CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 38. Rencana Jahat


__ADS_3

Arabella dan Dimas yang sudah selesai berbelanja pun kembali ke Kediamannya berdua saja sementara barang-barang belanjaannya akan di antar secara khusus.


Sedangkan di Kediaman Keluarga Cabang Arthama Jaya yaitu rumah Pak Bambang dan Bu Selena sedang terjadi keributan. Pak Bambang yang ingin mengambil semua aset Keluarga Arthama Jaya merasa semakin sulit karena Dimas mengalami perubahan yang sangat drastis.


Pak Bambang yang selama ini selalu dilibatkan dalam urusan internal Perusahaan Arthama Jaya Group, sekarang merasa diabaikan bahkan Dimas seolah tidak memerlukan sarannya sama sekali.


"Dasar anak kurang ajar! Berani sekali dia mengabaikanku!" teriak Pak Bambang yang sedang marah di depan Bu Selena.


"Tenanglah. Kau tidak perlu marah untuk hal ini. Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Tidak mungkin Dimas mengabaikanmu. Bukankah anak itu selalu menuruti perkataanmu." ucap Bu Selena mencoba menenangkan.


"Tidak! Ini bukan hanya perasaanku saja. Anak itu benar-benar telah berubah sekarang." ucap Pak Bambang yang marah sambils memecahkan beberapa barang yang terbuat dari kaca.


"Baiklah aku mengerti. Kita harus mencari jalan keluar untuk masalah ini karena kita tidak bisa menunggu terlalu sampai anak itu memiliki cukup kekuatan untuk mengontrol semua aset dari Keluarga Arthama Jaya." ucap Bu Selena yang terlihat kebingungan yang akhirnya memilih duduk di salah satu sofa di ruangan itu sambil memijat dahinya yang mulai berkerut karena pusing.


"Kita harus segera membunuh anak itu. Aku tidak ingin anak itu semakin tumbuh dan membahayakan kita di masa depan." ucap Pak Bambang yang juga akhirnya tersadar akan prioritas utamanya.


"Bagaimana jika kita mulai memikirkan rencana terakhir kit untuk menghabisinya?" tanya Bu Selena kepada Pak Bambang yang ternyata juga sedang memikirkan hal yang sama.


"Kita akan membicarakan hal itu lagi nanti tapi sekarang bukan waktu yang tepat karena banyak mata dan telinga di sini. Jika musuh mengetahui rencana kita mak kita lah yang akan kehilangan nyawa terlebih dahulu." ucap Pak Bambang meredakan amarahnya yang kemudia ikut duduk di sofa bagian lain dan kemudian menyulut sebatang rokok untuk dihisap.


Bu Selena yang telah menikah dengan Pak Bambang selama puluhan tahun sangat mengerti apa yang dibicarakan Suaminya jadi Bu Selena memanggil beberapa pelayan untuk membersihkan ruangan itu dari sisa-sisa pecahan kaca.


Lalu, Bu Selena pergi ke kamar Heru. Bu Selena memerintahkan kedua Bodyguard yang berjaga untuk membuka pintu dan pergi dari sana.


Lalu Bu Selena masuk ke dalam dan mendapati ruangan itu gelap sekali bahkan hampir tidak ada cahaya yang masuk. Semua lampu dimatikan serta tirai pun tertutup dengan sangat rapat.


Bu selena yang tidak menyukai keadaan itu berjalan ke arah tirai dan membukanya lebar-lebar lalu membuka pintu balkon. Saat Bu Selena berbalik, Bu Selena akhirnya dapat melihat keadaan kamar yang secara keseluruhan sangat berantakan.

__ADS_1


Kamar itu dipenuhi dengan asap rokok yang sangat tebal serta barang-barang yang berserakan di lantai dan tidak pada tempatnya. Botol minuman yang biasanya hanya menjadi pajangan dikamar itu telah terbuka beberapa bahkan isinya pun telah habis.


Bu Selena yang melihat keadaan Putra semata wayangnya yang dalam keadaan sangat memprihatinkan karena seorang wanita merasa sangat sedih. Bu Selena yang tak tahan segera berlari ke arah Heru dan menyadarkan Putranya dari keadaan setengah sadar dan setengah pingsan.


"Heru! Putraku!" seru Bu Selena yang langsung menyentuh pipi Heru dan berharap Heru dapat segera pulih.


"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau jadi seperti ini? Apa kau lupa dengan tujuan utama kita?" tanya Bu Selena. "Kau tidak boleh hancur hanya karena wanita. Kau harus sadar. Kau harus menghancurkan Dimas dan ambil semua yang menjadi miliknya. Kau harus membalas dendam kedua orangtuamu ini yang selalu menjadi yang kedua." tambah Bu Selena sambil mengguncang-guncangkan tubuh Heru.


Heru yang awalnya tidak memiliki keinginan apapun dan tak memiliki semangat untuk berjuang akhirnya tersadar setelah mendengar apa yang dikatakan Bu Selena.


Heru pun mengangkat kepalanya lalu melihat Bu Selena yang ada di depan matanya. Heru pun bertekad untuk membalas Dimas dan mengambil semua yang seharusnya menjadi milikny dan orangtuanya termasuk Arabella.


Heru tidak akan menyerah untuk mendapatkan Arthama Jaya Group dan juga Arabella.


'Benar! Aku tidak boleh hancur! Semua Properti Keluarga, Perusahaan dan juga Arabella sudah ditakdirkan menjadi milikku. Aku harus merebut semunya kembali' tekad Heru dalam hati.


"Baiklah. Jangan khawatir saat kau selesai semua telah kembali rapi dan baru, Putraku." ucap Bu Selena senang.


Heru pun berdiri dari tempatnya lalu berjalan ke arah kamar mandi meninggalkan Bu Selena sendiri.


Bu Selena yang tidak ingin Heru kembali kekeadaan yang kacau lagi segera memanggil Kepala Pelayan Rumah Tangga untuk membereskan semua kekacauan.


Lalu, Bu Selena yang tidak memiliki kepentingan apapun lagi segera keluar dari ruangan itu.


Beberapa jam kemudian, saat Heru yang bersiap pergi ke Kantor tiba-tiba Asisten Heru yang bernama Mike datang membawakan sebuah undangan tentang Pesta Akuisisi Perusahaan A.


Heru yang tidak menyangka jika Perusahaan Gelapnya ternyata telah diambil oleh Dimas. Heru yang sangat marah pun mengambil Vas Bunga yang ada di sampingnya dan melemparkanny ke dinding hingga hancur berkeping-keping.

__ADS_1


Mike yang melihat Heru marah hanya bisa menelan ludahnya dan keringat membanjiri pelipisnya. Mike hanya berharap Heru tidak menambahkan banyak pekerjaan padanya.


'Semoga Tuan Muda tidak memberiku banyak tugas, Tuhan! Aku sudah hampir satu bulan tidak pulang ke Apartemenku!' doa Mike dalam hati.


"Apa kau sudah menyelipkan mata-mata di Perusahaan A yang telah diakuisisi Dimas?" tanya Heru yang sedang meremas undangan di tangannya.


"Ya, Tuan Muda. Sudah ada beberapa orang kita yang terpercaya telah masuk ke bagian internal Perusahaan itu." tegas Mike sambil menundukkan kepala.


"Bagus!" ucap Heru dengan senyum sinis. "Selalu awasi pergerakan Dimas dan cari tau apa yang sedang direncanakannya sekarang!" perintah Heru yang kemudian melempar undangan ke dalam kotak sampah.


Mike yang merasa akhirnya bisa bersantai sejenak menjadi sangat senang. Senyum di wajah tidak bisa berhenti dan saat Mike akan keluar tiba-tiba Heru memanggilnya.


"Satu hal, cari tau keberadaan Arabella dan dimana dia tinggal sekarang. Lalu, pastikan apa hubungan Arabella dan Dimas sekarang? Aku ingin laporannya secepatnya!" perintah Heru yang kemudian melihat ke arah Heru yang mematung di tempatnya.


"Ba-baik Tuan Muda." jawab Mike dengan senyum dan dengan sekuat tenaga tidak menunjukkan kekecewaannya.


'Hari santaiku!' teriak Mike dalam hati dan seolah menangis pilu.


Mike pun keluar dari kamar Heru dan segera melaksanakan tugasnya. Sementara itu, Heru yang masih kesal menghubungi seseorang untuk menghentikan rencana yang telah disusun untuk nanti.


"Kacau! Semua jadi kacau karena Dimas! Tunggu, aku pasti akan menghancurkanmu sampai tidak memiliki pilihan untuk lari selain kematian!" ucap Heru dengan wajah dingin dan senyuman jahatnya.


#**Bersambung#


Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Lovenya..


Terima kasih..

__ADS_1


🥰😍😘😚**


__ADS_2