
Andi menghempaskan tubuhnya ke sofa yang ada di ruang tamu. Mereka baru saja menyelesaikan pengambilan video. Ternyata mebuat video memasak itu cukup rumit. Andi perlu mengulang beberapa hal karena menurut Rosalinda itu kurang bagus di kamera.
Pembuatan kue yang pada awalnya hanya membutuhkan waktu empat puluh menit hingga satu jam itu molor hingga hampir dua jam. Andi memandang ke arah Rosalinda yang kini duduk di meja makan. Perempuan itu tidak mengalihkan pandangannya dari kulkas yang ada di dapur.
Andi baru mengetahui bahwa Rosalinda adalah seorang foodie. Ia melihat bagaimana perempuan itu beberapa kali menyeka air liurnya ketika Andi menata roti kukus, krim dan bahan lainnya ke dalam toples. Sekarang lihatlah perempuan itu tidak sabar menunggu dessert box itu siap untuk dinikmati.
“Hahahaha.” Andi tertawa pelan. “Meski Mbak Ros ngeliatin kek gitu, itu nggak akan ngebuat dessert boxnya siap dalam waktu cepat. Nah daripada Mbak Ros duduk di situ aja lebih baik sini ajarin aku edit video yang bagus.”
“Ck.” Rosalinda mendecakkan lidahnya. “Kamukan cowo, masak nyuruh aku yang nyamperin ke situ. Bawa ke sini aja laptopmu. Lebih baik mengedit videonya di sini. Di meja makan lebih nyaman daripada di sana.”
“Bilang aja Mbak nggak mau pergi dari sana. Nggak mau meninggalkan kulkas yangs berisi dessert box itu tanpa pengawasan. Tenang aja kali Mbak. Jika Mbak Ros takut aku akan ambil dessert boxnya, jadi Mbak nggak usah khawatir kayak gitu.” Andi menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
Meski berkata demikian, tetapi Andi masih menuruti permintaan Rosalinda itu. Ia membawa laptop yang baru kali ini dipakai sejak Andi membelinya. Dengan dibantu Rosalinda, Andi mengedit video pembuatan dessert box yang ia rekam tadi.
Mereka asik berdiskusi membicarakan bagian mana yang perlu dimasukkan dalam video dan bagian mana yang perlu dibuang. Dalam video tersebut, mereka juga menambahkan beberapa kata sebagai pengganti narasi suara dari proses memasak yang Andi lakukan.
Tanpa mereka sadari mereka menghabiskan waktu hampir dua jam untuk mengedit semua video itu. Yang membuat mereka lama adalah keduanya perlu beberapa kali memutar video untuk melihat bagian mana yang kurang.
Kegiatan keduanya berhenti ketika alarm dari ponsel Rosalinda berbunyi. “Wah dessert boxnya sudah siap. Cepat-cepat kita perlu mengambil videonya untuk menjadi bagian akhir dari kontenmu. Lalu setalah itu aku bisa menikmatinya.”
“Sabar Mbak. Dessert boxnya tadikan ada delapan porsi. Jadi nggak perlu memburuiku seperti itu.”
Andi memasang kembali kartu penyimpanan ke dalam kameranya. Ia tidak terlalu banyak membutuhkan bantuan untuk pengambilan video kali ini. Ada tripot yang membantunya menyelesaikan permasalahan itu.
Andi mengambil salah satu dessert box yang ada di sana. Dengan makanan tersebut Andi lalu mengambil beberapa video. Mulai dari video ketika dirinya mengambilnya dari kulkas sampai dia memakan satu suap makanan itu. Andi juga mengambil video close up dari dessert box itu.
“Sudah selesai.” Ucap Andi ketika menyelesaikan semuanya.
“Bagus. Sekarang kamu pindah semua video yang barusan kamu ambil. Setelah ini aku perlu meminjam peralatanmu. Tenang saja aku akan menggunakan kameramu di apartemen ini. Aku tidak akan membawanya keluar dari sini.”
__ADS_1
Ketika Andi tengah sibuk memindah data video tersebut, Rosalinda terlihat sibuk dengan membawa beberapa barang masuk ke dalam salah satu kamar yang ada di sana. Perempuan itu sudah meminta izin kepada Andi untuk menggunakan salah satu kamar yang ada di sana.
Andi yang ingin membantu perempuan tersebut untuk membawa barang-barang itu. Namun Rosalinda melarangnya. Perempuan itu ingin Andi segera memindah data-data tersebut agar dia bisa memakainya setelah ini.
Namun meski di larang oleh Rosalinda, Andi tetap memantu perempuan tersebut. Ia tidak tahu akan dipakai apa semua itu. Tetapi Andi tebak perempuan itu akan membuat konten makan-makan. Oleh karena itu Andi juga membawa meja yang ada di ruang tamu masuk ke kamar utama.
Rosalinda memilih menggunakan kamar utama yang lebih luas untuk mengambil video. Di apartemen ini, tidak ada ruangan yang lebih luas yang bisa memberikan privasi selain kamar utama. Setelah semua peralatan sudah masuk ke kamar, Roslinda mengambil enam porsi dessert box. Perempuan itu hanya menyisahkan satu porsi tiap varian untuk Andi.
Melihat hal itu, Andi mengangkat sebelah alisnya, heran dengan Rosalinda yang membawa dessert box ssebanyak itu. Bukannya Andi melarangnya, hanya saja itu terlalu banyak. Apakah Rosalinda akan menghabiskan makanan sebanyak itu? Jika tidak, bukankah lebih baik menyimpannya di kulkas? Apakah dia setakut itus Andis mengambil dessert box itu sehingga perempuan itu membawa masuk semua dessert box?
“Apa Mbak Ros akan makan semua itu?” Pada akhirnya Andi menanyakan hal yang ada dalam pikirannya. Pertanyaan Andi tersebut dijawab dengan anggukan cepat dari Rosalinda.
“Tentu saja aku akan memakan semuanya. Sebenarnya makanan sebanyak ini tidak ada apa-apanya untukku. Aku pernah membuat konten makan bakso jumbo dengan berat tiga kilo lebih. Jadi dessert box milikmu ini tidak ada apa-apanya.” Ucap Rosalinda santai.
Andi menganga mendengar ucapan Rosalinda. Ia tidak menyangka perempuan seperti dia memiliki porsi makan sebesar itu. Badan Rosalinda cukup langsing, hal itu sama sekali tidak mencerminkan porsi makan perempuan itu.
“Dan jangan bersuara terlalu keras. Aku tidak ingin ada suara lain yang masuk dalam videoku. Ini bukan seperti video milikmu yang masih bisa diulang pengambilannya. Videoku tidaks bisa diulang, jadi jangan berisik.”
Belum sempat Andi memberikan respon, pintu kamar utama itu sudah ditutup dan dikunci dari dalam. Sepertinya perempuan itu benar-benar ingin fokus membuat video dan tidak ingin diganggu. Pintu kamarnya saja sampai di kunci dari dalam.
Andi mengangkat bahunya melihat hal itu. Biarkan Rosalinda melakukan hal itu sesukanya. Kini yang perlu Andi lakukan adalah menyelesaikan mengedit video ini lalu meng-upload-nya ke Ourtube. Semoga saja banyak yang menontonnya, sehingga hal ini bisa ia jadikan alasan sumber uangnya kepada kedua orang tuanya.
Andi tidak bisa terus-terusan berbohong seperti ini. Pada akhirnya semua kebohongannya akan segera tercium. Kecurigaan-kecurigaan yang ditunjukkan oleh ibunya selama ini sudah menjadi sebuah pertanda. Jadi, Andi perlu segera mencari sumber pendapatan selain bisnisnya dengan Brian yang bisa ia beritahukan kepada keluarganya.
*****
Rosalinda keluar dari kamar Andi dengan mengelus pelan perutnya. Sebelah tangannya membawa beberapa toples kosong yang tadinya berisi dessert box. Senyum puas terlihat jelas di bibir perempuan itu. Ia kemudian membersihkan toples tersebut. Setelahnya Rosalinda menghampiri Andi yang masih fokus menatap layar laptopnya.
“Belum selesai An?”
__ADS_1
“Eh Mbak Ros udah selesai ya.”
“Edit videonya belum selesai?” tanya Rosalinda sekali lagi.
“Udah kok Mbak. Sekarang lagi mikirin nama buat kanal Ourtube. Aku nggak tahu harus kasih nama apa buat kanalku.”Jelas Andi. Pemuda itu sudah menyelesaikan edit video sejak setengah jam yang lalu. Andi kemudian memikirkan nama untuk kanal miliknya hingga Rosalinda datangs menghampirinya.
“Hemm…. Pakai namamu saja. Memangnya nama lengkapmu siapa?”
“Andi Rahman Prayudi.”
“Kalau begitu ARP Kitchen aja. Ga perlu bertele-tele. Soal logo nanti saja dulu. Yang penting kamunya udah buat kanal dan namanya udah ketemu. Lalu kamu juga perlu buat akun sosmed untuk berhubungan dengan viewer.”
“Oh begitu ya Mbak. Baiklah Mbak terimakasih atas sarannya.” Andi melirik ke arah jam yang ada di sudut layar laptopnya. Ia baru menyadari bahwa hari sudah cukup larut. Rosalinda sudah berada di apartemennya sudah lima jam lebih.
“Mbak mau pulang sekarang? Udah jam sebelas kurang itu.” Andi menunjuk ke arah layar laptopnya. “Ini udah malam, kalo Mbak mau pulang, aku antarkan. Nggak baik perempuan pulang malam sendirian.”
Mendengar ucapan Andi, Rosalinda melihat ke arah layar laptop Andi. “Ah, ini gawat. Kenapa kamu nggak bilang dari tadi kalo udah jam segini. Kosan yang aku tempati itu ada jam malamnya. Jam sepuluh pintu gerbang udah di kunci sama pemilik kos. Jadi aku tidak bisa pulang ke kosanku. Aduh gimana ini.”
Rosalinda terlihat bingung dengan apa yang harus dilakukannya setelah ini. Jam segini penghuni kos yang lain sudah pasti sudah tidur, mereka tidak akan bisa membantunya membuka gerbang. Ibu kosnya juga pasti tidak akan mau membuka gerbang untuk siapa pun yang melanggar jam malam.
Jika tidak pulang ke kosan, mau menginap di mana malam ini? Rosalinda tidak memiliki informasi banyak mengenai kosan teman kuliahnya. Jadi ini akan mempersulit niatan Rosalinda menginap di kosan temannya.
“Ah aku nggak tahu kalo kosan Mbak Ros ada jam malamnya. Mbak kan nggak ngasih tahu aku. Terus ini gimana? Mbak ada kenalan lain yang bisa dihubungi? Kali aja ada yang mau menampung Mbak buat malam ini.”
Rosalinda menggelengkan kepalanya pelan. “Aku nggak tahu kosan semua temen kuliahku. Jadi aku nggak tahu mau menginap di mana malam ini.” Perempuan itu kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling apartemen Andi. “Bolehkah aku menginap di sini malam ini?” tanya Rosalinda sedikit tidak yakin.
“Ah, aku nggak tahu. Aku sih nggak masalah kalau Mbak Ros menginap di sini. Lagian di sini masih ada dua kamar kosong. Tetapi apa Mbak nggak keberatan menginap di sini? Cuma ada kita berdua di apartemen ini. Aku cowok dan Mbak cewek. Kalau Mbak nggak keberatan silahkan.”
“Arrrggghhh.” Rosalinda mengacak-acak rambutnya dan berteriak pelan. “Ini sangat terpaksa. Baiklah aku kan menginap di sini malam ini.”
__ADS_1