
Setelah pembicaraannya dengan Seno dan Diana, Andi bersiap untuk menghadiri rapat perdana perusahaannya. Untung saja dirinya sudah memiliki pengalaman seorang direktur, jadi, sedikit banyak Andi memahami apa yang perlu ia lakukan setelah ini.
Coba saja Andi tidak memiliki kemampuan direktur, sudah pasti dirinya akan bingung dalam menjalankan bisnisnya. Meski dia bisa membayar seseorang untuk mengurus semuanya, memebahami sendiri bagaimana perusahaan berjalan itu lebih baik. Dengan begitu Andi bisa paham apakah keputusan yang diambil perusahaan sudah benar atau tidak.
Lima menit sebelum waktu ditentukan tiba, Andi pergi menuju ruang rapat yang ada di sebelah ruangannya. Ketika Andi keluar ruangannya, dengan sigap Sinta mengikuti Andi ke ruang rapat. Terlihat ruangan itu sudah diisi oleh beberapa orang, rupanya mereka datang lebih awal dari Andi. Andi menghitung jumlah orang yang ada di sana, lengkap.
“Baiklah karena semuanya sudah hadir di sini, langsung saja aku memulai rapat kali ini. Pertama-tama aku akan mengenalkan diriku terlabih dahulu, namaku Andi, kalian bisa memanggilku dengan Mr. Andi atau Mr. A ….”
Andi kemudian memperkenalkan dirinya kepada karyawan intinya. Setelahnya, Andi menjelaskan kepada mereka apa yang ia inginkan dari perusahaan ini dengan rinci kepada para karyawannya. Ia memebrikan penekanan di beberapa hal supaya anak buahnya memahami maksudnya dan tidak salah dalam menginterpretasikan apa yang sudah ia jelaskan.
“Jadi seperti itu perusahaan yang aku inginkan. Untuk sekarang apakah ada pertanyaan?” Tanya Andi setelah memberikan penjelasan kepada para karyawannya.
“Tidak ada Mr. A.”
“Baiklah sekarang aku akan memulai pembagian tugas awalan kita. Bu Mila, Anda akan bertanggung jawab untuk keuangan perusahaan kita. Tolong buat perkiraan anggaran bulanan yang perusahaan kita keluarkan tiap bulannya. Siang ini Anda bisa meminta Bu Diana dari HRD untuk besaran gaji karyawan, jadi Anda bisa memulai membuat perkiraan anggaran bulanan kita, termasuk biaya sewa kantor dan penganggaran untuk oprasional kantor lainnya.”
“Untuk sekarang hanya ada uang sebesar seratus lima puluh juta di rekening perusahaan kita. Jika kurang, aku akan mengirimkan dana kembali ke rekening perusahaan, dalam minggu ini. Usahakan besok sebelum jam kerja berakhir, perkiraan anggaran bulanan yang jadi aku segera tahu berapa yang perlu kita keluarkan tiap bulannya.”
Meski Andi bisa memperkirakannya, lebih baik Andi meminta manager keuangannya melakukan hals itu. Jelas perkiraan anggaran yang mereka berikan lebih rinci. Dengan begitu, Andi bisa mengetahui berapa besar uang yang diperlukan untuk menjalankan perusahaannya.
Meski dirinya memiliki sistem, tidak semudah itu mengumpulkan uang. Sudah jelas pengeluarannya sangat besar bulan ini. Andi perlu memperhitungkan semuanya. Apalagi Andi masih memiliki target bulanan 1 milyar. Semakin hari pengeluarannya semakin banyak.
Sebelumnya Andi berpikir ia akan segera mencapai target tersebut. Namun, pengeluaran yang banyak membuatnya lebih jauh dari target bulanannya. Andi berencana untuk menyuntikkan dana ke perusahaannya setelah target bulanannya selesai.
“Baiklah Mr. A, saya akan melaksanakannya.”
“Lalu Pak Mario, aku minta kamu mulai membuat website untuk perusahaan kita. Berikan sedikit pengenalan tentang perusahaan kita di sana. Nantinya, sebagian besar proposal akan kita terima melalui website perusahaan kita. Jadi, jangan lupa memasukkan fitur-fitur seperti itu.”
“Tentu Mr. A, apakah Anda memiliki deadline untuk tugas ini?” tanya Mario.
“Hemm… sesegera mungkin selesaikan hal itu. Aku mau minggu depan website perusahan kita sudah terbentuk.”
Andi sendiri kurang mengetahui berapa lama sebuah website dibentuk. Jadi, pemuda itu tidak mau memberikan deadline yang terlalu dekat. Setidaknya Andi rasa minggu depan Mario dan tim IT bisa menyelesaikan tugas tersebut.
“Lalu Pak Danang, aku minta Anda membuat proposal pemasaran perusahaan kita. Hari jumat ini aku minta proposal itu sudah selesai. Aku ingin Anda dan tim pemasaran memikirkan cara pemasaran yang baik untuk membuat publik tahu tentang perusahaan kita.”
__ADS_1
“Tentu Mr. A aku akan segera melaksanakannya.”
“Aku tahu kalau perusahaan kita ini masih sangat sedikit karyawannya. Untuk bulan ini, aku minta kalian bertahan dengan bawahan kalian yang sedikit ini. Akhir bulan jika kalian merasa pekerjaan kalian dalam bulan ini terlalu berat dan ingin menambah bawahan, kalian bisa menginformasikan hal itu kepada HRD. Biar HRD nantinya yang akan mencarikan karyawan baru.”
Andi tahu bahwa karyawannya sekarang masilah terlalu sedikit. Tetapi dirinya kurang tahu pasti berapa banyak karyawan yang ia butuhkan untuk setiap divisi. Selain itu, minimnya dana yang dimilikinya membuat Andi hanya bisa memiliki karyawan sebanyak ini.
Oleh karena itu Andi meminta para manager untuk menentukan sendiri berapa banyak bawahan yang mereka inginkan. Bulan depan Andi yakin bisa mengumpulkan uang yang lebih banyak untuk modal perusahaannya.
“Lalu, untuk Pak Purnomo. Selama tiga bulan ke depan, aku akan memimpin perusahaan ini. Lalu setelahnya, Pak Purnomo yang akan menjadi direktur perusahaan ini. Untuk saat ini tugas Anda adalah untuk menyeleksi proposal-proposal yang masuk.”
“Jika memang proposal itu bisa membawakan keuntungan untuk kita, maka jangan segan-segan untuk menyisihkan proposal tersebut. Setelahnya kita bisa melakukan rapat untuk menentukan besarnya dana yang akan kita investasikan untuk usaha itu.”
“Untuk saat ini, Anda hanya akan melakukan ini sendirian. Tetapi, bulan depan aku berencana membuka divisi tersendiri untuk melakukan penyeleksian ini. Apakah Anda sanggup melakukan ini sendirian?” Tanya Andi kepada Purnomo.
Sebenarnya Andi sudah berencana membuat divisi khusus yang menyeleksi proposal. Namun Andi ingat, di bulan pertama sudah jelas tidak akan banyak proposal yang masuk. Oleh karena itu ia melimpahkan tugas tersebut kepada Purnomo, orang yang nantinya akan menjadi direktur di perusahaannya ini. Andi rasa di bulan ini Purnomo bisa menyeleksi proposal-proposal yang masuk sendirian.
“Tidak masalah Mr. A, saya bisa melakukannya.” Jawab Purnomo dengan penuh percaya diri.
“Baiklah untuk kali ini itu saja rapat kita. Ke depannya, aku ingin setiap hari senin kita melakukan rapat rutin seperti ini untuk melihat progres kerja dari setiap divisi. Kalian bisa kembali bekerja sekarang.” Ucap Andi menutup rapat.
Andi memiliki target mengumpulkan uang seratus juta tiap hari selama sepuluh hari kerja. Pemuda itu ingin segera menuntaskan targetnya, dengan begitu dirinya tidak akan lagi terpikirkan dengan target bulanannya.
*****
Dua hari berlalu begitu saja. Dalam dua hari ini keuntungan Andi dari menjual beli saham mencapai tiga ratus juta rupiah. Tidak banyak pengeluaran yang Andi lakukan. Hal itu membuatnya bisa memanfaatkan seluruh uangnya dalam membeli saham untuk mencapai tingkat keuntungan yang maksimal.
Ketika Andi sibuk mengecek saldonya, ponsel miliknya berbunyi. Nama Sebastian tertera di layar ponselnya. Sepertinya laki-laki itu akan mengabarkan perkembangan kasusnya dengan Jony. Memang Andi tidak mengetahui lagi bagaimana perkembangan kasusnya tersebut.
“Hallo Pak Bastian?” sapa Andi.
“Hallo Andi. Ini aku mau mengabarkan padamu mengenai kasusmu. Pihak mereka tidak ingin kasus ini lanjut ke meja hijau. Jadi, mereka meminta semuanya diselesaikan secara kekeluargaan saja. Pihak mereka setuju untuk membayar semua ganti rugi yang kamu alami. Jadi bagaimana? Apakah kamu ingin ini lanjut atau kita selesaikan secara damai?” tanya Sebastian memastikan.
Andi terdiam sejenak. Setidaknya Jony sudah mendapatkan pelajarannya. Dia sudah dihajar oleh Damar dan anak buahnya. Tidak hanya itu, kasus ini juga memberikan pengaruh besar untuk keluarga Jony. Jadi, meskipun Andi memilih jalur perdamaian ataupun jalur meja hijau, hasilnya sama saja.
Pada akhirnya pihak Jony akan diminta membayarkan ganti rugi atas semua yang Andi alami. Kasusnya yang seperti ini belum cukup kuat untuk membawa Jony mendekam di balik jeruji besi. Dirinya sama sekali tidak mendapatkan luka, jadi tentu saja hukumannya ringan.
__ADS_1
“Jika mereka mau berdamai, aku tidak masalah dengan hal itu. Apakah Pak Bastian bisa mengurus semuanya? Maksudku, apakah Pak Bastian membutuhkan kehadiranku di sana?” Tanya Andi ingin memastikan.
Selama kasus ini berlangsung, Andi sama sekali tidak terlibat, bahkan untuk sekedar dimintai kerterangan pun tidak. Jadi, pemuda itu ingin menanyakan kepada Sebastian apakah laki-laki itu membutuhkan kehadirannya.
“Tidak perlu. Aku bisa mengurus semuanya. Ada dan tidak kamu di sini, aku bisa mengurusnya. Jika kamu memang menyetujui perdamaian yang mereka minta, kemungkinan besar sore ini uangnya akan dikirimkan kepadamu.” Jelas Sebastian.
“Ah baiklah kalau begitu Pak.”
Sore harinya setelah mendapatkan panggilan dari Sebastian, Andi menerima pemberitahuan uang masuk ke rekening pribadinya.
[Anda telah menerima dana sebesar Rp 20.000.000,- dari rekening xxxxxxxxx719]
“Dua puluh juta? Dari siapa ini? Apakah ini uang ganti rugi yang diberikan oleh pihak Jony? Tetapi kenapa sebanyak itu?” Ketika Andi memikirkan hal itu, panggilan dari Sebastian masuk ke ponselnya.
“Hallo Andi.”
“Hallo Pak Bastian.”
“Apakah uangnya sudah masuk?” tanya Sebastian.
Mendengar ucapan Sebastian, Andi bisa menebak asal usul dari uang baru yang masuk ke rekeningnya ini. “Apakah jumlahnya dua puluh juta Pak? Kenapa uangnya sebanyak itu?”
“Ruapanya sudah masuk ya. Uang segitu tidaklah terlalu banyak. Aku meminta mereka membayar biaya kerugian sepedamu yang Jony rusak. Yang paling banyak adalah ganti rugi psikis yang aku minta. Aku bilang pada mereka bahwa karena kejadian itu, kamu mengalami trauma yang luar biasa. Jadi mereka harus membayar ganti rugi pengobatan atas traumamu itu.” Jelas Sebastian.
Mendengar hal itu, sudut bibir Andi berkedut. Trauma apa yang Andi alami? Dirinya sama sekali tidak mengalami trauma. Seharusnya yang merasakan trauma adalah anak buah Jony. Bagaimana tidak mereka bersembilan mengeroyok Andi tetapi tidak satupun pukulan mereka mengenai Andi.
Andi tidak menyangka seorang pengacara bisa bermain kata seperti ini. Dengan memanfaatkan Andi yang berposisi sebagai korban seperti ini, seorang pengacara bisa meminta ganti rugi dari segala hal. Memang, perkataan trauma itu adalah hal yang subjektif. Jika korban merasa tertekan, maka dia bisa mengatakan dia mengalami trauma. Padahal bukan berarti dia benar-benar mengalami trauma.
Tetapi itu tidak masalah untuk Andi. Toh uangnya juga sudah masuk rekeningnya. Lumayan juga dia mendapatkan uang segini. Padahal sepedanya juga sudah dibetulkan dengan uang yang Andi rampas dari tangan anak buah Jony.
“Kalau begitu, bagaimana dengan bayaran Pak Bastian?” tanya Andi.
Meski dulu Brian mengatakan bahwa dia akan memanggung semuanya, tetapi Andi masih perlu menanyakan hal ini. Jika Brian belum membayarnya, sudah pasti Andi akan membayar Sebastian dengan uangnya sendiri.
Bagaimana pun juga Sebastian sudah membuatnya mendapatkan uang dua puluh juta dari Jony. Jadi, sudah sepantasnya Andi membayar laki-laki itu dengan uangnya sendiri.
__ADS_1
“Ah itu tidak masalah. Brian sudah membayar semua jasaku. Jadi, kamu tidak perlu memikirkan hal itu.”