang sebulannya itu masih tiga milyar lebih, hampir empat milyar. Itu bukan uang yang sedikit loh.” Brian mencoba mengingatkan Andi.


Tiga hingga empat milyar? Itu bisa Andi peroleh hanya dengan bernafas dalam sehari. Uang segitu bukan apa-apa untuk Andi.


“Tidak masalah untukku. Aku masih sanggup membayar semua itu. Jadi kamu jangan mengkhawatirkan apakah aku bisa membayar mereka atau tidak. Asalkan mereka sesuai kriteria, berapa pun bayaran yang mereka minta, akan aku berikan.”


“Memangnya, apa keriteria yang kamu inginkan?


“Aku tahu bahwa kemungkinan besar para pengawal yang berasal dari luar negeri memiliki kemampuan memakai senjata api. Tetapi, kamu tahu sendiri bahwa di negara ini cukup sulit untuk mendapatkan ijin kepemilikan dari senjata api.”


“Jadi, aku mau mereka memiliki kemampuan bertarung tangan kosong. Jika perlu, aku akan mengetes mereka langsung. Jika mereka lolos, maka aku akan mempekerjakan mereka jika tidak aku akan mencari yang lainnya.”


Andi tidak tahu apakah preman-preman di negara ini ada yang memiliki senjata api atau tidak. Kalau pun punya, pasti jumlahnya sedikit. Jadi, pertarungan para pengawalnya dengan para preman kemungkinan besar adalah pertarungan tangan kosong.


Jika Andi memiliki senjata illegal, itu sangat berbahaya untuknya. Cintranya di para penegak hukum akan dicap buruk. Jika demikian, mereka akan selalu mengawasi pergerakan Andi. Mungkin saja itu akan menarik perhatian yang tidak Andi inginkan.


Lebih baik Andi cari aman saja. Senjata api tidak akan menjadi senjata utama jika dirinya berada di negara ini. Mungkin jika nanti dirinya memperluas bisnisnya ke luar negeri, maka Andi akan mempersenjatai pengawalnya dengan senjata api.


“Itu sedikit sulit Andi. Maksudku, bagaimana kamu mengetes mereka? Jika kamu ingin mengetes mereka, berarti kamu perlu datang langsung ke tempat Uncle Roy di Spayol.” Jelas Brian.


Perkataan Brian ada benarnya. Jika Andi ingin mengetes calon pengawalnya, maka kemungkinannya mereka mendatangi Andi atau Andi yang mendatangi mereka. Tetapi, dari perkataan Brian barusan, sepertinya para pengawal itu tidak bisa datang kemari.


“Tidak bisakah mereka yang datang kemari?” Tanya Andi. Siapa tahu para pengawal itu bisa kemari dan Andi bisa melakukan tes di sini.


“Tidak bisa. Seseorang pernah mencobanya tetapi Uncle Roy tidak mau melakukannya. Jika kamu memang berniat mengetes anak buah Uncle Roy, maka kamu perlu datang ke markasnya di Spayol.”


Andi lalu mencoba mengingat-ingat jadwal miliknya. Besok dirinya akan mendatangani kontrak dengan Putra. Lalu, ia perlu kembali ke Surabaya untuk membicarakan rencana akuisisi perusahaan Lukman. Jadi, Andi sulit mencari waktu luang untuk bisa pergi ke luar negeri.


Jadwalnya bisa dibilang cukup padat. Tetapi, mencari pengawal untuk keluarganya ini harus Andi lakukan sesegera mungkin. Ia tidak bisa menundanya terlalu lama.

__ADS_1


‘Mungkin aku bisa pergi ke luar negeri setelah menandatangani kontrak dengan Putra. Untuk urusan yang lain, aku akan meminta anak buahku melakukannya.’


“Hari Selasa aku akan berangkat ke sana. Coba hubungi pamanmu mengenai kedatanganku.” Ucap Andi.


“Kamu sungguhan akan datang ke sana?”


“Ya, aku sangat membutuhkan pengawal sesegera mungkin jadi aku ingin pergi ke sana dan mengetes para pengawal itu.”


“Kalau begitu, aku ikut denganmu. Sudah lama aku tidak mengunjungi Uncle Roy. Kita berangkat hari Rabu saja. Aku perlu mempersiapkan beberapa hal.”


“Baguslah. Aku juga akan melakukannya. Ada beberapa hal juga yangperlu aku persiapkan. Biarkan aku yang membeli tiket perjalanan kita ini. Jadi, kamu tidak perlu memesan tiket.”


Setelah ini Andi akan menelfon Sinta. Ia akan meminta asistennya itu untuk mengurus passport dan visa untuknya dan Brian. Lalu, ia akan meminta Sinta memesankan penerbangan first class menuju ke Spayol.


“Jika kamu mau mentraktirku tiket, tidak masalah untukku. Ah ya minggu ini semua kafe kita di Surabaya sudah selesai direnovasi. Kita bisa membukanya pada akhir minggu ini atau awal bulan depan.”


Sepertinya sudah saatnya Andi menugaskan seseorang untuk mengurusi kafe-kafe miliknya. Andi memiliki banyak kesibukan sekarang. Jadi, tidak mungkin baginya mengurusi bisnisnya yang satu itu.


“Baiklah aku akan memberitahu ibuku supaya dia mengurusi semuanya. Tetapi, sepertinya pembukaan kafe baru bisa kita lakukan setelah kita pulang dari Spayol.”


Andi berniat menyerahkan semua bisnis kafe miliknya kepada ibunya. Jika demikian, maka ibunya akan sering melakukan perjalanan ke Surabaya dan kota mereka. Jika ibunya pergi ke luar kota, otomatis adik-adiknya tidak akan ada yang mengawasi. Oleh karena itu Andi baru bisa membuka kafenya sepulangnya dari Spayol.


‘Hem…. Apakah aku mengajak pindah keluargaku saja? Bukannya Arfan akan masuk SMP semester depan? Dan Amira beberapa bulan lagi sudah naik kelas. Tidak masalah bukan jika dia pindah juga?’ Gumam Andi dalam hati.


Tetapi, setelah dipikir-pikir akan sulit bagi Andi meminta orang tuanya pindah ke luar kota. Ayahnya memilih tinggal di kota mereka sekarang dan tidak mengikuti jejak kakak-kakaknya merantau karena dia ingin tinggal lebih dekat dengan Kakek Haryanto. Jadi akan sulit membujuk orang tuanya untuk pindah.


“Ngomong-ngomong soal bisnis kafe kita, apakah kamu beneran mau membeli semua saham milikku di bisnis kita itu?” Tanya Brian.


“Ya aku ingin melakukannya. Memang sekarang para Tuan Muda dari keluarga besar itu belum melakukan apa pun. Itu karena bisnis kita belum buka. Jika bisnis kita sudah buka nanti, pastinya mereka akan mulai menyerang.”


“Aku tidak mau mereka juga menyerangmu karena tahu bahwa kamu adalah juga adalah pemilik kafe itu.”


“Coba pikirkan sekali lagi. Aku tidak mau begitu saja melepaskan kerja sama kita ini.”


Andi diam sejenak, ia mencoba mencari penyelesaian dari masalah ini. “Baiklah kalau begitu jual padaku bangunan yang dipake sebagai kafe di kota kita itu. Dengan begitu, fakta bahwa dirimu adalah pemilik lain dari bisnis ini tidak akan mereka ketahui.”

__ADS_1


“Oke aku akan menjualnya padamu asalkan kamu tidak membeli saham milikku.”


__ADS_2