CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 102. Hukuman untuk Perawat Penggoda


__ADS_3

Dimas yang melihat kedatangan Edo pun menyerahkan resep obat Arabella padanya dan memerintahkannya untuk menebus obat itu.


"Apakah tugasmu telah selesai?" tanya Dimas tanpa berbalik arah dan tetap duduk menghadap Dokter Simons dengan eskpresi wajah yang datar.


"Semua sudah sesuai dengan keinginan, Tuan Muda." ucap Edo dengan nada tegas dengan ekspresi wajah yang dingin sambil melihat punggung Dimas dan tersenyum ramah kepada Dokter Simons.


Dimas yang ingin mendengar detail dari perkembangan tugas yang diberikannya pun mengajak Edo untuk mengikutinya dan mengantar Dokter Simons untuk pulang.


"Tuan Muda, sepertinya tugas saya juga sudah selesai. Saya pamit pulang dulu dan jika Muda membutuhkan bantuan apapun, silahkan hubungi saya kapapun." ucap Dokter Simons sambil membereskan barang-barangnya dan berangkat pergi dari Apartemen Dimas.


"Terima kasih, Dokter." ucap Dimas dengan senyum tulus sambil berjalan mengantar Dokter Simons keluar dari pintu dan kemudian bersalaman.


Setelah kepulangan Dokter Simons, Dimas melihat jika dua orang perawat itu telah keluar dari kamar Arabella dan Dimas pun berjalan menemui keduanya.


"Apakah Bella sudah berganti pakaian?" tanya Dimas dengan ekspresi wajah yang datar tapi tatapan matanya tetap terlihat khawatir dan cemas.


"Benar, Tuan Muda. Saat ini, Nona sedang terbaring di tempat tidur." ucap salah satunya dengan semyum kaku karena merasa tidak nyaman setelah dimarahi dan diancam oleh Dokter Simons.


"Kalian bisa pulang sekarang dan Edo yang akan memberikan bayaran kalian." ucap Dimas dengan nada datar dan ekspresi wajah yang dingin serta sorot mata yang tajam seperti elang.


"Pu-pulang?" tanya salah satunya dengan terbata-bata dengan ekspresi wajah yang bingung.


"A-apa kami dipecat Tuan Muda?" tanya Perawat yang lain dengan ekspresi wajah yang sedih seakan siap untuk menangis kapanpun.


Edo yang tau jika Dimas sangat membenci adegan seperti ini segera maju dan berdiri di antara dua perawat itu dan menepuk pundak keduanya sambil membisikkan sesuatu.


"Srak!"


"Puk!"


"Jangan banyak protes dan bertanya. Jika kalian masih ingin melihat hari esok!" ucap Edo dengan suara rendah dan nada mengancam yang kemudian menarik tangannya lalu tersenyum yang akhirnya membuat kedua Perawat itu ketakutan dan diam membeku di tempat.


Edo pun mengeluarkan sebuah cek dengan nominal uang yang cukup besar dengan tugas mengganti dan memakaikan pakaian Arabella.

__ADS_1


"Ambil cek ini dan pergilah dari sini. Jangan membuat masalah yang akan membuat kalian menyesal nantinya." ucap Edo dengan nada datar tapi terdengar mengancam dan berbeda sekali dengan penampilan seperti malaikat dengan senyum yang terlihat sangat manis tapi beracun.


Tidak menunggu waktu, kedua perawat itu pun mengambil tas dan barang-barang mereka lalu bergegas pergi dari Apartemen Dimas.


"Srak!"


"Sruk!"


Setelah kepergian keduanya, Edo pun mengambil handphonenya dan menghubungi Badan Inteligen Khusus.


"Segera cari tau apa yang dilakukan dua orang perempuan yang menjadi Perawat Nona Arabella dan jika mereka melakukan sesuatu yang membahayakan Arthama Jaya Group segera hapus lalu jangan lupa masukkan keduanya ke dalam daftar hitam agar keduanya tidak bisa bekerja dimanapun!” ucap Edo dengan nada bicara yang serius dan ekspresi wajah yang datar.


Edo pun segera menyusul Dimas yang telah pergi meninggalkannya dan saat dirinya datang Dimas langsung memberikan tugas baru lagi.


“Tuan Muda, kedua perawat itu sudah dibayar dan mereka telah dimasukkan ke dalam daftar hitam jadi untuk ke depannya tidak akan ada orang yang mau mempekerjakannya lagi.” Ucap Edo seolah memberi laporan padahal Dimas tidak mengatakan apapun dengan senyum puas sambil melihat ke arah Arabella yang terpejam dengan ekspresi yang tidak biasa.


“Kita bicarakan itu diluar saja.” Ucap Dimas memerintahkan untuk Edo agar segera berhenti bicara dan bergegas keluar.


“Jangan hanya letakkan mereka ke dalam daftar hitam tapi juga buat keluarga mereka berdua menderita dengan terlilit hutang hingga kehabisan seluruh harta bendanya.” Ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang dingin dan nada bicara yang tinggi sambil duduk di sofa dengan dua tangan diletakkan di saku celananya.


“Aku kira hukuman yang aku berikan untuk dua orang Perawat itu sudah cukup kejam ternyata Tuan Muda ingin mereka merasakan kehidupan bagaikan di neraka.” Ucap Edo dengan ekspresi wajah yang pasrah sambil menggelengkan kepalanya.


“Apa yang terjadi pada ke empat pereman yang menculik Arabella?” tanya Dimas dengan ekspresi wajah yang marah dan emosi sambil menggenggam erat gelas yang ada di tangannya.


“Keempatnya sudah ditahan dan dibawah ke kantor Polisi dan saat ini beberapa anggota Polisi telah memberikan pelajaran kepada keempatnya dengan terus memukulnya hingga mereka jatuh pingsan” ucap Edo dengan ekspresi wajah yang serius sambil melihat ke arah Dimas yang masih belum bisa meredahkan kemarahannya.


“Polisi-polisi itu ingin mendapatkan kesan baik dari Tuan Muda jadi mereka berencan untuk mengusut tuntas masalah ini tapi saya menolaknya dan meminta mereka untuk memberikan hukuman kebiri kepada keempatnya.” Ucap Edo lagi sambil menerangkan apa yang akan terjadi nantinya.


“Meskipun keempatnya telah dikebiri tapi mereka tidak akan dibiarkan bebas begitu saja karena orang-orang kita telah membuat keempatnya merasakan akibat dari perbuatan keduanya. Kita telah membalik apa yang terjadi pada Nona Arabella juga terjadi pada semua anggota keluarga pereman.” Ucap Edo dengan senyum jahat dan ekspresi wajah yang bahagia sambil menggerak-gerakkan tangannya seolah memperagakan apa yang teradi.


Dimas yang mendengarnya merasa sangat senang dan tidak memiliki perasaan kasihan sama sekali kepada keluarga korban karena menurut Dimas semua perbuatan itu ada sebab dan akibat jadi jika tidak ingin terbakar maka jangan bermain api.


Dimas yang telah merasa telah cukup mendengar apa yang ingin didengarnya segera menyerahkan sebuah resep obat kepada Edo dan memerintahkannya untuk menebusnya.

__ADS_1


"Ambil resep ini dan tebus obatnya." ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang dingin dan tanpa ekspresi dengan dua tangan diletakkan di dalam saku celananya.


"Segera dilaksanakan." ucap Edo yang langsung pergi tanpa mengeluarkan suara.


Setelah kepergian Edo, Dimas pun mengunci pintu lalu masuk ke dalam kamar Arabella dan tanpa disadarinya bahwa Arabella sudah terbangun.


“Bel!” panggil Dimas yang melihat Arabella dengan ekspresi wajah yang memerah saat melihat Arabella sedang duduk dengan pose yang sangat menggoda.


Arabella yang tidak bisa menahan gejolak panas yang ada dalam tubuhnya pun bangun dari tempat tidur lalu memeluk Dimas dan mencium bibirnya.


“Srak!”


“Syuh!”


Dimas yang telah tergoda pun membalas ciuman


Arabella dan mereka pun akhirnya beciuman dengan sangat mesra. Dimas pun mengangkat Arabella dan meletakkannya di atas tempat tidur sambil menatap Arabella dengan tatapan bersalah.


“Kau tidak seharusnya mengalami hal ini tapi aku janji aku akan membalas Clara yang telah membuatmu mengalami penderitaan ini.” Ucap Dimas dalam hati dengan ekspresi wajah yang sedih sambil menghujani Arabella dengan ciuman dan pelukan hangat.


Namun saat Arabella mengingan yang lebih Dimas menolaknya dan Dimas yang tetap berpegang teguh pada prinsipnya meskipun Arabella tanpa henti dan berulang-ulang kali mencoba menggoda Dimas, sebesar itu juga Dimas menolak.


“Kau sangat nakal malam ini tapi jangan khawatir aku tidak akan mengikuti kenakalanmu dan aku akan menghukummu nanti saat kau telah sadar dan sepenuhnya telah mendapatkan kendali atas dirimu sendiri.” Ucap Dimas dalam hati dengan wajah memerah dan ekspresi wajah yang menderita sama seperti Arabella.


Dimas pun akhirnya memilih untuk membantu Arabella melepaskan gejolaknya dengan cara melakukan **** ***.


“Sepertinya hanya ini satu-satunya cara dan aku harap saat kau sadar nanti kau tidak akan marah padaku.” Ucap Dimas dengan suara rendah dengan ekspresi wajah yang depresi.


#Bersambung#


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..


😊😍😘

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2