Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 76 Balap Mobil di Jalur Gunung (4)


__ADS_3

Setidaknya ada sepuluh mobil yang ikut balapan kali ini. Empat di antaranya merupakan mobil dari empat tuan muda keluarga besar asal Kota Surabaya. Terdapat tiga layar proyektor dan tiga buah drone untuk memantau jalannya lomba kali ini. Dengan begitu, penonton yang ada di area parkir dapat melihat jalannya balapan dengan jelas.


Widya, yang kini berdiri di dekat Andi, terlihat sedikit cemas melihat kakaknya yang akan mengikuti balapan. Melihat hal itu, Andi menduga ini adalah kali pertama gadis itu menonton balapan seperti ini.


“Apakah ini adalah pertama kalinya kamu lihat balapan ini?” tanya Andi membuka pembicaraan.


“Ya. Ini adalah pertama kalinya aku melihat kakakku balapan secara langsung. Meskipun dia selalu baik-baik saja setelah mengikuti balapan, tetapi, aku cukup cemas ketika melihatnya langsung. Entahlah, katakanlah aku paranoid atau apalah, tetapi, hari ini aku memiliki perasaan cemas mendengar kakakku ingin ikut balapan.”


Andi tidak terlalu memikirkan perkataan Widya. Ia menganggap kecemasan itu Widya rasakan karena ini adalah kali pertama gadis itu melihat kakaknya lomba. Meski begitu, Andi mencoba menghibur Widya.


“Tenanglah semua akan baik-baik saja. Bukankah kamu sendiri bilang bahwa Satrio selalu pulang dalam baik setelah mengikuti balapan? Itu tandanya kakakmu itu sudah menguasai balapan. Dia tahu apa yang perlu dia lakukan selama balapan.” Ucap Andi.


Widya menarik nafas panjang mencoba menenangkan diri. “Mungkin kamu benar. Aku hanya terlalu khawatir karena ini adalah kali pertama melihat balapan kakakku.”


“Sekarang kita lihat saja bagaimana balapan ini berlangsung.” Ucap Andi melihat semua mobil tengah bersiap dan adanya seseorang yang memberikan aba-aba akan dimulainya balapan.


Setelah garis start, terdapat jalan lurus sepanjang seratus meter, yang dapat dilalui oleh lima mobil beriringan. Hanya pada jalan lurus inilah, para pembalap memiliki kesempatan untuk mendahului lawan mereka. Setelah jalan lurus tersebut, yang ada hanya jalan berkelok-kelok khas jalur pegunungan.


Memang di atas masih ada jalan yang cukup luas untuk mendahului. Namun, itu cukup beresiko karena di sebelah jalan tersebut terdapat sebuah jurang. Oleh karena itu, jalur lurus ini menjadi penentu besar seseorang bisa memenangkan balapan ini atau tidak.


Ketika lampu aba-aba menyala hijau, semua mobil melesat dengan cepat. Di sini mobil dengan torsi besar lebih unggul dari mobil-mobil yang lain. Lihat saja keempat mobil dari empat tuan muda melsat jauh meninggalkan keenam mobil lainnya.


Keempat mobil tersebut saling mencoba mendahului satu sama lainnya. Pada akhirnya di akhir jalur lurus itu, Arya memimpin mobil-mobil itu, disusul dengan mobil milik Satrio kemudian Hermawan dan pada barisan terakhir adalah Marcel. Meski keenam mobil lainnya juga ikut balapan ini, tetapi mereka hanya terlihat seperti pelengkap dalam balapan ini.


Andi memperhatikan bagaimana mobil tersebut melikuk likuk melewati belokan. Ia yang hanya melihat melalui proyektor saja bisa merasakan bagaimana adrenalinnya naik. Pemuda itu mulai berpikir untuk mencoba jalur pegunungan ini di kemudian hari. Ia ingin merasakan aderenalinnya naik ketika melawati jalur tersebut secara langsung.


Urutan dari mobil yang balapan belum ada perubahan. Arya masih memimpin di depan. Ketika melewati belokan untuk menuju jalur menurun, mobil di belakang Arya mulai bergerak agresif. Memang belokan ini cukup luas, jadi, mobil dapat mendahului di jalur ini dengan cukup aman.


Setelah melewati belokan itu, Arya masih memimpin di depan, disusul oleh Hermawan, lalu Satrio dan Marcel yang sekarang mulai menyusul Satrio. Teriakan-teriakan penyemangat mulai terdengar di area parkir tersebut. Sepertinya titik puncak penentu akan segera terjadi.


Tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. Langsung saja Andi kembali ke mobilnya untuk mengambil payung. Seingatnya dia memiliki benda itu di mobil. Andi menemukan Widya yang kini berteduh di bawah pohon. Saat ini wajah cemas Widya semakin terlihat jelas.


“Kenapa tiba-tiba hujan deras seperti ini?” Tanya Widya ketika Andi memayungi gadis tersebut.


“Aku juga tidak tahu. Aku tidak melihat ramalan cuaca hari ini. Jadi, aku tidak tahu jika akan turun hujan.”

__ADS_1


“Apakah ini aman? Maksudku balapan di tengah hujan lebat seperti ini. Apakah ini aman?”


Andi tidak menjawab. Pandangannya masih ia tujukan kepada layar proyektor. Sepertinya hujan tidak mengganggu penerbangan drone. Lihat saja ketiga drone itu masih bisa memperlihatkan rekaman jalannya lomba.


Dari layar proyektor tersebut Andi mengamati jalannya lomba. Sepertinya hujan juga tidak mengganggu laju mobil yang tengah balapan. Meski sedikit mengurangi kecepatan, tetapi, mereka yang balapan masih memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Andi juga mulai mengkawatirkan keselamatan para pembalap itu. Hujan deras seperti ini jelas membuat jalanan menjadi licin. Sebenarnya sangat berbahaya melajukan mobil dengan kecepatan tinggi ketika hujan seperti ini. Apalagi melakukan balapan. Selip sedikit, maka akan terjadi kejadian yang cukup fatal.


“Semoga saja semua baik-baik saja. Kita lihat saja bagaimana balapan ini berlangsung. Yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah berdoa agar tidak ada kejadian buruk.”


Andi sedikit bernafas lega ketika melihat keempat mobil yang memimpin itu sudah melewati jalur pegunungan yang membahayakan. Mobil-mobil itu kini sudah terlihat di jalur lurus yang tadinya manjadi garis start.


“Lihat mereka sudah di sini. Jadi, ini tidak akan terjadi apa-apa.” Ucap Andi menenangkan Widya.


Baru saja Andi berkata demikian, salah satu drone yang merekam jalannya lomba terhempaskan oleh angin. Drone tersebut kemudian mendarat di jalan tempat balapan berada. Naasnya, mobil yang dikendarai Satrio berada dekat dengan drone tersebut. Secara reflek, Satrio membanting setir, mencoba menghindari drone tersebut agar tidak mengenai kaca mobilnya.


Manufer yang dilakukan oleh Satrio tersebut membuat mobilnya sedikit oleng. Malangnya lagi, mobil Macel yang berada di belakang mobil Satrio terlambat untuk menghidari mobil di depannya. Kecelakaan mobil pun tidak bisa dihindari.


Mobil milik Satrio ditabrak dari samping cukup keras oleh mobi Marcel. Tidak sampai di situ, mobil sport itu juga terbalik karena hantaman itu. Sementara itu setelah menabrak mobil Satrio, mobil Marcel berputar beberapa kali sebelum kemudian menabrak pembatas jalan.


Disaat seperti ini tiba-tiba saja pemberitahuan dari sistem terdengar di telinga Andi.


[Ding]


[Misi telah dibuat]


[Misi : Selamatkan Satrio dari mobilnya yang akan terbakar]


[Hadiah : Sebuah mobil sport senilai tujuh milyar]


[Ding]


[Selesaikan misi dengan sepenuh hati Host. Kedepannya akan ada misi lainnya dengan hadiah yang sangat menarik]


Mendengar pemberitahuan sistem, Andi langsung berlari menuju mobil Satrio untuk menolong pemuda itu. Bukan untuk mengharapkan hadiahnya, meski tanpa hadiah pun Andi akan tetap menolong Satrio. Yang membuat Andi bergegas adalah perkataan sistem mengenai mobil Satrio yang akan terbakar.

__ADS_1


Jika Satrio terjebak di dalam mobil tersebut dan mobil tersebut terbakar, maka nyawa pemuda itu akan terancam. Oleh karena itu, Andi perlu bergegas menuju ke sana. Dari kejauhan Andi sudah melihat adanya asap yang keluar dari mobil Satrio. Secepat mungkin Andi berlari ke sana menghindari orang-orang yang juga ingin melihat keadaan pengemudi mobil.


Ketika Andi berada di dekat mobil Satrio, ia melihat asap mulai mengepul. Meski saat ini hujan, ini tetap saja berbahaya. Jika bahan bakar mobil Satrio bocor tentu saja api akan tetap muncul. Apalagi saat ini mobil Satrio terbalik, itu akan semakin bahaya jika bahan bakar mobil tersebut masuk ke dalam.


Andi melihat ke adaan di dalam, Satrio terlihat tidak sadarkan diri. Ia kemudian mencoba membuka pintu pengemudi mobil Satrio, namun pintu itu tidak bisa dibuka akibat di tabrak mobil Marcel. Pemuda itu kemudian menuju pintu penumpang tetapi sama saja. Dirinya kini tengah dikejar waktu.


Beberapa orang terlihat sudah mulai mendekat ke lokasi kejadian. Beberapa berlari ke mobil Marcel untuk mengecek keadaan pemuda itu, beberapa menghampiri mobil Satrio. Andi kemudian kembali menuju ke pintu pengemudi, mencoba membuka pintu itu dengan paksa.


Andi menarik sekuat tenaga pintu itu meski tertarik sedikit, itu tidak bisa mengubah semuanya. Pemuda itu kemudian mengecek keadaan Satrio, siapa tahu ia bisa menarik pemuda itu keluar tanpa membuka pintunya. Namun ternyata tidak bisa. Andi perlu melepas sabuk pengaman jika ingin melakukannya. Dan dari posisinya sekarang, sulit untuk Andi meraih pengait sabuk pengaman Satrio.


Andi menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri, untuk bisa mencari solusi. Namun, pemuda itu semakin gusar ketika ia mulai mencium bau barang terbakar. Waktu semakin memburunya. Dikala terdesak seperti ini, Andi teringat dengan hadiah kekuatan dan stamina yang ia dapatkan. Langsung saja Andi memakai hadiah tersebut. Ia harap dengan kekuatannya yang bertambah, dirinya bisa membuka pintu mobil Satrio.


Andi menarik kembali pintu mobil itu. Ia merasakan tenaganya bertambah kuat dari sebelumnya. Akhirnya, setelah beberap tarikan, Andi berhasil membuka pintu mobil tersebut. Langsung saja Andi merangkak melalui cela yang ada untuk membuka sabuk pengaman yang dikenakan Satrio.


Ketika Andi merangkat mendekat ke Satrio, ia bisa mencium bau bahan bakar. Area dalam mobil tersebut mulai panas. Sepertinya api sudah mulai muncul. Andi juga mengetahui hal tersebut dari teriakan orang-orang di sekitar kejadian.


Setelah sabuk pengaman lepas, Andi langsung menarik keluar Satrio. Sekarang api sudah mulai menyambar area dalam mobil. Kaki Satrio yang masih berada di dalam mobil pun tidak luput dari sambaran si jago merah. Andi buru-buru menarik Satrio menjauh dari sana.


“Mas Satrio.” Suara Widya terdengar mendekat.


Tetapi Andi tidak mempedulikan hal itu, yang terpenting saat ini adalah memadamkan api yang menjalar di pakaian Satrio. Sepertinya bahan bakar mobil sudah meresap di baju pemuda itu. Tanpa mempedulikan api yang ada, Andi mencoba merobek baju Satrio.


Meski membantu, tetapi air hujan tidak akan bisa langsung memadamkan api di tubuh Satrio. Jika dibiarkan lebih lama lagi, tubuh Satrio akan mengalami luka bakar yang cukup serius. Beberapa orang di sana juga mulai membantu Andi memadamkan api di tubuh Satrio dengan cara melepas kaos mereka dan melemparkannya ke tubuh Satrio.


Setelah api padam, Andi bernafas lega. Akhirnya dirinya bisa menyelamatkan nyawa Satrio. Tetapi meski selamat, Satrio butuh pertolongan tim medis.


“Seseorang hubungi ambulance.”


[Ding]


[Misi menyelamatkan Satrio telah selesai]


[Hadiah telah mobil sport telah terparkir di apartemen Host]


[Host hanya perlu menginformasikan sistem ketika sudah siap untuk menerima hadiah]

__ADS_1


__ADS_2