CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 210. Kematian Pak Bambang


__ADS_3

Edo yang melihat dengan jelas bahwa Pak Bambang sedang mencoba meraih Pistol yang ada di lantai pun dengan cepat ke arah Heru lalu mengeluarkan Pistol yang disimpan olehnya dan meletakkannya tepat di kepala Heru.


“Lepaskan Pistol itu atau aku tembak kepalanya!” ucap Edo dengan suara yang keras dengan ekspresi wajah yang serius dengan tatapan mata yang tajam.


Pak Bambang yang melihat Pistol di kepala Heru pun menggigit bibir bawahnya tapi tidak ingin melepaskan Pistol yang ada di tangannya.


Di saat semua orang sedang dalam keadaan yang tegang, Arabella yang berhasil melepaskan ikatan talinya dengan bantuan pisau milik Bodyguard yang tergeletak di lantai pun melihat Pak Bambang dengan tatapan mata yang menyimpan dendam.


“Kau dan Putramu adalah manusia yang sangat kejam dan tidak pantas untuk hidup. Kalian harus mendapatkan hukuman untuk semua perbuatan kalian!” ucap Arabella dalam hati dengan ekspresi wajah yang serius.


Arabella yang tidak ingin diam saja pun melihat ke sekelilingnya dan menemukan sesuatu yang bisa digunakan untuk menghajar Pak Bambang.


“Terima lemparan mautku, dasar Pak Tua b*******k!” ucap Arabella dengan suara yang sangat keras sambil mengambil Balok Kayu yang ada di depannya lalu mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melempar Balok tersebut ke arah Pak Bambang.


Pak Bambang yang tidak menyadari adanya sebuah balok kayu yang mengarah kepadanya pun menjadi sangat terkejut sehingga membuat Pistol di tangannya terlempar.


Edo yang melihat Pistol di tangan Bambang tidak ada lagi pun menendang Heru hingga terjatuh ke lantai lalu mengarahkan pistolnya ke Pak Bambang dan tanpa ada rasa belas kasihan Edo pun menarik pelatuknya sehingga Peluru pun keluar dan menancap ke tubuh Pak Bambang.


“Aaaarrrgghhhh!” teriak Pak Bambang dengan sangat keras sambil memegang dadanya yang terkena peluru dengan darah yang mengalir keluar sangat banyak.


Heru yang melihat Pak Bambang tertembak di dadanya pun tak bisa menutupi perasaannya dan tanpa sadar berteriak dengan sangat keras.

__ADS_1


"Ayah!" teriak Heru yang langsung berlari ke arah Pak Bambang yang sedang berlumuran darah di lantai.


"Pergi! Pergi dari sini! Tinggalkan tempat ini! Selamatkan dirimu, Putraku!" ucap Pak Bambang dengan suara yang rendah yang hanya bisa di dengar oleh Heru.


Tepat setelah mengatakan itu, Pak Bambang pun merenggang nyawa yang membuat Heru dalam kesedihan mendalam karena harus kehilangan orang yang sangat berharga untuk kedua kalinya.


Sementara itu, Arabella yang melihat Dimas dipenuhi dengan darah dan luka karena dihajar oleh orang-orang Heru dan Pak Bambang pun langsung berlari menemui Dimas.


"Dimas!" teriak Arabella dengan sangat keras dengan ekspresi wajah yang cemas dan khawatir di saat bersamaan yang langsung disambut dengan pelukan oleh Dimas.


"Tenanglah. Aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil dan akan segera sembuh!" ucap Dimas dengan tawa kecil yang mencoba menghibur Arabella yang tak mau berhenti menangis sehingga membuat Dimas menyerah dan membiarkan Arabella menangis sampai puas.


Heru yang telah dipenuhi dengan kemarahan, kesedihan dan kebencian di hatinya pun menjadi sangat iri kepada Dimas yang masih bisa bahagia bersama orang yang disayanginya.


"Apakah kau pikir aku akan menerima semua ketidakadilan ini? Tidak! Aku tidak akan pernah membiarkanmu bahagia di atas penderitaanku! Kau harus mengetahui kesedihan kehilangan orang yang kau sayangi!" ucap Heru dalam hati dengan mata yang melotot tajam dengan niat membunuh yang kuat.


Heru yang melihat sebuah pistol yang menganggur tak jauh darinya pun meletakkan jasad Pak Bambang secara perlahan ke lantai.


Lalu dengan cepat mengambil Pistol tersebut dan mengarahkannya ke arah Arabella yang sedang dalam pelukan Dimas.


"Ma** kau sekarang!" gumam Dimas degan suara rendah dengan tekad yang kuat serta tatapan mata yang tajam menatap Arabella dan Dimas.

__ADS_1


Tepat setelah peluru di keluar, Heru pun berlari menuju ke arah lain menuju jalur pengungsian.


Dimas yang melihat peluru yang meluncur dengan bebas ke punggung Arabella membuat Dimas bereaksi dengan mengubah posisi Arabella.


"Sial!" gumam Dimas dengan ekspresi wajah yang kesal sambil memeluk Arabella dengan sangat kuat.


Dimas yang sengaja menerima tembakan itu pun tanpa disadarinya telah menyebabkan dirinya sendiri menjadi korban.


"Aaaarrrgghhhh!" teriak Dimas degan sangat keras sehingga membuat Arabella yang sedang tenang menjadi sangat panik saat melihat darah segar keluar dari punggung Dimas.


Edo yang sangat marah dengan yang terjadi pada Dimas pun mengambil pistol di tangannya dan menembak Heru tapi gagal karena peluru itu ternyata meleset.


"Hah! Sial! Kenapa semua menjadi seperti ini? Tanya Edo dalam hati dengan ekspresi wajah yang kesal sambil melihat Heru yang perlahan menghilang dari pandangannya.


Ketua Ma yang tau dengan tindakan yang harus dipilihnya pun menghubungi Rumah Sakit untuk menyiapkan alatnya.


Edo yang tak ingin terjadi sesuatu pada Dimas pun menggendong Dimas lalu memasukkannya ke dalam mobil dan mengemudi dengan kecepatan tinggi.


#Bersambung#


Apakah Heru berhasil melarikan diri? Lalu apakah Dimas dapat selamat? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya...

__ADS_1


__ADS_2