CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 167. Kunjungan Kematian


__ADS_3

Dimas yang datang membawa parcel yang telah disiapkan oleh Pak Antoni pun sampai di Rumah Sakit.


Semua orang yang melihat kedatangan Dimas pun menyanjung sifat Dimas yang sangat baik layaknya malaikat.


Meskipun begitu, Dimas yang tidak perduli dengan perkataan orang-orang terus berjalan meninggalkan orang-orang yang memuja sifat dan juga kekayaan yang dimiliki.


Dimas yang telah sampai di Ruangan VVIP yang sengaja dipesan oleh Pak Bambang untuk Bu Selena agar mendapatkan Perawatan yang terbaik hanya tersenyum dengan tatapan menghina.


“Hmmm! Tenanglah Pamanku dan Sepupuku tersayang. Aku akan menjamin jika Bu Selena tidak akan selamat hari ini karena dia harus mendapatkan hukuman untuk kesalahannya di Akhirat!” ucap Dimas dengan senyum yang lembut di hadapan Pak Bambang dan Heru dalam hati.


“Paman! Heru! Aku sungguh bersedih mendengar Bibi mengalami kecelakaan. Aku harap Bibi akan segera sadar kembali!” ucap Dimas dengan nada suara yang datar dengan ekspresi wajah yang tidak berubah.


Heru yang melihat sikap Dimas hanya bisa mengepalkan tangannya karena tidak bisa melakukan apapun pada Dimas karena ada beberapa Perawat yang sengaja tidak ingin keluar dari Ruangan karena ingin melihat wajah Dimas.


Dimas yang tidak ingin menghabiskan waktu berlama-lama di Ruangan itu pun meminta izin untuk kembali kepada Pak Bambang.


“Agh! Paman! Maafkan aku! Aku tidak bisa berlama-lama disini karena aku harus kembali ke Kantor. Ada banyak orang-orang yang bergantung kepada Perusahaan Arthama Jaya Group untuk melanjutkan hidup jadi aku tidak bisa bermalas-malasan!” ucap Dimas dengan nada suara yang menyindir sambil menatap rendah ke arah Heru yang sedang duduk di samping Bu Selena.

__ADS_1


“Baiklah. Paman tidak akan menunda waktumu. Kau boleh kembali, keponakanku!” ucap Pak Bambang dengan ekspresi wajah yang bersahabat dan senyum yang lembut dan ramah.


Dimas yang telah berjalan menuju ke luar ruangan sambil memegang gagangan pintu Ruangan dengan ekspresi wajah yang pura-pura sedih di hadapan kamera.


Lalu tiba-tiba Dimas mengeluarkan Jam Arloji yang ada di dalam saku celananya dan berpura-pura melihat jam padahal ternyata dirinya sedang menghentikan waktu.


“Hmmm, waktu telah berhenti! Bukankah sekarang adalah waktu yang tepat mengirim Bibiku tersayang bertemu dengan Dewa Yama!” ucap Dimas dengan senyum jahat dan ekspresi wajah yang dingin.


Dimas yang melihat semua orang yang ada di sekitarnya tidak bergerak sama sekali pun berjalan mendekati Bu Selena yang sedang terbaring.


Dimas yang berdiri berhadapan dengan Heru pun menatap Bu Selena yang sedang berbaring sambil menutup mata pun mencabut selang pernafasan yang ada di hidung Bu Selena.


Bu Selena yang tidak bisa bernafas dengan normal saat ini pun kesulitan bernafas hingga wajahnya berubah menjadi merah.


Dimas yang melihat Bu Selena sudah berada di ujung nafasnya pun memasang kembali selang pernafasannya lalu mengeluarkan sebuah jarum suntik yang tersembunyi di dalam Jasnya.


“Hmmm, aku sangat ingin bermain-main dengan Bibiku tersayang tapi aku tidak punya waktu untuk menemanimu jadi aku akan langsung ke inti saja. Jadi aku harap Bibi akan menerima hadiahku dengan senang hati!” ucap Dimas sambil bergerak menusukkan sebuah cairan yang ada di dalam suntikan ke dalam cairan infus Bu Selena.

__ADS_1


Dimas yang melihat Bu Selena telah mulai bereaksi kembali dengan cairan campuran yang dimasukkannya ke dalam Selang Infus pun berjalan meninggalkan Rumah Sakit dan tak lupa memutar kembali waktu yang telah berhenti.


Sementara itu, Heru yang duduk di samping Bu Selena menjadi sangat panik saat melihat Bu Selena berada dalam situasi yang gawat.


“Dokter! Dokter! Perawat! Dimana kalian? Cepat tolong Ibuku!” teriak Heru dengan sangat keras dengan ekspresi wajah yang cemas dengan tatapan mata yang khawatir.


Tak butuh waktu lama, Dokter dan Perawat pun berdatangan dan masuk ke dalam Ruangan VVIP untuk memeriksa kondisi Bu Selena.


Pak Bambang dan Heru yang tidak memiliki kepentingan di dalam Ruangan itu pun diusir keluar oleh Perawat.


“Maafkan saya tapi Tuan-tuan harus meninggalkan ruangan ini karena Para Dokter dan Perawat membutuhkan ruang pribadi untuk mengurus Pasiennya!” ucap Perawat tersebut dengan ekspresi wajah yang datar dan nada suara yang dingin.


“Ta-tapi aku tidak bisa meninggalkan Ibuku sendirian disana!” ucap Heru yang mencoba menolak keluar lalu tiba-tiba Pak Bambang menepuk pundak Heru dan memberikan kode agar Heru menyerah.


Heru yang tidka punya pilihan lain pun hanya bisa duduk dengan tubuh yang bergetar dan ekspresi wajah yang siap menangis kapanpun.


“Kumohon! Kumohon! Selamatkan Ibuku!” ucap Heru dalam hati dengan kepala yang tertunduk ke bawah dan lutut yang tertekuk duduk dengan ekspresi wajah yang sedih.

__ADS_1


#Bersambung#


__ADS_2