
Setelah Lukman pergi dari ruangannya, posel milik Andi berdering. Langsung saja Andi mengangkatnya setelah dirinya tahu siapa itu yang menelfonnya.
“Hallo Din.” Sapa Andi kepada penelfonnya yang ternyata adalah Dinda.
“Hallo Andi, apakah Kamu sibuk sekarang?” Tanya Dinda.
“Nggak terlalu sih kalau Kamu mau ngobrol aku bisa luangin waktu untukmu.” Ucap Andi.
Saat ini di depan Andi sudah ada laptop yanglayarnya menunjukkan pasar efek luar negeri. Meski dia sedang ada mengurusi ini sekarang, tetapi Andi masih bisa meluangkan waktunya jika hanya untuk mengobrol.
Lagi pula, Andi sudah membuat beberapa daftar saham mana saja yang harus ia beli, kapan dia akan menjualnya dan kapan membeli saham baru. Andi juga sudah membuat pengingat di ponselnya tiga menit sebelum waktunya tiba. Jadi, ia tidak akan melewatkan waktu yang tepat untuk menjual atau membeli saham.
“Sore nanti Kamu punya waktu luang nggak? Nongkrong yuk?” Ajak Dinda.
“Wah maaf Din, bukannya aku menolak ajakanmu, tetapi sekarang ini aku sedang ada di luar kota.” Jawab Andi.
“Memangnya Kamu sekarang di mana?” Tanya Dinda.
Selain orang-orang terdekatnya, memang tidak banyak yang tahu bahwa Andi lebih sering berada di Surabaya ketika hari kerja dan berada di rumah orang tuanya ketika akhir pekan.
“Aku sedang ada di Surabaya.”
“Wah kebetulan banget. Aku juga sedang ada di Surabaya. Karena kita berada di kota yang sama, apakah Kamu bisa nongkrong bareng nanti sore?” Ajak Dinda sekali lagi.
“Tentu. Aku baru memiliki waktu luang jam lima nanti. Memangnya Kamu mau nongkrong di mana?” Tanya Andi.
Meski Andi sudah cukup lama berada di Surabaya, ia tidak banyak mengetahui tempat nongkrong yang enak di kota ini. Jadi, ia menyerahkan keputusan pemilihan tempat kepada Dinda. Andi yakin Dinda pasti sudah memiliki pilihannya sendiri.
“Kita nanti bertemu di mall saja. Ada sebuah kafe yang menyajikan makanan enak di sana. Jadi kita akan makan malam bareng. Setelah itu, kita akan nonton bareng. Apakah itu nggak masalah untukmu?”
“Tidak masalah untukku. Kamu mau dijemput atau kita ketemuan langsung di sana?”
“Beneran nih Kamu mau jemput?”
“Ya, beneran.”
“Ya udah abis ini aku kirim alamatnya kepadamu.” Jawab Dinda.
__ADS_1
Setelah itu keduanya mengobrol membahas kuliah mereka yang sebentar. Andi dan Dinda saling mengobrol mengenai kesiapan masing-masing menjalani kehidupan sebagai mahasiswa yang sangat jauh berbeda dengan masa sekolah.
Andi mengobrol cukup lama dengan Dinda, lebih dari dua puluh menit. Tidak lama setelah panggilan telepon mereka selesai, Andi mendapatkan sebuah pesan masuk dari Dinda. Itu adalah alamat tempat Dinda ingin dijemput nanti sore.
“Eh bukankah ini kompleks apartemen yang berseberangan jalan dengan apartemenku? Rupanya ketika kuliah nanti Dinda nggak ngekos tetapi tinggal di apartemen.” Gumam Andi.
Andi tidak begitu kaget mengetahui hal itu. Itu karena Andi tahu bahwa Dinda berasal dari keluarga berada. Jadi, tidak heran jika keluarganya memberikan Dinda apartemen untuk ia tinggali selama kuliah.
Jika nanti Amira sudah kuliah, Andi juga akan melakukan hal yang sama. Membelikan adiknya apartemen terdekat dari kampus adiknya. Jika tidak ada apartemen, rumah pun tidak masalah.
Berada di rumah sendiri lebih nyaman daripada tinggal bersama dengan orang banyak. Apalagi jika Andi atau orang tuanya berkunjung. Jika demikian, mereka tidak perlu merasa sungkan atau tidak enak dengan penghuni kos yang lainnya.
Mereka juga bisa berkunjung kapan pun mereka mau dan menginap langsung tanpa perlu memberitahu pemilik kos. Lagi pula, Andi memiliki uang sekarang untuk melakukan hal itu.
…
Jam empat Andi keluar dari kantornya. Ia perlu pulang dulu dan berganti pakaiannya. Tidak mungkin bukan dirinya keluar bersama dengan Dinda memakai setelan jas kantor seperti sekarang?
Untung saja gedung apartemennya berseberangan dengan apartemen Dinda. Jadi, Andi nanti tidak perlu mengendarai mobilnya terlalu jauh untuk bisa menjemput temannya itu.
Pakaian yang Andi pilih saat ini adalah kemeja marun yang ia padukan dengan sebuah celana hitam. Untuk sepatunya, Andi memilih sneakers keluaran terbaru yang ia beli ketika berada di Paris. Jam yang ia pakai merupakan keluaran dari Patek Philippe.
Meski Andi akan pergi dengan Dinda sekarang, beberapa anak buahnya akan tetap mengikutinya. Tetapi jarak mereka akan cukup jauh dari Andi.
“Hallo Din, aku sudah di bawah.” Ucap Andi melalui telepon ketika dirinya sampai di depan lobby apartemen Dinda.
“Oh baiklah tunggu sebentar. Aku akan segera turun.”
Tidak lama kemudian, Andi melihat Dinda keluar dari dalam gedung apartemennya. Perempuan itu kini memakai sebuah sweatshirt berwarna hitam dengan celana berwarna marun. Itu adalah kebalikan dari pakaian yang ia kenakan sekarang.
Ini adalah kebetulan yang cukup jarang terjadi. Sekarang ini, dengan pakaian yang memiliki warna senada, membuat Andi dan Dinda terlihat seperti sedang memakai pakaian pasangan.
Andi kemudian membunyikan klakson mobilnya dua kali untuk memberi tahu Dinda keberadaan mobilnya. Mendengar hal itu, Dinda berjalan mendekat ke arah mobil Andi.
“Eh warna pakaian yang kita pakai kok samaan?” Ucap Dinda setelah menyadari bahwa pakaian yang mereka kenakan memiliki warna yang senada.
“Eh iya bener. Padahal nggak sengaja loh. Kita nggak janjian juga. Kok bisa kebetulan kayak gini.”
__ADS_1
“Kita sekarang kayak pake baju couple tahu.”
“Hahaha.” Andi hanya merespon ucapan Dinda itu dengan tertawa pelan. “Jadi kemana kita sekarang?”
Dinda lalu menyebutkan nama salah satu mall yang ada di Surabaya. Langsung saja Andi menjalankan mobilnya menuju ke mall yang disebutkan oleh Dinda.
“Sekarang kesibukanmu apa An?” Tanya Dinda.
“Ya masih ngurusi kafe bareng ibuku. Si Brian sekarang udah tinggal di Paris. Dia akan kuliah di sana. Jadi, aku semakin sibuk sekarang. Apalagi sekarang sepupuku mengajakku mendirikan bisnis bareng. Aku nggak bisa sesantai dulu.”
“Jadi Kamu keluar negeri kemarin nemuin Brian.”
“Ya aku menemui dia. Eh tapi, dari mana Kamu tahu kalau aku ke luar negeri kemaren?”
Memang Andi sudah membalas komentar Dinda yang ada di sosial medianya. Tetapi, ia belum menanyakan mengenai hal ini kepada temannya itu.
Mendengar ucapan Andi, keringat dingin tiba-tiba saja mengalir di punggung Dinda. Ini gara-gara dia keceplosan dan menanyakan hal itu pada kolom komentar foto Andi. Tidak mungkin Dinda mengubah komentarnya atau bahkan menghapusnya.
Beberapa orang sudah melihat komentar itu. Awalnya Dinda lega karena Andi tidak membahas hal itu. Tetapi sekarang, setelah dirinya keceplosan lagi, akhirnya Andi membahas juga masalah ini. Dinda langsung memutar otaknya untuk mencari solusi mengenai hal ini.
“Eh bukannya Kamu sendiri yang bilang? Waktu itu aku menghubungimu dan mengajakmu hang out. Tetapi Kamu tidak bisa melakukannya. Bukankah waktu itu Kamu bilang Kamu sedang berada di luar negeri? Ya yang waktu itu.”
Untung saja Dinda menemukan alasan yang cukup logis dalam waktu cepat. Apalagi ketika mengatakan hal tersebut, Dinda sama sekali tidak terbata-bata. Ia berbicara cukup lancar. Dinda yakin Andi akan mempercayai ucapannya ini.
“Sepertinya waktu itu aku memang memberitahu tentang hal itu.”
Ini berarti sama seperti pemikiran Andi. Meski dirinya tidak ingat terlalu jelas, mungkin saja dirinya melakukan hal itu ketika Dinda menelpon mengajak nongkrong bareng waktu itu.
“Kamu ada saran film apa yang akan kita nonton nanti nggak?” Tanya Dinda mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
“Erhm… Aku nggak terlalu mengikuti perkembangan film apa yang di putar di bioskop. Jadi, Kamu saja yang menentukannya.”
Ketika sampai di mall, Dinda langsung mengajak Andi menuju ke lantai tiga. Tujuan mereka adalah sebuah kafe yang menyajikan steak sebagai menu utama mereka. Sembari menunggu pesanan mereka datang, keduanya telihat saling mengobrol sekarang.
Ketika mereka mengobrol, ada seorang laki-laki di depan kafe, memperhatikan interaksi antara mereka berdua. Laki-laki tersebut sekarang ini terlihat duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Di tangannya terdapat sebuah ponsel.
Kepalanya menunduk ke bawah terlihat seperti mmeperhatikan layar ponselnya. Tetapi, dari sudut matanya, laki-laki tersebut memandang ke arah kafe tempat Andi dan Dinda melakukan makan malam.
__ADS_1
Cara laki-laki itu memata-matai Andi dan Dinda yang tengah makan bersama tidak terlalu memancing kecurigaan dari pengawal Andi yang berjaga-jaga di sekitar kafe. Laki-laki itu bersikap sepert pengunjung mall pada umumnya.
Apalagi laki-laki itu pergi setelah satu menit duduk di sana. Jadi, pengawal Andi sama sekali tidak mencurigai gerak gerik laki-laki tersebut.