CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 179. Kecemasan Arabella


__ADS_3

Dimas yang telah tertidur selama beberapa jam pun akhirnya sadar kembali dan merasa tenggorokannya sangat kering.


“Air! Aku butuh air!” ucap Dimas dengan mata yang masih tertutup dengan ekspresi wajah yang sangat kehausan sambil memegang tenggorokannya yang terasa sangat kering.


Arabella yang terus berjaga di samping Dimas pun dengan sigap mengambil air minum yang ada di samping Dimas dan menyerahkannya kepada Dimas.


Dimas yang masih belum menyadari keberadaan Arabella pun langsung mengambil air tersebut dan meminumnya lalu setelah tenggorokannya terasa lebih baik Dimas pun akhirnya merasa ada yang janggal.


Dimas yang tiba-tiba menyadari ada seseorang yang membantunya duduk dan mengambilkan minumnya pun menoleh ke samping.


“Be-bella!” panggil Dimas dengan ekspresi yang bingung dengan mata yang terbuka lebar dan wajah yang terkejut.


“Bagaimana keadaanmu? Apakah tenggorokanmu sudah lebih baik?” tanya Arabella yang mengambil cangkir gelas yang ada di tangan Dimas dan meletakkannya kembali ke atas meja lalu kembali duduk di samping Dimas dan menatapnya dengan ekspresi wajah yang cemas dan khawatir di saat bersamaan.


“I-iya... A-aku...” ucap Dimas yang tidak bisa mengatakan apapun karena terlalu terkejut saat melihat Arabella yang ada di sampingnya saat ini.


“Apa yang dilakukan Edo? Aku sudah mengatakan padanya untuk tidak mengatakan apapun kepada Arabella tapi kenapa dia masih memberitaunya. Aku harus memberinya hukuman yang berat jika tidak dia pasti akan melanggar ucapanku lagi!” ucap Dimas dalam hati dengan senyum yang lembut sambil menatap Arabella.


Arabella yang melihat kondisi Dimas yang sedang terduduk dengan perban di kepala dan lengan serta di telapak tangannya membuat Arabella menjadi sangat kecewa apalagi setelah mengingat perkataan Edo dan Pak Antoni.


“Jangan menatapku seperti itu. Kenapa kau tidak mau aku tau tentang masalah ini? Apakah kau tidak menganggap keberadaanku?” tanya Arabella dengan ekspresi wajah yang sedih.


“Tidak! Kau adalah orang yang sangat berharga bagiku jadi tolong jangan pernah berkata ataupun berpikiran seperti itu!” ucap Dimas dengan terburu-buru dengan ekspresi wajah yang terkejut sambil menggenggam tangan Arabella dengan erat.

__ADS_1


“Kau bohong, Dim! Jika kau menganggapku sangat berharga dan spesial seharusnya kau tidak menutupi kejadian buruk yang kau alami!”ucap Arabella dengan suara yang sedikit tinggi sambil menepis genggaman tangan Dimas.


“Apakah kau tidak pernah berpikir bagaimana perasaanku jika aku mendengar berita buruk tentangmu dari orang lain?” tanya Arabella lagi dengan tatapan mata yang kecewa dan wajah yang sedih lalu ekspresi yang terluka dengan air mata yang tanpa sadar terjatuh.


Dimas yang telah berjanji tidak akan membuat Arabella menangis lagi pun menggeretakkan giginya dengan sangat erat setelah melihat Arabella meneteskan air mata di hadapannya.


Dimas yang menyadari kesalahannya pun mencoba meminta pengampunan Arabella dan menenangkannya dari rasa sedih dan kecewa yang saat ini dirasakannya.


“Maaf! Maafkan aku! Aku tau aku salah. Aku tidak seharusnya menutupi ini semua tapi aku hanya tidak ingin melihatmu sedih dan cemas saat melihat keadaanku!” ucap Dimas dengan kepala tertunduk ke bawah dengan ekspresi wajah yang bersalah.


“Aku tidak memiliki maksud jahat ataupun niat yang buruk. Aku hanya tidak ingin melihatmu sedih dan meneteskan air mata padaku. Aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil!” ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang bersalah sambil menatap lembut ke arah Arabella lalu menempelkan tangannya ke pipi Arabella dengan senyum yang menyejukkan.


“Aku janji tidak akan mengulangi hal ini lagi. Tidak ada lagi kebohongan dan yang ada hanya kejujuran. Aku berjanji!” ucap Dimas dengan nada suara yang tegas dengan ekspresi wajah yang serius sambil menggenggam tangan Arabella kembali dengan sangat erat.


Arabella yang tidak ingin melihat Dimas yang sedang kesakitan menderita lagi pun menganggukkan kepala dan menerima permintaan maaf Dimas.


“A-a-a-auuuhhhh!” teriak Dimas dengan ekspresi wajah yang kesakitan dengan suara yang sangat keras.


Arabella yang melihat Dimas pun menjad sangat cemas dan memaksa Dimas untuk berbaring kembali tapi Dimas yang merasa jika seluruh tubuhnya akan remuk jika terus berbaring pun mencoba protes terpaksa harus mengalah saat Arabella menatap Dimas dengan mata elangnya.


Arabella yang sangat cemas dan khawatir akan keadaan Dimas pun meninggalkan pekerjaannya dan mempercayakan semuanya kepada Ria lalu fokus untuk merawat Arabella hingga sembuh kembali.


Edo yang telah kembali saat malam tiba pun datang bersama Ria yang mengantar makanan dan pakaian ganti Arabella.

__ADS_1


Arabella yang memiliki urusan lain pun meninggalkan Dimas kepada Edo untuk dirawat sementara waktu dan Dimas yang sudah sangat kesal pada Edo pun menatap Edo dengan tatapan membunuh.


Edo yang menyadari kesalahannya pun mengaku salah lalu memohon ampun kepada Dimas dan mengabaikan keberadaan Arabella.


“Tauan Muda! Ampuni saya! Saya tidak bermaksud membongkar semuanya! Itu sungguh adalah hal yang tidak disengaja!” ucap Edo dengan suara yang sedikit naik dengan tatapan mata bersalah sambil berlutut di hadapan Dimas.


“Saya mohon ampuni saya, Tuan Muda. Saat itu, Nona menguping pembicaraan saya dan Pak Antoni. Saya sungguh tidak mengatakan kecelakaan dan penyerangan yang Tuan Muda alami pada Nona Arabella!” ucap Edo lagi dengan suara yang dinaikkan kembali dengan ekspresi wajah yang bersalah.


Edo yang menyadari jika Arabella adalah titik kelemahan Dimas pun menggunakan keberadaan Arabella untuk mendapatkan ampunan Dimas karena itu Edo dengan sengaja bersujud dan berkata dengan suara yang tinggi untuk memancing Arabella datang.


Dimas yang sudah menyadari akal licik Edo pun menggenggam tangannya dengan sangat erat karena harus menahan amarahnya agar Arabella datang.


Dimas yang tidak memiliki pilihan lain pun memaafkan kesalahan Edi meskipu begitu Dimas yang tidak ingin Edo menjadi besar kepala pun memutuskan untuk memberikan hukuman kepada Edo.


“Baik! Baik! Baik! Kau menang! Aku tidak akan mempermasalahkan ini jadi berdirilah!” ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang kesal dengan nada suara yang menahan amarah.


“Benarkah TuanMuda? Terima kasih. Terima kasih banyak, Tuan Muda. Anda adalah orang yang sangat baik.” Ucap Edo yang langsung berdiri dengan senyum yang lebar.


“Tentu saja. Aku memang adalah orang yang sangat baik. Aku telah memaafkanmu dan tidak akan mempermasalahkanmu yang telah bersikap ceroboh tapi aku akan menghukummu dengan pemotongan gaji sebesar sepuluh persen!” ucap Dimas dengan senyum yang jahat.


Edo yang mendengar perkataan Dimas pun langsung berlutut kembali dan memohon agar Dimas tidak memberinya hukuman yang sangat kejam namun Dimas yang tidak termakan dengan rayuan Edo pun menolak mengubah keputusannya.


“Jika kau terus bersikap seperti ini. Aku akan memotong gajinyamu menjadi lima puluh persen bulan ini!” ancam Dimas dengan ekspresi wajah yang serius.

__ADS_1


“Ti-tidak! Tolong! Jangan Tuan Muda!” ucap Edo dengan ekspresi wajah yang memelas dengan ekspresi wajah yang pasrah menerim nasibnya.


#Bersambung#


__ADS_2