
Ketua Ma yang merupakan Komandan dari Anggota Badan Inteligen Khusus milik Dimas duduk di dalam sebuah mobil truk besar di depan semua anggotanya yang lain lalu dengan nada tegas memberikan instruksi rencana penyelamatan Arabella.
“Kita sudah sampai. Rumah yang berlantai dua berwarna abu-abu tua itu adalah lokasi dimana Nona Arabella disekap. Kita harus bergerak cepat dan menyelamatkannya.” Ucap Ketua Ma dengan nada tegas dan ekspresi wajah yang serius sambil melihat ke arah anggotanya yang lain.
Ketua Ma pun memberikan instruksi kepada Anggotanya untuk bergerak dalam diam, cepat dan bersih. Ketua Ma pun membawa Anggotanya untuk menyebar menjadi dua kelompok dengan gerakan tangan.
“Syuh!”
Ketua Ma yang berada di tempat yang terlihat semuanya pun memberikan gerakan kode angka satu.. dua...tiga... dengan jarinya lalu dengan cepat Anggota Badan Inteligen Khusus mendobrak pintu rumah bagian depan dan belakang lalu menyerbu masuk ke dalam dengan terburu-buru.
Tiga orang Pereman yang merasa jika semua rencananya sudah sangat sempurna dan tanpa celah pun menurunkan kewaspadaannya dan bersenang-senang menikmati semua fasilitas yang ada di dalam Rumah itu.
Namun tidak disangka tiba-tiba ada banyak sekali orang berseragam hitam datang dengan membawa senjata yang membuat ketiga Pereman menjadi terkejut dan kelabakan.
“Apa-apaan ini? Siapa kalian?” teriak salah seorang Pereman dengan eskpresi wajah yang kaget dan suara yang bergetar dan seketika berubah menjadi pucat saat melihat bahwa mereka telah dikepung baik di dari depan ataupun dari belakang.
Dimas dan Edo yang pergi dengan kecepatan tinggi ternyata dapat sampai di lokasi keberadaan Arabella tepat waktu.
“Akhirnya kita sampai juga!” ucap Edo yang merasa tubuhnya melayang dan kepalanya sedikit pusing karena kecepatan mobil yang begitu meningkat tajam dan tanpa bisa menahan diri Edo pun memuntahkan semua makanannya ke tanah.
Dimas yang melihat kondisi Edo tidak memaksanya untuk ikut masuk ke dalam dan membiarkannya tetap berada di sana dan menghubungi polisi agar segera datang.
“Kau tetap disini dan pulihkan kondisimu lalu segera hubungi polisi dan minta mereka untuk segera datang jika tidak bongkar semua skandal Kantor Polisi itu ke media.” Ucap Dimas dengan beberapa ancaman dengan ekspresi wajah yang serius lalu berbalik arah berjalan masuk ke dalam rumah.
Dimas yang telah berada di dalam rumah itu melihat bahwa Anggota Badan Inteligen Khusus telah mengepung rumah itu sehingga terlihat tiga orang yang sedang terjebak di tengah-tengah.
Dimas pun berjalan dengan santai ke arah tiga orang pereman dengan tatapan mata yang tajam dan penuh kemarahan dengan dua tangan berada di dalam saku celananya.
“Kalian sudah terkepung. Dimana Arabella?” tanya Dimas dengan eskspresi wajah yang sangat seram yang tidak mendapatkan jawaban apapun dari ketiganya.
Dimas yang marah pun menghajar ketiganya dengan sangat keras dengan diawasi oleh seluruh Anggota Badan Inteligen Khusus hingga ketiganya jatuh pingsan.
“Bang!”
“Brak!”
“Argh!”
“Brugh!”
“Prang!”
Dimas yang masih belum selesai memukul ketiganya tiba-tiba mendapatkan informasi bahwa dirinya menemukan sebuah kamar yang terkunci dengan sangat rapat dan Dimas pun dengan cepat berlari ke lantai dua dan memerintahkan Ketua Ma untuk mendobrak pintu itu.
__ADS_1
“Tuan Muda, kami menemukan sebuah kamar yang sangat mencurigakan karena kamar itu bahkan terkunci kami yakin disana adalah tempat Nona Arabella disekap.” Salah seorang anggota dengan tergesa-gesa hingga keringat mengalir ke pipinya dengan ekspresi wajah yang cemas.
“Antar aku kesana!” perintah Dimas dengan lugas dan tekanan di setiap katanya dan serta dengan sorot mata yang tajam seperti elang.
“Tap! Tap! Tap!”
“Ini kamarnya.” Ucap Ketua Ma yang telah berdiri di depan pintu kamar sambil menundukkan kepala sekali seakan memberikan hormat.
“Dobrak pintunya!” perintah Dimas dengan ekspresi wajah yang datar tanpa ekspresi dengan memfokuskan penglihatan matanya ke depan ke arah pintu yang sedang terkunci rapat.
“Bugh! Bugh! Bugh!”
“Brak!” suara pintu berhasil terbuka.
Dimas yang berdiri di depan pintu menyaksikan dengan kedua matanya bahwa ada seorang pria dengan berani mengangkat tangannya dan menampar wajah Arabella hingga Arabella terjatuh ke tempat tidur dan mengelurkan darah segar dari bibirnya.
“Plak!” suara tamparan.
“Ba***at! Beraninya kau menyentuh wanitaku!” teriak Dimas yang marah langsung menerobos masuk dan menghajar Ketua Perampok tepat diwajahnya hingga Ketua Perampok itu pun terjatuh ke lantai dan menghantam dinding.
“Brak!”
“Aggghhh!”
“Tangkap dan ikat dia!” perintah Ketua Ma dengan ekspresi wajah yang datar sambil melihat ke arah Dimas yang langsung melepaskan jasnya dan meletakkannya ke pundak Arabella lalu menutupi bagian tubuhnya yang terkekspos.
“Aku tidak akan membiarkan orang-orang ini dapat hidup dengan tenang karena telah berani menyentuh wanitaku!” ucap Dimas dalam hati sambil memeluk Arabella dengan sangat erat ke dalam pelukannya.
Arabella yang merasa sangat bahagia saat kedatangan Dimas merasa seluruh tubuhnya terasa sangat sakit dan rasa panas dan mengganjal yang dirasakannya itu pun terjadi lagi sehingga membuat Arabella mengeram meminta tolong kepada Dimas.
“To-tolong aku! Tubuhkuk panas sekali!” ucap Arabella seakan mendesah dengan ekspresi wajah tersiksa dan merah seperti udang rebus serta hembusan nafas yang tidak teratur.
Dimas yang sering melihat kondisi yang dialami Arabella di kehidupan terdahulunya sangat mengenal bahwa Arabella dalam pengaruh obat perangsang.
“Obat Perangsang!” ucap Dimas dengan ekspresi wajah bingung dan dilema dan tak terduga Arabella memajukan wajahnya dan mencium bibir Dimas dengan ciuman yang sangat dalam dan intens.
Dimas yang dipancing oleh Arabella tidak bisa menahan diri hingga akhirnya Dimas pun terhanyut dalam ciuman hangat dan panas bersama Arabella.
“Aaarrgghhh!” suara erangan Arabella.
Dimas yang tidak ingin menyentuh Arabella sebelum dirinya sah menjadi suami Arabella pun menahan godaan itu dengan sekuat tenaga sehingga Dimas pun mengangkat Arabella lalu menggendongnya turun ke lantai bawah dan membawanya pergi meninggalkan semua orang yang menatap ke Dimas.
“Tuan Muda... Anda mau kemana?” tanya Edo yang bingung saat melihat Dimas yang tergesa-gesa membawa Arabella pergi bahkan Dimas mengambil kunci mobil dan memaksa membawa mobil itu sendiri.
__ADS_1
“Kau urus masalah disini dan jangan biarkan ke empat orang itu bebas dan jangan lupa siksa keempatnya sehingga mereka merasakan lebih baik mati daripada harus menjalankan hidup!” ucap Dimas dengan tatapan mata yang tajam yang penuh dengan kemarahan dan dendam yang membara.
Dimas pun membawa Arabella pergi menggunakan mobil menuju ke Apartemen Pribadinya karena Dimas tidak yakin bisa membawa Arabella kembali ke Kediamannya sekarang mengingat akan adanya pembicaraan yang tidak menyenangkan tentang Arabella keesokan harinya.
Dimas pun membawa mobilnya dengan kecepatan yang tinggi dan tidak memperdulikan lampu merah dan bahkan mengabaikan peraturan berkendara.
*JANGAN DITIRU*
“Aku harus cepat jika tidak Arabella tidak akan bisa terkendali lagi.” Ucap Dimas dalam hati sambil memfokuskan penglihatannya ke depan.
Namun tiba-tiba tidak disangka Arabella tidak bisa menahan rasa panas dan gejolak keinginan akan belaian dari seorang pria membuatnya mengganggu Dimas hingga akhirnya Dimas hampir saja menabrak pohon.
“A-arabella... Ku-kumohon hentikan.. Aaarrgghh...” ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang memerah dan tidak karuan karena tindakan yang dilakukan Arabella pada satu-satunya miliknya.
Dimas yang mencoba terus bertahan akhirnya sampai di depan tempat parkir gedung Apartemen Pribadinya lalu menarik Arabella menjauh darinya dan merapikan kembali celananya yang telah dikacaukan Arabella.
“Srak!”
“Sruuukkk!”
Dimas pun membuka pintu mobil dan menggendong Arabella ke atas pangkuannya lalu bergegas masuk ke dalam lift dan menuju ke nomor Apartemennya dengan kecepetan tercepatnya.
“Tap! Tap! Tap!” suara langkah kaki.
“Ting!” bunyi lift yang terbuka dan tertutup.
Arabella yang sudah dikuasai oleh Obat Perangsang tidak dapat berfikir dengan jernih sehingga membuat Arabella memeluk Dimas dengan sangat erat dan mencoba membuka kerah baju Dimas dan menciumi setiap bagian leher Dimas tanpa terkecuali sehingga leher Dimas telah dipenuhi dengan cap lipstik dari bibir Arabella.
“Cup! Cup! Cup!” suara kecupan bibir Arabella.
Dimas pun bergegas masuk ke dalam pintu Apartemennya dan tak lupa menguncinya. Dimas pun berlari menuju kamarnya dan meletakkan Arabella ke dalam bathup dan menghidupkan air dingin untuk membuat Arabella merasa lebih nyaman.
“Syuurrr!” suara air mengalir.
“Lebih baik kau masuk angin dan terkena flu daripada aku harus menjadi hewan buas dan membuatmu kehilangan mahkota yang sangat berharga bagimu!” guman Dimas dengan suara rendah dengan tatapan penuh kasih dan cinta sambil membelai wajah Arabella yang bengkak karena tamparan Ketua Pereman yang seketika membuat Dimas mengepalkan tangan menahan amarahnya.
#Bersambung#
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..
😊😍😘
Terima kasih
__ADS_1