
Keesokan harinya, Dimas yang telah kembali ke Kediaman Arthama Jaya segera masuk ke Perusahaannya dan menyelesaikn semua pekerjaannya yang tertunda satu per satu.
Arabella yang tau jika Dimas sangatlah sibuk dengan semua pekerjaan yang menunggunya memilih untuk berbaring di kamarnya seharian dan menikmati semua fasilitas yang diberikan Dimas padanya.
"Apa aku benar-benar beban yang hanya bisa menghabiskan dan menghamburkan uang Dimas? Tapi bagaimana? Dimas saja tidak keberatan dengan semua yang aku lakukan." ucap Arabella dengan suara rendah sambil berguling di tempat tidurnya sambil menonton drama korea kesukaannya dengan ditemani berbagai macam cemilan.
Arabella adalah wanita yang tangguh dan pekerja keras dan saat kehilangan kedua orangtuanya dan di penjara. Semua orang dari Keluarga Ayah dan Ibunya memutuskan hubungan dan tidak ingin membantu bahkan teman dan sahabat Arabella menjauh.
Namun, saat Arabella dikabarkan akan segera menjadi Nyonya Arthama Jaya semua orang merubah sikapnya dan terus bermulut manis dihadapan Arabella yang akhirnya membuat Arabella merasa jijik dan ingin muntah.
"Semua yang dikatakan Dimas kemarin benar adanya. Uang bukan merubah sifat manusia tapi uang menunjukkan sifat asli manusia itu. Keluarga ayah dan ibuku yang selama ini mengabaikanku tiba-tiba bersikap baik dan ramah. Bahkan sahabatiku yang dulu menjauhinya saat terkena masalah menghubungiku mengajak untuk hang-out bersama." ucap Arabella yang terbaring di ranjang sambil membuka pesan watshepp miliknya satu per satu.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku abaikan mereka nanti dibilang sombong tapi jika aku balas mereka semua akan mulai menjilat padaku dan perlahan meminta uang. Hah!" desah putus asa Arabella yang seperti memakan buah simalakama.
Arabella yang merasa tidak nyaman di rumah seharian pun memilih untuk berjalan keluar.
"Aarrgghh! Aku gabut! Aku telepon Dimas saja meminta izinnya untuk jalan-jalan keluar. Aku sudah trauma dengan kejadian kemarin dan tidak ingin mengalaminya lagi." ucap Arabella sambil memeluk tubuhnya yang tiba-tiba merinding ketakutan dengan wajah yang membiru.
Dimas yang telah absen selama tiga hari pun melakukan rapat bersama anggota stafnya yang lain.
"Keuntungan penjualan produk yang baru kita luncurkan ternyata mendapatkan respon yang sangat baik. Penjualan produk kita meningkat sebesar 20% dari penjualan minggu lalu dan semua itu bisa kita lihat di..." ucap seorang wanita muda yang sedang melakukan persentasi dihadapan Dimas dan yang lainnya.
Dimas yang mendengar suara handphonenya berdering di tengah rapat membuat konsentrasi semua orang terpecah.
"Kring...Kringg...Kringgg..." suara handphone Dimas berbunyi yang mengacaukan konsentrasi rapat.
Dimas yang melihat nama orang yang telah menghubunginya pun segera menghentikan rapat tersebut sebentar.
__ADS_1
"Hentikan rapatnya sebentar!" ucap Dimas sambil mengangkat tangannya memberi aba-aba untuk orang yang sedang persentasi berhenti bicara sebentar.
Tindakan Dimas yang sangat berbeda pada akhirnya membuat semua orang yang mengenal Dimas sebagai pria yang sangat perfeksionis, dingin dan tidak pernah tersenyum merasa asing dengan perubahan yang terjadi.
"Apakah ini Tuan Muda kita? Kenapa aku merasa sangat asing?"
"Aku tidak penasaran dengan itu tapi aku penasaran dengan orang yang menghubungi Tuan Muda."
"Benar sekali. Aku juga sangat penasaran dengan orang yang membuat Tuan Muda bisa menghentikan rapat yang sedang berlangsung."
Di saat semua orang membicarakan Dimas diam-diam dan dengan suara yang kecil. Seorang wanita yang telah bekerja sangat lama dengan Dimas dan telah mengagumi Dimas sejak dulu tidak bisa berhenti menatap Dimas dengan tatapan yang berbeda.
"Tuan Muda, memang pria idamanku. Seandainya Tuan Muda mau bersamaku, aku rela melakukan apa saja." ucap Hera, Manager Pemasaran, wanita yang melakukan persentasi di dalam hatinya dengan tatapan penuh cinta dan harap.
"Hei, sadarlah! Tuan Muda sudah punya Tunangan dan akan segera menikah." ucap salah seorang wanita yang duduk tidak jauh dari Hera.
Dimas yang tidak ingin menghiraukan tatapan dan suara sumbang dari bawahannya memilih memberikan tatapan dingin kepada semua orang yang akhirnya membuat semuanya tertunduk diam dan Dimas pun menjawab telepon dari Arabella dengan santai.
"Halo, Dimas apa kau sedang sibuk sekarang?" tanya Arabella dengan basa-basi padahal Arabella sudah tau jika Dimas sedang sangat sibuk saat ini.
"Sesibuk apapun aku, aku akan selalu punya waktu untukmu. Katakan ada apa, Bel?" tanya Dimas yang mencoba merayu Arabella dengan suara yang lembut.
"Hmmm, gombal! Dasar mulut manis! Ah, aku sangat bosan di rumah. Bolehkah aku keluar, Dim? Aku janji akan membawa bodyguard bersamaku." ucap Arabella dengan nada suara yang terdengar sangat sedih dengan tangan yang membentuk lambang janji.
"Tidak perlu Bodyguard, aku sendiri yang akan menemanimu jalan-jalan jika kau benar-benar merasa bosan." ucap Dimas dengan nada bicara yang jujur.
"Agh, tidak perlu, aku ingin ke salon untuk melakukan perawatan tubuh dan rambut. Jika kau datang itu akan menyia-nyiakan waktumu dengan percuma. Aku tau sedang sibuk jadi aku hanya ingin kau tau dan meminta izin." ucap Arabella dengan terburu-buru karena tidak ingin merepotkan Dimas.
__ADS_1
"Baiklah, aku mengerti. Kau dapat pergi bersama temanmu dan aku akan mentransfer uang ke rekeningmu. Kau dapat menggunakannya untuk apapun sesukamu." ucap Dimas dengan nada bicara yang serius sambil terus menatap orang-orang yang ada di depannya.
"Ti-tidak! Jumlah uang bulanan yang kau berikan padaku saja belum habis dan kau sudah mau mentransfer lagi. Itu sangat tidak perlu." ucap Arabella mencoba menolak karena merasa sangat keberatan dan tidak nyaman.
"Kau adalah calon istriku, Calon Nyonya Arthama Jaya, kau pantas mendapatkan semua yang kau inginkan meskipun kau tidak mau aku akan tetap memberikan semua yang terbaik untukmu." ucap Dimas yang menekankan nada suaranya pada beberapa kata dengan wajah yang serius dan tatapan mata yang tajam.
"Posisimu tidak akan pernah goyah dan tidak akan ada yang dapat menggantinya bahkan tidak akan ada seorang wanita manapun yang akan bersaing denganmu untuk menjadi wanitaku karena hanya kau yang pantas untuk itu." ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang sangat serius sementara Arabella yang mendengar perkataan Dimas menjadi bingung.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau bicara seperti itu? Kau membuatku bingung." ucap Arabella dengan nada yang manja sambil memainkan rambutnya.
"Jika ada orang yang berani melakukan tindakan nekat untuk mengganti posisimu maka hanya kehancuran tiga generasi di keluarganya yang akan menanti!" ucap Dimas dengan nada mengancam.
Dimas yang tidak sepenuhnya mengabaikan semua perkataan orang di dalam ruang rapat mulai merasa kesal dengan beberapa sikap arogansi dari orang yang merasa dirinya jauh lebih hebat dan lebih pantas.
Hera yang mendengar ancaman dari Dimas merasakan dingin di seluruh tubuhnya. Hera yang telah bekerja lama di Perusahaan Dimas sangat tau tentang kekuatan yang dimilki pria muda yang sedang duduk di depannya itu.
"Hmmm, kau sungguh tidak nyambung. Yang penting aku sudah meminta izin, aku akan bersiap sekarang. Bye!" ucap Arabella yang tidak ingin berbicara dengan Dimas lebih lama lagi.
Dimas yang tau jika sambungan telepon itu telah diputus oleh Arabella segera memberi perintah khusus kepada Edo.
"Kirim orang kita untuk menjaga Arabella dari jauh dan jangan sampai ada sehelai rambutnya yang putus jika tidak kau tau harus bagaiman cara membereskannya." ucap Dimas yang memberikan perintah keselamatan Arabella kepada Edo.
"Saya mengerti, Tuan Muda." ucap Edo dengan patuh sambil berjalan menjauh menghubungi seseorang.
Dimas yang telah menyelesaikan urusannya pun memerintahkan kepada stafnya untuk memulai rapat kembali.
"Baik di kehidupan masa lalu maupun sekarang. Hanya kau yang akan menjadi wanitaku dan akan aku berikan semua yang kumiliki untukmu." tekad Dimas dalam hati dengan ekspresi wajah yang serius.
__ADS_1
#Bersambung#