Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 199 Ruang Gelap Sang Penerus Palsu


__ADS_3

“Apakah Kamu tadi ribut dengan sepupuku?” Tanya Sang Penerus palsu kepada nomor satu.


“Tidak Sang Penerus. Aku tidak membuat keributan dengan sepupumu. Aku masih ingat pesanmu untuk tidak membuat keributan dengan sepupumu.” Jelas Nomor Satu.


“Bagus. Jadi, apa yang ingin Kamu laporkan sekarang?”


“Sang Penerus, Limo dan Enem baru melaporkan padaku bahwa pihak musuh sekarang ini memiliki banyak perusahaan baru. Perusahaan-perusahaan itu dimiliki oleh mereka yang berasal dari generasi muda di keluarga itu.” Lapor Nomor Satu.


“Apakah itu ada hubungannya dengan target utama kita, Burhan?”


“Itu yang belum bisa kami pastikan. Apakah Burhan memiliki keterlibatan dalam munculnya perusahaan-perusahaan baru itu atau tidak. Tetapi saat ini keberadaan Burhan tidak dapat dilacak. Bahkan anak buahnya tidak mengetahui keberadaan laki-laki itu.”


“Loro sudah mencoba mencari keberadaannya di setiap tempat yang biasa Burhan kunjungi. Tetapi tidak ada jejak bahwa dia berada di sana. Sudah lebih dari dua minggu Burhan menghilang dari Gang Macan Putih.”


Mendengar hal itu, Sang Penerus mengerutkan keningnya. “Apakah dia sudah mencurigai orang-orang kita yang menyusup ke sana?” Tanya Sang Penerus.


“Aku tidak yakin itu Sang Penerus. Salah satu penyusup kita berada di bidang IT dari Gang Macan Putih melapor bahwa sebelum Burhan menghilang, dia memang meminta kaki tangannya memberikan informasi lengkap mengenai beberapa anggota.”


“Tetapi, yang Burhan minta itu adalah informasi orang-orang kita yang bisa dibuang begitu saja. Untuk oranng-orang kita yang menyusup menjadi pemegang jabatan, aku yakin Burhan tidak akan mengetahui mereka.”


“Kita sudah memasukkan mereka sepuluh tahun lalu. Jadi mereka sudah membaur dengan sempurna di Gang Macan Putih. Lalu, orang kita yang di bidang IT itu juga tidak menemukan tanda-tanda seseorang mengambil secara paksa informasi dari bank data Gang Macan Putih.”


“Aku yakin sampai sekarang Burhan masih belum mengetahui rencana kita.” Jelas Nomor Satu.


Penjelasan dari nomor satu itu membuat Sang Penerus palsu terdiam. Ia terlihat mengetuk ketukkan jari telunjuknya ke lengan kursi yang sekarang ia duduki. Sebelah tangannya ia tempelkan pada dagunya. Sekarang ini ia telihat berpikir serius mengenai laporan yang diberikan oleh nomor satu.


Apa yang menjadi alasan Burhan menghilang tanpa kabar? Apakah memang dia benar-benar belum mengetahui rencana mereka? Lalu, apakah Burhan ada kaitannya dengan munculnya perusahaan-perusahaan baru di keluarga Prayudi?


“Untuk sekarang, suruh Limo dan Enem terus memantau pergerakan keluarga Prayudi. Aku ingin sesegera mungkin Kamu memberiku kabar mengenai kejadian apa pun yang ada di keluarga mereka. Lalu, kerahkan seluruh anak buah kita di seluruh Indonesia untuk mencari jejak keberadaan Burhan.”


“Aku yakin kita bisa segera menemukan keberadaan laki-laki itu jika berusaha. Jika sudah menemukan keberadaan dia, jangan langsung di konfrontasi dulu. Kita pantau saja pergerakannya sekarang.” Perintah Sang Penerus Palsu.


“Baiklah Sang Penerus.” Ucap Nomor Satu.


“Lalu, apakah ada hal lain yang ingin Kamu laporkan padaku?” Tanya Sang Penerus Palsu.

__ADS_1


“Ini mengenai keluarga Sanjoyo Sang Penerus.”


“Kenapa dengan mereka?”


“Cucu mereka Hermawan terjerat kasus hukum. Dia dilaporkan sudah memperkosa seseorang. Beberapa bukti memang menunjukkan bahwa dia adalah pelakunya. Lalu, yang melaporkan hal itu ke polisi adalah Rama dan Dirga.”


“Semalam Bayu dan anaknya mendatangi The Heaven. Mereka meminta kita untuk mengeluarkan Hermawan dari kantor polisi. Tetapi itu sulit Sang Penerus. Rama dan Dirga sudah mengarahkan fokus dari masyarakat pada kasus ini.”


“Mereka membuat masyarakat bersimpati pada korban dan meminta polisi menghukum berat Hermawan atas perbuatannya itu. Jadi, apa yang akan Anda lakukan mengenai hal ini Sang Penerus?” Tanya Nomor Satu.


“Heh.” Sang Penerus palsu itu mendengus mendengar laporan dari Nomor Satu. “Aku tidak akan menolong seorang pemerkosa seperti dia. Mereka saja yang tidak bisa mendidik anak mereka dengan baik.”


“Sekarang anak mereka mendapat hukuman, mereka berteriak ke sana ke sini, meminta bantuan. Singkarkan saja mereka. Kita sudah tidak lagi membutuhkan mereka. Diberi tugas untuk mengusik keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka saja tidak becus.”


“Gara-gara mereka yang tidak kompeten, mata-mata kita yang ada di perusahaan kedua keluarga tersebut habis tidak bersisa. Mereka sudah menjadi sampah di mataku. Jadi, selesaikan saja keluaga Sasongko dan keluarga Sanjoyo.” Perintah Sang Penerus.


“Baiklah Sang Penerus. Aku akan mengabari telu mengenai hal ini.” Ucap Nomor Satu.


“Lalu Sang Penerus, Pitu sudah memberikan laporan lengkap mengenai Andi. Apakah Anda ingin mendengarnya sekarang?” Tanya Nomor Satu dengan hati-hati.


Sang Penerus Palsu mengangguk pelan. “Katakan semua laporan yang Kamu dengar mengenai Andi. Aku ingin mendengarkannya secara detail.”


“Dari laporan yang diberikan Pitu, di antara semua generasi muda di keluarga Prayudi, gerak gerik yang dilakukan oleh Andi setelah lulus SMA cukup mencurigakan. Dia tiba-tiba saja membuka kafe yang cukup besar meskipun keadaan keluarganya yang seperti itu.”


“Aku tidak yakin itu adalah uang milik Aripto yang ia pakai untuk modal. Aripto sudah pernah gagal dalam melakukan bisnis. Uang yang diberikan oleh ayahnya habis tidak bersisa. Dia bahkan memiliki hutang kepada kedua Kakaknya. Jadi, Andi ini cukup mencurigakan.”


“Meski penyusup yang kita pasang di Gang Macan Putih sudah membakar kafe miliknya, dia bisa bangkit dengan mudahnya. Saat ini kafe itu sudah kembali beroprasi. Bahkan, biaya renovasinya lebih banyak daripada yang sebelumnya.”


“Tidak hanya itu, Andi juga pergi ke luar negeri lebih dari sebulan yang lalu. Sekarang ini juga pemuda itu berada di luar negeri.”


“Jadi Sang Penerus, itu membuatku menarik sebuah kesimpulan. Jangan-jangan target utama kita selama ini sebenarnya bukan Burhan, tetapi Andi. Dia memiliki ciri-ciri itu bukan? Menjadi kaya dengan cepat?”


“Heh.” Sang Penerus Palsu itu mendengus. “Apakah kemampuan peneyelidikan kalian semakin lama semakin menurun? Kalian menyelidiki Andi tetapi tidak menegtahui siapa saja yang dekat dengan dia?”


“Teman dekat Andi adalah Brian Smith, dia adalah anak tunggal dari Rafael Smith dan juga keponakan Roy Smith. Meskipun dia Indonesia keluarga Smith terlihat biasa, tetapi mereka memiliki banyak kekayaan.”

__ADS_1


“Roy Smith adalah penguasa dunia bawah Eropa. Sementara Rafael Smith, dia memiliki banyak perusahaan di Amerika. Andi itu sudah pernah menyelamatkan nyawa Brian. Jadi tidak heran jika sekarang dia menjadi kaya.”


“Aku yakin itu semua dibantu oleh Brian dan keluarganya. Dan kafe itu pun, itu adalah kerjasama antara Brian dan Andi.”


“Sekarang katakan padaku, dengan teman baik sperti Brian, apakah salah jika Andi bisa menjadi kaya sepecepat itu?” Tanya Sang Penerus palsu.


Ketika memberikan pembelaan untuk Andi, nada bicara yang digunakan oleh Sang Penerus Palsu itu berubah. Awalnya dia bicara santai seolah tidak peduli dengan apa yang dilaporkan oleh Nomor Satu. Tetapi ketika ketika membela Andi, nada bicaranya berubah menjadi tinggi.


Mendengar hal itu, Nomor Satu langsung berlutut di hadapan Sang Penerus Palsu. “Maafkan anak buahmu ini yang kurang jeli dalam menjalankan tugas Sang Penerus.”


“Sekarang minta Pitu menghentikan penyelidikannya mengenai Andi. Suruh dia membantu yang lain mencari keberadaan Burhan.”


“Baiklah Sang Penerus.” Ucap Nomor Satu.


Setelah kepergian Nomor Satu, Sang Penerus Palsu itu masuk ke dalam salah satu kamar yang ada di apartemen itu. Kamar itu sangat gelap. Ruangan tanpa jendela itu hanya diteriangi oleh sebuah lilin aroma terapi yang sedikit lagi akan mati itu.


Di dalam ruangan itu, terdapat banyak foto yang menempel di dinding. Jika diperhatikan lebih seksama, foto tersebut merupakan foto dari orang yang sama yang sudah diambil dari beberapa sudut. Itu adalah foto dari seorang pemuda.


Perbedaan potongan rambut dan baju yang dipakai oleh pemuda yang ada di dalam foto tersebut menandakan bahwa foto itu tidak diambil dalam satu waktu.


Banyak ekspresi dari pemuda itu yang sudah diabadikan dalam foto tersebut. Tetapi kebanyakan foto di sana menunjukkan ekspresi serius dari pemuda itu.


Sang menerus palsu itu kemudian mengikat rambut panjangnya. Ia lalu menatap lekat salah satu foto yang menampakkan ekspresi tersenyum dari pemuda yang ada di dalam foto.


Dalam foto itu pemuda tersebut tidak sendiri. Di sampingnya terdapat seorang gadis berambut panjang. Dalam foto itu sang gadis memakai kebaya, sedangkan sang pemuda memakai jas.


“Kita akan membuat foto baru lagi, di mana aku memakai kebaya, dan kamu memakai jas. Sama seperti foto ini. Tetapi, kita nanti akan menjadi pasangan suami istri dalam foto itu. Bukan lagi teman yang foto bersama di acara wisuda.”


“Andi, aku akan membuatmu menjadi milikku. Setelah lulus SMA Kamu semakin menjauh dariku dan menemui j*lang-j*lang di luar. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku ingin Kamu kembali melihat aku dan hanya aku.”


“Setelah aku berhasil menghancurkan Burhan dan membunuhnya, aku akan membawamu pergi dari sini. Kita akan menjalani kehidupan baru tanpa ada orang lain yang mengenali siapa kita.”


Seringai jahat tercetak jelas di wajah cantik Sang Penerus Palsu. Sebelah tangannya ia angkat dan mengelus wajah pemuda tersebut yang ternyata adalah Andi. Ia lalu memberikan kecupan pada bibir Andi yang ada di foto tersebut.


“Tunggu aku.”

__ADS_1


__ADS_2