
Pagi-pagi sekali menjalankan mobilnya menuju kosan Sekar. Ia akan membantu wanita itu untuk pindah ke rumah barunya. Dengan begini rumah itu tidak akan lagi kosong tanpa penghuni. Tidak hanya itu, setelah Sekar dan para asisten rumah tangga lainnya tinggal di sana, maka rumah itu jauh lebih bersih daripada sebelumnya.
Andi membutuhkan waktu dua puluh menit untuk sampai di dekat kosan Sekar. Jalanan yang ramai dengan banyaknya anak yang berangkat sekolah membuat Andi tidak bisa mempercepat laju kendaraannya.
Andi tidak bisa langsung membawa mobilnya di depan kosan Sekar. Jalan di depan kosan perempuan itu tidak memungkinkan untuk dilewati sebuah mobil. Jika Andi memaksa, maka jalan tersebut akan dipenuhi dengan mobilnya. Oleh karena itu, Andi memarkirkan mobilnya di pinggir jalan kota. Ia perlu berjalan sekitar dua ratus meter masuk ke dalam gang untuk bisa sampai di kosan tempat Sekar sekarang tinggal.
Andi sudah mengirim pesan kepada wanita itu bahwa dirinya sudah sampai di depan kosannya. Ia tinggal menunggu perempuan itu keluar dari dalam kosan. Sekarang ini Andi sudah berdiri tepat di depan kosan Sekar.
“Nyari siapa Mas?” Tanya seorang wanita ketika Andi berhenti di depan kosan Sekar. Wanita itu memakai sebuah daster, ia bersandar di pagar kosan Sekar sembari bersendekap. Pandangannya menyapu Andi dari atas ke bawah. Seperti tengah menilai Andi saat ini.
“Nungguin Bu Sekar, Bu.” Jawab Andi.
“Janda dua anak itu?” Tanya wanita itu dengan nada yang cukup ketus. “Mau ngapain?”
“Mau jemput kerja Bu.” Benar bukan, bahwa Andi tengah menjeput Sekar untuk bekerja di rumahnya. Tidak ada masalah jika ia mengatakan seperti ini.
Tidak lama kemudian, Sekar keluar dari dalam kosannya. Di tangannya sudah ada tas besar berisi pakaiannya dan anak-anaknya. Rezky, bayinya, kini berada dalam gendongannya. Sementara itu Mahayu, berjalan cukup pelan di belakang ibunya.
Melihat hal itu langsung saja Andi mendekat dan mengambil tas yang kelihatannya cukup berat dari tangan Sekar. Sebagai seorang laki-laki, Andi tidak bisa membiarkan Sekar membawa barang seberat itu. lagipula saat ini dirinya tidak sedang membawa apapun bukan? Jadi tidak ada salahnya ia membawa barang milik Sekar.
“Biar tasnya aku aja yang bawa Bu Sekar.”
“Eh nggak perlu Mas Andi. Saya bisa lakuin ini sendiri. Nggak papa, entar malah ngerepotin Mas Andi.” Tolak Sekar.
“Nggak papa kok Bu Sekar. Lagian Bu Sekar sudah gendong Rezky, jadi, lebih baik tas ini aku aja yang bawa.” Ucap Andi kekeuh ingin membawa tas milik Sekar.
“Terima kasih Mas Andi.”
Melihat interaksi antara Andi dan Sekar, juga barang bawaan Sekar yang cukup banyak, membuat wanita yang tadi menyapa Andi merasa tidak senang. Ia menyipitkan matanya memandang ke arah Andi dan Sekar bergantian.
“Heh.” Wanita tadi mendengus. “Aku tidak menyangka sekarang kamu cari berondong buat biayain hidupmu dan anak-anakmu Sekar. Tanah kuburan suamimu saja belum kering sekarang kamu sudah cari penggantinya. Dasar perempuan keg*atelan.” Cemooh wanita tadi.
Mendengar perkataan wanita ini, Andi mengernyitkan dahinya. Bukankah Andi tadi sudah mengatakan bahwa dirinya menjemput Sekar bekerja? Bisa-bisanya wanita ini berucap sembarangan seperti ini. Menuduh Sekar bahwa dia adalah perempuan tidak benar hanya karena Andi menjemputnya.
“Bu, jangan biacara sembarangan. Aku kan tadi sudah bilang bahwa aku menjemput Bu Sekar untuk bekerja. Tetapi kenapa Ibu menuduh Bu Sekar seperti ini?”
__ADS_1
“Heh.” Wanita itu mendengus. “Itu kamu sendiri bilang akan menjeputnya bekerja. Kamu mau jemput di kerja jadi l*nte bukan? Memangnya wanita kayak dia bisanya apa kalo ga jadi l*nte. Aku yakin dia akan jadi wanita simpanamu.”
“Dari pakaian yang kamu pakai, kamu ini adalah anak orang berada. Jadi, mau kerja apa dia kalo yang jemput aja pakaiannya kayak gini. Kalo bukan l*nte apa lagi? Lalu, dia pake bawa pakaiannya dan keluar dari kosan pula.”
Andi sangat tidak menyukai orang seperti wanita ini. Hanya karena melihat satu fakta langsung saja menyimpulkan sesuatu yang buruk mengenai seseorang, tanpa melihat kejadian aslinya seperti apa. Tidak tahukah dia, bahwa apa yang ia tuduhkan itu bukanlah sebuah kebenaran?
“Ibu jangan memfitnah orang beitu saja. Jika Ibu menyebarkan berita bohong seperti itu, apalagi sampai merusak citra orang lain, Ibu bisa aku laporkan dengan tuduhan pencemaran nama baik loh.”
Melihat Andi yang akan memperpanjang masalah ini, Sekar segera mengehentikan Andi. “Sudah-sudah Mas Andi nggak perlu diterusin. Yang penting orang terdekatku tahu bahwa aku bukan orang yang seperti itu. Jadi nggak perlu diladenin orang yang kayak gitu.”
“Tapi Bu Sekar, dia menjelek-jelekkan Bu Sekar seperti itu.” Ucap Andi yang masih tidak terima bahwa Sekar di tuduh sebagai perempuan tidak benar seperti itu.
“Kalo mau beneran diladenin, orang yang ngomong hal buruk mengenai kita itu banyak. Kita nggak bisa buang-buang waktu kita buat hal yang nggak berguna seperti itu. Yang terpenting adalah pandangan orang di sekitar kita. Selama orang di sekitar kita percaya bahwa kita bukanlah orang yang seperti itu, kita tidak perlu meladeni mereka.” Jelas Sekar.
Sedikit banyak apa yang Sekar ucapkan ada benarnya. Kita tidak bisa terus menerus menanggapi pandangan orang tentang kita. Itu hak mereka untuk berbicara. Yang terpenting adalah pandangan orang terdekat kita. Karena bagaimana pun juga, orang terdekat kita adalah orang yang penting dalam hidup kita.
Pada akhirnya, Andi menurut saja ketika Sekar menariknya pergi dari sana. Ia masih bisa mendengar dengan samar gumaman wanita tadi yang mulai memberikan banyak tuduhan kepada Sekar.
Sedikit banyak Andi merasa bersyukur menawarkan pekerjaan untuk menjadi kepala asisten rumah tangga kepada Sekar. Dengan begini, wanita itu dan anak-anaknya tidak akan lagi tinggal di pemukiman ini.
Orang dewasa saja jika mendengar cemoohan seperti itu terus menerus bisa menimbulkan masalah psikologis. Jika seorang anak mendengarnya, itu malah akan lebih bahaya lagi. Dengan Sekar membawa anak-anaknya tinggal di rumahnya, maka mereka bisa tumbuh di lingkungan yang lebih sehat daripada lingkungan mereka sekarang.
“Apakah barang Bu Sekar cuma satu tas ini aja?” Tanya Andi heran. Setidaknya seseorang memiliki banyak barang bukan? Meskipun mereka masih tinggal di rumah kos, tetapi barang mereka tidak sesedikit ini bukan?
“Iya Mas Andi. Barang saya cuma itu kok. Kami nggak punya banyak barang. Perabotan yang kami pakai selama ini adalah fasilitas kosan. Dan itu adalah semua pakaian milik saya dan anak-anak. Memang masih ada beberapa pakaian lama milik Mahayu, tetapi saya membuangnya.”
“Pakaian itu sudah kekecilan. Dan adeknya Mahayu, itu cowok. Jelas pakaiannya nggak bisa dipake sama adeknya.” Jelas Sekar.
“Oh jadi begitu.”
Karena barang bawaan Sekar hanyalah sebuah tas berisi pakaian, mobil milik Andi masih memiliki sisa ruang yang luas. Pemuda itu sebelumnya mengira bahwa ia akan beberapa kali ke kosan Sekar untuk memindahkan barang-barangnya. Tetapi mereka ternyata hanya memerlukan satu kali jalan untuk membawa barang milik Sekar.
Dengan ruang yang masih cukup luas di mobilnya, tidak berniat untuk langsung kembali ke rumah barunya. Ia belum membeli peralatan bersih-bersih dan peralatan dapur untuk rumah barunya. Mumpung sekarang ada Sekar yang menemaninya, ia bisa melakukannya sekarang.
Mungkin dirinya juga akan membelikan beberapa baju untuk anak-anak Sekar. Perlukah dia membuatkan baju juga untuk seragam para asisten rumah tangganya? Jika memang ia akan membuatkan seragam kerja untuk mereka, itu perlu menunggu hingga semua pekerjanya hadir semua bukan? Jika tidak, ukuran tubuh siapa yang akan dipakai untuk membuat seragam?
__ADS_1
*****
Saat berbelanja, Andi dan Sekar berpisah. Dengan begini, mereka akan lebih cepat selesai. Andi sekarang mendorong troli belanja dengan ditemani oleh Mahayu. Anak perempuan itu bersikeras ingin memilih barang bersama dengan Andi.
Ketika dirinya berada di lorong makanan ringan, sebuah pemberitahuan dari sistem masuk ke Andi.
[Ding]
[Selamat Host telah menjalankan salah satu misi tersebunyi dari sistem]
[Hadiah telah dikirim ke penyimpanan milik Host]
Sepertinya salah satu sepupunya mulai berkeliling untuk melakukan donasi. Entah siapa dari keempat sepupunya yang pagi-pagi sudah pergi ke panti asuhan itu. Sekarang Andi ingin mengecek hadiah apa yang ia dapatkan dari donasi tiga ratus lima puluh juta ini. Apakah masih kotak misteri perak seperti sebelumnya, ataukah sudah naik ke kotak misteri emas.
[Ding]
[Selamat Host telah membuka kotak misteri tingkat emas]
[Ding]
[Selamat Host telah mendapatkan uang tunai sebesar empat milyar lima ratus juta rupiah]
[Host kumpulkan semua kotak misteri dan ungkap misteri dibaliknya]
Ternyata tiga ratus lima puluh juta sudah bisa memberikan Andi kotak misteri tingkat emas. Tetapi berapa itu hadiah yang ada di sana. Empat koma lima milyar? Apakah Andi tidak salah melihat? Sebanyak itu?
Andi sekali lagi menghitung jumlah angka nol di belakang angka empat dan lima. Satu, dua, tiga, …, delapan. Itu benar ada delapan angka nol di belakang angka empat dan lima. Ini berarti kotak misteri itu benar-benar berisi uang empat koma lima milyar.
Hadiah dari kotak misteri tingkat emas bukan lagi yang bernilai ratusan juta. Ini sudah berubah menjadi milyaran. Jika seperti ini, berarti Andi tidak perlu menunggu satu bulan untuk mencapai tujuannya. Mungkin ia tidak perlu mendatangi seratus panti untuk mencapai target itu. Tiga puluh atau lima puluh panti asuhan saja sudah bisa membantunya mencapai target.
Bukannya Andi tidak mau melanjutkan mencapai targetnya yaitu seratus panti. Tetapi, yang saat ini membantunya berkeliling berdonasi adalah para sepupunya. Beberapa dari mereka saat ini tengah bolos kuliah. Sudah jelas Andi tidak bisa merepotkan mereka terlalu lama bukan? Mereka juga memiliki kehidupan mereka sendiri.
Andi kembali mengirim uang tiga ratus lima puluh juta kepada sepupunya. Bisa saja Andi mengirim lebih, tetapi pemuda itu tidak melakukannya. Uang tiga ratus lima puluh juta sudah cukup besar untuk sebuah panti asuhan.
Jika Andi memberikan lebih, bisa jadi uang itu tidak dipergunakan untuk keperluan anak-anak panti. Itu bisa saja masuk ke kantong orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Lagi pula para sepupunya belum melaporkan bahwa mereka memerlukan uang lebih untuk membangun gedung panti.
__ADS_1
Jika mereka butuh, pasti Andi akan memberikan lebih. Untuk sekarang, tiga ratus lima puluh juta cukup untuk para panti asuhan itu.