
“Misi tersembunyi? Misi apa yang seperti apa yang sudah aku selesaikan? Aku rasa aku tidak melakukan apapun kemarin dan pagi ini, kenapa aku menyelesaikan misi tersembunyi ini?”
Andi mulai berfikir keras mengenai hal ini. Sepertinya misi tersembunyi ini adalah misi utama yang harus Andi selesaikan sebagai alasan dirinya terpilih mendapatkan sistem ini. Sepertinya sistem ingin dirinya mencari tahu sendiri apa misi tersembunyi itu. Tetapi apa itu?
Andi terdiam lama melamunkan hal ini. Ia memikirkan kembali apa saja yang sudah ia lakukan sehigga memicu terselesaikannya misi tersembunyi dari sistem. Menurut Andi, ia tidak melakukan hal yang luar biasa beberapa hari terakhir ini.
Dua hari yang lalu, dirinya ada masalah dengan orang tuanya dan diusir. Lalu kemarin, dirinya menghabiskan waktunya untuk mencoba investasi saham, malamnya dia pergi dengan Brian ke tempat hiburan malam. Pagi ini dirinya hanya menerima telfon dari Rosalinda. Semua itu sudah jelas tidak menjadi alasan terpicunya misi tersembunyi dari sistem.
“Arrrggh….” Andi berteriak singkat dan mengacak-acak rambutnya. Ia frustrasi karena tidak menemukan titik terang dari misi tersembunyi sistem setelah sekian lama memikirkan hal itu.
“Lebih baik sekarang aku melihat hadiah apa yang diberikan oleh sistem kepadaku setelah aku menyelesaikan misi tersembunyi itu. Memikirkan apa misinya tanpa menemukan titik terang, lama-lama malah akan membuatku frustrasi.” Gumam Andi dalam hati.
“Hemm…. Aku mendapatkan kotak misteri perunggu dari misi tersembunyi. Seingatku, aku mendapatkan uang tiga ratus juta dari kotak misteri tingkat perunggu, yang aku dapatkan dari menyelesaikan target bulanan. Lalu, berapakah yang aku dapatkan dari kotak misteri ini?”
Tanpa menunggu lama lagi, Andi membuka kotak misterinya itu. Ia ingin melihat apa hadiah yang didapat. Jika itu adalah uang tunai, maka ini akan sangat membantunya memenuhi target bulanan dari sistem yaitu mencapai saldo satu milyar dalam bulan ini.
[Ding]
[Selamat Host telah membuka kotak misteri tingkat perunggu]
[Ding]
[Selamat Host telah mendapatkan uang tunai sebesar empat ratus lima puluh juta rupiah]
[Host kumpulkan semua kotak misteri dan ungkap misteri dibaliknya]
“Wow. Empat ratus lima puluh juta. Sebelumnya aku menghitung-hitung bahwa akan sulit bagiku memenuhi target dari sistem. Tetapi aku tidak menyangka mendapatkan uang sebanyak ini di awal bulan. Dengan uang ini aku hanya perlu mengumpulkan uang kurang dari lima ratus juta lagi untuk memenuhi target dari sistem.”
“Panel status.”
[Ding]
[Modul Menjadi Kaya]
[Level 6 (399555200/500000000)]
[Saldo Host : Rp 543.612.300,-]
[Tingkat Konversi : 1 kali nafas \= 16 rupiah]
[Misi : - Selesaikan pendaftaran perusahaan milik host ]
[Target Bulanan : Capai saldo Rp 1.000.000.000,- (193482300/1000000000)]
[Penyimpanan : - Kekuatan +5, Stamina +5]
[Kemampuan : - Lidah Manis : Selamanya
__ADS_1
Pengalaman Pembalap : Tingkat 1
Pengalaman Juru Masak : Tingkat 1
Pengalaman Direktur Utama : Tingkat 1
Pengalaman Pialang Saham : Tingkat 1]
[Selamat berjuang menghabiskan uang Host]
Ketika Andi sibuk memikirkan pembagian uangnya agar bisa memenuhi target, bel apartemennya berbunyi. Hal tersebut membuat Andi menghentikan aktifitas berpikirnya dan mengecek siapa yang berkunjung ke apartemennya ini. Di layar intercom apartemennya, Andi bisa melihat keberadaan Rosalinda di sana.
Andi melupakan hal ini, Rosalinda akan berkunjung ke apartemennya. Tetapi, perempuan itu bilang dia membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai ke sini.
“Loh, Mbak Ros kok cepet banget nyampenya? Katanya setengah jam lagi baru nyampe sini.” Sapa Andi kepada Rosalinda dari intercom.
“Cepet-cepet, mau nyindir ya? Iya aku emang telat lima belas menit tapi nggak perlu nyindir gitu juga.” Ucap Rosalinda.
Mendengar hal itu, Andi menengok ke arah jam yang ada di ruang tamu. Benar saja Rosalinda memang telat 15 menit. Andi tidak menyangka bahwa selama dia memikirkan misi tersembunyi sistem, dirinya menghabiskan waktu lebih dari setengah jam.
“Cepet kasih aku akses masuk.” Gumam Rosalinda kepada Andi.
Pemuda itu kemudian melihat ke arah badannya. Dia belum mandi, bahkan ia sama sekali belum menginjakkan kakinya di lantai kamar mandi. Sekarang Rosalinda sudah datang ke apartemennya. Sudah pasti perempuan itu akan menggerutu melihat Andi belum juga membersihkan diri.
Tiba-tiba saja Andi mendengar bel apartemennya kembali berbunyi. “Eh Mbak Ros cepet amat naiknya.” Andi kemudian buru-buru membuka pintu apartemennya. “Mbak Ros kok cepet banget naiknya, liftnya lagi kosong ya tadi?” ucap Andi ketika membuka pintu.
“Mbak Ros?” Tanya Brian bingung. Rupanya yang membunyikan bel bukanlah Rosalinda melainkan Brian. “Mbak Ros itu siapa Bro? Pacarmu? Aku nggak nyangka setelah kita ngomong-ngomong kayak gitu kemaren kamu udah dapet pacar. Cepet pula dapet pacarnya. Kenapa nggak cerita kalo udah punya pacar?” Tanya Brian menerobos masuk ke apartemen Andi.
“Siapa juga yang udah punya pacar. Jangan ngomong sembarangan ah. Dia cuma kenalanku aja. Lagian kenapa kamu ke sini? Bukannya kamu kemaren mabuk gitu, kepalamu nggak pusing? Kenapa nggak tidur aja di apartemenmu.”
“Ck. Ck. Ck.” Brian berdecak lidah. “Mentang-mentang sekarang udah punya kenalan cewek temannya jadi disisihkan.”
“Hah.” Andi menghembuskan nafas panjang. “Jadi, kamu mau apa?”
“Aku mencari sarapan. Di apartemenku tidak ada makanan.” Brian tersenyum lebar hingga terlihat barisan giginya. “Dan kamu tidak lupa bukan bahwa kita sudah janjian mencari toko untuk tempat usaha kita? Jadi aku ke sini menjemputmu.”
Andi juga hampir melupakan hal itu. Mereka kemarin sudah janjian untuk hal ini. Rosalinda lah yang datang tiba-tiba dan menentukan dia hari ini ingin membuat video bersama Andi.
“Tentu aku tidak melupakan hal itu. Jika kamu memang ingin mencari makanan, lihat saja ada makanan apa yang ada di dapur. Aku akan mandi dulu, nanti tolong sekalian bukakan pintu apartemenku ketika ada yang menekan bel.”
Setelah berucap demikian Andi memasuki kamarnya. Setidaknya ada Brian yang akan membukakan pintu untuk Rosalinda, jadi lebih baik dirinya membersihkan diri sekarang.
…
__ADS_1
Ketika Brian menuangkan sereal ke mangkuk, bel apartemen Andi berbunyi. Pemuda itu buru-buru menaruh kotak sereal yang akan ia makan ke meja. Dengan setengah berlari, Brian pergi menuju ke arah pintu apartemen Andi.
Ketika Brian membuka pintu, di sana ia melihat seorang perempuan yang menurutnya memiliki nilai kecantikan 7,8 dari 10 menurutnya. Tidak terlalu cantik tetapi tidak buruk juga. Brian melihat perempuan itu tengah mengerutkan keningnya mendapati Brian yang berada di balik pintu. Perempuan itu kemudian mengecek kembali nomor yang tertempel di pintu.
“Apa ini apartemen Andi?”
“Ah ya. Ini adalah milikku. Andi itu temanku. Dia tengah mandi di dalam saat ini.”
“Ah, jadi kamu teman Andi yang mengijinkannya tinggal di sini.”
“Ya itu aku. Ayo silahkan masuk Mbak.” Ucap Brian sembari memundurkan badannya memberikan Rosalinda jalan untuk masuk. Setelah Rosalinda masuk, Brian segera menutup pintunya. “Andi sedang mandi Mbak. Tunggu saja, bentar lagi pasti selesai dia. Mau minum apa Mbak? Di sini cuma ada air putih sama susu aja.” Ucap Brian sembari membuka kulkas milik Andi.
Di sana ada beberapa kotak susu dan beberapa botol air mineral. Brian mengambil dua buah susu kotak juga dua botol air mineral. Ia kemudian menyodorkan itu kepada Rosalinda yang sekarang duduk salah satu kursi di meja makan.
“Mau makan juga Mbak?” Tanya Brian yang melihat Rosalinda memperhatikan sereal miliknya yang tadi ia tinggalkan. Tanpa menunggu respon dari Rosalinda, Brian kemudian mengambil mangkuk dan sendok baru. Ia kemudian menyodorkan alat makan tersebut kepada Rosalinda.
“Makan aja Mbak. Aku juga belom makan nggak perlu sungkan-sungkan.” Ucap Brian sembari memberikan kotak sereal kepada Rosalinda.
“Terimakasih. Namaku Rosalinda, kamu bisa memanggilku Rosa atau Linda.” Ucap Rosalinda sembari mengulurkan tangannya kepada Brian.
“Brian, temen sekolah Andi.”
Setelah berkenalan singkat, mereka berdua sibuk dengan sereal di mangkuk masing-masing. Hal ini lah yang dilihat Andi ketika dirinya keluar dari kamarnya. Ia melihat kedua orang tersebut tengah asik menikmati sereal di mangkuk masing-masing.
“Ck. Ck. Ck.” Andi berdecak lidah. Tuan rumah saja belum makan kalian berdua sudah makan seperti ini.”
“Lah, bukannya apartemen ini punya Brian? Dia Tuan rumahnya, dia yang sudah mempersilahkanku makan jadi tidak masalah bukan. Kenapa pula kamu mengaku ini apartemenmu?”
Andi hampir melupakan hal itu. Dirinya mengaku bahwa apartemen ini adalah milik temannya. Sepertinya tadi Brian sudah mengakui kepada Rosalinda bahwa ini memang apartemennya. Ya mau bagaimana lagi, jika seperti ini Andi tidak bisa menyanggah ucapan Rosalinda.
“Ah sudahlah. Lebih baik aku membuat sarapanku sendiri.” Andi sudah yakin jika ada Rosalinda di sini, sereal itu sudah habis. Tidak akan ada sereal yang tersisa untuknya. Daripada meributkan hal itu, lebih baik dirinya membuat makanan yang lain. Dirinya masih memiliki beberapa butir telur. Mungkin Andi bisa kembali membuat scramble egg untuk sarapan.
Ketika Andi sibuk mengaduk-aduk telurnya, ia bisa merasakan seseorang mendekatinya. Andi mengangkat kepalanya dan melihat Rosalinda yang kini berdiri di belakangnya.
“Sekarang kamu buat apa?” tanya perempuan itu.
“Scramble egg.” Andi kemudian melihat ke arah meja makan. Sepertinya sereal yang mereka makan sudah ludes tidak bersisa. “Masih lapar? Tetapi aku sudah tidak punya telur lagi belum belanja. Nanti akan aku masakkan makanan yang lebih banyak untuk makan siang. Ini adalah sarapanku.”
Andi memberikan tatapan memohon kepada Rosalinda ketika mengatakan hal itu. Pemuda berharap Rosalinda tidak meminta scramble egg yang sedang ia masak. Jika demikian, sudah pasti Andi akan merelakan makanan ini kepada Rosalinda.
“Ck.” Rosalinda berdecak lidah. “Tenang saja aku tidak akan meminta sarapanmu itu. Tetapi aku akan menagih janjimu untuk memasakkanku makanan yang banyak. Cepat makan sarapanmu setelah ini kita perlu pergi ke supermarket untuk belanja.”
“Kalian akan pergi ke supermarket? Bukankah kita akan mencari toko Andi?” tanya Brian yang sekarang membawa mangkuk kotornya ke wastafel.
Andi memandang keduanya bingung. Apa yang harus dia lakukan sekarang ini. Di satu sisi dirinya sudah berjanji dengan Brian sejak kemarin, di sisi lain ada Rosalinda yang tiba-tiba datang dan ingin mengajaknya membuat video.
“Uhmm…. Sepertinya kita perlu membicarakan hal ini terlebih dahulu.”
__ADS_1