
Arabella yang melihat Clara menangis sampai sesedih itu menjadi ikut merasa sedih. Arabella tidak menyangka ada Laki-laki yang sangat tidak punya hati yang rela menyakiti seorang wanita yang sangat mencintainya bahkan sampai seperti ini.
Arabella pun mengutuk Laki-laki itu di dalam hati dan bahkan bersumpah akan memukulnya jika bertemu dengannya tapi satu hal yang tidak Arabella ketahui bahwa itu semua adalah jebakan dan perangkap yang telah dipasang oleh Clara agar dirinya dan Dimas salah paham hingga akhirnya berpisah.
"Jangan menangis Clara. Aku yakin kau pasti bisa mendapatkan Laki-laki yang lebih baik darinya." hibur Arabella yang masih memegang sekotak tisu untuk membantu Clara menghapus air mata dan membuang ingusnya.
"Aku tidak bisa, Bella. Aku mencintainya. Aku sangat mencintainya. Aku tidak bisa hidup tanpanya." raung Clara sambil memegang kedua tangan Arabella dan menatapnya dengan tatapan sedih.
Arabella yang melihat Clara yang seperti ini membuat hatinya tercabik-cabik. Arabella menjadi tidak tega dan berniat untuk menemui laki-laki itu lalu memintanya untuk membicarakan masalah mereka secara baik-baik.
"Apa kau punya alamat orang itu? Kita bisa menemuinya dan bicara dengannya. Mungkin saja jika kalian berdua bertemu, kalian bisa meluruskan masalah di antara kalian dan mungkin kalian bisa bersama lagi." bujuk Arabella meyakinkan Clara meski hanya sedikit harapan.
"Aku tentu saja punya tapi aku yakin sebelum aku bertemu dengannya pasti aku sudah diusir terlebih dahulu, Bella. Aku tidak ingin mengemis cinta sampai seperti itu." ucap Clara seolah-olah wanita yang memiliki harga diri yang tinggi.
Arabella senang mendengarnya. Arabella merasa sangat bangga dengan sikap Clara meskipun dirinya sangat mencintai laki-laki itu tapi dia tidak akan pernah menjatuhkan harga dirinya hanya untuk membuat laki-laki itu kembali padanya.
'Kau sangat keren Clara. Aku pengagum rahasiamu!' teriak Arabella di dalam hatinya.
"Apa aku bisa melihat wajah laki-laki itu?" tanya Arabella yang penasaran dengan tampang laki-laki yang dapat membuat Clara yang kuat bisa sangat rapuh.
'Ini dia! Ini lah yang aku tunggu. Aku ingin lihat bagaimana reaksinya setelah tau kebenarannya!' ucap Clara di dalam hati dengan tawa jahat yang terlihat jelas di dua bola mata Clara yang sangat senang saat ini alih-alih bersedih.
Clara mengambil tisu dan menghapus air matanya lalu mengambil handphonenya yang ada di dalam tas. Kemudian mencari foto Dimas di dalam galeri handphonenya. Clara sengaja mencari pose mesra antara dirinya dan Dimas untuk membuat Arabella semakin kecewa dan sedih.
Setelah menemukan foto yang dicari, Clara memberikan handphonenya kepada Arabella dan mengambil tisu lagi lalu melanjutkan drama tangisannya.
Arabella yang sudah sangat marah dan ingin sekali melihat wajah Laki-laki itu pun segera mengambil handphone Clara dan melihat wajahnya.
__ADS_1
Arabella yang awalnya masih memakai ekspresi marah langsung berubah menjadi pucat. Arabella tidak menyangka jika Laki-laki yang baru saja dibenci olehnya dan dihinanya adalah Calon Tunangannya sekaligus Calon Suaminya.
Arabella yang terkejut refleks menutup mulutnya dan menatap Clara yang sedang menangis dengan tatapan tak percaya.
"A-apakah dia..." ucap Arabella yang berhenti sesaat. "Mantan pacarmu." tambah Arabella yang memutar handphone itu menghadap Clara sambil menatap kedua bola matanya mencari sedikit kebohongan.
"Ya. Dia mantan pacarku. Dimas Arthama Jaya!" ucap Clara yang mengkonfirmasi laki-laki yang telah membuatnya menderita.
"Tidak! Tidak mungkin!" teriak Arabella yang menolak percaya yang kemudian segera berdiri. "Kau pasti berbohong! Dia bukan mantan pacarmu bukan?" kata Arabella yang menolak percaya.
"Dia memang mantan pacarku. Aku tidak berbohong! Aku berkata jujur. Tapi..." kata Clara yang tiba-tiba berhenti yang kemudian menatap Arabella yang terlihat sangat aneh dimatanya. "Kenapa kau seperti ini? Apa kau mengenal Dimas?" tanya Clara dengan wajah pokernya yang kemudian ikut berdiri sehingga membuat mereka saling berhadapan.
'Kena kau! Ayo sekarang apa yang akan kau katakan wanita murahan? Menyerah sajalah. Dimas itu milikku!' ucap Clara dalam hati sambil berpura-pura terkejut dan bingung.
"A-aku..." jawab Arabella terbata-bata yang kemudian memalingkan wajahnya dan menghindari kontak mata dengan Clara.
"Aku apa? Apa kau mengenal Dimas? Apa kau punya hubungan khusus dengannya?" tanya Clara bertubi-tubi sambil berpura-pura tidak mengerti.
"Jawab aku, Bella! Apa kau punya hubungan khusus dengan Dimas?" tanya Clara sekali lagi yang kemudian memegang kedua lengan Arabella dengan sangat kuat lalu mengguncang-guncang tubuhnya.
"Auh... Sakit! Ini sakit sekali! Lepaskan aku, Clara!" rintih Arabella yang kemudian menahan sakit karena dicengkram Clara.
'Sakit! Tidak! Sakitmu tidak seberapa dengan yang aku rasakan! Kau harus merasakan sakit yang lebih parah dari ini!' teriak Clara dalam hati.
Ria dan Siti yang melihat situasi telah menjadi buruk segera menemui Arabella dan Clara. Ria yang tidak ingin terjadi sesuatu pada Arabella mencoba melepaskan cengkraman Clara pada lengan Arabella tapi sekuat apapun Ria berusaha tangan Clara seperti telah dilem sehingga sangat sulit dilepas.
Ria yang tidak bisa diam dan merasa harus melakukan sesuatu segera mengambil air minum Arabella yang masih tersisa setengah lalu melemparkannya ke wajah Clara.
__ADS_1
Clara yang awalnya menikmati cengkaraman untuk menyakiti Arabella langsung terkejut ketika melihat wajah dan tubuhnya telah basah dipenuhi air jus.
Clara yang tidak menyangka mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan ini langsung berteriak kepada Ria dan mencoba menggapai Ria untuk menamparnya tapi langsung dihentikan oleh Arabella.
"Hentikan! Kau tidak bisa menyakiti Pelayanku!" teriak Arabella yang kemudian melempar tangan Clara.
"Aku anggap perbuatanmu barusan kepadaku sebagai keterkejutan tapi aku tidak akan diam saja jika kau menyakitiku lagi seperti ini." ucap Arabella yang tersadar dari keterkejutannya dan memberanikan diri melihat kedua mata Clara.
"Lalu, untuk hubunganku dan Dimas itu tidak ada hubungannya denganmu. Aku berterima kasih karena kau telah menolongku dan menerima dengan terbuka jika kau ingin berteman denganku tapi jika kau punya maksud lain maaf sebaiknya setelah ini kita perlu menjaga jarak dan anggap saja kita tidak pernah bertemu dan tidak saling mengenal satu sama lain." tambah Arabella yang perlahan maju satu langkah ke depan Clara.
Arabella yang dari awal memiliki sifat tidak ingin ditindas tidak bisa terima diperlakukan seenaknya oleh orang lain. Arabella selalu membalas orang yang berbuat jahat padanya apapun resikonya.
Setelah mengeluarkan semua yang ingin dikatakannya, Arabella pun mengambil tasnya dan kemudian menatap Clara sesaat lalu berbalik arah. Arabella kemudian pergi meninggalkan Clara yang masih berdiri mematung ditempatnya karena terkejut dengan perubahan situasi secara tiba-tiba.
Ria dan Siti yang pergi meninggalkan Clar segera menyusul Arabella tapi Siti yang masih menganggap Clara adalah Calon Nyonya Mudanya yang sesungguhnya berhenti sejenak didepan Clara dan menundukkan kepala sebentar lalu bergegas menyusul Arabella dan Ria.
Arabella yang masih marah, bingung, sedih, dan kecewa terus saja berjalan ke arah parkiran mobil dan tidak mendengar Ria yang terus-terusan memanggil dirinya.
Arabella yang telah menemukan mobilnya segera disambut hangat oleh supir tapi Arabella tidak menjawab apapun dan hanya mengangguk tanda terima kasih yang kemudian masuk.
Tak lama kemudian, Ria pun sampai dan menyusul masuk yang kemudian disusul Siti dengan wajah kelelahan dan penuh keringat.
Mereka bertiga pun pergi dari Cafe Starlight menuju Kediaman Arthama Jaya dan selama perjalan tidak ada seorangpun yang bicara karena semuanya sedang bergulat dengan fikiran masing-masing.
#**Bersambung#
Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Lovenya..
__ADS_1
Terima kasih..
🥰😍😘😚**