
“Oh, oh, oh. Lihat ini siapa yang mencoba pergi.”
Karina masuk ke dalam ruangan tersebut dengan melipat tangan di depan dadanya. Tidak hanya itu, sebuah seringai lebar menghiasi bibir Karina. Nampaknya perempuan itu cukup senang setelah melihat keadaan Rosalinda sekarang.
Terlihat lemah dan tidak berdaya. Bahkan untuk berdiri saja Rosalinda perlu berpegangan pada tembok. Ini jauh dari Rosalinda yang selama ini terlihat energik. Karina lebih suka Rosalinda yang sekarang. Dengan begini, Karina bisa bebas melakukan apapun kepada Rosalinda.
“Karina. Aku menduga ini semua pasti ulahmu. Aku tidak menyangka Mentari juga kamu ajak bekerja sama untuk menjebakku.”
“Mentari tidak ada hubungannya dengan semua ini.”
Jawaban dari Karina membuat Rosalinda sedikit mengerutkan keningnya. Jika Mentari sama sekali tidak terlibat dalam hal ini, lalu kenapa Mentari menghubunginya untuk bertemu? Lalu, di meja terdapat tas milik Mentari. Semua itu memberikan bukti keterlibatan Mentari bukan?
Seakan mengetahui semua pertanyaan yang berputar di kepala Rosalinda, Karina langsung memberikan sebuah penjelasan.
“Itu karena sebelum ini aku mengambil ponsel dan tas milik Mentari. Jika tidak, bagaimana mungkin aku bisa menarikmu keluar dari kosanmu. Kamu bodoh sekali Rosalinda, kamu dengan percaya diri meminum minuman yang sudah ada tanpa menaruh kecurigaan.”
Ada sedikit kelegaan di hati Rosalinda ketika mengetahui bahwa Mentari sama sekali tidak terlibat dalam hal ini. Bisa dibilang, Mentari adalah teman pertamanya yang ia dapatkan di masa kuliah. Jadi, jika Mentari benar-benar ikutan menjebaknya, maka Rosalinda akan benar-benar terpukul dengan hal tersebut.
“Kerakusanmu pada makanan membuatmu jatuh seperti ini.”
Rosalinda juga menyadari hal ini. Kerakusannya membawa kehancuran baginya. Seharusnya ia tidak semudah itu meminum minuman yang dirinya tidak tahu apakah sudah di campuri sesuatu atau tidak. Meskipun itu dengan teman sekali pun.
Bukankah beberapa tahun lalu ada kasus yang mirip seperti ini. Gara-gara segelas minuman yang dipesan oleh temannya, nyawanya melayang. Nasib Rosalinda sekarang tidak jauh berbeda dari hal tersebut. Bedanya minumannya tidak diberi racun oleh temannya, tetapi sebuah obat tidur.
Sekarang Rosalinda mencoba pergi dari ruangan ini. Tetapi, saat ini Karina berdiri tepat di depan pintu. Sangat sulit baginya untuk melewati Karina dengan keadaannya yang lemah seperti sekarang ini.
“Biarkan aku pergi Karina. Jika Kamu membiarkan aku pergi dari sini, maka aku tidak akan mempermasalahkan semua ini nantinya.”
“Heh.” Karina mendengus mendengar ucapan Rosalinda. “Membiarkanmu pergi? Tentu saja itu tidak akan terjadi. Aku sudah berhasil menjebakmu seperti ini. Jadi aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja. Jika Kamu pergi, maka akan sulit bagiku untuk kembali menjebakmu.”
__ADS_1
“Setelah ini, Hermawan akan menjemputmu. Malam ini kamu akan menemani Hermawan sampai besok pagi. Jadi, bekerja samalah. Jika kamu menurut, kamu tidak akan merasakan sakit. Jangan melawan nanti.”
Mendengar ucapan Karina, ketakutan yang cukup besar menerpa Rosalinda. Karina benar-benar akan memberikannya kepada Hermawan. Ia tidak mau itu terjadi. Rosalinda perlu membujuk Karina agar perempuan itu mau membiarkannya pergi.
“Kenapa Kamu melakukan semua ini? Bukankah aku selama ini tidak melakukan sesuatu yang buruk padamu. Tapi sekarang kenapa kamu mau menyerahkanku begitu saja kepada Hermawan?”
“Heh.” Karina mendengus. Ia kemudian bergerak mendekat ke arah Rosalinda. Setelah dekat, dengan sebelah tangannya Karina mencengkram kedua pipi Rosalinda. “Tidak melakukan sesuatu yang buruk katamu?”
“Jadi, membicarakan kepada semua orang bahwa, aku ini cewek gampangan yang bisa dengan mudah diajak tidur asalkan ada bayaran, itu kamu anggap apa? Apa itu bukan sesuatu hal yang buruk katamu? Jangan bercanda.”
Rosalinda sedikit kaget mendengar perkataan Karina. Ia tidak pernah melakukan sesuatu yang Karina tuduhkan padanya.
“Aku sama sekali nggak melakukannya. Kamu salah sangka.” Ucap Rosalinda sembari menahan kelopak matanya yang akan tertutup. Saat ini dirinya tidak boleh kehilangan kesadaran. Ia harus bertahan sedikit lama lagi.
“Salah sangka? Tetapi kenapa semua orang bisa mengetahui hal itu? Apa sekarang kamu mau bilang bahwa bukan kamu yang menyebarkan berita tersebut?”
“Jadi kamu mau bilang pelakunya adalah Mentari atau Caroline? Heh. Kamu pikir aku tidak menyelidikinya sebelum ini? Beberapa orang yang aku tanya mengatakan mereka mengetahui hal ini darimu. Jadi mau bilang apa lagi kamu?”
Sepertinya Karina sudah kekeuh untuk memberikan Rosalinda kepada Hermawan. Jika dengan bujuk rayu Karina masih tetap saja tidak mengubah rencananya, maka sekarang yang bisa ia lakukan adalah berteriak dan meminta bantuan pada orang lain.
“Tolong, tolong.” Teriak Rosalinda.
“Percuma kamu berteriak sekeras apa pun. Tidak akan ada gunanya. Kafe ini sudah sepenuhnya di sewa oleh Hermawan. Orang-orang di bawah tadi adalah orang suruhan Hermawan untuk berpura-pura menjadi pengunjung kafe.”
“Sekeras apa pun kamu berteriak, tidak aka nada yang datang menolong. Lebih baik kamu simpan suaramu itu untuk nanti berteriak ketika bersenang-senang bersama dengan Hermawan.”
Mendengar perkataan Karina, harapan Rosalinda sudah pupus. Tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang.
‘Seseorang, siapa pun itu, tolong aku dari bahaya ini.’ Gumam Rosalinda dalam hati sebelum kesadarannya menghilang.
__ADS_1
Melihat hal itu, Karina tersenyum puas. Dirinya memang sengaja tidak memberikan dosis yang kuat kepada Rosalinda. Karina masih ingin membicakan beberapa hal dengan Rosalinda. Jika ia memberikan dosis kuat, maka setelah meminum milk shake tersebut, Rosalinda sudah pasti langsung kehilangan kesadaran.
“Tenang saja Linda, aku tetap akan menjadi teman yang baik. Ketika kamu nanti bersenang-senang dengan Hermawan, aku akan menemanimu nanti. Jadi jangan takut.”
Setelah itu, Karina mendudukan Rosalinda di salah satu kursi yang ada di ruang VIP kafe tempat mereka berada. Setelah itu, Karina memanggil beberapa pegawai kafe untuk membantunya membawa Rosalinda yang tidak sadarkan diri ke dalam mobil yang sudah menunggu mereka.
Para pegawai kafe itu membawa Rosalinda melalui pintu belakang kafe. Dengan begini, tidak aka nada orang lain yang melihat mereka membawa Rosalinda yang tidak sadarkan diri masuk ke dalam mobil. Karina kemudian menyerahkan sebuah amplop berisi uang yang cukup tebal kepada para pegawai kafe.
“Itu sisa bayaran kalian. Ingat tutup mulut kalian dan jangan bicarakan hal ini kepada siapapun.” Ucap Karina.
“Tentu saja Bos. Kami akan tutup mulut. Jika ada job lagi yang kayak gini, jangan segan-segan menghubungi kami.”
Setelah itu, Karina mengendarai mobil tersebut ke pinggiran Kota Surabaya. Tujuan Karina adalah salah satu rumah milik Hermawan yang akan mereka gunakan sebagai tempat menikmati tubuh Rosalinda. Rumah tersebut cukup jauh dari tembok tetangga. Selain itu, ada peredam suara di rumah itu.
Jadi, jika nanti Rosalinda berteriak sekeras apa pun, tidak akan ada yang mendengar dan mendatangi mereka. Di antara semua hunian milik Hermawan, rumah tersebutlah yang paling cocok untuk dijadikan sebagai tempat melakukan kejahatan ini.
Sesampainya di sana, Karina langsung membawa masuk mobil yang dikendarainya ke garasi. Seorang diri ia menyeret Rosalinda dari dalam mobil menuju salah satu kamar di lantai satu. Saat ini hanya ada Karina dan Rosalinda di rumah ini.
Tidak ada Hermawan di sini. Pemuda itu masih memiliki urusan lain yang perlu ia selesaikan. Jadi, ia meminta Karina membawa Rosalinda ke tempat ini terlebih dahulu dan akan menyusul nantinya.
“Hah.” Karina menarik nafas panjang setelah berhasil menaruh tubuh Rosalinda di ranjang.
“Ternyata kamu berat juga Rosalinda. Sekarang, aku perlu mempersiapkan dirimu. Jadi, nanti ketika Hermawan datang, dia bisa langsung menikmati tubuhmu.”
Tanpa banyak bicara lagi, Karina langsung menanggalkan satu persatu kain yang membungkus tubuh Rosalinda. Mulai dari sepatunya hingga pakaian dalamnya. Semuanya tidak tersisa. Setelah itu, Karina mengikat kedua tangan dan kaki Rosalinda di ranjang.
Dengan begini, jika perempuan itu terbangun nanti, dia tidak akan bisa ke mana-mana dan tetap akan berada di ranjang. Lalu, Karina mengeluarkan sebuah pil dari dalam tasnya. Ia lalu sedikit mengangkat kepala Rosalinda dan memasukkan pil tersebut ke dalam mulut temannya itu.
Tidak lupa ia memberikan air kepada Rosalinda agar pil tersebut berhasil tertelan. Sekarang segala persiapannya sudah terlaksana. Ketika Hermawan datang, Rosalinda pasti sudah siap untuk dipakai. Sekarang lebih baik Karina membersihkan dirinya dan agar nanti bisa ikut bergabung dengan Hermawan.
__ADS_1