Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 56 Kedatangan Amira (2)


__ADS_3

Andi mendengar suara khas mesin kereta. Pemuda itu kini bersiap di pintu keluar penumpang kereta. Dengan begini, Amira akan lebih mudah mencarinya. Tidak lama kemudian, terdengar langkah dari beberapa orang yang berjalan mendekat ke arah pintu keluar.


Andi menegakkan tubuhnya, pemuda itu ingin membuat tubuhnya semudah mungkin dilihat oleh adiknya. Tingginya yang mencapai 176 cm mempermudahnya melakukan hal itu. Tidak lama kemudian, seorang gadis berjalan dengan langkah cepat ke arahnya. Gadis itu kemudian menghempaskan tubuhnya ke tubuh Andi.


Segera saja Andi menangkap gadis yang ternyata adalah Amira agar adiknya itu tidak terjatuh. Andi bisa mendengar isakan dari Amira yang kini ada di pelukannya.


“Udah nggak udah nangis gitu.” Ucap Andi menenangkan adik perempuannya itu.


Amira seolah tidak mendengarkan perkataan Andi, gadis itu masih saja menangis malahan, sekarang dia lebih mengeratkan pelukannya kepada Andi. Melihat hal itu, Andi hanya menarik nafas panjang dan membiarkan adiknya menangis sepuasnya.


Pemuda itu tidak mempedulikan beberapa pasang mata yang kini memandang dirinya dan Amira. Toh yang ia peluk ini adalah adiknya sendiri. Dan lagi, dirinya hanya berpelukan dengan Amira tanpa melakukan hal lainnya. Jadi, Andi tidak mempedulikan pandangan penasaran dari orang di sekitarnya.


Tiga menit kemudian, Andi merasakan adiknya mengendorkan pelukannya. Sepertinya adiknya ini sudah cukup puas menangis. Andi menundukkan kepalanya melihat ke arah Amira yang kini menggosok-gosokkan hidungnya ke baju Andi untuk menghilangkan ingusnya.


Andi hanya tertawa pelan melihat hal itu. Ia tidak mempermasalahkan hal ini. Toh dirinya bisa berganti baju setelah ini. Yang terpenting sekarang Amira sudah tenang dan tidak menangis lagi.


“Kita ke tempat Kakak aja ya. Nanti kita bicara di sana.”



Amira memperhatikan gedung yang dituju sopir taksi online yang mereka tumpangi. Jika tidak salah, ini adalah gedung apartemen. Apakah kakaknya sekarang ini tinggal di apartemen? Tetapi, kenapa kakaknya bisa tinggal di sini?


Ada banyak pertanyaan yang ingin Amira utarakan kepada Andi, tetapi, gadis itu menahannya. Lebih baik ia menanyakan hal ini setelah mereka sampai di tempat tinggal Andi. Setidaknya di sana akan lebih tertutup dan tidak ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka.


Amira hanya mengikuti kakaknya menuju lift tanpa banyak bicara. Gadis itu melihat lift yang mereka naiki akan membawa mereka ke lantai sepuluh. Ketika berada di lift, Amira mendengar kakaknya berbicara.


“Kakak tahu kamu punya banyak pertanyaan untuk kakak. Tetapi, kita bicarakan nanti ketika sudah sampai di apartemen yang kakak tinggali.” Jelas Andi.


“Ya aku tahu kok Kak.”


“Kamu udah sarapan?” Sekarang masih cukup pagi. Pemuda itu tidak yakin Amira sudah mengisi perutnya pagi ini. Benar saja Andi melihat adiknya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Kalau begitu, nanti kamu sarapan dulu. Ada roti dan sereal, jadi kamu bisa memilih mau sarapan apa.”


“Baiklah kak.”


Ketika sampai di lantai sepuluh, Andi memimpin adiknya melangkah menuju apartemennya. “Ayo masuk, kamu mau sarapan apa?”


“Sereal aja Kak.”


Amira mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Perabotan di apartemen ini Amira yakini tidak murah. Gadis itu juga melihat beberapa peralatan untuk membuat video ada di ruang tamu apartemen tersebut. Ia yakin harga apartemen ini cukup mahal. Meski tidak membelinya, menyewanya pun membutuhkan uang yang cukup besar. Hal ini semakin menambah pertanyaan yang ingin Amira kuak dari kakaknya.


“Makanlah dulu.” Andi menyodorkan semangkuk sereal kepada Amira. Selagi Amira memakan makanannya, Andi memberikan sedikit penjelasan kepada Amira mengenai apartemen ini.


“Apartemen ini adalah milik Brian. Aku tinggal di sini sekarang. Dan peralatan-peralatan itu, sekarang aku sudah menjadi pembuat konten untuk Ourtube. Aku dan Brian juga akan membuka toko dan kafe di sini. Jadi, kedepannya aku akan memiliki pendapatan halal.”


“Aku tahu ibu memintamu ke sini untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja. Kamu bisa melihat sendiri bahwa saat ini kakak baik-baik saja.”


“Apa yang aku dengar dari ayah itu benar Kak? Kalau kakak yang menghajar teman-teman Kakak itu?” tanya Amira disela-sela makannya.


“Aku tidak melakukannya. Kamu tahu sendiri bukan jika Kakak ini tidak sedekat itu dengan Om Burhan. Ketika perkumpulan keluarga pun aku tidak pernah berbicara dengan Om Burhan selain hanya basa basi menyapanya. Bagaimana bisa aku sekarang tiba-tiba dekat dengan Om Burhan.”


“Selama aku berada di Surabaya, tidak sekali pun aku menemui Om Burhan. Aku tidak tahu di mana rumah Om Burhan. Bahkan aku pun tidak memiliki kontak dari Om Burhan. Jika demikian, bagaimana bisa aku berhubungan dengan Om Burhan.”


Apartemen itu kini hening. Kedua kakak beradik itu tidak lagi berbicara. Yang terdengar hanyalah suara dentingan sendok Amira yang berbenturan dengan mangkuk. “Aku percaya kok dengan ucapan Kakak.” Ucap Amira setelah mereka terdiam beberapa saat.


Mendengar hal tersebut, Andi merasa sangat lega. Setidaknya ada anggota keluarganya yang mempercayai ceritanya. Ini berarti masih ada anggota keluarganya yang mengenal dengan baik bagaimana Andi sebenarnya.


“Aku juga percaya bahwa Kakak tidak melakukan semua ayah dan ibu tuduhkan. Meski Ibu juga bilang bahwa Kakak mengakui jika Kakak telah melakukan judi, aku juga tidak mempercayai hal itu.” ucap Amira dengan memandang lekat ke mata Andi.


Andi memberikan senyum terlebarnya kepada Amira. “Terimakasih. Terimakasih sudah mempercayaiku. Terimakasih juga sudah memahami bagaimana aku sebenarnya.”


“Tentu saja aku mempercayaimu Kak. Aku kan adik kesayanganmu. Tentu saja aku mempercayaimu.”

__ADS_1


“Jadi, kamu nanti pulang jam berapa?” tanya Andi.


“Aku pulang besok sore. Besok sekolah libur, katanya para guru ada rapat besar, jadi aku tidak sekolah. Ibu sudah mengijinkanku menginap di tempat Kakak.” Jelas Amira.


“Ah, rupanya kamu besok libur ya? Aku tidak tahu hal itu. Tetapi, apakah nggak masalah kamu menginap? Maksudku, apakah ayah nggak akan marah jika sampai tahu kalau kamu menginap di tempatku?”


“Ayah tahunya aku ke rumah Nenek di Kediri. Untung saja kereta yang aku naiki tadi datang bersamaan dengan kereta yang akan menuju ke Kediri. Jadi, aku bisa mengelabuhi ayah.” Jelas Amira.


“Ah jadi seperti itu.”


Andi tidak mengira bahwa adiknya akan mengelabuhi ayah mereka seperti itu. Sepertinya, mengelabuhi orang tua sudah mengalir pada gen keluarga mereka. Andi mengelabuhi orang tuanya tentang asal usul uangnya, sedangkan Amira, adiknya, mengelabuhi ayahnya dengan mengatakan pergi ke Kediri padahal kenyataannya pergi ke Surabaya.


“Jika kamu mau menginap, kamu bisa memilih salah satu kamar yang ada di sini. Masih ada dua kamar kosong di apartemen ini.”


“Masih ada dua kamar kosong? Di apartemen ini ada berapa kamar?”


“Ada tiga kamar. Kamar utamanya sudah aku pakai. Jadi kamu bisa pilih kamar yang lain. Ukurannya lebih kecil sih dari pada kamar utama, tetapi itu sedikit lebih besar daripada kamarmu di rumah.”


“Kakak pake kamar utama? Bukannya itu nantinya di pake Kak Brian? Kan ini apartemen milik Kak Brian. Kalo semisal Kak Brian ke sini nantinya, akan tidur di mana dia jika kamar utama kakak tempati?” Tanya Amira penasaran.


Andi mengibaskan sebelah tangannya. “Tenang saja. Tidak perlu memikirkan Brian. Dia tidur di apartemennya sendir. Apartemen Brian ada tepat di depan apartemenku. Jadi, Brian nantinya tidak akan menginap di sini.” Jelas Andi tanpa memperhatikan ucapannya.


Amira yang mendengar penjelasan Andi terlihat mengerutkan keningnya sekarang. Ia tiba-tiba menaruh kecurigaan kepada kakaknya setelah mendengar semua itu. Seperti ada sesuatu yang aneh dan kurang pas dari apa yang Amira dengar.


Jika apartemen ini memang benar-benar milik Brian, mengapa pemuda itu tidak tinggal di sini? Mengapa dia tinggal di apartemen depan? Apakah Brian memiliki dua apartemen? Itu memang bisa terjadi. Tetapi, biasanya orang kaya lebih memilih memiliki beberapa apartemen di gedung yang berbeda. Jarang sekali mereka memiliki beberapa apartemen di gedung yang sama.


Apakah apartemen ini memang benar-benar milik Brian atau milik orang lain? Seketika itu juga Amira kembali memikirkan semuanya. Memang benar gadis itu mempercayai kakaknya tidak bermain judi, tetapi itu belum menjawab dari mana asal usul uang yang dimiliki oleh Andi.


Sudah jelas kakaknya itu memiliki uang berlebih. Sependek ingatan Amira, sebelum kakaknya bersiteru dengan orang tuanya, kakaknya ini membelikan barang untuknya dan Arfan. Menurut Amira, kakaknya ini bukan tipe orang yang akan menghabiskan semua uangnya untuk membelikan barang untuk orang lain.


Meski Amira tahu kakaknya suka menabung, tetapi tabungannya jelas tidak sebanyak itu. Jika demikian, darimana asal usul uang tersebut? Apakah itu semua juga dari Brian? Atau ada orang lain yang memberikan uang tersebut kepada Andi?

__ADS_1


__ADS_2