
Dimas yang hanya diam sementara waktu pun menepuk pundak Edo untuk memberikan kode untuk berhenti.
“Sudah cukup! Jika kau terus memukulnya, dia akan meninggal karena kelelahan dan kehabisan darah!” ucap Dimas dengan suara yang rendah dengan ekspresi wajah yang serius
Edo yang bersiap untuk menghajar wajah pembunuh tersebut lagi pun berhenti di tempat dan menurunkan tangannya seperti yang diinginkan Dimas.
Edo yang masih sangat kesal khawatir jika dirinya akan kehilangan kesabarannya lagi pun berjalan mundur ke belakang Dimas.
“Baiklah. Hentikan semua ini. Sekarang padaku siapa yang telah membayarmu dan apakah kalian berempat yang telah merencanakan ini semua?” tanya Dimas dengan nada suara yang dingin dan eskspresi wajah yang tajam.
“Lebih baik aku mati daripada harus mengatakan sesuatu padamu!” ucap pembunuh tersebut dengan pandangan mata yang sungguh-sungguh dengan ekspresi wajah yang serius.
“Aku tidak akan membunuh tapi aku akan membunuh keluargamu jika kau tidak mengatakannya padaku sekarang!” ancam Dimas yang menurutnya akan berhasil karena seorang pembunuh pasti tidak ingin keluarganya menanggung perbuatan buruknya.
Namun hal itu tidak seperti yang ada di bayangan Dimas, pembunuh tersebut tertawa dengan sangat keras dan membuat Dimas dan yang lainnya menatapnya dengan tatapan mata yang aneh.
“Keluarga! Tidak ada yang namanya Keluarga dalam hidupku jika kau ingin membunuh mereka maka lakukan saja. Aku akan sangat senang mendengar kabarnya!” ucap Pembunuh tersebut dnegan nada suara yang mengejek.
__ADS_1
Dimas yang tidak menemukan cara untuk membuat pembunuh itu berbicara pun mengambil pedang yang ada di tanah dan mengayunkan pedang dan menusukkan pedang tersebut ke tubuh pembunuh beberapa kali hingga akhirnya pembunuh tersebut mengeluarkan banyak darah dan menghembuskan nafas terakhirnya.
Ketua Ma dan Edo yang melihat Dimas membunuh orang seperti hal yang biasa pun menjadi sangat terkejut lalu sadar kembali.
Edo yang melihat Dimas dalam keadaan yang tidak baik pun memberikan saran kepada Dimas dan Dimas pun menyetujuinya.
“Tuan Muda! Anda harus segera ke rumah sakit dan mengobati luka di tangan dan dahi anda!” ucap Edo dengan ekspresi wajah yang cemas dan nada suara yang khawatir.
“Aku akan melakukannya dan aku ingin kalian berdua mengurusi masalah ini. Aku tidak ingin hal ini menjadi besar dan bereskan masalah ini hingga tuntas!” ucap Dimas yang memberikan perintah dengan nada suara yang tegas.
“Aku juga ingin kalian selidiki siapa orang-orang ini dan cari tau siapa yang telah membayar mereka!” ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang serius.
Baik!” ucap Ketua Ma yang menyadari jika itu adalah tugas yang dipercayakan Dimas untuknya dengan nada suara yang tegas.
Dimas yang telah mengatakan yang ingin dikatakannya pun mengambil kunci mobil yang ada di tangan Edo dan berniat mengendarai mobil sendirian ke rumah sakit.
“Tu-tunggu! Tuan Muda! Apa yang ingin anda lakukan? Apakah anda ingin membawa sendiri mobil itu hingga ke rumah sakit?” tanya Edo dengan ekspresi wajah yang tidak percaya dengan tatapan mata yang aneh.
__ADS_1
“Kenapa? Tentu saja!” ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang tegas sambil membuka pintu mobil yang mengarah ke kemudi mobil dengan tangannya yang masih bisa digerakkan.
“Tidak! Aku tidak akan mengizinkannya! Aku yang akan mengantar Tuan Muda ke rumah sakit! Sebaiknya Tuan Muda jangan protes ataupun melawan atau saya akan memberitau Nona Arabella jika Tuan Muda mengalami kecelakaan dan juga mendapatkan serangan pembunuh di saat bersamaan!” ancam Edo dengan ekspresi wajah yang serius dan tatapan mata yang tajam dengan tekad yang telah bulat terlihat jelas di wajahnya.
Dimas yang merasakan hal yang sangat mengganggu pun menghembuskan nafasnya dengan kasar dan menatap Edo dengan tatapan wajah yang tidak senang.
“Baiklah! Dengan syarat jika kau harus merahasiakan semuanya dari Arabella! Aku tidak ingin dia cemas!” ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang melemah.
Edo yang menang dalam adu mulut pun tersenyum puas pada dirinya sendiri dan membuka pintu mobil yang ada di belakang dan mempersilahkan Dimas masuk.
Dimas yang tidak punya pilihan lain pun masuk ke dalam dan bersandar di kursi belakang dengan kepala yang terasa sangat sakit dan rasa lelah yang baru saja menghampirinya.
Edo yang melihat Dimas yang telah duduk dengan patuh pun tersenyum senang dan masuk ke kursi kemudi lalu membawa mobil menuju rumah sakit dengan sangat cepat meninggalkan Ketua Ma menyelesaikan semua yang ada di sana sendirian.
#Bersambung#
Apakah Arabella tidak akan tau yang terjadi pada Dimas sama sekali? Apakah luka Dimas hanya luka biasa saja? Tebak di kolom komentar ya...
__ADS_1