
Jangan lupa Vote, Like, Komen dan tambahkan favorit
Selamat membaca
Andi membiarkan Rosalinda menangis sepuasnya tanpa berniat menghiburnya. Ia tidak pandai menghibur seseorang. Apalagi seorang perempuan. Andi sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam hal ini.
Adiknya Amira tidak pernah bersedih hingga seperti ini. Jadi, yang bisa Andi lakukan hanya melihat Rosalinda menangis sesenggukan. Ia hanya menyodorkan kotak tisu kepada perempuan tersebut, untuk menghapus air matanya.
Dua puluh menit kemudian, Rosalinda berhenti menangis. Ia memandang lekat Andi yang kini duduk di depannya. Dirinya yang sekarang sudah rusak. Ia tidak pantas mendapatkan seorang laki-laki sebaik Andi. Andi lebih pantas bersanding dengan perempuan yang masih terjaga, tidak rusak seperti dirinya.
Maka dari itu, saat itu juga Rosalinda mengubur lebih dalam ketertarikannya kepada pemuda di depannya. Andi pantas mendapatkan yang lebih baik. Sekarang, Rosalinda hanya akan memandang Andi sebagai temannya, sebagai penolongnya.
Entah dari mana Andi tahu mengenai masalah ini, tetapi Rosalinda bersyukur Andi mengetahuinya. Karena bagaimana pun juga, Andi sudah membebaskannya dari jeratan Hermawan dan Karina. Rosalinda bertekad untuk membalaskan semua kebaikan yang Andi lakukan kepadanya.
“Terima kasih sudah menolongku.” Ucap Rosalinda dengan tulus.
Andi menggelengkan kepalanya. “Aku nggak pantas menerima ucapan terima kasih dari Mbak Ros.” Jawab Andi.
Pertolongan Andi tidak megubah apa pun. Rosalinda tetap saja dilecehkan oleh Hermawan dan Karina. Jika Andi benar-benar ingin menolong Rosalinda, seharusnya pemuda itu menyelamakan Rosalinda sebelum di lecehkan. Tetapi ia terlambat.
Jadi, hanya ini yang bisa Andi lakukan kepada Rosalinda. Membantu perempuan itu keluar dari jeratan Hermawan dan Karina. Menurut Andi, apa yang dilakukannya ini tidak pantas mendapatkan ucapan Andi dari Rosalinda.
“Tidak. Apa yang kamu lakukan sangat berarti untukku. Aku sempat berpikir mengakhiri hidupku. Mereka berdua mengancam diriku dengan foto dan video itu. Aku tidak tahu dari mana kamu mengetahui apa yang sudah menimpaku, tapi pertolongamu ini sangat berarti.”
“Sekarang, aku sudah bebas. Mereka tidak lagi memiliki apa yang bisa menjadi bahan untuk mengancamku. Aku cukup lega sekarang. Sekali lagi terima kasih atas pertolongan yang kamu berikan.” Jelas Rosalinda.
“Jadi, apa rencana Mbak Rosa setelah ini?” Tanya Andi.
Rosalinda sendiri juga bingung apa yang akan ia lakukan setelah ini. Ia sudah terbebas dari ancaman Hermawan dan Karina. Tetapi, mereka memberikan luka yang cukup besar bagi Rosalinda. Sudah pasti perempuan itu tidak akan bisa hidup seperti dulu.
Rosalinda tidak akan lagi melanjutkan pendidikannya. Perempuan itu tidak mau bertemu dengan Hermawan dan Karina yang menorehkan luka kepadanya. Ia juga tidak bisa pulang ke rumah. Apa yang terjadi pada dirinya pasti memberikan luka yang besar pula bagi keluarganya.
Apalagi ayahnya memiliki penyakit jantung. Rosalinda takut jika ia menceritakan hal ini kepada keluarganya, ayahnya tidak akan bisa menerimanya. Rosalinda takut penyakit jantung ayahnya kambuh dan menyebabkan laki-laki itu jatuh sakit.
Rosalinda menggelengkan kepalanya. “Aku nggak tahu. Yang jelas, aku nggak bisa lagi lanjut kuliah dan pulang ke rumah. Mungkin aku akan memulai kehidupan baru di kota lain. Aku akan memilih kota yang benar-benar asing bagiku, di mana tidak ada yang mengenaliku.” Jawab Rosalinda.
__ADS_1
“Apakah Mbak Ros akan pindah ke luar negeri? Maksudku dengan tinggal di luar negeri, nggak banyak yang akan kenal Mbak Ros.”
“Hahaha.” Meski Rosalinda tertawa, tetapi itu bukan tawa senang yang keluar dari mulutnya. Itu seperti sebuah tawa sarkas.
“Pindah keluar negeri? Uang dari mana? Kaluargaku bukan keluarga kaya. Ayahku hanyalah pegawai biasa sementara ibuku hanya pemilik toko sembako. Aku sendiri juga tidak memiliki gelar pedidikan. Hidup di luar negeri cukup mahal. Bagaimana mungkin aku bisa menghidupi diriku di luar negeri.” Tanya Rosalinda.
“Aku akan membantu biaya hidup Mbak Ros sampai Mbak Ros bisa hidup mandiri di luar.” Jawab Andi.
Andi melakukan ini untuk menebus rasa bersalahnya yang tidak bisa menyelamatkan Rosalinda. Satu hal yang Andi tidak kekuarangan pada saat ini adalah uang. Jadi, menurut Andi, tidak masalah baginya memberikan sedikit uangnya kepada perempuan di depannya ini.
Rosalinda menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mau lagi merepotkanmu. Bagaimana pun juga, kamu sudah banyak menolongku dalam masalah ini.”
Rosalinda tahu diri. Andi sudah banyak menolongnya dalam masalah ini. Menghapus foto dan video itu tidak mudah. Apalagi termasuk menghapus salinan fisiknya. Jelas Andi perlu menyuruh seseorang untuk masuk ke dalam rumah Hermawan dan Karina untuk menemukannya.
Resiko itu cukup besar. Jika sampai ketahuan, Andi bisa berurusan dengan polisi. Pemuda itu tetap mau menolong Rosalinda dengan segala resiko tersebut. Jadi, Rosalinda merasa tidak bisa lagi menerima bantuan dari Andi.
“Tetapi aku ingin menolong Mbak Ros dalam masalah ini.”
Rosalinda tetap menolaknya. “Aku tidak mau berhutang budi terlalu banyak padamu. Jadi, kamu tidak perlu melakukan semua itu.”
Rosalinda menggelengkan kepalanya. “Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Bantuanmu sekarang ini sudah cukup. Kamu tidak perlu melakukannya secara berlebih.”
“Atau begini saja. Aku akan meminjamkan sejumlah uang kepada Mbak Ros. Nantinya, Mbak perlu membayarkan uang tersebut kepadaku. Bagaimana dengan hal ini? Aku mohon kali ini jangan menolakku lagi.”
Rosalinda menarik nafas panjang mendengar Andi yang kekeuh tetap ingin menolongnya. Jika seperti ini, maka Rosalinda hanya bisa menerima bantuan dari pemuda itu. Ia tidak bisa menolaknya lagi.
“Baiklah. Aku akan menerima bantuanmu ini.”
Setidaknya Andi membantunya dengan meminjamkan uang kepadanya. Bukan lagi memberinya uang secara cuma-cuma seperti yang ia katakan sebelumnya.
“Kalau begitu Mbak Ros pikirkan saja negara mana yang ingin Mbak Ros tuju setelah ini” Ucap Andi.
“Sekarang, kita perlu membicarakan mengenai yang Mbak Ros hadapi saat ini. Aku akan membantu Mbak mencari keadilan atas apa yang terjadi pada Mbak. Aku akan melaporkan apa yang Hermawan dan Karina lakukan kepada Mbak Ros ke polisi. Mereka berlu diberi hukuman atas perilaku mereka.”
“Kamu tidak melakukannya.” Ucap Rosalinda setelah mendengar apa yang Andi katakan.
__ADS_1
“Kenapa tidak? Apa Mbak Ros tidak mau membalaskan kejadian yang menimpa Mbak? Kenapa melarangku malkukannya?” Tanya Andi heran.
“Pertama, kita tidak memiliki cukup banyak bukti dalam masalah ini. Tanpa ada alat bukti yang cukup, polisi tidak akan memproses laporan kita. Kasus ini tidak akan pernah masuk meja hijau. Yang ada kita bisa saja dituntut balik dengan tuduhan pencemaran nama baik.”
“Kedua, keluarga Hermawan adalah keluarga yang memiliki kekuasaan besar di kota ini. Mereka bisa menggunakan kekuasaan mereka untuk menghindar dari masalah ini. Jadi, jika kita melaporkannya kita tidak akan mendapatkan hasil yang kita inginkan.”
“Aku sudah memiliki bukti rekaman percakapan kalian. Dengan rekaman ini dan juga kesaksian Mbak Ros, aku rasa buktinya sudah cukup untuk memasukkan Hermawan ke penjara.”
“Rekaman apa?”
Andi langsung memutarkan rekaman suara dari percakapan yang sudah disadap oleh Chayan. Ia memutar seluruh rekaman percakapan yang ia miliki kepada Rosalinda.
Memang semua percapakan itu dan kesaksian dari Rosalinda bisa menjadi alat bukti untuk membawa Hermawan dan Karina ke meja hijau. Bukankah hanya dibutuhkan dua alat bukti yang cukup untuk menaikkan status seseorang sebagai tersangka?
Tetapi, seorang tersangka belum tendu juga menjadi seorang terpidana. Dalam proses peradilan, nantinya masih bisa terjadi apapun. Bisa saja Hermawan memanfaatkan kekuasaannya untuk menyogok hakim dan membuat hakim memberikan putusan yang sangat menguntungkannya.
“Kita tidak bisa melawan Hermawan. Kekuasaan keluarganya cukup besar. Dia bisa memakai kekayaannya untuk menyuap hakim korup. Jadi, cukup sulit bagi kita melakukannya.”
“Aku tetap akan mencari cara agar Hermawan mendapatkan balasan atas apa yang ia perbuat. Bagaimana pun juga, aku seorang anak yang terlahir dari perempuan. Seorang kakak yang memiliki adik perempuan.”
“Kelak aku juga akan menjadi seorang suami dari seorang perempuan. Seorang ayah dari seorang perempuan. Jadi aku tidak bisa diam saja jika ini terjadi. Aku perlu memberikan keadailan bagimu Mbak.”
“Bagaimana jika perempuan di keluargaku kelak mengalami nasib seperti ini? Jika aku diam saja sekarang, bisa saja jika anggota keluagraku mengalami hal yang sama, tidak akan ada yang mau membantunya.”
“Aku sudah mengetahui masalah ini. Aku memiliki tanggung jawab sebagai seorang lelaki untuk melakukan ini. Jika aku tidak mengetahuinya mungkin aku tidak bisa berbuat banyak. Maka dari itu aku akan membantumu Mbak.”
Andi sangat tidak menyukai mereka yang memanfaatkan kekayaan untuk menindas orang yang lemah. Apalagi seorang laki-laki yang melecehkan perempuan. Dengan kekayaan dan kekuasaan yang dimilikinya, sang laki-laki merasa bisa dengan mudah terbebas dari jeratan hukum.
Laki-laki yang seperti ini yang sangat Andi benci. Dia akan memakai segala cara untuk membuat laki-laki seperti Herman mendapatkan balasan atas perbuatannya.
Jika memang sekarang cukup sulit bagi Andi membalas Hermawan, maka Andi akan bersabar dan menunggu. Jika perlu Andi juga akan menghancurkan keluarga Hermawan seperti apa yang ia lakukan kepada keluarga Jony.
Dengan Jony, dulu Andi tidak memiliki kekuatan apa pun untuk melawannya. Tetapi pada akhirnya Andi berhasil bukan? Jadi sekarang ketika dirinya bisa mendapatkan uang ratusan milyar dalam sebulan, tentu saja Andi tidak akan takut dengan Hermawan dan keluarganya.
Andi tidak tahu seberapa besar keuasaan dan kekayaan dari keluarga Hermawan. Tetapi yang jelas, jika Andi ingin menghancurkan keluarga pemuda itu, maka Andi membutuhkan waktu yang lebih lama. Membalas Hermawan akan menjadi tujuan jangka pendek dari Andi saat ini.
__ADS_1