CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 160. Direktur Tama


__ADS_3

Pak Antoni yang mengetahui jika Pak Bambang telah bersiap mengadakan Rapat Darurat di Perusahaan pun langsung menemui Dimas yang ada di Apartemennya.


“Tok! Tok! Tok! Tuan Muda!” panggil Pak Antoni yang berada di luar Pintu sambil mengetuk pintu dengan nada suara yang pelan dengan ekspresi wajah yang datar.


“Masuklah!” ucap Dimas dengan nada suara yang ramah dengan ekspresi wajah yang serius sambil mengancingkan lengan bajunya.


“Tuan Muda, semua sudah siap dan Tuan Muda dapat pergi kapanpun!” ucap Pak Antoni dengan nada suara yang tegas dengan ekspresi wajah yang serius.


“Kita pergi sekarang!” ucap Dimas dengan pandangan yang tajam ke depan dengan ekspresi wajah yang dingin sambil mengambil jas hitamnya lalu memakainya sambil berjalan keluar Apartemen.


Dimas yang sedang dalam perjalanan menuju Perusahaan Arthama Jaya terus memantau jalannya rapat di layar pintarnya dengan earphone yang terpasang di telinganya.


“Hmmm, sepertinya Pamanku telah menyuap beberapa Pemegang Saham itu untuk berpihak padanya!” ucap Dimas dalam hati dengan senyum yang sinis sambil terus melihat kejadian di Ruang Rapat dengan seksama.


“Di detik-detik kematianku, aku tidak mengetahui dengan pasti yang telah terjadi hingga Perusahaan milik Kedua Orangtuaku berpindah ke tangan Pamanku dengan sangat cepat ternyata itu terjadi karena telah ada penghianat di antara orang-orang ini!” ucap Dimas dalam hati dengan ekspresi wajah yang dingin.

__ADS_1


“Sepertinya setelah ini, aku harus melakukan sesuatu kepada orang-orang tersebut!” gumam Dimas dengan senyum jahat.


Dimas yang mengalihkan perhatiannya pada Layar Ipadnya pun menatap tajam ke depan dan memberi perintah kepda Supir.


“Lebih cepat!” ucap Dimas dengan nada suara yang tegas dan dingin dengan ekspresi wajah yang datar.


Sementara itu, Edo yang telah sampai di depan Perusahaan A pun keluar bersama Ketua Ma pun memasuki Perusahaan dengan kepala terangkat ke atas yang mengejutkan semua orang yang melihatnya.


“Li-lihat! Bu-bukankah itu Pak Edo?”


“Bukankah Pak Edo mengalami Kecelakaan Pesawat seperti yang diberitakan di Media?”


“Apakah Media sedang berbohong atau melakukan Prank?”


Edo yang tidak perduli dengan pandangan dan ucapan orang-orang tentang dirinya terus berjalan ke depan menuju ke Ruang Direktur.

__ADS_1


Direktur yang sedang duduk di kursinya sambil memangku Sekretarisnya yang cantik dan seksi menjadi sangat marah saat ada orang yang membuka pintu ruangannya tanpa pemberitahuan sama sekali.


“Siapa kau? Beraninya kau masuk ke Ruangan Direktur tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu!” teriak Direktur Tama dengan ekspresi wajah yang kesal dan marah dengan mata yang melotot tajam.


Ketua Ma yang tidak peduli dengan kata-kata kasar dan pedas dari Direktur Tama pun membuka Pintu Ruangan Direktur sangat lebar sehingga membuat Sekretaris yang masih bersikap sombong duduk di pangkuan Direktur Tama langsung berdiri dengan tangan bersilang di dada.


Edo yang dapat melihat semuanya dari jauh hanya tersenyum sinis dan berjalan masuk dengan kepala terangkat menuju Direktur Tama duduk.


Direrktur Tama yang melihat sosok yang sangat dikenalnya itu pun langsung berdiri dan menatap dengan tatapan mata yang tidak biasa.


“Kenapa kau diam saja? Cepat siapkan Ruang Rapat! Aku ingin Rapat Darurat mengenai Kerugian saat Kapal kita tenggelam di Selat Sunda !” ucap Edo dengan ekspresi wajah yang serius dengan nada suara yang dingin dan datar sambil duduk bersandar di sofa dengan Ketua Ma yang berdiri dengan tegap di belakangnya.


Direktur Tama dan Sekretarisnya yang mendengar perkataan Edo pun menjadi sangat terkejut dan langsung sadar akan kenyataan saat Edo menggrebak meja yang ada di depannya.


#Bersambung#

__ADS_1


Bagaimana nasib orang-orang yang ada di Perusahaan A terutama Direktur Tama dan Sekretarisnya? Tebak dikolom komentar ya...


__ADS_2