
Di sinilah Andi sekarang. Duduk di salah satu bilik di sebuah restoran Jepang. Di sisinya adalah Arya dan di depannya adalah kakak beradik dari keluarga Jayantaka. Sekarang ini Arya tengah menceritakan kehebatan Andi dalam menyetir mobilnya, bagaimana Andi bsia mengalahkan mobil sportnya dengan sebuah mobil SUV.
“Sepertinya kamu salah sasaran Arya. Orang seperti Andi ini tentu saja tidak akan mau dengan tawaran bayaranmu yang segitu. Sekali berbelanja saja dia bisa menghabiskan uang enam puluh juta lebih.” Ucap Gayatri.
Tadi Andi membeli beberapa setel jas dengan total enam puluh tiga juta. Hari minggu lalu, Gayatri ingat dia berbelanja di toko ponsel miliknya dengan total, tujuh puluh juta lebih. Sudah jelas orang yang mampu menghabiskan uang lebih dari seratus juta dalam beberapa hari, tidak akan tertarik dengan bayaran yang ditawarkan Arya.
Mendengar ucapan Gayatri, Arya memperlihatkan sebuah ekspresi kaget. Apa yang dikatakan Gayatri ada benarnya juga. Dia salah menargetkan Andi untuk menjadi joki balapan mobilnya. Andi bisa dengan mudahnya membeli barang semahal itu dengan mudahnya, sudah jelas ia tidak kekurangan uang. Pantas saja Andi tidak langsung menyetujui permintaannya.
Dan tadi juga, Arya melihat bahwa Andi ini mmebeli beberapa setel jas. Itu artinya pemuda itu memakai jas tersebut untuk pakaian kerja atau bisa jadi sebagais baju pesta. Tetapi, Arya kira kemungkinan besar Andi menggunakan jas tersebut untuk pakaian kerjanya. Jadi, Andi berada di antara dia yang sudah mulai bekerja semuda itu atau dia yang sudah memulai bisnisnya.
“Wah kamu benar Mbak Gayatri. Sepertinya aku salah kalo meminta Andi jadi joki balapan. Sudah jelas uang segitu tidak akan terlalu penting untuknya. Oh Man, kenapa kamu nggak langsung nolak aja permintaanku semalem. Jadinya, aku nggak berharap banyak seperti ini.” Ucap Arya mendramatisir keadaan.
“Aku hanya tidak terlalu suka terlibat perjudian. Kamu sendiri bilang bahwa dalam balapan mobil nanti akan ada taruhan sudah jelas aku tidak mau. Tetapi mungkin aku akan mau balapan jika tidak ada taruhan yang terlibat.” Jelas Andi.
“Ah sayang sekali, padahal balapan yang seru dan rame itu selalu ada taruhan di dalamnya. Baiklah jika seperti itu maumu, jika suatu hari nanti ada balapan tanpa ada taruhan aku akan menghubungimu.” Jelas Arya.
Percakapan mereka terhenti ketika pelayan restauran mengantarkan makanan pesanan mereka. Setelah makanan datang, langsung saja keempat orang itu menyantap sajian makanan di depan mereka.
“Jadi Widya, kamu sudah menentukan akan kuliah di mana setelah ini?” Tanya Arya di sela-sela makan mereka.
Mendengar perkataan Arya, Andi mendongakkan kepalanya ke arah gadis yang sedari tadi diam itu. Andi tidak tahu bahwa gadis ini seumuran dengannya. Ia kira dia masih belum lulus SMA, karena dari yang Andi lihat, wajahnya masih cukup muda.
“Aku belum menentukannya. Lagi pula, pendaftaran masuk ke universitas baru di buka minggu depan. Aku masih memiliki waktu untuk hal itu.” Ucap Widya.
Perkataan widaya mengingatkan Andi akan pendaftaran kuliah. Akhir-akhir ini dirinya cukup sibuk sampai lupa dengan hal ini. Sepertinya, sepulang dari sini dirinya perlu mengecek grup kelasnya. Siapa tahu ada pengumuman lainnya dari sekolahnya mengenai pendaftaran kuliah.
“Kamu baru akan kuliah juga?” tanya Andi.
“Ya aku baru lulus tahun ini.” Jawab Widya singkat.
__ADS_1
“Ah kalau begitu kita sepantaran. Aku juga baru lulus tahun ini.”
“Eh? Sungguh? Aku tidak menyangka kamu semuda. Oh Man, aku kira kamu ini sudah kuliah. Ternyata kamu masih baru akan kuliah.”
Gayatri yang ada di sana memandang lekat ke arah Andi. Dia penasaran dengan identitas Andi. Sebenarnya siapa pemuda ini? Siapa keluarganya? Sudah jelas dia berasal dari keluarga kaya. Karena di usia segini saja dia diperbolehkan mengeluarkan uang sebanyak itu.
Wajah Andi termasuk wajah baru di mata Gayatri. Ia tidak pernah melihat wajah pemuda itu di pertemuan-pertemuan yang sering diadakan oleh para sosialita. Kemungkinan besar dia dari keluarga baru yang meningkat kekayaannya, atau bisa jadi dia adalah pendatang dari kota lain.
Siapa pun Andi sebenarnya, yang jelas Gayatri tidak akan membuat masalah dengannya. Bukannya dia takut, tetapi, lebih baik menambah teman dari pada menambah musuh. Apalagi ketika kita tidak memiliki informasi jelas mengenai orang itu.
*****
Pagi ini Andi terbangun dengan tubuh yang lelah. Setelah makan malam kemarin, dirinya bergegas pulangs ke apartemen. Namun, Andi tidak langsung beristirahat. Ia hanya membersihkan diri dan menyiapkan merekam video untuk membuat resep.
Bisnis dessert shop dan kafenya sebentar lagi akan dibuka, jadi, Andi perlu mempersiapkan semua resep makanan yang akan ia sajikan di sana. Karena siang harinya ia masih perlu bekerja, maka sudah jelas Andi memasak sekaligus merekam videonya di malam hari.
Kegiatan tersebutlah yang membuat Andi lelah pagi ini. Ingin sekali Andi kembali tidur, namun, itu tidak bisa ia lakukan. Ini adalah hari pertama perusahaannya beroprasi, sudah pasti Andi tidak bisa bolos. Jika di hari pertama Andi terlambat atau bahkan tidak datang, maka itu akan memberikan citra buruk ke anak buahnya. Selain itu, Andi masih perlu memberi arahan kepada pekerjanya mengenai perusahaan mereka ini. Oleh karena itu, Andi mengumpulkan semangatnya untuk bangkit dan mempersiapkan semuanya.
Andi kemudian memasuki ruang direktur yang ada di sana. Ruang itu tidak terlalu luas, setidaknya ruangan itu memberikan privasi untuknya. Mungkin nantinya jika perusahaannya ini berjalan lancar, Andi akan memindahkan kantornya ke tempat yang lebih luas lagi.
Tidak lama setelah Andi masuk, pintu ruangannya diketuk oleh seseorang. “Masuk.”
Seorang perempuan terlihat berdiri di balik pintu itu. Jika Andi tidak salah ingat, dia adalah orang yang ia pilih menjadi sekertarisnya. Kalau tidak salah namanya adalah Sinta.
“Pagi Pak.” Sapa Sinta kepada Andi.
“Pagi Mbak Sinta. Silahkan duduk Mbak.”
“Baik Pak.”
__ADS_1
“Erhm, mungkin Mbak bisa menghilangkan panggilan Pak ke aku.” Pinta Andi kepada Sinta. Rasanya cukup aneh jika pemuda seusianya sudah dipanggil Pak. Andi merasa dirinya menjadi sangat tua dengan mendapatkan panggilan itu.
“Tetapi ini kan di kantor, jam kerja pula, dan bagaimana pun juga, Anda adalah atasan saya. Jadi, agaknya kurang sopan jika tidak memanggil Pak. Anda juga sebaiknya jangan memangil saya Mbak ketika jam kerja.”
Profesionalitas kerja. Sepertinya itu yang ingin Sinta utarakan. Jadi, dirinya tidak bisa melakukan hal itu ketika jam kerja. Sepertinya Andis perlu membiasakan diri dengan semua penggilan itu. Tetap saja panggilan Pak menurut Andi kurang nyaman di telinganya.
“Ah baiklah. Aku tidak akan memanggil Mbak kalau begitu. Sebagai gantinya, aku akan memanggilmu Miss Sinta, kamu hanya perlu memanggilku Mr. Andi. Jika di luar, panggil saja aku dengan Mr. A.” Pinta Andi kepada Sinta.
Menurutnya panggilan Mr. lebih enak di dengar daripada panggilan pak. Keduanya memiliki arti yang sama tetapi panggilan Mr. lebih nyaman bagi Andi. Selain itu, penggunaan nama Mr. A di luar sana akan membantu Andi menutup identitasnya. Pemuda itu masih kekeuh untuk menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik perusahaan. Biarkan orang lain yang mengurus sementara dirinya hanya mengamati dari jauh.
“Baiklah Mr. Andi. Ah ya, saya ingin memberitahukan bahwa semua pekerja sudah datang. Apakah Anda memiliki instruksi lainnya?”
“Ya, panggil Seno dari divisi legal dan Diana dari HRD. Minta keduanya ke ruanganku. Aku perlu berunding mengenai kontrak dan besaran gaji yang sesuai dengan mereka berdua. Lalu, katakan kepada para manager lainnya untuk mempersiapkan diri.”
“Setengah jam lagi aku akan melakukan rapat dengan mereka. Aku akan memberi pengenalan singkat tentang perusahaan kita dan akan membicarakan tentang pembagian tugas dengan mereka. Untuk saat ini, mereka tidak perlu menyiapkan apapun, itu saja.”
Sinta menganggukkan kepalanya memahami semua instruksi dari Andi. “Baiklah Mr. Andi, setelah ini saya akan memanggilkan Seno dan Diana kemari.”
Tidak lama setelah kepergian Sinta, dua orang yang Andi tunggu datang. Meski sebagian besar pekerja sudah meminta berapa besar gaji mereka, tetapi Andi masih perlu membicarakan ini dengan ahlinya. Pemberian gaji pasti memiliki perhitungan sendiri. Jadi, jika ada ahlinya kenapa Andi memikirkan semuanya sendiri?
Untuk masalah kartu kemampuan karyawan, Andi berencana memberikan kartu itu kepada pekerjanya setelah mereka menandatangani kontrak. Setidaknya dengan begitu mereka sudah terikat secara hukum dengan perusahaannya.
Diskusi Andi dengan kedua bawahan barunya berjalan cukup lancar. Dengan adanya draft kontrak yang Andi minta dari Ghani, pekerjaan Seno tidaklah cukup banyak. Laki-laki itu hanya perlu mengedit beberapa kalusul sesuai dengan keadaan lapangan.
Sementara itu, Diana juga memberikan penjelasan kepada Andi mengenai besaran gaji yang sesuai untuk para karyawan Andi. Diana mempertimbangakan besaran gaji berdasarkan latar pendidikan, tanggung jawab pekerjaannya, serta berapa banyak pengalaman yang dimiliki oleh para pekerja itu.
“Baiklah. Kalian berdua untuk saat ini tidak perlu mengikuti rapat. Bu Diana, tolong buatkan proposal mengenai bonus-bonus yang akan dimiliki oleh karyawan kita. Aku minta sore ini semuanya sudah selesai. Aku ingin segera mengecek semuanya.”
“Baik Mr. Andi. Aku dan anak buahku akan menyelesaikannya sesegera mungkin.”
__ADS_1
“Lalu Pak Seno, tolong selesaikan semua kontrak dari karyawan kita. Dengan draft yang sudah ada, aku yakin setelah istirahat makan siang semuanya sudah selesai bukan?”
“Tentu Mr. Andi, dengan adanya draft dari Anda, kami hanya perlu mengedit beberapa klausul saja. Aku rasa sebelum istirahat makan siang pun semua kontrak dari karyawan kita sudah terselesaikan.” Jelas Seno.