
“Ayah, aku rasa tebakanku selama ini memang benar. Sang Penerus yang sebenarnya tidak sehebat seperti yang diceritakan oleh leluhur kita. Atau jika tidak begitu, Sang Penerus yang kita temui ini adalah Sang Penerus palsu.” Jelas Arman.
Di pikiran Bayu ucapan Arman itu semakin menyatakan kenyataan yang ada. Apalagi sekarang mereka tidak memiliki kejelasan di mana Sang Penerus itu berada. Semua kontak di putus begitu saja.
Bayu langsung mengarahkan pandangannya kepada Darsono dan Rusdi yang ada di sampingnya. Ia memberi tatapan tajam kepada pasangan ayah dan anak itu.
“Ini semua gara-gara kalian berdua. Pasti kalian sengaja mengenalkan seorang penerus palsu kepada kami bukan? Mengaku saja kalian.” Ucap Bayu sembari mengarahkan telunjuknya ke arah Darsono.
“Kenapa kalian menuduh kami seperti itu? Memang aku yang mengenalkan Kamu dengan Sang Penerus ini, tetapi bukannya Kamu sendiri juga sudah memastikan keasliannya? Kamu bilang dia memang Sang Penerus asli.”
“Sekarang, kalian menuduh kami seperti itu. Kalian kira hanya kalian saja yang merasa tertipu? Kami juga. Keluarga kami sekarang berantakan karena serangan dari keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka.”
“Sekarang kami juga sedang mencari keberadaan Sang Penerus untuk mengatasi masalah keluarga kami juga. Bukan hanya kalian saja.” Ucap Darsono dengan geram.
Sebelumnya Bayu sendiri juga ikut mengecek keaslian dari Sang Penerus yang sekarang. Kepala kluarga Sanjoyo itu sudah menyatakan bahwa kalung itu asli milik Sang Penerus. Jadi, Darsonos juga lebih percaya lagi dengan Sang Penerus ini.
Ia sudah bergantung banyak kepada Sang Penerus ini. Sekarang, ketika mereka punya masalah besar seperti ini, orang yang percayai malah hilang tanpa ada kejelasan seperti ini.
“Jadi kalian juga sedang di serang oleh keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka?” Tanya Bayu heran.
Pasalnya Bayu dan Arman terlalu sibuk mengurusi masalah yang menimpa keluarga mereka. Jadi, baru sekarang mereka tahu bahwa keluarga Sasongko juga dalam masalah yang cukup besar.
“Ya. Hampir tujuh puluh persen kekayaan kami hilang karena krisis ini. Jika kami tidak segera mengatasinya, maka keluarga kami akan bangkrut dalam waktu dekat.” Jelas Rusdi.
“Aku tidak menyangka kita mengalami nasib serupa. Aku rasa, ini adalah pembalasan dari kedua keluarga itu atas apa yang sudah kita rencanakan. Sebelum ini kita sudah berniat menghabisi anggota keluarga mereka. Sekarang, mereka membalas kita seperti ini.” Jelas Darsono.
“Itu semua karena Sang Penerus palsu itu. Bukankah dia yang menyuruh keluarga kita menghancurkan keluarga Sasongko dan keluarga Sanjoyo. Sekarang ketika pembalasan ini datang, dia malah yang duluan menghilang dan membiarkan kita mengatasi semuanya sendiri.” Ucap Arman geram.
“Kita sudah tidak bisa lagi menggantungkan nasib keluarga kita kepada Sang Penerus ini. Jika kita masih ingin selamat, kita perlu mengusahakannya sendiri.” Ucap Darsono.
“Hem… bisakah kita meminta pengampunan kepada keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka? Siapa tahu jika kita melakukannya mereka akan menghentikan semua ini.”
“Heh.” Arman mendengus pelan setelah mendengar ucapan dari Rusdi. “Memangnya, apa lagi yang bisa Kamu tawarkan sebagai kompensasi atas perbuatan kita, jika hartamu sekarang sudah akan habis seperti ini?” Tanya Arman kepada Rusdi.
__ADS_1
Jika mereka memang benar-benar ingin meminta pengampunan kedua keluarga itu, mereka perlu memberikan kompensasi agar permintaan maaf yang mereka lakukan dipandang tulus oleh keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka.
Bagi kedua keluarga tersebut, mereka tinggal satu langkah lagi untuk menguasai harta dari keluarga Sasongko dan keluarga Sanjoyo. Jadi, sudah cukup terlambat bagi mereka meminta maaf sekarang.
“Sebentar lagi keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka memakan habis keluarga kita. Jadi, tidak akan ada perubahan besar jika kita melakukan itu.” Imbuh Arman.
“Jadi, kita hanya bisa pasrah dengan takdir ini dan menunggu kehancuran keluarga kita?” Tanya Rusdi.
Tidak ada satu orang pun yang menjawab pertanyaan Rusdi. Karena mereka sendiri tidak tahu harus menjawab apa.
*****
Pagi harinya Andi sudah datang ke rumah mewahnya yang ada di Surabaya. Di sini anggota keluarganya yang akan diungsikan untuk waktu yang tidak bisa ditentukan berkumpul. Suasana rumah yang biasanya sepi kini berubah menjadi ramai.
Sekarang ini mereka tengah menentukan pilihan negara mana yang akan mereka pilih. Memang sebelumnya mereka sudah menentukan ke mana mereka akan pergi. Tetapi itu hanya benuanya saja. Negaranya belum ditentukan.
Rencannya, beberapa akan diterbangkan ke Amerika Serikat dan Kanada, beberapa akan diterbangkan ke Eropa, dan beberapa ke negara lain di asia. Di sana nantinya mereka masih perlu berpencar lagi. Tidak ada yang boleh berkumpul pada satu tempat dengan jumlah banyak.
Andi kemudian menghampiri Anisa yang kini sedang mengecek kelengkapan barang yang akan mereka bawa. Di samping Anisa, Amira dan Arfan terlihat sedikit cemas. Keduanya tidak memancarkan rasa senang sedikit pun meskipun mereka tahu mereka akan keluar negeri.
Jika alasan mereka keluar negeri adalah untuk liburan, pasti mereka akan sangat senang. Sayangnya tujuan mereka bukan itu. Mereka perlu bersembunyi untuk melindungi nyawa mereka.
“Apakah semuanya sudah siap?” Tanya Andi kepada ibunya.
“Ya semuanya sudah siap. Ibu hanya membawa beberapa barang penting saja. Jika ada yang kurang, kami akan membelinya di Paris nanti seperti saran kamu.” Jelas Anisa.
Memang sebelumnya Andi meminta Anisa menyiapkan barang yang penting saja. Untuk yang lainnya bisa dibeli nanti di Paris. Hal ini untuk mempermudah mobilitas mereka nantinya.
“Kak, apakah semuanya akan baik-baik saja nanti?” Tanya Arfan penuh dengan kekhawatiran.
“Kamu tenang saja. Kami akan mengatasinya sesegera mungkin. Kami juga tidak mau keluarga kita hanya hidup dalam pelarian seperti ini. Jadi, kami akan melakukan segala hal untuk memenangkan pertarungan ini.”
“Selama kalian bersembunyi, kalian masih bisa membantu kami. Doakan saja agar kami bisa sukses dalam misi kali ini.” Jelas Andi.
__ADS_1
“Tentu saja Kak, aku akan terus berdoa untuk keselamatan Ayah, Kak Andi dan yang lainnya.” Jawab Amira.
Andi lalu menatap lekat ke arah Anisa. Ia lalu mengeluarkan sebuah berkas dan menyerahkannya kepada Anisa.
“Ini apa?” Tanya Anisa setelah menerima berkas-berkas tersebut dari tangan Andi.
“Itu adalah beberapa properti yang aku miliki di luar negeri. Akan sulit bagi orang lain untuk melacak semua itu. Jadi, Ibu pegang saja semua itu.”
“Lalu ini,” ucap Andi sembari menyodorkan sebuah kartu ATM kepada Anisa, “kartu ATM yang sudah aku siapkan untuk ibu. Isinya cukup banyak. Itu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup Ibu, Amira dan Arfan.”
“Aku juga sudah menghubungi Brian. Selama Ibu dan adik-adik berada di Paris, ia akan membantu kalian jika kalian membutuhkan bantuan. Jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan pada Brian.” Jelas Andi.
Mata Anisa berkaca-kaca setelah menerima semua itu dari Andi. Ini bukanlah air mata haru seorang ibu yang berhasil melihat anaknya sukses. Tetapi ini adalah air mata kesedihan.
“Kenapa Kamu melakukan semua ini Nak?” Tanya Anisa dengan suara bergetar.
“Hah.” Andi mengela nafas panjang. “Aku hanya bersiap untuk kemungkinan terburuk Ibu. Meski aku kuat dan memiliki kemampuan bela diri yang cukup tinggi, tetapi aku tidak menjamin akan bisa selamat dari hal ini.”
“Kita belum tahu kekuatan musuh sepenuhnya. Apakah mereka hanya memiliki senjata tajam, ataukah mereka memiliki senjata api. Jadi, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Ibu juga harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.” Jelas Andi.
Andi tahu sesempurna apa pun rencana yang sudah mereka susun, itu tidak akan menjamin bahwa tidak akan ada korban di pihak mereka. Entah itu hanya luka, bahkan sampai korban jiwa. Jadi, Andi ingin keluarganya siap dengan semua itu.
“Jangan berbicara seperti itu.” Ucap Anisa dengan suara yang bergetar.
“Apa yang Andi ucapkan ada benarnya Sayang. Jadi, ini mungkin akan menjadi perpisahan biasa, tetapi bisa jadi ini adalah kesempatan terakhir bagi kita berkumpul sebagai keluarga.” Ucap Aripto yang tiba-tiba ikut bergabung dalam obrolan mereka.
“Mas….” Ucap Anisa.
Aripto menggeleng pelan. “Kamu harus bisa menjaga kedua anak kita dengan baik. Jangan sampai mereka kenapa-napa nantinya. Besarkan mereka dengan baik. Jadikan mereka laki-laki dan perempuan yang berhati baik.” Pesan Aripto kepada Anisa.
Tidak hanya keluarga Andi saja yang melakukan obrolan berat seperti ini. Anggota keluarga Prayudi lainnya juga sama. Mereka saling berpamitan kepada yang lain.
Takdir tidak ada yang tahu. Seperti kata Aripto, ini bisa saja menjadi saat terakhir mereka menghabiskan waktu bersama. Jadi, semuanya memanfaatkan waktu yang tersisa sebelum penerbangan mereka tiba, dengan mengobrol satu sama lainnya.
__ADS_1