
Pak Bambang yang tidak ingin Keluarganya terseret dalam permasalahan itu pun hanya bisa menggenggam tangannya dengan sangat erat dan berbalik arah meninggalkan Ruang Rapat tersebut.
“Pak Antoni, ikuti Pamanku tersayang. Jangan lupa bawa kembali Legalitas dua puluh persen Saham milik Kakekku!” perintah Dimas dengan senyum yang berbahaya dengan ekspresi wajah yang cerah.
“Baik, Tuan Muda!” ucap Pak Antoni dengan suara yang rendah dengan kepala tertunduk lalu berjalan mengikuti Pak Bambang.
Heru yang mendengar perkataan Dimas merasa sangat kesal dan ikut keluar dari Ruang Rapat bersamaan dengan beberapa Pemegang Saham yang lain yang mendukung mereka.
Dimas yang melihatnya hanya diam tidak perduli dan fokus dengan orang-orang yang masih duduk yang mendukungnya meskipun keuntungan yang ditawarkan oleh Pak Bambang lebih besar.
“Terima kasih kepada Seluruh Pemegang Saham yang masih berdiri mendukung saya dan saya tidak akan pernah melupakan kebaikan semuanya!” ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang bahagia dengan senyum yang lembut.
Sementara itu di Kota A, Edo yang sedang berada di Ruang Rapat bersama Petinggi dan Karyawan yang ada di Perusahaan A pun membuat udara menjadi turun drastis.
__ADS_1
Edo yang tidak ingin memaafkan orang-orang yang telah berhianat kepada Dimas dan bahkan mencoba mengambil nyawanya pun mengumumkan sesuatu yang sangat mengejutkan.
“Perusahaan Pusat telah memutuskan untuk menurunkan jabatan Direktur Tama dan Posisi Direktur akan diambil oleh diriku sementara waktu!” ucap Edo dengan ekspresi wajah yang dingin dengan nada suara yang tegas.
“Semua orang yang terlibat dalam Penghalangan Informasi Kecelakaan di Laut Sunda akan dimutasi ke Perusahaan lain dan diwajibkan melakukan ganti rugi sebanyak kerugian yang dialami Perusahaan!” ucap Edo dengan tangan yang tergenggam di atas meja dengan wajah menahan amarah dan pandangan yang tajam.
“Jika menolak melakukan ganti rugi dalam jumlah yang ditentukan Perusahaan maka orang tersebut akan dituntut Perdata berdasarkan Peraturan Perundangan-Undangan Negara!” ucap Edo dengan penakanan suara di setiap katanya.
Semua orang yang ada di dalam Ruang Rapat tersebut pun menjadi sangat terkejut dan cemas di saat bersamaan.
Edo yang tidak memiliki apapun lagi yang ingin dikatakannya pun menyerahkan daftar nama-nama orang yang akan dimutasi kepada Ketua Ma.
“Kau yang mengurus orang-orang bodoh ini!” ucap Edo dengan suara yang dingin sambil berjalan menuju keluar.
__ADS_1
Edo yang berjalan keluar Ruang Rapat menuju ke mobilnya pun menghubungi salah satu Anggota Badan Inteligent Khusus.
“Lakukan seperti yang telah diperintahkan Tuan Muda! Mulai hancurkan orang-orang bodoh itu sehancur-hancurnya!” ucap Edo dengan ekspresi wajah dan nada suara yang dingin.
Edo yang telah berada di dalam mobil pun kembali ke Hotel tempatnya menginap sambil menghubungi Dimas.
“Tuan Muda! Saya sudah melakukan semua yang anda perintahkan!” ucap Edo dengan ekspresi wajah yang bangga dengan senyum cerah yang tidak lepas dari wajahnya.
“Bagus! Kau akan tetap di sana sampai Perusahaan kembali pulih! Biarkan Pak Antoni yang membantuku memberantas orang-orang itu!” ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang kesal sambil menggenggam stir kemudi mobilnya.
“Tuan Muda tidak perlu cemas! Tuan Muda bisa menyerahkan orang-orang yang ada di sini padaku!” ucap Edo dengan penuh percaya diri dengan ekspresi wajah yang bahagia.
“Baiklah! Aku percaya padamu!” ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang puas dan senang sambil menatap ke depan jalan sambil mengemudi mobil sambil sesekali melihat sebuah map kuning yang ada di sampingnya.
__ADS_1
“Dengan sekarang Pamanku tidak akan bisa mengambil Perusahaan Arthama Jaya dengan cara halus dan aku harus bersiap dengan pertempuran berdarah selanjutnya!” ucap Dimas dalam hati dengan tatapan mata yang tajam.
#Bersambung#