
Setelah mengirimkan pesan terakhir untuk calon karyawannya, Andi beranjak dari tempat duduknya. Ia berencana untuk membeli set jas kerja. Andi baru sadar bahwa dirinya tidak bisa hanya memakai kemeja dan celana jeans seperti sekarang ini.
Sebagai seorang pimpinan perusahaan, Andi perlu memperhatikan pakaiannya. Pakaian akan mencerminkan seseorang, dan apa yang Andi pakai sedikit banyak akan mencerminkan dirinya. Oleh karena itu, ia perlu memakai pakaian yang rapi dan berkelas jika dirinya berada di perusahaannya.
Meskipun nanti pada akhirnya perusahaan ini akan Andi lepas dan meminta anak buahnya yang menjalankan, tetap saja Andi membutuhkan jas sekarang. Oleh karena itu Andi ingin membeli beberapa setel jas bermerek untuk ia pakai sebagai pakaian kerja.
Langsung saja Andi menjalankan mobilnya menuju mall yang memiliki gerai pakaian ternama. Ia ingat salah satu mall yang pernah ia kunjungi memiliki gerai pakaian dari merek yang Andi inginkan.
Setelah sampai di sana, Andi di sambut dengan cukup ramah oleh pelayan toko. Pemuda itu kemudian mengatakan kepada pelayan toko tersebut jas seperti apa yang dia butuhkan. Andi pun memilih beberapa jas yang ada di sana.
Andi telah mencoba beberapa jas yang ada untuk menentukan ukuran jas yang pas di tubuhnya. Dari semua jas yang sudah ia coba, Andi belum menemukan jas yang cocok dengan seleranya. Kemudian, pandangan Andi tertuju pada sebuah jas berwarna navi, yang terpasang di manekin, yang ada di sana.
“Mbak, model yang seperti itu ukuran L ada nggak?” tanya Andi kepada sang pelayan toko.
“Ah kebetulan sekali Mas, model seperti itu tinggal satu yang berukuran L, apakah Mas mau mencobanya?” Tanya pelayan toko tersebut.
“Ya boleh Mbak, saya ingin mencobanya. Kalo cocok saya ambil.”
“Baiklah kalau begitu Mas tunggu sebentar, saya ambilkan setelan jasnya.”
Ketika Andi menunggu pelayan toko tersebut mengambilkan jas yang ia inginkan, Andi melihat seorang pemuda memasuki toko tersebut. Jika tidak salah ingat, sepertinya Andi pernah melihats pemuda tersebut. Ah ya, pemuda yang ia temui tempo hari di pelataran parkir, jika Andi tidak salah ingat Brian mengatakan pemuda itu berasal dari keluarga Sasongko.
Andi melihat pemuda itu berbicara kepada seorang pelayan toko sembari menunjuk ke arah manekin yang memakai jas yang sama seperti yang Andi inginkan. Melihat hal itu, Andi sedikit mengerutkan dahinya, ia bisa menebak bahwa sebentar lagi dirinya akan memiliki konflik dengan pemuda tersebut. Semoga saja itu tidak seperti pemikirannya. Semoga saja pemuda itu tidak memilih jas dengan ukuran yang sama dengannya.
“Ini Mas jas yang ukuran L.” ucap pelayan toko yang tadi pergi mengambil jas yang diinginkan Andi. Di tangannya kini sudah ada jas dengan model sama persis seperti yang tepasang di manekin.
Ketika Andi ingin mengambil jas tersebut, seseorang telah mendahuluinya. Andi menolehkan kepalanya untuk melihat siapa yang sudah mengambil jas yang akan ia beli itu. Di sana pemuda yangs tadi Andi lihat sudah memegang jas yang ingin ia beli.
__ADS_1
“Wah, pelayanan kalian semakin cepat saja. Baru saja aku bilang minta diambilkan jas dengan ukuran L, sekarang kalian sudah memberikannya padaku.” Ucap Marcel dengan tersenyum lebar.
Sementara itu, Andi mengerutkan dahinya. Hal yang dipikirkannya ternyata terjadi juga. “Maaf, tetapi itu adalah pesananku. Aku duluan yang meminta untuk pelayan toko ini mengambilkan jas dengan ukuran L.”
Andi tidak peduli jika pemuda ini lebih kaya darinya, atau bahkan lebih berkuasa darinya. Ia tidak peduli. Kali ini dia tidak akan mengalah lagi menghadapi orang seperti pemuda ini. Sebelumnya, dirinya mengalah mengenai lahan parkir, itu karena ada Brian di sana.
Andi tidak mau jika dirinya bersiteru dengan pemuda ini, dia akan marah. Jika dia mengetahui perusahaan keluarga Brian, bisa-bisa pemuda itu akan membalas dendam dengan mengusik perusahaan keluarga Brian. Andi tidak mau itu terjadi, apalagi karena dia. Sekarang, tidak akan ada orang lain yang terlibat. Jadi, menurutnya dia perlu untuk melawan jika diperlakukan seperti ini.
Marcel melirik ke arah Andi. “Kamu mau beli jas ini?” Tanya Marcel sembari menyapukan pandangannya kepada Andi dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Orang sepertimu tidak pantas memakainya. Ini sangat mahal untuk orang sepertimu.”
“Aku sangat membutuhkannya untuk datang ke pesta malam ini. Jadi aku lebih pantas mendapatkan jas ini. Lagi pula, jas ini belum kamu bayar dan sekarang jasnya sudah berada di tanganku. Jadi, tentu saja ini akan menjadi milikku.” Ucap Marcel seenaknya sendiri.
Andi kemudian melayangkan pandangannya kepada pelayan toko yang masih ada di sana. “Aku yang terlebih dahulu memintanya? Sekarang apa yang akan kalian lakukan?” Tanya Andi kepada pelayan toko tersebut.
Bukannya Andi ingin mempersulit pelayan toko tersebut, tetapi, dia ingin tahu bagaimana pelayanan toko ini. Jika terjadi masalah seperti ini, apakah pelayan toko ini akan membelanya atau malah memilih membela Marcel yang memiliki kekuasaan.
“Ah maaf Mas, tetapi yang dikatakan Mas yang ini benar. Jas tersebut sudah oleh Mas ini terlebih dahulu.” Ucap pelayan tersebut. Andi cukup puas mendengar hal itu. Setidaknya toko ini memiliki sistem pelayanan yang cukup baik.
“Apa kamu tidak tahu siapa aku? Aku adalah Marcel Sasongko, Tuan Muda dari keluarga Sasongko. Aku yakin kamu pasti tahu bukan siapa keluarga Sasongko itu? Jika kamu tetap bersikeras memberikan jas ini kepada anak itu, aku bisa membuat keluhan kepada manajermu agar kamu bisa dipecat.”
Ini, hal yang sangat Andi benci terjadi juga. Memanfaatkan nama keluarga untuk mengancam orang lain. Mentang-mentang berasal dari keluarga yang memiliki kekuasaan besar, pemuda ini dengan mudahnya mengancam akan memecat seseorang.
Tidak ada yang bisa Andi lakukan jika seperti ini. Ia tidak membiarkan pelayan toko ini kehilangan pekerjaannya setelah membelanya. Mungkin dia harus kembali mengalah kali ini. Mengalah bukan berarti kalah, ia hanya perlu mundur sedikit untuk melihat semuanya dengan sudut pandang yang lebih luas.
“Ah sudahlah Mbak. Apakah masih ada warna lain dengan model yang sama?” Tanya ingin meringankan keadaan.
Andi bisa melihat pelayan toko tersebut bernafas lega setelah mendengar perkataan Andi. Dia memberikan Andi sebuah senyuman terimakasih karena tidak memperpanjang masalahnya. “Ah ya, untuk model seperti itu, kami masih memiliki warna merah marun, hitam dan abu-abu tua.” Jelas pelayan tersebut.
__ADS_1
“Baiklah Mbak. Ambilkan ketiganya. Aku ingin satu set tiap warna itu tadi dengan ukuran L.” Pinta Andi kepada pelayan tersebut.
Sementara Andi menunggu pelayan toko tersebut mengambilkan jasnya, ia melihat pemuda bernama Marcel tadi, membusungkan badannya dan memberikan senyuman bangga kepada Andi. Marcel seolah memberitahukan kepada Andi bahwa dirinya telah menang, bahwa dia adalah orang yang berkuasa di sini.
Tidak lama kemudian, pelayan toko tadi kembali dengan membawa tiga set jas dengan warna yang berbeda. Di sebelah Andi, Marcel ikut melihat jas yang tengah dibawa pelayan toko tersebut. Seakan bisa membaca pikiran Marcel, Andi bergerak lebih dulu dan mengambil tiga buah jas itu dari tangan pelayan toko.
“Hey, kenapa kamu mengambilnya?” Teriak Marcel kepada Andi.
“Heh.” Andi mendengus pelan. “Ini adalah jas yang aku pilih, dan aku yang terlebih dahulu mengambilnya. Memangnya kamu mau apa?”
“Serahkan jas berwarna marun itu kepadaku. Aku juga menginginkan jas itu.”
Andi mengerutkan keningnya, pemuda ini benar-benar tidak jelas. Sebelumnya dia sudah mengambil jas berwarna navi yang Andi pilih. Sekarang, dia ingin kembali merebut jas yang sudah ada di tangannya? Jika seperti itu namanya kurang ajar.
Sebelumnya Andi memang mengalah, tetapi sekarang dia tidak akan lagi mengalah. Jika terus menerus mengalah, yang ada Andi akan diinjak-injak. Sudah pasti dirinya akan melawan kali ini.
“Aku tidak akan melakukannya. Sebelumnya kamu sudah merebut jas yang aku inginkan. Sekarang, kamu mau menginkannya lagi? Heh, aku tidak akan melakukan hal tersebut. Kenapa tidak dari tadi kamu meminta pelayan untuk mengambilkanmu baju dengan warna beda.”
Sepertinya pemuda bernama Marcel ini memang mencari gara-gara dengannya. Lihat saja dia seolah tidak mau berhenti menargetkannya. Andi rasa masih ada jas lainnya yang memiliki model bagus, tetapi kenapa pemuda bernama Marcel itu tetap bersikukuh meminta jas yang sudah Andi pilih.
“Aku tidak mau tahu, berikan saja jas itu padaku. Apa kamu mau aku buat hari-harimu seperti di neraka? Aku juga bisa membuat perusahaan keluargamu gulung tikar dalam waktu dekat. Jadi, sekarang apa pilihanmu? Kamu mau menyerahkan jas itu, atau rasakan sendiri akibatnya nanti?” ucap Marcel dengan cukup geram.
“Maaf Mas, kalo Mas mau, kami masih memiliki model yang lain yang mirip dengan model ini.” ucap sang pelayan menengahi.
“Aku tidak mau. Pokoknya kamu berikan itu kepadaku. Jika kamu tidak mau memberikan yang itu, aku bisa membuatmu kehilangan pekerjaanmu ini. Tidak hanya itu, keluargamu juga akan menrima akibatnya.”
“Ck. Ck. Ck.” Seorang pemuda berjalan mendekati mereka dengan berdecak lidah. “Aku kira aku salah dengar, ternyata benar ada seorang Marcel yang agung di sini. Seorang Marcel yang agung memang hanya bisa mengancam seseorang. Jika kalah, akan langsung mengancam.” Ucap pemuda tersebut dengan penuh sarkasme.
__ADS_1
“Arya.” Ucap Andi dan Marcel hampir bersamaan.