
Jangan lupa like, vote, komen, dan tambahkan ke favorit, selamat membaca
---
“Sialan. Beneran minta dihajar itu orang.” Ucap Dimas penuh dengan emosi setelah mendengar penjelasan Andi mengenai masalah mereka.
“Sekarang bilang ke kita, apa yang bisa kita bantu. Ah Lu bilang tadi keluarga dia itu punya bisnis bukan? Apa mau gue bikin bisnis dia bangkrut? Gue akan kasih tahu hal ini ke Papa, pasti dia akan mau bantuin kalian.” Timpal Wira.
Bisa dibilang sebagian besar anggota keluarga Prayudi merupakan orang yang kaya. Hanya saja, mereka sudah tinggal di kota yang berbeda, menyebar. Jadi, kelurga Prayudi terlihat seperti tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan keluarga lain yang memiliki sejarah panjang.
Meski Andi tidak tahu seberapa besar kekayaan empat keluarga besar di Kota Surabaya, tetapi Andi yakin kekayaan seluruh anggota keluarga Prayudi keturunan Kakek Buyut Adipramana, jika disatukan tidak akan kalah dengan kekayaan mereka.
Jadi, ketika Wira mengatakan hal seperti itu, Andi tidak terlalu heran. Bisnis Paman Darto di kota Jakarta cukuplah besar. Meski bukanlah orang terkaya di dunia, tetapi dengan total kekayaan lima triliyun lebih, Paman Darto masuk sebagai dua puluh orang kaya di Ibukota.
Andi sudah mengecek di internet bahwa total kekayaan keluarga Jony hanyalah tiga ratus milyar. Dibandingkan dengan keluarga Paman Darto saja, keluarga Jony tidak ada apa-apanya. Jadi sangat mungkin sekali untuk keluarga Paman Darto menghancurkan keluarga Jony. Tetapi Andi masih ingin berusaha sendiri.
Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa keluarga Andi hidup seperti itu, jika memiliki kerabat yang kaya seperti Darto bukan? Itu karena Aripto memiliki egonya sendiri. Laki-laki itu ingin menghidupi keluarganya dengan kerja kerasnya sendiri. Jadi, ia selalu menolak tawaran bantuan yang diberikan oleh kakak-kakaknya.
“Mas Wira nggak perlu lakuin itu. Aku punya rencana sendiri untuk lakuin hal ini. Jika memang rencanaku tidak berhasil, maka aku akan meminta bantuan dari Paman Darto.” Jelas Andi.
“Memangnya apa rencana Lu sekarang?” Tanya Dimas.
“Mungkin aku memang tidak membutuhkan bantuan finansial dari keluarga kalian. Tetapi, aku bisa meminta kalian membantuku yang lainnya.”
“Kamu butuh, bantuan apa? Jangan lupa libatkan kami dalam hal ini.” suara Bima membuat semua orang yang ada di rumah pohon itu menatap ke bawah. Di sana sudah ada ketiga anak dari Bagas, anak tertua dari Kakek Haryanto.
“Kalian kemari juga?” Tanya Andi.
“Kami sudah mendengar semua ceritamu. Kamu bilang kamu nggak mau dibantu secara finansial kali ini. Jadi, apa yang bisa kami lakukan untuk membantumu?” tanya Ardi.
“Naiklah dulu. Kita akan membicarakan ini.” Ucap Dimas. Akan sangat tidak enak jika mereka berbicara seperti ini. Yang lain di atas, di rumah pohon, dan yang lainnya di bawah. Berbicara sembari mendongak dan menunduk tidak mengernakkan bukan.
__ADS_1
“Jadi, di antara kalian berlima, siapa yang sebulan ke depan memiliki jadwal kosong?” Tanya Andi.
Seingat Andi, Dimas masih lah berkuliah, begitu pula dengan Bima dan Ardi. Namun Ganang, dia sekarang sudah bekerja di perusahaan ayahnya. Kalau Wira jangan ditanya. Dia tidak memilki kesibukan lain, pemuda itu memiliki umur yang sama dengan Andi. Jadi, dia banyak waktu luangnya.
Meski begitu, Andi tetap bertanya kepada para sepupunya itu. Siapa tahu para sepupunya itu memiliki rencana lain dalam sebulan ke depan bukan? Jadi, ia ingin tahu siapa saja yang bisa membantunya ini.
“Gue sibuk main. Nggak punya jadwal lain. Tapi kalo Lu perlu bantuan Gue sebulan ke depan, gue siap.” Ucap Wira.
“Gue ada kuliah sih. Tetapi nggak masalah gue bisa titip absen ke temen gue.” Imbuh Dimas.
“Aku dan Bima juga bisa titip absen. Memangnya kamu perlu apa?” Ardi pun tidak mau kalah dari kedua sepupunya.
“Kalo sebulan penuh, aku nggak bisa. Mungkin tiap akhir pekan aku bisa bantu.” Ganang yang tertua menanggapi.
Mendengar hal itu, Andi sedikit lega. Setidaknya keempat sepupunya bisa membantunya sebulan kedepan. Meskipun Ganang hanya bisa membantu selama akhir pekan itu tidak menjadi masalah buat Andi.
“Aku ingin kalian membantuku berdonasi ke panti asuhan dan panti jompo di pelosok pulau Jawa. Semua uang donasi dariku. Aku hanya ingin kalian mmebantuku menyalurkannya.”
Ini adalah rencana Andi untuk mengumpulkan uang. Membuat keluarga Jony bangkrut dan jatuh itu membutuhkan uang banyak. Meskipun melakukan jual beli saham cukup cepat untuk mendapatkan uang, tetapi itu masih kalah dengan hadiah yang ia dapatkan dari kotak misteri. Uang yang ia dapatkan dari sana lebih banyak dan lebih cepat dari pada uang yang ia hasilkan dari bursa.
“Aku sudah melakukannya Mas. Tetapi, aku masih memiliki banyak dana untuk berndonasi. Aku perlu melakukan hal ini. Lagi pula, anak yatim piatu di pelosok lebih membutuhkan bantuan daripada mereka yang hidup diperkotaan.”
“Setidaknya mereka yang di perkotaan banyak yang mengunjungi. Jadi, mereka tidak terlalu membutuhkan bantuan. Itu beda dengan yang di pelosok. Nggak banyak yang mau dateng jauh-jauh ke pelosok daerah. Jadi, lebih baik memberi donasi ke sana.”
Andi ingat bahwa sebuah panti yang pertama kali ia kunjungi dulu. Meski tidak sebanyak itu, tetapi bantuan yang berdatangan mampu membantu mereka bertahan hidup. Itu akan sangat berbeda dengan mereka yang di pelosok yang aksesnya sulit dijangkau.
“Memangnya kamu mau ngasih donasi berapa?” Tanya Ardi.
Menurut Ardi, dengan kondisi ekonomi keluarga Aripto, paling besar mereka hanya akan berdonasi beberapa ratus ribu saja. Itu akan membuang-buang waktu untuk pergi ke pelosok jika hanya untuk berdonasi beberapa ratus ribu saja.
“Aku juga belum tahu nominalnya. Mungkin dua milyar, mungkin tiga aku tidak tahu. Yang jelas aku ingin berdonasi sebanyak mungkin. Mungkin aku akan membuat target, donasi ke seratus panti untuk sekarang.”
__ADS_1
Andi tidak bisa memberikan angka pasti untuk sekarang. Semua itu tergantung besarnya saldo yang ia peroleh dari sistem. Semakin besar nilai donasinya, semakin tinggi pula kotak misteri yang Andi dapatkan. Jadi, semua itu tergantung pada saldo yang dimilikinya.
Yang jelas, untuk rencananya menghancurkan keluarga Jony, setidaknya ia memiliki uang lima puluh milyar. Itu bukanlah angka yang sedikit. Memang benar apa yangs Jony katakan, bahwa sangat tidak mungkin orang sepertinya menghancurkan keluarganya.
Tetapi Andi sekarang bukanlah orang biasa. Dengan dibantu oleh sistem, Andi bisa melakukan semua itu. Ia memberikan deadline untuk rencananya ini satu bulan. Ini karena masih banyak hal yang perlu Andi urusi. Jadi, Andi perlu menyelesaikan rencana ini dengan cepat. Untung saja ada para sepupunya yang membantu.
“Seratus panti? Apa itu tidak kebanyakan? Lalu, dari mana Lu dapet uang sebanyak itu?” Tanya Dimas.
Andi menggeleng pelan. “Itu tidak terlalu banyak. Di setiap kota setidaknya ada tiga hingga lima panti asuhan. Jika aku ingin membantu seluruh panti yang ada di pulau jawa saja, seratus panti masih lebih dari kurang. Setidaknya itu targetku untuk saat ini.”
“Dan untuk uang untuk berdonasi, kalian tidak perlu bingung. Aku sudah memilikinya. Dalam satu tahun kebelakang, aku sudah belajar berinvestasi. Hasil dari sana cukup besar sehingga aku mau melakukan ini.”
“Tetapi, sebesar apapun yang kamu hasilkan, tidak mungkin bukan kamu bisa mendonasikan uang hingga tiga milyar?”
Menurut Ganang itu hal yang tidak mungkin terjadi. Tidak semua orang kaya dengan mudahnya menyumbangkan uang sebanyak itu. Apalagi dalam satu waktu. Lagi pula, jika Andi ingin mendonasikan uang sebanyak itu, ia perlu memiliki uang lebih dari lima milyar bukan?
Dari mana ia mendapatkan uang sebanyak itu? Meski berinvestasi di bursa bisa memberikan uang besar, tetapi, tidak mungkin Andi mendapatkan sebanyak itu dalam setahun. Memang itu mungkin saja terjadi jika Andi berinvestasi milyaran rupiah di bursa. Lagi-lagi Ganang kembali ke pertanyaan, dari mana semua uang itu berasal?
“Ini ada orang lain juga yang berdonasi. Namanya Mr. S. Sebagian besar adalah uang darinya. Dia mengatakan bahwa dia akan membantuku membereskan masalah ini jika aku membantunya berdonasi kepada mereka yang membutuhkan.”
Tentu saja para sepupunya yang berpendidikan tinggi ini akan tidak mudah mempercayai semua ucapannya. Uang milyaran rupiah itu cukup besar. Apalagi untuk sekelas keluarga Andi. Jadi, ia perlu memakai orang lain sebagai alasan.
Bukankah Sistem pernah mengirimkan Mr. S menemuinya? Sekalian saja identitas Mr. S ia pakai sebagai alasan. Toh Mr. S dan Sistem berada di pihak yang sama, dan kesemua uangnya ini dari mereka. Jadi, tidak salah bukan jika dirinya memakai Mr. S sebagai kambing hitam? Lagi pula, Brian sudah pernah bertemu dengan Mr. S. Jadi, akan ada yang membantu mendukung ucapannya ini.
“Apakah itu uang hasil money laundering?” tanya Ganang.
“Tidak. Tentu tidak ada hubungannya dengan hal itu. Ini uang putih. Aku bersumpah dengan nyawa dan jiwaku bahwa ini bukan uang kotor.” Ucap Andi sembari mengangkat jadi telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.
“Baiklah kalau begitu, kami akan membantumu. Seratus panti bukan? Katakanlah satu kota memiliki tiga buah panti asuhan, berarti kita perlu mendatangi tiga puluhan kota untuk mencapai target itu. Sekarang kita perlu membagi wilayahnya supaya ini bisa terlaksana dengan cepat.” Ucap Ganang memberi perintah.
Sebagai sepupu tertua, Ganang kemudian mengambil alih jabatan pimpinan rapat di rumah pohon itu. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya dan membuka peta pulau Jawa. Setidaknya akan ada empat tim untuk melakukan donasi.
__ADS_1
Ardi, Bima, Dimas dan Wira akan bergerak sendiri-sendiri. Sementara itu, Andi dan Ganang akan menjakau ke beberapa kota di sekitar mereka. Jadi bisa dibilang ada enam tim hanya saja dua tim yang lainnya bergerak pasif. Dengan begini, Andi tidak perlu membutuhkan waktu satu bulan untuk mencapai targetnya.
“Baiklah itu adalah pembagian kotanya.” Ucap Ganang setelah pembagiannya berakhir.