
Jangan lupa Vote, Like, Komen dan tambahkan favorit
selamat membaca
Jam menunjukkan pukul delapan pagi ketika Burhan bersiap menuju rumah Kakeknya. Sebenarnya semalam dirinya sudah sampai di kota di mana Kakeknya tinggal. Tetapi karena kemarin cukup larut, dirinya tidak bisa mendatangi rumah kakeknya.
Sudah pasti kakeknya tidur pada jam tersebut. Maka dari itu, Burhan lebih memilih mendatangi rumah kakeknya pagi ini. Dirinya tidak terlalu terburu-buru mengetahui hubungan antara sistem dengan keluarga Prayudi.
Toh selama delapan belas tahun ini, Burhan sudah banyak mencari informasi mengenai sistem. Jadi, menunggu sehari lagi tidak akan masalah untuk Burhan.
Ketika motor yang Burhan naiki memasuki halaman rumah Kakeknya, ia disuguhi pemandangan ayah, paman dan kakak tertuanya sedang berjemur di halaman rumah. Ketiga laki-laki itu tengah duduk bersandar di sebuah kursi kayu dengan kaki mereka diluruskan.
Melihat kedatangan Burhan, ketiga laki-laki itu menghentikan obrolan mereka. Bagus, kakak tertua Burhan, langsung bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Burhan yang baru saja mematikan mesin motornya.
“Mau apa kamu ke sini? Kehadiranmu sudah tidak lagi di terima di rumah ini. Setelah membuat Ayah masuk rumah sakit, kamu masih berani ya datang ke mari?” Hardik Bagus kepada Burhan.
Mendengar ucapan kakaknya, Burhan mengerutkan keningnya. “Ayah masuk rumah sakit? Kapan ayah masuk rumah sakit? Kenapa tidak ada yang memberitahuku?”
Burhan baru mendengar mengenai hal ini. Waktu itu di pertemuan tahunan keluarga Prayudi, Burhan langsung pergi setelah kakeknya mengusirnya. Jadi, Burhan sama sekali tidak mengetahui bahwa Harmuji masuk rumah sakit.
Tidak ada seorang pun dari keluarganya yang memberitahukan Burhan mengenai hal itu. Dirinya sudah dikeluarkan dari group chat keluarganya. Hal itu membuat Burhan tidak bisa mengetahui apa yang terjadi pada keluarganya.
“Memberitahumu? Untuk apa? Ayah masuk rumah sakit juga karena ulahmu. Sekarang Kamu meminta kami memberitahumu? Apakah Kamu mau membanggakan hal itu karena sudah bisa membuat Ayah masuk rumah sakit? Sekarang pergi dari sini. Kamu tidak diterima di sini.”
“Aku tidak akan pergi, aku perlu menemui Kakek. Jadi aku tidak akan pergi sebelum bertemu dengan kakek.”
“Jika Kamu tidak mau pergi, maka aku akan memaksamu pergi dari sini.”
Tanpa banyak basa basi lagi, Bagus langsung melayangkan pukulannya kepada Burhan. Meski serangan Bagus itu cukup mendadak, tetapi Burhan berhasil menghindari serangan tersebut.
“Kamu tidak akan bisa menang melawanku Kak.” Ucap Burhan.
Tiga bulan memiliki sistem membuat kekuatan Burhan naik derastis. Apalagi selama memimpin Gang Macan Putih, Burhan tidak bersantai. Ia tetapi memoles kekuatannya dengan terus berlatih dan bertarung dengan anak buahnya.
Dalam menghadapai Bagus, Burhan hanya memakai sepuluh persen kekuatannya. Namun kekuatan sebsar itu bisa mengeimbangi kekuatan penuh yang dikeluarkan oleh Bagus. Bahkan Burhan terlihat lebih unggul dari pada kakaknya.
__ADS_1
Burhan tidak terburu-buru untuk menyelesaikan perkelahian ini. Ia ingin mengetahui seberapa besar kekuatan yang dimiliki kakaknya. Apakah kekuatan kakanya bertambah, atau berkurang karena umur? Burhan ingin mengetahui hal itu.
Namun, setelah lima menit berkelahi, Burhan bisa menarik kesimpulan bahwa kekuatan kakaknya tidak banyak berubah sejak terakhir kali mereka berkelahi. Mungkin karena Bagus sudah tidak lagi memoles kemampuan bela diri miliknya.
Di antara generasi mereka di keluarga Prayudi, memang Bagus bukanlah yang terkuat. Seingat Burhan, di antara kakak-kakaknya dan para sepupunya, Aripto lah yang terkuat. Namun Burhan masih yakin bahwa sepupunya itu, tidak akan bisa mengalahkannya.
Mungkin Burhan hanya perlu menggunakan tiga puluh hingga empat puluh persen kekuatannya untuk bisa mengalahkan Aripto. Tetapi Burhan tidak tahu perbandingan kekuatannya dengan anak laki-laki Aripto, Andi.
Jika memang Andi memiliki sebuah sistem, pasti anak laki-laki itu sudah memperkuat tubuhnya. Burhan sendiri belum tahu berapa lama Andi memiliki sistem, dan seberapa besar perubahan kekuatan Andi sekarang.
Tetapi Burhan yakin dirinya masih lebih unggul daripada keponakannya tersebut. Meski mungkin kekuatannya lebih lemah daripada Andi, tetapi Burhan memiliki pengalaman bertarung lebih banyak daripada Andi. Delapan belas tahun menjadi preman memberikan banyak pengalaman bertarung untuk Burhan.
Sekarang, Burhan perlu menyelesaikan pertarungan ini. Dirinya tidak mau membuang waktunya lagi. Ia perlu mengkonfirmasi kecurigaannya mengenai sistem kepada kakeknya.
Langsung saja Burhan melayangkan tinjuan yang mengenai ulu hati Bagus. Ia mengontrol kekuatannya agar tidak terlalu berlebihan. Burhan tidak mau pukulannya ini membunuh kakak tertuanya. Meski pun Bagus tidak menyukainya karena dia seorang preman, Bagus tetaplah kakaknya yang dulu pernah menyayanginya.
Jadi, Burhan hanya memberikan pukulan yang membuat kakanya itu terlempar cukup jauh. Setelah menerima pukulan dari Burhan yang cukup keras, Bagus memuntahkan darah dari mulutnya. Rupanya pukulan keras dari Burhan itu berhasil membuat organ dalamnya terluka.
Melihat Bagus yang seperti itu, Harmuji dan Haryanto yang melihat kejadian itu bergegas menghampirinya. Keduanya kemudian mengecek keadaan dari Bagus. Mereka ingin memastikan bahwa Bagus baik-baik saja dan nyawanya tidak dalam bahaya setelah menerima pukulan dari Burhan.
“Dia yang memulainya duluan. Aku hanya membela diri. Jika dia tidak menyerangku maka dia tidak akan terluka seperti sekarang. Kamu akan terbakar jika main api. Seharusnya dia tahu dia akan terluka jika melawanku. Kekuatannya sangat jauh di bawahku.”
“Kau, Kau….” Ucap Harmuji sembari mengarahkan jari telunjuknya kepada Burhan.
Tetapi Burhan sama sekali tidak memberikan reaksi diperlakukan seperti itu oleh Harmuji. Ia malah melewati ketiga orang itu begitu saja, tanpa mempedulikan mereka. Karena Harmuji dan Haryanto sibuk mengurusi Bagus, Burhan memanfaatkan hal ini untuk menemui kakeknya.
“Tenang saja, dia tidak akan mati. Aku sudah mengontrol kekuatanku agar tidak membunuhnya.”
…
Burhan mencari keberadaan Kakeknya di kebun belakang. Seingat Burhan, di pagi hari kakeknya itu suka menghabiskan waktunya di kebun belakang. Jadi, Burhan langsung menuju ke sana setelah tidak ada lagi yang menghalanginya.
Benar saja di kebun belakang, Burhan melihat kakeknya sedang menanam beberapa bibit sayuran. Bersama dengan kakeknya di kebun belakang adalah Bibinya. Kehadiran Burhan membuat keduanya menghentikan apa yang mereka lakukan.
Adipramana mengerutkan keningnya setelah tahu siapa yang datang. Itu adalah Burhan, cucunya yang sudah ia usir belum lama ini. Cucunya yang memberikannya kekhawatiran besar bagi dirinya. Untuk apa dia kemari?
__ADS_1
“Kakek, aku ingin berbicara dengan Kakek.” Ucap Burhan.
Mendengar hal itu, Adipramana langsung saja menghentikan aktifitasnya. Ia lalu menghampiri Burhan yang saat ini menatap segala gerak gerik yang dilakukannya.
“Apa yang mau kamu bicarakan? Bukankah sudah aku bilang bahwa kamu tidak lagi di terima di keluarga ini. Jadi, kenapa kamu datang kemari?” Ucap Adipramana.
“Katakan padaku Kek, apakah keluarga kita memiliki hubungan dengan sistem?” Tanya Burhan tanpa basa basi lagi.
Adipramana mengerutkan keningnya mendengarkan perkataan Burhan. “Sistem? Apa maksudmu itu?”
Adipramana terlihat bingung. Ia tidak paham dengan maksud perkataan Burhan. Memang Adipramana tidak terlalu mengikuti perkembangan kaum muda. Jadi, dirinya tidak memahami sistem yang dimaksud oleh Burhan.
“Jangan mengelak lagi. Aku tahu sistem itu ada hubungannya dengan keluarga kita bukan? Jika tidak, bagaimana mungkin kalung milikku ini berubah warna setelah sistem yang dulu aku punya hilang dariku?”
Burhan lalu memperlihatkan kalung miliknya yang liontinnya kini sudah sepenuhnya berubah menjadi silver itu. Jika kemarin masih ada beberapa bagian yang memiliki warna emas, pagi ini Burhan mendapati bahwa liontin dari kalung miliknya itu berubah sepenuhnya menjadi silver.
Adipramana cukup kaget melihat kalung yang ada di tangan Burhan. Meski ia sudah menduga bahwa kalung milik Burhan kembali berubah warna menjadi silver, tetapi ia belum memastikan itu. Ternyata kalung tersebut benar-benar berubah.
“Waktu aku berumur delapan belas tahun, aku menerima sebuah sistem. Dengan sistem tersebut, aku bisa menjadi lebih kaya dan lebih kuat. Aku juga memanfaatkannya untuk membangun gang milikku hingga sebesar sekarang.”
“Tidak lama setelah aku mendapatkan sistem, Kakek memberikanku kalung ini. Dulu ketika aku mendapatkan kalung ini darimu, kalung ini memiliki warna emas. Tetapi, setelah sistem itu meninggalkanku, kalung ini perlahan berubah warna mejadi silver.”
“Jadi, sekarang jelaskan padaku apakah keluarga kita memiliki hubungan dengan sistem itu?” Tanya Burhan.
Mendengar penjelasan Burhan, Adipramana mengerutkan keningnya. Sedikit banyak dirinya sudah memahami apa yang Burhan maksudkan. Ini pasti ada hubungannya dengan makhluk asing yang membuat janji dengan leluhur mereka.
Adipramana cukup kaget mendengar bahwa Burhan pernah melakukan kontak dengan makhluk asing itu. Ia kira hanya karena kalung milik Burhan berwarna emas, cucunya ini hanya menjadi calon penerus saja. Tetapi, nyatanya Burhan sudah melakukan kontak dengan makhluk tersebut.
Meski hanya tiga bulan, tetap saja Burhan sudah melakukan kontak dengan makhluk tersebut. Dari respon yang Burhan berikan sekarang, kelihatannya cucunya ini ingin kembali memiliki makluk tersebut. Pasti cucunya ini akan menggunakan makhluk tersebut untuk mengembangkan gang miliknya.
Adipramana tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ia tidak mau cucunya ini memanfaatkan makluk tersebut untuk memperbesar gangnya dan menguasai dunia. Meski leluhurnya ingin kembali membangun kerajaan mereka, tetapi mereka pasti tidak akan terima jika yang dibangun adalah kerajaan yang seperti ini.
Daripada ambisi yang dimiliki Burhan, Adipramana lebih menyukai ambisi dari Andi. Meski ambisi mereka berdua bukanlah membangun kerajaan yang sama seperti milik leluhur mereka, tetapi apa yang Andi lakukan jauh lebih baik daripada Burhan.
Mungkin itu juga alsan dari makhluk itu meninggalkan Burhan dan memilih melakukan kontak dengan Andi. Tujuan Burhan tidak sebaik tujuan yang dimiliki Andi. Jadi pantas Burhan di tinggalkan.
__ADS_1